Sleep Training Journey Arzanka, Umma, dan Ayah
Tidak semua keluarga membutuhkan sleep training. Ada keluarga yang mungkin lebih senang untuk tidur bersama-sama, ada keluarga yang mungkin tidak memiliki sumber daya yang memungkinkan, tapi ada juga keluarga yang membutuhkan sleep training untuk meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota keluarganya.
Inilah ceritaku melakukan sleep training untuk anakku yang berusia 18 bulan.
Sejak bulan April 2022, aku berkenalan dengan sleep training. Sejak itu pula aku memahami betapa pentingnya tidur bagi seorang anak dan dampak dari masalah tidur bagi pertumbuhan anak. Hormon pertumbuhan paling banyak dilepaskan di malam hari saat anak tidur, sehingga anak yang memiliki tidur berkualitas akan tumbuh dengan baik, begitu sebaliknya. Anak yang berusia 1 tahun seharusnya sudah mampu tidur sepanjang malam dan tidur kembali dengan sendirinya ketika terbangun.
      Sementara itu, anakku yang sudah berusia 13 bulan masih sering terbangun sepanjang malam, semakin malam waktu tidurnya (sekitar pukul 9 malam), dan harus diberikan asi agar tidur kembali ketika ia terbangun di malam hari. Tidak hanya itu, setiap malam proses menuju tidur berjalan cukup panjang, seringkali sudah 30 menit mimi asi ia masih tak kunjung tidur dan malah kembali bermain di kasur. Aku menjadi seperti terperangkap setiap malam dan merasa stress dengan proses tidur yang panjang, yang membuatku tidak bisa melakukan aktivitas lain di malam hari. Perasaan stress semakin tinggi karena tugas-tugas kuliah S2ku yang semakin menumpuk dan harus segera diselesaikan agar aku bisa lulus.
      Sedikit demi sedikit ku dalami metode sleep training dan memikirkan waktu yang tepat untuk melakukannya. Melalui bacaan di akun Instagram mengenai sleep training, video youtube pengalaman orang-orang melakukan sleep training, dan membaca buku-buku sleep training aku semakin paham dan yakin untuk mengaplikasikannya. Ketika melakukan sleep training ternyata bukan hanya ritual tidur malam saja yang penting tapi bagaimana orang tua mengatur waktu tidur, makan, dan bermain anak sesuai dengan usianya. Anak berusia di atas 12 bulan hanya membutuhkan 1 kali tidur siang selama 2 jam dan memiliki waktu bangun selama 4-5 jam sehingga orang tua perlu mengatur jadwal keseharian anak agar tidak terlalu lelah atau masih belum lelah untuk akhirnya bisa tidur malam di waktu yang telah ditentukan. Selain itu, ada banyak metode sleep training yang dapat digunakan seperti cry it out, ferber method, fading, dll. Pemilihan metode perlu disesuaikan dnegan karakter anak dan orang tua. Persiapan untuk melakukan sleep training juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Jika sleep training dilakukan dengan pisah kamar maka orang tua perlu menyiapkan tempat tidur yang aman, lampu tidur, dan cctv untuk mengawasi anak.
Mempelajari mengenai sleep training tak berhenti sampai di situ. Selagi terus memperdalam, aku juga mulai mengajak suamiku berdiskusi pasca dia menyelesaikan studi S2nya. Aku sangat bersyukur karena ia setuju dan mau bersama-sama melakukan proses sleep training. Kami pun membuat timeline persiapan dan pelaksanaan sleep training. Kami mencat kamar, menempelkan stiker hewan, menyesuaikan bedrail dengan tempat tidur anak kami, dan membeli cctv. Kami berkomitmen pada 2 minggu pelaksanaan sleep training kami tidak pergi menginap kemana-mana. Sebulan sebelum sleep training dilakukan, kami secara rutin mengajak anak kami ngobrol mengenai rencana sleep training. Kami memberikan penjelasan tentang proses sleep training yang akan dilakukan dan alasan kami melakukan sleep training kepadanya. Kami pun membuat papan nama kamar agar ia semakin paham ia memiliki kamar sendiri, begitupun dengan kami. Kami meyakinkannya dengan mengatakan bahwa kami percaya ia bisa tidur sendiri tanpa kami.
September, 2022.
Sleep training dimulai setelah semua urusan kelulusan suami selesai. Kami paham betul bahwa proses ini tidak mudah sehingga kami perlu memilih waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Hari pertama sleep training berjalan cukup melelahkan. Metode yang kami gunakan adalah Ferber, artinya kami masuk kamar untuk menenangkan anak pada rentang waktu yang telah ditentukan. Pada hari pertama aku masuk setelah 3 menit ia menangis, menenangkannya secara verbal selama 1 menit, dan keluar kamar. Aku masuk kembali setelah 5 menit untuk menenangkannya karena anak kami masih menangis. Terakhir aku masuk setelah 10 menit ia menangis, setelah ditinggal beberapa saat ia akhirnya tertidur. Akan tetapi, ia masih terbangun dua jam sekali dan menangis keras. Aku tidak dapat tidur dengan tenang sehingga kurang tidur. Pada hari kedua ia mulai bisa tidur setelah pengecekan kedua. Hari-hari selanjutnya ia mulai dapat tidur sendiri dan hanya menangis kurang dari 10 menit. Ia pun dapat menenangkan diri dan tidur kembali ketika terbangun di malam hari. Satu pekan terlalui dan kami bangga dengan anak kami yang telah mampu berusaha menenangkan diri ketika hendak dan terbangun dari tidur. Akan tetapi, memasuki pekan kedua aku mulai waswas, meskipun anak kami sudah bisa menenangkan diri ketika terbangun dari tidur, namun ia masih saja menangis selama 5 menit ketika hendak tidur. Aku khawatir ia mengalami trauma karena sleep training ini dan sleep training ini tidak berhasil.
Aku pun berdiskusi dengan seorang psikolog dan seorang teman dekat mengenai kekhawatiranku. Aku tidak mendapat jawaban yang pasti tapi diskusi dengan mereka membuatku mencari tahu sleep training lebih dalam lagi. Berhari-hari ku cari artikel jurnal dan buku mengenai sleep training¸ ku baca hal yang ku temukan itu hingga selesai. Berdasarkan penelusuranku, setiap anak memiliki waktu yang berbeda untuk benar-benar nyaman tidur sendiri sehingga orang tua tidak perlu membandingkan dengan anak lainnya. Selain itu, menangis selama 5 menit ketika hendak tidur adalah hal yang wajar, saat itu anak sedang mencoba menenangkan dirinya. Kecemasan perpisahan pun tidak akan dialami anak karena ia melakukan sleep training. Aku menjadi tenang dan lega. Aku bahagia karena telah berhasil melakukan sleep training.
Kualitas hidup anggota keluarga kami menjadi lebih baik setelah sleep training. Seluruh anggota keluarga dapat tidur dengan lebih nyenyak dibandingkan sebelumnya. Anak kami memiliki nafsu makan yang semakin baik. Kami memiliki quality time sebagai pasangan yang lebih luang. Aku pun dapat melakukan banyak aktivitas di malam hari seperti mengerjakan tugas kuliah di malam hari tanpa khawatir anak kami terbangun.














