Menolak Tua Dengan Lagu
âYou stop discovering new music when you start getting old.â Begitu pepatah lama berkata. Saya mengalami hal itu dalam beberapa waktu lalu. Dan kemudian memutuskan menulis kembali untuk membahas perihal ini.
Selama bertahun-tahun, saya memang mengurangi mendengarkan musik. Ada faktor agama yang membuat saya melakukan hal itu. Dan ketika ingin mendengar musik pun, saya tidak bisa jauh-jauh dari Banda Neira, Payung Teduh, Efek Rumah Kaca ataupun Float dengan album2 lamanya.
Pada akhirnya saya mulai memperbaharui khazanah lagu saya sekitar 2 tahun lalu. Ketika itu saya melakukan road trip antar pulau bersama keluarga. Untuk menemani perjalanan, saya menemukan album dari Dere sebagai deretan lagu baru diantara lagu-lagu lama yang ada. Suara khas Dere menemani saya sepanjang perjalanan, berulang-ulang, diantara lagu-lagu lama lainnya.
Tahun kemarin saya kembali menemukan grup band yang membuat saya mendengarkan kembali 1 albumnya, The Revenge. 4-5 lagu saya putar berulang, saya pikir hampir 1 bulanan. Saya tahu The Revenge sebenarnya sudah sekitar 1 tahun sebelumnya, namun memang kebiasaan saya akan observe dan suka bandnya ketika sudah 1-3 tahun setelah albumnya keluar. Mungkin hanya Banda Neira saja yang anomali. ERK saja saya baru benar-benar suka pada tahun 2009.
Di tahun ini, saya mendengarkan Bernadya, yang ternyata anomali juga tidak sampai 1 tahun setelah album keluar dan sedang hits2nya saya dengarkan berulang lagunya. Saya cukup kagum dengan penulisan liriknya yang sepertinya begitulah cara Gen Z menulis lirik. Saya menyebutnya chronological style.
Pada saat ini saya menulis, saya sedang mendengarkan lagu-lagu Baskara baik Hindia, .Feast, atau Lomba Sihir. Again, chronology style saya lihat ada di dalam penulisan lagunya. Dan sekali lagi, saya sudah tahu Hindia sejak cukup lama, tapi saya baru dapat momentum untuk mengulik lagu2nya.
Teman-teman saya sering memutar lagu ini, tapi dahulu saya belum tertarik karena masih berkutat dengan lagu-lagu lama yang saya putar berulang. Hingga pada akhirnya saya mendengar dan memutar berulang lagu .Feast, Nina. Saya menangis. Dan selalu menangis setiap saya putar ulang dan mendengarkannya dengan seksama. Benar-benar relate dengan kehidupan saya saat ini, walau dengan detail-detail kecil berbeda.
Dan kebetulan ada Podcast oleh Soleh Solihun dan Arie Lesmana bersama Baskara. Nah biasanya saya juga akan dengar lagu orang setelah saya mendengar wawancara-wawancara mereka. Saya lanjutkan untuk mendengar karya-karya Baskara lainnya. Mengulang Cincin, Everything Youâre, Rumah ke rumah, Ribuan Memori, dan beberapa lainnya.
Selain chronological lyric, lagu-lagu Baskara ini mempunyai tempo yang cepat dan lirik rapat yang penggalannya unik. Detail-detail pada lagunya juga memiliki banyak makna yang masih saling berhubungan satu dan lainnya. Sangat menarik memang melihat bagaimana cara Baskara menulis. Bagi saya ini seperti hal yang baru. Setelah 10 tahunan yang lalu, saya suka dengan band dengan penulisan lirik yang cenderung puitis dan romantis, kali ini straight to the point dengan metafor2 realis. Saya tidak tahu apakah usia yang semakin tua menjadikan saya lebih suka hal-hal yang bersifat realistis atau malah menyesuaikan dengan gaya musisi kini yang juga menyesuaikan pada Gen Z yang cenderung straight to the point. Entahlah.













