Art Turns, World Turns (Seni Berubah, Dunia Berubah), merupakan pameran seni kontemporer yang diadakan di Museum Macan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pameran ini merupakan penanda diresmikannya Museum Macan. Sama seperti tema pameran yang diangkat, kehadiran Museum Macan (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) dapat mengubah pandangan masyarakat Indonesia terhadap museum yang gelap, seram, dan hanya dikunjungi oleh anak sekolah. This is when your perspective turns 180o .
Pada pameran ini, terdapat 90 karya seni dari berbagai seniman di dunia, termasuk Raden Saleh, Sudjojono, dan Affandi dari Indonesia. Karya-karya yang dipamerkan menggambarkan bagaimana para seniman menjadikan seni sebagai media untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Infinity Room oleh Yayoi Kusama
Infinity Room by Yayoi Kusama (2014).
Sebelum memasuki area pameran, pengunjung akan disambut oleh instalasi-instalasi di bagian sculpture garden karya berbagai seniman dari seluruh dunia. Salah satunya adalah karya Yayoi Kusama yang terkenal, Infinity Room â Brilliance of the Souls (2014). Karya ini pertama kali dibuat pada tahun 1965 dan telah âberkeliling duniaâ.
Infinity Room tercipta akibat dari gangguan mental yang diderita oleh sang seniman, rijinsho; gangguan mental yang membuat penglihatannya dipenuhi selubung dan halusinasi, yang tercermin di karyanya melalui hamparan dan selubung titik. Jika diperhatikan oleh mereka yang sudah masuk dalam ruangan ini, ketika di dalam ruangan dan saat keluar ruangan, pengunjung akan merasakan apa yang dirasakan oleh Kusama terhadap penyakitnya.
Banyak yang belum tahu untuk masuk dalam ruangan ini terdapat beberapa peraturan dari museum yang harus dipatuhi oleh pengunjung. Jangan khawatir, karena pengunjung akan dipandu oleh sukarelawan agar tidak bingung. Berikut peraturannya:
Pengunjung perlu mengantri sebelum masuk ke ruangan ini.
Pengunjung yang masuk ke ruangan dibatasi hanya dua orang (maksimal).
Waktu untuk âmenikmatiâ ruangan tersebut adalah 40 detik.
 Peraturan Infinity Room.
Memasuki area pameran, pameran dibagi dalam empat bagian:
Bumi, Kampung Halaman, Manusia (Land, Home, People)
Bumi, Kampung Halaman, Manusia mengacu pada tiga unsur inti yang menyumbang pada pemahaman akan identitas pribadi. Di bagian ini tampak bagaimana seni dapat membentuk pola pikir mengenai Indonesia secara visual, melalui penggambaran ideal Indonesia oleh seniman.
2. Kemerdekaan dan Setelahnya (Independence and After)
Di bagian ini terdapat karya-karya yang diciptakan pasca Perang Dunia II dan masa Proklamasi Indonesia (1945-1949). Maka dari itu, para seniman menampilkan nasionalismenya melalui karya-karya di bagian ini.
3. Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi (Struggles Around Form and Content)
Berisi karya-karya dari tahun 1950-an sampai 1960-an yang menjukkan pembagian praktik kesenian modern di Indonesia, antara abstrak dan figuratif. Di bagian ini pengunjung juga dapat melihat karya seniman kelas dunia seperti Gerhard Richter dan Andy Warhol.
 Portrait of Madame Smith by Andy Warhol (1974).
 4. Racikan Global (Global Soup)
Nah, mungkin ini dia bagian yang paling âkekinianâ dari semua bagian. Bagian ini berisi karya-karya pasca era reformasi Indonesia. Selesainya era orde baru nampak membawa angin segar bagi para seniman di Indonesia untuk berkarya dengan lebih bebas. Meski memiliki rasa âglobalâ, karya-karya di bagian ini tidak lepas dari asal si seniman.
Bagi penggemar band 30 Seconds To Mars, karya ini tentu tidak asing lagi. Phenylbenzaldehyde (Damien Hirst) dijadikan sebagai cover album Love, Lust, Faith oleh band tersebut.
Karya yang tidak biasa karena di dalamnya terdapat 5.000 semut. Tapi, semutnya makan apa ya? Waktu saya ke sini, ada beberapa yang mati.
Selain karya-karya seni di empat bagian tersebut, terdapat juga linimasa mengenai kehadiran seni di Indonesia mulai dari sebelum kemerdakaan hingga saat ini. Sayangnya, kehadiran linimasa ini masih belum cukup menarik perhatian pengunjung sehingga masih sedikit pengunjung yang membaca informasi di dalamnya. Selain itu, media yang digunakan dalam pameran belum melibatkan kelima panca indera; hanya berdasarkan visual.
Linimasa kehadiran karya seni di Indonesia.
Meski begitu, linimasa yang disajikan cukup informatif dan disajikan dengan singkat namun padat. Di lain sisi, karya-karya yang ditampilkan cukup âmemanjakanâ mata pengunjung dari padatnya Ibukota. Pameran ini juga berhasil untuk mengajak masyarakat Jakarta (dan pengunjung dari daerah lainnya) untuk berkunjung ke museum dan lebih memahami seni serta dunianya. Ditambah dengan tampilan Museum Macan yang modern, segar, dan kontemporer, menambah kesan artsy bagi pengunjung dan tentunya mengubah pandangan terhadap museum đ
Bagi kalian yang tertarik untuk melihat pameran ini, pameran masih akan berlangsung mulai 4 November 2017 hingga 18 Maret 2018.
Museum Macan resmi dibuka pada akhir tahun 2017, bersamaan dengan dibukanya pameran Art Turns, World Turns. Dengan konsep modern, tempat yang ditawarkan oleh Museum Macan berbeda dari museum-museum lain di Jakarta (dan mungkin Indonesia).
Museum ini sendiri berlokasi di daerah perkantoran, tidak jauh dari halte Transjakarta Kebon Jeruk. Untuk datang ke sini, tidak perlu bingung karena di situs museum sudah ada panduan transportasi. Menurut saya, selain kendaraan pribadi, ke museum ini juga sangat enak menggunakan kereta api (turun di Stasiun Kebayoran) lalu naik Transjakarta, dilanjut dengan sedikit berjalan kaki. Petunjuk ke museum juga mudah, karena nama Museum Macan sudah terpampang di papan penunjuk jalan.
Penunjuk jalan menuju Museum Macan.
Memasuki area AKR Tower, jangan masuk ke bagian gedungnya, ya. Cukup ikuti jalan ini saja.
Pintu masuk menuju Museum Macan.
Meja pembelian tiket di Museum Macan.
Di pintu utama, pengunjung akan disambut sinar matahari karena di salah satu sisi museum merupakan kaca besar yang mempersilakan matahari masuk. Cara yang cerdas untuk mengurangi pemakaian lampu. Di sudutnya terdapat tempat ngopi dan beberapa tempat duduk yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk rapat atau sekedar mengobrol.
Sebelum masuk ke dalam museum, tiket pengunjung akan diperiksa oleh staf keamanan. Sedikit berbeda dengan museum lain di Jakarta, staf keamanan akan memberikan penjelasan singkat mengenai tata tertib museum. Selain di pintu masuk, staf keamanan juga akan berjaga di beberapa titik di dalam museum untuk memastikan semua pengunjung mengikuti tata tertib yang ada.
Terdapat beberapa program publik yang ditawarkan oleh Museum Macan. Di antaranya adalah Sesi Bercerita dan Permainan Seni Inderawi lewat Seni yang diadakan setiap Kamis pukul 10.00 dan Sesi Menggambar setiap Sabtu pukul 11.00. Selain itu pengunjung juga dapat ikut Analisa Pameran setiap Rabu pukul 15.00, tur harian, tur akhir pekan, maupun tur anak. Hal menarik lainnya adalah brosur! Brosur yang disajikan Museum Macan terdiri dari tiga brosur (brosur museum, brosur pameran, dan brosur anakâMuseum Guide for Children). Yang menarik perhatian tentunya brosur anak-anak, karena di dalamnya disajikan dengan gaya bahasa yang menarik dan interaktif. Ketiga brosur juga memiliki dua bahasa; Indonesia dan Inggris.
Untuk berkunjung ke sini, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp50.000,00 (umum). Jika masih pelajar/mahasiswa, cukup membayar Rp40.000,00. Untuk mengantisipasi penuhnya museum, ketika membeli tiket pengunjung juga harus memilih pukul berapa akan masuk ke museum. Ada pukul 10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00. Jika pengunjung beli tiket pukul 10.00, maka pengunjung dapat masuk ke museum dari pukul 10.00â12.00, begitu seterusnya. Pengunjung dapat melakukan pembelian tiket secara langsung atau melalui situs Museum Macan.
MUSEUM MACAN
Alamat: AKR Tower Level MM, Jl. Panjang No. 5, Kebon Jeruk â Jakarta Barat
Instagram:Â @museummacan
Situs: http://museummacan.org
Selasa â Minggu : 10.00â19.00
SENIN TUTUP
Art Turns, World Turns: When Your Perspective Turns Art Turns, World Turns (Seni Berubah, Dunia Berubah), merupakan pameran seni kontemporer yang diadakan di Museum Macan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.