Ada kalanya, aku hanya butuh waktu untuk berdamai dengan realita yang tak selamanya mulus. Sering kali aku dipaksa menelan kecewa atau rasa lelah yang datang bertubi-tubi tanpa sempat bertanya kenapa.
Sama seperti tokoh-tokoh dalam sastra klasik yang sering kubaca, keindahan hidup sering kali muncul justru setelah melewati badai yang hebat. Barangkali memang begitu jalannya; manusia diciptakan berada dalam susah payahβlaqad khalaqnal-insana fi kabad. Payah itulah yang sebenarnya sedang membentuk kedewasaanku, selapis demi selapis.
Namun, di tengah rasa lelah itu, aku sempat ragu: benarkah keindahan itu masih ada?
Dostoevsky pernah menulis bahwa "keindahan akan menyelamatkan dunia", dan keindahan yang dimaksud bukan sekadar apa yang tertangkap mata. Ia bukan sesuatu yang instan. Mungkin saja, ia adalah bentuk ketangguhan yang lahir dari sebuah perjuangan panjang yang hampir membuatku menyerah.
Jadi, iya. Keindahan itu memang ada. Ia sering kali bersembunyi di balik proses yang melelahkan, menunggu sampai waktunya tiba.
Dan perlahan, aku menyadarinya sebagai sebuah kemenangan kecil.
















