Bukan Salah (Asuh) Ayah dan Ibu
Dulu, dulu sekali, saat sedang masih labil-labilnya, saya pernah bertengkar dengan Ibu. Saat itu, saya kecewa dengan perlakuan Ibu sampai khilaf dan dengan gegabahnya mengatakan bahwa ada satu kesalahan Ibu pada pola asuhnya terhadap saya dulu yang ternyata berdampak pada bagaimana saya di hari itu. Pun sebaliknya, Ibu sedih karena katanya saya mengecewakan. Lupa apa masalahnya, tapi saya begitu ingat pada perkataan Ibu,
“Ibu tuh memang engga sekolah tinggi. Ibu engga taulah apa tuh yang psikolog atau buku-bukumu bilang. Tapi kamu jangan bilang gitu sama Ibu, karena bagaimanapun Ibu usaha yang terbaik buat kamu. Jangan hanya karena kamu belajar terus kamu merasa lebih pintar, jangan hanya karena kamu mengaji lalu kamu berasa lebih shalihah.”
Ah! It was really broke my heart. Sedih luar biasa rasanya mendengar kalimat-kalimat itu keluar dari mulut Ibu, bukan karena kalimat-kalimatnya, tapi karena sadar betapa mengerikannya jika memang iya ternyata apa yang Ibu katakan itu benar dan selalu demikian. Lalu saya menangis hebat sampai akhirnya tertidur dan bangun dalam keadaan demam. Hebatnya Ibu, permintaan maaf saya begitu cepat dikabulkan, dan beliau kembali seperti bagaimana saya melihat teduhnya sehari-hari, “Iya, sebelum kamu bilang apa-apa juga udah dimaafin. Udah jangan nangis, kalau nangis nanti kamu sakit. Kamu mau makan apa hari ini?” Maa syaa Allah, semoga Allah selalu baik pada Ibu karena kebaikan hatinya.
Benar kiranya bahwa setiap orang memang berpotensi mengecewakan untuk satu sama lain, tidak terkecuali untuk hubungan anak dan orangtua. Kalau dipikir-pikir, setiap anak pasti punya cerita menyenangkan dan menyedihkan tentang bagaimana orangtuanya mengasuh dan mendidiknya sewaktu kecil.
Kemarin, saya dan teman-teman di kantor randomly berdiskusi tentang bagaimana dinamika pola pengasuhan orangtua berpengaruh terhadap diri kami saat ini. Tidak semuanya baik, pun tidak semuanya buruk. Satu per satu dari kami pun saling mengungkapkan insight-insight yang seketika muncul di pikiran,
“Aku baru sadar sekarang-sekarang kalau ternyata apa yang dilakukan Bapak dan Ibu dulu bikin aku kesulitan untuk bisa berpikir, memilih, dan memutuskan sesuatu.”
“Waktu kuliah, aku sering kehabisan uang karena aku konsumtif banget. Kalau stress pasti aku langsung belanja padahal engga butuh-butuh banget. Terus aku ingat sesuatu, dulu kalau aku nangis atau rewel pasti langsung dikasih uang dan disuruh jajan.”
“Mama sama Papa dari dulu jarang ngasih aku apresiasi. Terus lama-lama aku jadi suka merasa minder dan engga percaya diri.”
“Daya juang aku tuh rendah, kayaknya karena dulu kalau mau apa-apa gampang banget, pasti langsung ada, pasti langsung dibeliin dan seringnya tanpa aku harus minta dulu.”
dan seterusnya.
Bukan ngobrol berdaya namanya jika tidak ada pembelajaran apapun yang bisa diambil. Lalu kami pun menyadari sesuatu, bahwa bagaimana pun kami tidak perlu marah, kecewa, atau bahkan membenci orangtua hanya karena sesuatu yang sebenarnya mereka pun tidak pernah bermaksud untuk melakukan kesalahan. Teman saya bilang, “Semua yang kita sadari sekarang sebenarnya bukan untuk menyalahkan orangtua atas apa yang dilakukannya dulu terhadap kita. Justru jadi tantangan tersendiri, gimana caranya kesalahan yang sama engga kita ulangi lagi nanti ke anak-anak kita.”
Mendadak saya ingat sesi belajar dengan Ibu Evangeline Suaidy, seorang psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati saat beliau diundang ke NuParents untuk membahas tentang Self-Assessment, beliau bilang,
“Dengan membaca satu dua buku, belajar sekali dua kali, atau mendalami suatu ilmu, seringkali kita dengan mudahnya menyalahkan orangtua dan menunjukkan kekecewaan atas kesalahan mereka yang baru kita temukan saat dewasa. Tapi kita lupa bahwa pada saat orangtua mengasuh dan membesarkan kita dari dulu sampai sekarang, mereka sudah melakukan yang terbaik sejauh yang mereka ketahui, semampu yang bisa mereka upayakan. Jadi, jika dulu mereka mengasuh kalian dengan begini dan begitu yang mungkin sekarang kalian menyadari letak kelirunya dimana, itu sungguh bukan karena mereka berniat melakukan kesalahan, tapi karena itulah bentuk kasih sayang terbesar dan terbaik yang dapat mereka lakukan. Sekarang, kalian mau kan memaafkan?”
Yup! Semua bukan karena orangtua salah mengasuh, tapi karena itulah yang terbaik yang mereka ketahui dan itulah yang mampu mereka upayakan untuk kebaikan kita. Untuk kebaikan kita~
Zaman dulu memang tidak secanggih sekarang ketika kajian pra-nikah mudah ditemukan, buku parenting banyak dijual dimana-mana, seminar sering diadakan di berbagai kota, komunitas yang peduli tentang pengasuhan mulai bermunculan, belum lagi materi-materi yang menjamur di media sosial. Oleh karena itu, wajar kiranya jika dulu orangtua kita menganggap bahwa mengasuh anak adalah kemampuan naluriah yang akan muncul dengan sendirinya seiring dengan pernikahan dan kelahiran anak. Tapi, bagaimana pun, tentunya ini tidak lantas menjadi celah yang memperbolehkan kita untuk kecewa dan menyalahkan orangtua kita atas kesalahan-kesalahan pengasuhan yang dulu pernah mereka lakukan terhadap kita. Sebab, itulah yang terbaik dari mereka untuk kita. Alhamdulillah. Tabarakallahu. Semua nyatanya membentuk dan mendewasakan kita sedemikian rupa. Allah, semoga Engkau selalu menyayangi Ayah dan Ibu, memudahkan setiap urusannya, dan melimpahkan hidupnya dengan segala kebaikan.
Selamat belajar! Bukan untuk mengkritisi dan menyalahkan masa lalu, tapi untuk memperbaiki masa depan dan membangun peradaban.
















