Mau bahagia dan tenang itu sederhana; berhenti membandingkan kehidupanmu dengan orang lain.
Sebab sering kali lelahmu bukan karena perjalananmu terlalu jauh, melainkan karena hatimu diam-diam meragukan takaran yang sudah Allah tetapkan.
Wahai hati, bukankah sejak awal kita diajari bahwa setiap rezeki telah ditulis.. setiap langkah telah diukur, bahkan setiap jeda pun tidak pernah luput dari penglihatan-Nya?
Lalu mengapa masih gelisah melihat hidup orang lain, seolah-olah Tuhan mereka lebih pandai mengatur daripada Tuhanmu?
Kita ini sering lupa, bahwa yang tampak indah di mata belum tentu baik di sisi-Nya, dan yang terasa sempit hari ini boleh jadi adalah cara Allah menjaga kita dari sesuatu yang tidak sanggup kita tanggung.
Tenang itu bukan saat semuanya terkabul, tapi saat engkau yakin apa yang Allah pilihkan, itulah yang paling tepat, meski tidak selalu paling cepat.
Ada yang diberi agar ia bersyukur, ada yang ditahan agar ia kembali tunduk. Ada yang dipercepat supaya ia ingat, ada yang diperlambat supaya ia selamat.
Dan kita sering kali terlalu sibuk membandingkan takdir, sampai lupa bahwa takdir bukan untuk dipertandingkan, melainkan untuk diimani.
Coba perlahan-lahan, wahai hati, belajar cukup pada apa yang ada, belajar yakin pada apa yang belum tiba. Sebab yang tidak kita miliki hari ini bisa jadi bukan karena kita kurang layak, melainkan karena Allah lebih tahu waktu yang paling tepat.
Bukankah ketenangan itu lahir dari tauhid yang utuh? dari keyakinan bahwa tidak ada yang tertukar, tidak ada yang terlambat, dan tidak ada yang sia-sia di sisi-Nya.
Maka berhentilah sejenak dari membandingkan, dan mulailah memandang ke atas, bukan untuk iri, tapi untuk percaya.
adalah Tuhan yang juga sedang mengatur hidupmu
dengan cara yang paling Dia tahu⦠terbaik.