Hari ini aku dan kawan2 kelompok KKN silaturahim ke Tlatah. Awalnya 10 orang berencana ikut, tapi di detik2 terakhir banyak yg membatalkan. Yang fiks berangkat 7 orang: 5 dari Surabaya naik mobil Dino, 2 orang rumahnya Bojonegoro.
Sampai di Bojonegoro sekitar jam 11, kami menjemput Silpong dan Aziz. Kami pun punya ide makan mie bakso di Bang Jek. Njagani kalo saat silaturahim tidak disuguhi apa2. Soalnya selama perjalanan kita membayangkan dan setengah ngarep akan disuguhi lontong sayur dan opor. Dan kita pun memesan -gak tanggung2- mie bakso jumbo dan es campur. Lumayan buat ganjal perut yang tadi pagi gak sarapan. Oke, SATU!
Dari Bang Jek kami langsung ke Tlatah. Tempat pertama yang kami tuju adalah rumah Bu Watik, yg dulu jadi tempat menginap Sabila, Epik, dan Farah. Lucunya, Aziz waktu lebaran hari kedua sudah silaturahim ke sini. Tapi manggil bu Watik dengan nama Mbak Jum! Hahaha.. Dari mana coba? Mbak Jum kan yang jualan jajan.
Oya, jadi teringat. Waktu di perjalanan tadi kami mencoba menghafal nama2 orang Tlatah. Mulai dari nama bapaknya Anggi FPK. Dino yang ingat kalau namanya pak Suntoro. Sam malah nebak namanya pak Prapto, kalo aku gak jauh2 nebaknya yaitu pak Su. Siapa nama yg ngajar ngaji? Pak Shodiq. Oke. Lalu kembarannya pak Shodiq? Pak Modin maksudnya. Siapa ya??? Aha, aku yang ingat namanya Pak Sugeng. Anak2 nebaknya pak Sholeh. Pak Sholeh emang siapa ya? Sampai pulang tidak ketemu pak Sholeh itu siapa.
Kembali ke bu Watik. Awalnya di bu Watik kami hanya dipersilahkan duduk di ruang tamu dan disuguhi jajan. Mikirnya anak2 “wah, gak ada tanda2 lontong sayur nih.” Tapi aman karena tadi sudah makan mie bakso. Oke. Lha kok tiba2, “ayo makan dulu. Tak bikinkan kupat.” Wah, ini…anak2 pun dg gaya “mboten sah repot2-nya” tetap melangkah ke ruang dalam. Di sana ada banyak makanan mulai nasi, lontong, lodeh, opor, buah Glitu, daann Sprite! Dino pun bersorak karena di perjalanan dia ngarep2 ada softdrink. Tapi ternyata itu adalah Sprite abal2 yg isinya air putih! Dino belum beruntung bung…
Kami pun makan dengan lahap. Ditemani anak kedua bu Watik yg cerita banyak hal. Ditambah buah Glitu yg baru kami tahu saat itu. Dari luar seperti mangga manalagi yang kecik, bulat. Tapi setelah dibuka warnanya putih. Teksturnya seperti sawo tapi rasanya mirip sirsat. Buah yang aneh. Aku sampai berpikir, bahasa Inggris-nya Glitu apa ya? Di bu Watik kami sudah agak kenyang. Oke, DUA!
Setelah dari bu Watik kami sholat zhuhur dan melanjutkan ke bu lurah. Kabarnya bu lurah tidak ada di rumah karena ada gawe di saudaranya. Tapi alhamdulillah ketika ke sana beliau ada. Di bu lurah pun kami tanya kabar dan ngobrol beberapa hal sambil makan camilan yg disediakan.
Di tengah asyiknya ngobrol bu lurah bilang, “mas mbak ayo makan dulu.” Nah, TIGA! Kami pun saling memandang. Tiga kali makan dalam tempo yg tak begitu jauh. Agar tidak kekenyangan ada yg cuma ambil lauk tanpa nasi, ada yg nasinya sedikit, tapi demi menghormati tuan rumah aku sampai nambah 1x. Teman2 pada heran. Aku emang hobi bikin orang heran. Hahaha..
Cerita berlanjut ke rumah pak Martono. Awalnya aku sempat sewot ke Aziz karena gak ngabari bu Martono kalau kita mau datang. Takutnya nanti orangnya tidak ada. Karena pas Aziz kesana tidak ada orang sama sekali. Tapi belakangan kami sekelompok bersyukur karena bu Martono tidak diberitahu. Soalnya kalau diberitahu pasti beliau nyiapkan makanan dan kita disuruh makan. Padahal perut udah full! Gitu juga bu Martono dan mbah Martono mau buatkan lauk, tapi buru2 kita cegah. Tak sanggup kalau harus makan lagi. Saat silaturahim seperti ini kami tidak berani menolak makanan. Apalagi kalau sudah disiapkan. Mending gak usah beritahu kalau datang. Hehehe..
Setelah rumah keluarga Martono kita ke Timur menuju rumah pak Modin. Sambil jalan kita sekalian silatutahim ke mbak Jum, bu Carik juga. Sampai di rumah pak Modin kami agak lama ngobrol. Keluarga pak Modin tambah satu, namanya Najwa. Ya, bu Modin yang saat kami KKN sedang hamil besar sudah melahirkan bayi yang lucu. Bayinya anteng banget, gak mudah nangis.
Yang membuat kami terharu adalah kesan pak Modin yg mengatakan kalau kelompok kami diterima oleh Masyarakat. Sebelum2 tidak seperti itu. Kami hanya bisa bersyukur dan bahagia. Hal itu menjadi pelajaran berharga bagi kami untuk menapaki jenjang kehidupan berikutnya saat kami harus terjun ke masyarakat. Menjadi bagian dari masyarakat. Bu Martono juga mengatakan hal yg sama. Amanah besar utk terus menjaga silaturahim dengan mereka. Dan memang eman kalau hubungan yg sudah terjalin sejauh ini terputus begitu saja, meskipun kami tidak yakin bisa memberi kebermanfaatan lebih bagi desa Tlatah. Mungkin suatu saat, tapi entahlah…
Selesai dari pak Modin kami berencana pulang. Kami mampir lagi ke rumah p. Martono krn p. Martono baru pulang. Jadi kami menyempatkan untuk salaman. Begitu pun di b. Lurah utk salaman dg p. Waji. Di b. Watik kami diberi banyak oleh2: jajan dan jagung yg rencananya mau kami buat bakar2.
Oke, dari Tlatah selesai. Eh, tinggal satu sih. Tadi pagi sempat telpon Anggi utk beritahu kalau mau silaturahim. Karena sudah bilang kami harus datang. Rencananya cuma sebentar lalu cabut, tapi ternyata tidak bisa. Pak Suntoro mengatakan kalau bepergian pas maghrib gak baik. Emang betul sih. Kami pun singgah utk mendengarkan nasihat beliau. Dan seperti yg sudah2, pak Suntoro membuka sifat2 kami. Khususnya yg cewek2. Yang membuatku heran, beliau bisa menebak neptuku dg benar: Kamis Pahing hanya dg melihat nama. Aku sampai penasaran, emang ilmunya seperti apa?
Bagian yg paling seru adalah ketika kami ditawari makan. EMPAT! Ketupat, semur, krupuk rambak, dan fanta!! Harapan Dino akhirnya terkabul. Kali ini benar2 Fanta, bukan air merah abal2. Tapi yg paling sewot Sabila, “Kalau minum pakai sedotan!” karena kalau tidak bisa merusak gigi. Oke, nurut deh..
Setelah maghrib kami izin pulang. Syukurnya beliau tidak menahan kami. Karena kelihatannya pak Suntoro nyiapkan kertas untuk sesuatu. Mungkin ingin menunjukkan hal yg membuat kami terheran2 lagi. Tapi alhamdulillah setelah kami menginterupsi beliau tidak jadi. Sebenarnya pengen lama2, tapi kami khawatir kemaleman. Kami pun langsung pulang.
Dari pak Suntoro kami langsung ngantar Silpong pulang. Sempat ke rumah Bambang di Punggur sebentar, tapi gak sempat ke rumah bu Lis di Sedah Kidul. Sayang sekali. Padahal beliau yg banyak membantu kami di sekolah.
Perjalanan kami sampai di rumah Silpong. Seperti biasa kami salaman dg keluarganya dan makan camilan di meja. Di perjalanan tadi kami sudah mewanti2 Silpong agar bilang mamanya tidak usah nyiapkan makanan. Tetapi seperti yg sudah diperkirakan di rumah Silpong kami diminta makan lagi. Oh, tidak!! LIMA! Tapi gimana pun kami tetap makan. Untung tadi jeda dari makan di bu Lurah sampai pak Suntoro cukup lama. Jadi makanan di perut kami sebagian sudah turun. Aku makan agak banyak juga. Tapi kalau diminta nambah, bendera putih deh: nyerah!
Setelah dari Silpong dan nurunkan Aziz di pertigaan Purwosari kami balik ke Surabaya. Di perjalanan seperti biasa kami ngobrol ngalor ngidul, mulai fisiologi sampai nasihat menasihati. Alhamdulillah kami sampai rumah sebelum tengah malam. Meskipun sampai kampus motor digembok tidak masalah. Aku mendapatkan banyak pelajaran dari perjalanan kali ini. Berikutnya apa ya?