Dalam sepekan terakhir ini, banyak media membahas terkait tahun baru hijriah. Ada beberapa juga yang menyinggung peran besar Umar ibn al-Khattab dalam pembuatan kalender Islam dengan peristiwa hijrah sebagai tahun dimulainya kalender tersebut. Beliaulah sosok yang memiliki inisiatif agar peradaban Islam yang baru berumur kurang dari 50 tahun itu memiliki sistem penanggalannya sendiri sebagai bukti bahwa peradaban baru tersebut ora sepele.
Sebenarnya sejak masa sebelumnya, kaum muslimin sudah memakai kalender, namun tidak seragam. Sehingga sering terjadi miss, terutama pada bagian tahunnya. Jadi untuk merapikan administrasi, diperlukan kalender baku yang diterapkan di semua wilayah Khulafaur Rasyidin.
Lalu mengapa peristiwa hijrah dipilih untuk dijadikan sebagai latar belakang dalam penyusunan kalender Hijriah?
Plis jangan ada yang menjawab 'ya soalnya namanya hijriah, kalo namanya hudaibiyah pasti dari peristiwa hudaibiyah' Hey gak gitu ya kentongan pos ronda. Justru karena diambil dari peristiwa hijrah, makanya dinamakan hijriah. Peristiwa hijrah diambil sebab peristiwa itu adalah titik balik perjuangan kaum Muslimin pada waktu itu, yang tadinya terpinggirkan menjadi dimenangkan.
Wah sepertinya menarik. Titik balik perjuangan? Terpinggirkan oleh siapa dan dimenangkan oleh siapa? Pelan-pelan pak sopir. Insyaallah kita akan bahas bersama!
Peristiwa hijrah dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah), menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat manusia. Bagaimana tidak, peristiwa ini menjadi penentu lahirnya peradaban besar nan agung, atas anugerah dan rahmat dari Allah yang Maha Kuasa tentunya.
Pada periode Makkah, ketika Nabi Muhammad ﷺ bersama para penduduk Makkah yang telah berislam mengupayakan perubahan dalam struktur masyarakat Quraisy menuju bangsa yang lebih baik di Makkah, justru mereka mendapatkan penolakan keras dari mayoritas elit Makkah.
Hanya segelintir saja orang terpandang yang mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, dan selebihnya adalah kaum kecil dari golongan budak dan rakyat miskin. Kaum yang termarjinalkan. Namun seiring berjalannya waktu, komunitas kecil yang mengharap perubahan itu semakin berkembang.
Merasa ada upaya perebutan pengaruh, para elit Makkah malah menunjukkan sifat buruknya. Blunder besar.
Alih-alih memperbaiki diri dan merubah strategi politik menjadi lebih baik, jutsru mereka melakukan tindak represif terhadap warga Makkah.
Siapapun yang mencoba menyatakan diri berislam dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, akan ditindak secara tegas. Tidak ada ruang untuk bersuara. Sama sekali. Jika dari kalangan atas, mereka akan dipenjarakan. Sedang rakyat kecil akan mendapat siksaan. Gedung parlemen Dar an-Nadwah menjadi saksi keputusan busuk para pimpinan Quraisy ini.
Sebagai penguasa, tentu akses mereka terhadap informasi lebih besar dari rakyat biasa. Tak segan, mereka menebar hoax untuk menyudutkan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat. Pelaksanaan shalat dan ngaji pun tidak lepas dari pantauan mereka. Beberapa kali mereka membubarkan massa yang sedang ngaji bersama Nabi ﷺ.
Hal ini menjadikan masyarakat Makkah bisa menilai, antara mana yang memang menginginkan kebaikan dan mana yang hanya memikirkan kekuasaan. Beberapa elit Makkah yang cukup terpandang, akhirnya memutuskan diri untuk bergabung ke pihak Rasulullah ﷺ.
Salah satu dari mereka adalah Umar ibn Al-Khattab RA. Sosok terpandang dari Klan Bani Adiy. Seorang yang kelak menjadi Khalifah kedua, menggantikan Khalifah pertama, Khalifatu Rasulillah Abi Bakr Abdullah ibn Ustman Abi Quhafah Ash-Shiddiq RA.
Tokoh yang kelak juga menetapkan peristiwa Hijrah menjadi peristiwa penanda dimulanya tahun pertama Hijriah. Tahun, ya, bukan tanggal. Sebab peristiwa Hijrah tidak terjadi pada bulan Muharram sebagai bulan pertama. Hanya tahunnya saja yang dijadikan sebagai tahun pertama Hijriah.
Oke, kita kembali lagi kepada kisah masa-masa sulit di Makkah. Semakin lama, elit Makkah semakin tak terkendali. Pembubaran paksa, siksaan terhadap rakyat kecil, pembungkaman suara. Beberapa kali Nabi dan para sahabat mendapat tuduhan subversif, bahkan sampai mendapat ancaman dan upaya pembunuhan.
Walaupun banyak tekanan dari berbagai pihak, cahaya perjuangan Nabi dan para sahabat tetap berpendar. Bertahun-tahun berjuang dalam kesulitan. Tidak hanya empat-lima tahun. Bahkan sampai 10 tahun lebih Nabi dan para sahabat menjadi oposisi dan selama itu pula perlakuan elit Makkah sangat keras terhadap mereka.
Nyatanya, semua problem itu malah menambah rasa persaudaraan satu sama lain. Ruh juang semakin menyala. Suara juangnya yang lantang tetap terdengar ke segala penjuru. Sampai-sampai, beberapa orang dari luar Makkah yang mendengar seruan ini tertarik dan menyatakan diri berislam, termasuk segelintir orang dari Yatsrib pada musim haji.
Kabar tentang pembawa misi kebaikan ini pada akhirnya sampai kepada dua klan dari Yatsrib yang saling berseteru. Pada tahun ke-12 kenabian, beberapa perwakilan dari Klan Aus dan Klan Khazraj berangkat dari tanah Yatsrib datang menghadap Nabi ﷺ. Termasuk dalam rombongan itu, beberapa orang yang sudah sempat berkontak dengan Nabi pada musim haji tahun sebelumnya.
Peristiwa baiat aqabah pun terjadi. Hal ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masyarakat Yatsrib mulai meyakini bahwa jalan juang Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat adalah jalan menuju kejayaan. Sebab para perwakilan itu percaya bahwa Nabi Muhammad ﷺ lah yang mampu mendamaikan 2 klan besar yang tenggelam dalam lautan permusuhan tersebut.
Pasca baiat aqabah, Nabi tak ingin melewatkan peluang ini. Beliau mengutus Mushab ibn Umair RA bergerak menuju Yatsrib sebagai duta dakwah untuk mengenalkan Islam kepada masyarakatnya. Mushab kembali ke Makkah pada musim haji tahun ke-13 kenabian dengan membawa berita kesusksesan dakwahnya di Yatsrib.
Pada tahun yang sama, masyarakat Yatsrib kembali mendatangi Nabi ﷺ dengan jumlah massa yang lebih besar. Terjadilah baiat aqabah yang kedua. Beberapa poin tentang loyalitas pada perjuangan yaitu dengan berpegang teguh di jalan Allah diamini dengan baik oleh peserta.
Peristiwa ini praktis membuat banyak orang optimis bahwa dakwah akan diterima di Yatsrib. Akan tetapi, ada setan yang membocorkan kegiatan tersebut. Atas hal ini, seorang peserta menyampaikan kepada Rasul ﷺ bahwa massa yang terkumpul kali ini siap dan sanggup untuk menundukkan wilayah Mina.
Rasul ﷺ menolak, beliau menyampaikan bahwa belum ada perintah untuk melakukan perlawanan. Belum saatnya mengangkat senjata. Di lain pihak, nasi telah menjadi bubur bagi Quraisy yang sedikit terlambat mengetahui kepastian berita seputar peristiwa baiat ini. Rombongan dari Yatsrib sudah telanjur kembali menuju kampung halamannya.
Baiat aqabah kedua, atau dikenal dengan baiat aqabah kubra ini menjadi sebab menguatnya rasa percaya diri, keberanian, dan soliditas sesama rekan juang dalam menyusur jalan dakwah. Saling support antara saudara seperjuangan dari Yatsrib dan saudaranya yang tertindas di Makkah menjadi motivasi bersama agar tetap bertahan dalam jalan panjang ini.
Keberhasilan membangun sebuah mata air di tengah padang gersang ini merupakan upaya paling gemilang sejak jalan juang ini mulai digerakkan. Setelah masyarakat Yatsrib mulai terbuka kepada misi perubahan yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat, jalan juang ini mulai menemukan titik terangnya.
Hingga kemudian arahan berhijrah dari Nabi Muhammad ﷺ atas perintah Allah pun tiba. Di bawah komando Nabi, gelombang-gelombang hijrah diberangkatkan secara sembunyi-sembunyi dari Makkah menuju Yatsrib.
Termasuk Umar yang juga merencanakan hijrah secara sembunyi-sembunyi bersama beberapa sahabat juangnya. Ayyasy bin Abu Rabiah RA dan Hisyam bin Al-Ash RA. Hisyam tertahan sejak awal. Kemudian Ayyasy pada akhirnya dipenjarakan oleh Abu Jahal. Sebuah potongan kisah perjuangan yang begitu menusuk hati.
Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakr termasuk kloter yang kesekian. Ketika parlemen Dar an-Nadwah pada akhirnya memutuskan untuk melakukan upaya pembunuhan terhadap Rasul, Allah berikan skenario terbaik dengan memberangkatkan Rasul terlebih dahulu sebelum kediamannya digrebek.
Mereka membuat makar, Allah pun membuat makar, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat makar. Ali ibn Abi Thalib RA yang tampil sebagai stuntman berbaring di tempat tidur Rasullullah ﷺ. Rela dirinya menjadi samsak tinjuan masyarakat Quraisy. Di tempat lain Abu Bakr dengan teguhnya menemani Rasulullah ﷺ langkah demi langkah. Memutar ke selatan, baru berjalan ke utara.
Munculah seorang tokoh juang perempuan yang kelak selalu dikenang atas jasanya. Asma binti Abu Bakr RA. Seorang yang menyiapkan bekal bagi ayah dan sahabat ayahnya yang tercinta. Perjalanan panjang menuju Yatsrib dimulai.
Kisah yang sangat menyentuh hati tentunya. Ketika Abu Bakr rela kakinya tersengat binatang berbisa dalam gua Tsur karena saking tidak relanya beliau apabila Rasul sampai merasa tidak nyaman beristirahat. Allah bersama kita!
Kisah yang sangat unik tentunya. Ketika menunggangi unta, Abu Bakr selalu membonceng Rasul, dan bila ada orang asing yang menanyakan hal tersebut, Abu Bakr menjawab bahwa yang di depan adalah seorang penunjuk jalan baginya. Haha, dua orang sahabat yang sangat asik! Hal ini disebabkan karena Abu Bakr merupakan orang yang lebih senior, dan namanya besar dikalangan masyarakat. Agar perjalanan mereka aman, Abu Bakr memakai siasat tersebut.
Talaal badru alaina!
Telah terbit bulan purnama di tengah-tengah kita!
Marhaban ya khaira da'!
Selamat datang wahai sebaik-baik penyeru!
Setibanya di Yatsrib, masyarakat menyambut Sang Pembaharu dengan gegap gempita. Masa depan Yatsrib dengan perdamaian terbayang dengan jelas. Kesejahteraan sosial dan kemakmuran menjadi impian yang tak lagi sebatas angan.
Tak hanya sekadar menyambut. Warga Yatsrib juga menawarkan rumahnya sebagai tempat singgah bagi Nabi. Mereka juga bahu membahu menolong para sahabat yang sudah sampai sebelum maupun sesudah kedatangan Nabi. Rasa gembira menyertai semua orang. Hati para sahabat begitu bahagia ketika menjumpai bahwa warga Yatsrib sangat menerima kehadiran mereka. Berbalik 180 derajat dari masa-masa sulit mereka di Makkah.
Lautan cinta membentang sepanjang mata memandang. Namun Nabi dan para sahabat tidak larut terlalu lama dalam kebahagiaan ini. Masih ada misi yang harus dituntaskan. Peletakan batu pertama dalam pembangunan peradaban besar harus segera diinisiasi. Proyek peradaban madani itu akhirnya bisa dimulai dengan rasa lebih aman.
Langkah progresif dilakukan oleh Nabi bersama para sahabat. Pada kemudian hari, nama Yatsrib diganti menjadi Madinah, dan dikenal juga sebagai Madinah an-Nabi atau al-Madinah al-Munawwarah. Kotanya Nabi atau kota yang bercahaya.
Selanjutnya, di bawah komando Rasulullah ﷺ semua berbondong-bondong mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan umat. Masjid yang kelak akan dijadikan oleh beliau sebagai pondasi kokoh dalam proyek besar pembangunan peradaban yang madani.
Rasul ﷺ juga menguatkan soliditas umat dengan mempersaudarakan antara faksi Muhajirin (penduduk Makkah yang berhijrah) dan faksi Anshar (penduduk Yatsrib yang telah berislam). Yang oleh Ilmuwan Muslim, Ibn Khaldun, menyampaikan bahwa soliditas sosial merupakan syarat utama bagi tegaknya kedaulatan.
Berikutnya, Rasulullah ﷺ membangun pasar sebagai pondasi ekonomi umat. Pasar yang pada akhirnya mampu mengubah konstelasi perekonomian di Madinah. Sebuah langkah apik dari beliau yang mampu menguatkan posisi pasar di Madinah dari sebelumnya yang hanya berjalan biasa dan cenderung merugikan rakyat kecil ketika dikendalikan oleh tangan-tangan Yahudi sebab maraknya praktik riba.
Tak ketinggalan, Rasulullah ﷺ juga menyusun konstitusi yang mengikat seluruh penduduk Madinah dengan adil. Konstitusi pertama di dunia yang menempatkan masyarakat pada suasana kehidupan yang demokratis, mengandung nilai kemanusiaan, kebebasan, serta sekaligus terdapat hak dan kewajiban.
Semua elemen masyarakat dilibatkan dalam mengemban tanggung jawab untuk membela dan memperkuat struktur agar Madinah mampu menjadi wilayah yang aman sentosa bagi warganya. Kini, semua memiliki peran yang sama dalam membangun peradaban di Madinah.
Kita bisa kembali mengingat, betapa perjuangan tanpa lelah Nabi Muhammad ﷺ beserta para sahabat ketika masih di bawah tekanan elit Makkah mampu menghantarkan mereka pada titik balik yang sungguh di luar sangkaan siapapun. Tentang tawakkal yang selalu dihayati dan ikhtiar yang selalu diupayakan.
Betapa hijrah ini menjadi bahan bakar yang sangat menentukan dalam proyek kobaran pembangunan peradaban yang sejak lama telah dimulai percikannya di Makkah.
Dekatnya Nabi Muhammad ﷺ dan sosok-sosok yang membersamai beliau dengan kaum marjinal. Gigihnya beliau dan para sahabat dalam memperjuangkan misi dakwah. Serta kokohnya mereka dalam menghadapi tindak represif dari elit Makkah. Merupakan bukti kerasnya jalan yang mereka tempuh.
Namun satu langkah pun tak pernah surut. Mereka hanya berharap kebaikan. Ridho Allah dan kejayaan peradaban. Jalannya panjang! 13 tahun mengalami tekanan elit dari parlemen Dar an-Nadwah. Setelah hijrah pun kelak masih akan mendapat percobaan serangan dari pihak Quraisy.
Mereka hanya berharap kebaikan. Ridho Allah dan kejayaan peradaban. Maka, Allah memberi jawaban atas usaha keras mereka. Berhijrahlah!
Sebuah jawaban yang sebenarnya sama sulitnya. Antara berat dan ringan. Berat karena harus meninggalkan kampung halaman berikut isinya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ditangkap, dan ringan karena selepas ini perjuangan akan terasa lebih mudah di tanah yang lebih subur. Tapi memang begitulah arti pengorbanan yang sejati.
Maka bergembiralah bagi kita yang tengah menempuh perjalanan ini. Mari bersama menguatkan kaki kita. Melapangkan dada kita. Merendahkan hati kita. Sungguh, kita sedang menempuh jalan yang sama dengan jalan pendahulu kita yang bersusah payah membangun peradaban manusia yang luhur, yang dengan gigihnya mencoba untuk menembus kemustahilan.
Cita mulia mereka dalam membangun peradaban madani, yang dimulai dengan melakukan perubahan kecil dari diri sendiri hingga merepotkan diri sendiri untuk memikirkan umat menjadi pengingat bagi kita bahwa proses itu memang tak singkat temponya. Tetap bertahan, kawan. Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi!
Semoga Allah senantiasa memberikan shalawat kepada Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan para penegak risalahnya hingga akhir zaman kelak. Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita semua dalam berpegang teguh kepada diin-Nya.
Kisah selengkapnya seputar hijrah dan perjuangan Nabi dan para sahabat bisa dibaca-baca melalui sumber di bawah.
Sumber bacaan dan tontonan:
Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, dialihbahasakan oleh Agus Suwandi, terbitan Ummul Qura, cetakan pertama, 2021
Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, KH Moenawwar Chalil, terbitan Gema Insani, cetakan ke-12, 2021
Revolusi Sosial Muhammad ﷺ, Deden A. Herdiansyah, terbitan Pro-U Media, cetakan pertama, 2019
The Arabs: a Short History, Philip K. Hitti, dialihbahasakan oleh Dedi Slamet Riyadi, terbitan Qalam, cetakan pertama, 2018
https://suaramuhammadiyah.id/2021/01/28/nabi-muhammad-saw-12-kaum-quraisy-menyusun-konspirasi/
https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/08/11/obqvhg313-hijrah-dan-kejayaan-peradaban-islam
Serial Farouk Omar (2012)