Puisi yang indah sejatinya adalah puisi yang mengingatkan kita kepadaNya. Namun belakangan  sudah jarang sekali saya lihat puisi yang begitu intimnya menyoal antara dirinya dengan Tuhannya.Â
Beberapa waktu lalu saya dipertemukan dengan buku kumpulan puisi dari emha ainun najib. saya terhenyak dan terbayang-bayang terus dengan puisi yang membuat saya tertohok lama.Â
semoga puisi yang saya ketik lagi ini (well ternyata puisi ini tidak ada di internet!) dapat kita renungkan bersama.
Allah mengumandangkan bait-bait cintaNya yang pedih kepada hamba-hambaNya yang berilmu yang menempati singgasana dan memimpin dunia
 âKenapakah engkau tidak bergabung bersama bintang gemintang di langitku, bersama pepohonan, laut, dan sungai di bumi yang bersamKku mendengdangkan lagu-lagu cintaâ
âkenapakah engkau tidak mengucapkan kata-kata yang menarik rasa cintaku, kenapakah engkau tidak bergerak melakukan sesuatu yang merangsang rangkulan kemesraanKuâ
âjika engkau menanami ladang-ladangKu, kenapakah yang berkembang dalam jiwamu hanyalah perolehan uang dan perampasan hari depanmu sendiri. Kenapakah cintamu tak membenih bersama suara seruling dedaunan tebu yang sapu menyapu di ladang-ladang kasih sayangKu ituâ
âkenapakah ilmu yang kutaburkan ke pesemaian pikir di kepalamu tak membuat kehidupanmu lebih arif dari seekor ular yang makan tak lebih dari yang diperlukannya serta bertapa untuk memperoleh pembaruan dari kelahirannyaâ
âjika engkau meneliti galaksi dan mencoba merambahi jagatraya dengan ilmu dan kekuatan warisanKu, kenapakah tak tergetar hatimu oleh betapa besar cintaKu kepadamuâ
âjika engkau membuka rahasia bumi dengan mata pinjamanKu dan  membuat segala macam alat kesejahteraan dengan tangan kecerdasan pemberianKu, kenapakah  tak terdengar oleh telinga batinmu betapa bersungguh-sungguh Aku menyayangimuâ
âdan ketika engkau menyelami lautan dan menjumpai keindahan ayat-ayatKu yang tak akan pernah bersungguh-sungguh engkau pahami, kenapakah sesudah pulang berenang kembali ke pantai tidak lantas engkau tuliskan surat cinta kepadaKu untuk memperbincangkan rahasia ituâ
âengkau memimpin sejarah dan tak Kurebut segala milikKu di tanganmu. Engkau makan dan Kuperintahkan usus untuk memeras inti kesehatannya. Engkau tidur dan Kubangunkan kembali. Engkau bernapas dan Kupellihara udara untuk bersemayam melingkungimu. Kenapakah tak kau ucapkan sebaris saja puisi cinta untukKuâ
âkenapakah engkau malah berlari meninggalkanKu, adakah kau pikir tak ada Aku di tempat tujuanmu ituâ
âkenapakah tak kau undang Aku masuk ke bilikmu ketika rasa sunyi mengepungmu, adakah kau kira Aku tak menyongsongmu di ujung lorong buntu kesunyian ituâ
âengkau tumpahkan darah saudaramu sendiri, engkau pikir kepada siapakah nyawa, tubuh dan daah itu kembali. Engkau hadang nasib saudaramu sendiri, engkau rebut hak anak cucumu sendiri, engkau sembunyikan milik para tetanggamu sendiri. Di gudang manakah segala hasil pencurian itu engkau simpan, selain gudang yang terselip di antara jari jemariKuâ
âtak bisakah ilmu dan peradabanmu yang tinggal dan megah itu mengukur betapa senantiasa Kuluapkan bersamudera-samudera kesabaran bagimu. Berhentilah mendustai jiwamu sendiri. Belajarlah mengenali cinta sejati. Dan ketika Kubangunkan engkau besok pagi , sapalah Aku dengan sebaris puisiâ
Bait-Bait Cinta-Nya. Emha Ainun Najib. 1988.