Catatan Pandemi #1 : Bersyukur
Pontianak. 06062020. 00:40.
Halo, nama saya ayu. Ini adalah catatan pertama saya di kala pandemi.
Sejak kemarin memutuskan untuk lebih aktif meninggalkan jejak di masa pandemi ini, saya mulai berpikir, baiknya kerangka seperti apa tulisannya, ya karena kalau ndak dipikir-pikir, nanti isinya jadi curhat colongan semuanya.
Alhamdulillah hari ini bagi saya, berjalan baik-baik saja, bahkan perasaan hati bisa dikatakan membaik, mungkin karena abis liat banyak tanaman subur hari ini.
Ini lokasinya di salah satu gang pada kelurahan saya.Bukan cuma tentang tanaman yang tumbuh subur, namun juga konsistensi dan sayangnya si Bapak penanam.
Eh ternyata, beberapa jam yang lalu, si Candra, teman baik yang sekarang jadi relawan korona di Surabaya, tumben-tumben minta kirim doa, untuk seniornya yang masuk ruang perawatan ICU karena korona.
Energi baik yang terasa hari ini, rasanya seketika menguap ke udara. Rasanya jahat berada dalam keadaan baik-baik saja sementara di luar sana banyak yang berjuang, termasuk teman baik saya ini. Rasanya tidak adil. Kok saya mau cerita-cerita senang, sementara di sana, entah bagaimana sebenarnya perasaan teman dan rekan-rekannya.
Maka teringatlah pada salah satu kisah Ustadz Nouman Ali Khan yang paling saya suka. Ketika Nabi Musa dan para pengikutnya selamat dari kejaran Firaun. Kan selama ini saya taunya cuma happy ending karena Firaun dkk tenggelam di laut. Eh ternyata masih ada lanjutannya....
Setibanya di daratan seberang setelah melewati lautan terbelah, ternyata daratannya tandus sekali. Ndak ada apa-apa. Panas. Pengikutnya Nabi Musa udah capek sekali, banyak lansia dan anak-anak. Tambah lagi si anak-anak mulai nangis-nangis.
Tapi demikianlah Allah karuniakan mukjizat pada Nabi.
Kalau saya tadi mikirnya, wah bakal dinasehatin supaya sabar ni ummatnya ni.
Eh ternyata, malah diminta untuk bersyukur. Mohon maap, berada di daratan tandus, apanya yang mau disyukuri nih? Baca Surat Ibrahim ayat 6 hingga 8 yok.
“Dengar, seburuk apapun ini, sesungguhnya ada yang jauh lebih buruk. Allah sudah mengeluarkanmu dari keadaan yang jauh lebih buruk. Langkah pertama dalam bersyukur bukan hanya memikirkan hal baik yang telah Allah lakukan, namun juga dengan mengingat bahwa Allah telah menyelamatkanmu dari hal-hal yang buruk, karena bayangkan jika tidak ditolong Allah, mustahil bisa lepas dari kejamnya Firaun dan bala tentara yang sungguh kuat.”
Ketika kita berada dalam kesulitan, tentu yang kita pikirkan adalah bagaimana caranya keluar dari masalah tersebut. Bahkan seringkali pikiran kita mengarahkan untuk macam-macam kemungkinan yang semakin buruk.
Melatih diri berpikir positif, karena berpikir positif oleh orang yang beriman akan berbeda dengan yang tidak. Ketika orang beriman berpikir positif, maka ia akan bersyukur kepada Allah.
“Sesungguhnya jika kamu benar-benar bersyukur, Allah berjanji akan menambah nikmatmu.”
Kenapa sih, bersyukur kepada Allah? Padahal Allah Maha Kaya, Allah berdiri sendiri dan tidak membutuhkan kita untuk bersyukur, Dia ndak akan tersinggung kalau ktia ndak bersyukur. Jangan sampai terpengaruh ni sama godaan setan yang menyama-nyamakan Allah dengan manusia, yang bisa marah kalau tidak dihargai bantuannya, naudzubillah min dzaliik. Allah ndak bisa disama-samakan dengan makhluk ciptaan-Nya
Allah ndak butuh ucapan terima kasih kita, tapi justru kita yang sangat membutuhkannya. Kita lakukan terima kasih ini bukan untuk Allah, tapi untuk diri kita sendiri, yang paling membutuhkannya.
Saya sadar, kalau sabarnya saya kok rasanya masih kurang oke ni, masih perlu dilatih lagi dan lagi hingga menjadi sabar yang benar-benar baik. Hehe, boro-boro mengingatkan orang untuk bersabar, diri sendiri saja latihannya masih belum selesai. Maka bagaimana kalau sambil latihan sabar, saya perbanyak syukurnya yaa. Jadi kalau ada hal-hal keciiil, hal-hal tipis-tipis, sama-sama saling ingatkan untuk disyukuri. Kalau sabarnya masih sulit, mungki syukurnya yang perlu kita tambah, ya?
Inilah yang saya rasa berhubungan dengan masa pandemi yang banyak ketidakpastian ini, kalaupun ada kepastian, kenapa rasanya adalah tentang kabar yang kurang baik. Bukankah kita sebagai manusia, kadang justru memilih mempercayai hal-hal yang ingin kita percayai saja? Semoga kita diberikah terang dan tenang hati dalam memilih.
Aaamiin allahumma aaamiin.
Untuk teman-teman yang berminat menyaksikan videonya, bisa coba pada tautan yang ini.
Alhamdulillaah ‘ala kulli haal.