Perisakan di Pesantren? (1)
Sebulan lalu saya berjumpa dengan adik saya yang saat ini sedang menjalani masa pendidikan di sebuah Pesantren, yang mana pesantrennya adalah almamater saya juga. Pesantren tempat saya menghabiskan masa remaja saya selama enam tahun.
Selepas salat ashar, saya mengunjungi salah satu kamar yang amat berkesan bagi saya. Kamar yang saya tempati ketika saya menjadi santri kelas 3 SMP. Suasananya masih terlihat sama dan tidak banyak berubah. Yang membuat kamar ini punya kenangan tersendiri adalah, di sudut-sudut kamar inilah masa terberat saya sebagai santri yang menjadi korban bullying terjadi.
Ada beberapa pertanyaan teman saya tentang kehidupan pesantren, yang salah satunya menanyakan terkait kejadian bullying.
“Mungkin ngga sih di sebuah pesantren yang notabene santrinya belajar agama ada kejadian bullying/perisakan?”
Saya bilang pesantren memang memiliki jasa besar karena menjadi wadah seseorang untuk belajar agama dan akhlak. Banyak santri dan alumni yang kelakuannya mencerminkan keilmuan dan akhlak baik mereka. Tapi kejadian seperti perisakan memang ada dan saya tidak bisa menyangkalnya. Hal tersebut bisa saya pastikan karena saya dan banyak santri lainnya pernah mengalaminya.
Suatu ketika saya pernah dikucilkan. Barang-barang saya dicuri termasuk uang, Saya juga disuruh tidur di bawah jemuran baju. Kasur saya pernah dipipisi oleh kucing yang sengaja diletakkan oleh seorang teman saya. Herannya teman-teman sekamar saya justru memarahi saya, bukan teman saya yang tadi. Saya juga pernah dituduh menghilangkan daging kurban jatah kamar saya, kendati teman saya yang lain yang menghilangkannya. Teman saya ini menuduh semua ini salah saya. Jadilah saya menjadi sasaran amukan teman satu kamar.
Saya dijadikan seperti babu. Saya setiap saat bisa disuruh untuk mengisikan botol air, mengambilkan makanan dari kantin umum, menyapu, dan mencucikan piring. Kalau saya menolak, saya akan mendapat berbagai makian dan hinaan macam-macam. Entah sok asik, nyolot, atau ngocol, intinya saya cuma wajib pasrah.
Tak lupa, ada beberapa perkataan yang menurut mereka cuma bercanda.
“Dasar lo grand udah autis, cupu, babu, ga punya harga diri lagi. Murahan!”
“Kok setiap gue ngeliat muka lu, bawaan gue kesel ya pengen nampol lu nj*ng”
“Eh lihat nih gambarnya hahaha“ teman saya menggambar (maaf) dua orang sedang berhubungan dan diberi nama ayah dan ibu saya. Ketiga teman saya tertawa dengan amat puas.
“Adik lo tuh jablay ya ternyata, nah lu germonya”
“Lo tuh pantesnya mati aja grand, ngapain sih lo masih hidup anj*ng” hardik teman saya ketika saya sakit.
Lingkungan yang penuh kekerasan verbal dan fisik seperti ini membuat saya berusaha menarik diri dari perjumpaan dengan teman sekamar saya. Sebisa mungkin saya pulang lebih malam dan memilih belajar di Masjid lebih lama. Saya menyendiri dan belajar dengan buku-buku karena merasa buku-buku tidak akan pernah mencaci. Namun semaksimal apapun usaha saya untuk menjauh, saya tetap menerima perundungan secara intens karena saya berada di lingkungan pesantren. Lingkungan yang notabene wilayahnya tersekat dan membuat saya tidak bisa kemana-mana.
Apakah terpikirkan untuk melapor ke pihak pesantren atau orang tua atas kejadian yang saya alami?. Saya ketika itu sempat berpikir opsi tersebut, namun saya batalkan karena kenyataannya dengan melapor maka perisakan yang diterima akan makin menjadi sebagaimana yang terjadi pada teman saya sesama korban bullying.
Solusi yang terfikirkan saat itu adalah saya ingin segera menamatkan jenjang SMP dan masuk ke SMA Negeri. Saya berfikir dengan bersekolah di SMA negeri, sekalipun saya menjadi korban bullying lagi, saya bisa lebih tenang karena saya bisa menghindar dari pelaku dengan lebih leluasa.
Saya kemudian belajar keras hingga alhamdulillah dengan izin Allah mendapat NEM 37,25. Kemudian pihak pesantren mengikutsertakan saya dalam OSN Astronomi tingkat SMA kendati saya masih baru lulus UN SMP. Alhamdulillah dengan seizin Allah saya meraih juara dua tingkat Kabupaten dan menjadi peserta termuda pada seleksi tingkat provinsi.
Namun rencana untuk masuk SMA Negeri dengan modal NEM tinggi dan prestasi OSN tersebut kandas seketika saat ayah saya mengatakan rencananya untuk memasukkan saya ke SMA Negeri dibatalkan.
“Nak kamu SMA di sini aja ya. Lihat tuh NEM kamu bagus. Juara olimpiade lagi. Pihak pesantren juga ngasi kamu beasiswa parsial. Kamu di sini aja ya nak. Belajar agama yang bener”
Ekspresi wajah Ayah amat gembira dengan perkataan tersebut. Beliau menyangka saya berproses dengan baik dan tenang di Pesantren. Tapi bagi saya, itu artinya saya perlu bersabar untuk menjadi korban bullying (lagi). Saya hanya bisa menangis di kamar mandi dan membayangkan semua siksaan itu akan terjadi kembali.
Namun Allah Maha Baik. Kendati saya melanjutkan pendidikan di sana, para pelaku yang membully saya secara bertahap mengundurkan diri dari pesantren. Hingga akhirnya bisa dibilang kehidupan saya pada masa SMA relatif tentram.
Saya sendiri saat ini sudah tidak memiliki rasa dendam dengan semua teman yang dulu pernah merisak saya. Namun problem yang mengganjal sampai saat ini adalah cara saya memandang diri saya sendiri. Saya sering merasa, memang derajat saya adalah manusia sampah, sampai orang-orang memandang rendah diri saya. Anggapan bahwa saya manusia rendahan masih terpatri di benak saya sampai sekarang.
Ketika kuliah, saya menemukan jawaban dari berbagai penelitian yang mengangkat isu ini. Jawaban tentang mengapa orang yang berada di lingkungan agamis bisa menjadi agresif dan merisak orang lain. Insyallah akan saya tuliskan dalam tulisan berikutnya.