Hey, Malang—ingat bagaimana pertama kali kita menyatukan udara dalam napas 6 tahun lalu? Mungkin kamu ndak tahu, bahwa dulu sebenernya aku ndak punya kepengenan samasekali menyebutmu rumah kedua setelah tempat kelahiranku. Mungkin kamu juga ndak tahu, kalau bukan karena Mamaku, aku ndak akan end up di kamu; kuliah, berkeluarga, berteman, dan jatuh cinta. Hey, Malang—sebenernya kamu itu apa sih? Dibilang kota, tapi ndak kotakota amat. Mau dibilang kampung, tapi juga ndak kampungkampung amat. Keknya kamu memang pengen selalu berada di tengah, ya? Berperadaban tapi mengakar. Aku suka bangunan tua melumut di sudutsudut kotamu, bahwa masa lalu itu dijaga, bukannya dilupakan. Aku juga suka melihat bangunan berbau cat baru yang mulai (agak) meliuk meninggi di sana sini, bahwa masa depan itu diterima dengan bijak, bukannya ditolak mentah. Hey, Malang—dulu aku ndak pernah kepikir kalo kamu bakal sepenting ini di aku. Tapi sekarang, semuaku ada di kamu—cinta, luka, cita, dan asa; begitu kata mereka. Tetaplah seperti itu, ya Malang. Mengikat yang sudah merambatimu bertahuntahun, menolak dilupakan yang sudah meregang jarak. Hey, Malang—untuk 101 tahun sebelum ini, dan 101 tahun setelahnya—selamat ulang tahun! Panjang umur, banyak rejeki, sejuk selalu, macetnya dikurangkurangin. Dan yang paling penting, tetaplah jadi Malang yang aku ingat, sekarang dan nanti. :) – View on Path.














