My breathable space 🌳 Writing about things I see, experience, and find them interesting. May Allah grant me His guidance and help me write what He loves 🌱
روى ابن أبي الدنيا عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس ، وأحب الأعمال إلى الله عز وجل سرور تدخله على مسلم ، أو تكشف عنه كربة ، أو تقضي عنه دينا ، أو تطرد عنه جوعا ، ولأن أمشي مع أخي المسلم في حاجة أحبُّ إليّ من أن اعتكف في هذا المسجد –
يعني مسجد المدينة – شهرا … ومن مشى مع أخيه المسلم في حاجة حتى يثبتها له أثبت الله تعالى قدمه يوم تزول الأقدام ) حسنه الألباني في الترغيب والترهيب (2623)
Ibn Abi’l-Dunya narrated from Ibn ‘Umar that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said:
“The most beloved of people to Allaah is the one who brings most benefit to people,
and the most beloved of deeds to Allaah is making a Muslim happy, or relieving him of hardship, or paying off his debt, or warding
off hunger from him.
For me to go with my Muslim brother to meet his need is dearer to me than observing i’tikaaf in this mosque – meaning the mosque
of Madeenah – for a month…
whoever goes with his Muslim brother to meet his need, Allaah will make him stand firm on the Day when all feet will slip.”
Classed as hasan by al-Albaani in Saheeh al-Targheeb wa’l-Tarheeb, 2623.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pengingat dari Allah memang seringkali datang tanpa diduga, lewat jalan yang tak terkira.
---
Aku sedang membaca buku (hadiah dari seorang kenalan, jazaahallah khairan) "The Beautiful Names and Attributes of Allah: Important Principles to Remember" karya Syaikh Utsaimin rahimahullah, saat aku mendapati hal menarik pada bagian introduction oleh Syaikh bin Baz rahimahullah.
"I listened to it (being read to me) from its beginning until its end," demikian beliau rahimahullah berkata, "and found it to be a book of great value and importance." Aku pun termenung, teringat dengan arahan guru kami hafizhahullah ketika memotivasi kami untuk berdakwah sesuai kemampuan dan kapabilitas kami,
"Kalau kalian mau menulis sesuatu (konteksnya adalah menulis yang berkaitan dengan agama, tapi sebetulnya berlaku dalam tema apapun, kan?), minta tolonglah kepada senior kalian untuk membacanya, untuk cek, untuk proofread tulisan kalian sebelum kalian post."
Dan inilah sang penulis buku yang sedang kubaca, Syaikh Utsaimin rahimahullah, salah satu ulama kontemporer pakar fiqh di abad ini, menjadikan buku beliau dibacakan di hadapan guru beliau Syaikh bin Baz rahimahullah secara keseluruhannya.
Lalu bagaimana denganku? Siapalah aku, sehingga aku melalaikan sebuah hal yang begitu penting ini? :")
Padahal, bisa jadi, selama ini aku salah memahami sesuatu sehingga juga salah dalam menulis tentangnya. Pemilihan kata yang kurang tepat atau kurang bijak juga tak lepas dari kemungkinan yang ada.
Bagian intro, muqaddimah, atau pendahuluan yang kerap ditinggalkan oleh para pembaca buku, termasuk aku, ternyata menjadi jalan bagiku untuk diingatkan oleh Allah. Agar terus berhati-hati ketika menulis. Agar double-check sebelum menyampaikan. Agar tidak sembarangan saat berbagi walau berniat kebaikan.
Dari sini, aku pun makin yakin bahwa bagian pendahuluan buku memanglah bagian yang tidak seharusnya ditinggalkan oleh para pembaca. Seperti nasihat dosen kami ketika kami masih duduk di semester awal dahulu. Dan hari ini, aku bersyukur karena muqaddimah buku kesukaanku bertambah satu.
Segala puji bagi Engkau, ya Allah.
Ya Allah, bimbinglah kami dalam menuliskan kebaikan. Tolonglah kami dan beri kami taufiq untuk menuliskan hal-hal yang Engkau ridhoi ❤️
Menurut Nonaka dan Takeuchi, dua ahli yang kerap dikutip dalam disiplin ilmu Knowledge Management, mengklasifikasi pengetahuan yang dimiliki manusia berdasarkan cara mendapatkannya menjadi dua.
Jika selama ini sebagian kita berpendapat bahwa pengetahuan hanyalah apa-apa yang terdokumentasi dan dapat dipelajari, sehingga pengetahuan seolah-olah hanya berasal dari bahan ajar, manual book, laporan tahunan, lembar kerja, dll. Maka kita baru sampai di satu jenis klasifikasi pengetahuan. Pengetahuan sejenis ini diklasifikasi sebagai Explicit Knowledge, sifatnya formal, objektif, sistematis dan mudah disebarkan.
Sementara jenis pengetahuan lainnya adalah Tacit Knowledge, yaitu jenis pengetahuan yang bersifat internal dan pribadi. Merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman, intuisi, wawasan dll. Misalnya pengetahuan manusia atas rasa dan tekstur durian, juga pengetahuan manusia tentang rasanya berwisata arung jeram, atau bisa jadi pengalaman manusia dalam menghadapi kedukaan.
Setelah menyimak tayangan film yang sedang populer, aku menyoroti sebuah dialog yang disampaikan kepada karakter utama, lebih kurang seperti ini
“aku mengerti apa yang kamu rasakan”
Dialog itu terdengar berulang dan diucapkan oleh beberapa orang terdekat untuk “membatasi” gejolak perasaan karakter utama. Setiap dialog itu muncul, aku refleks mengernyitkan dahi, “bohong. mana mungkin”, batinku.
Walaupun bisa jadi membuat kita lebih baik dalam memberikan saran dan tanggapan (tentu hanya jika diminta), tetap saja pengalaman menghadapi segala emosi dan perasaan baik suka, duka, marah, cemas, takut dan lainnya adalah Tacit Knowledge, maka sifatnya selalu personal, unik dan khas.
Sehingga sadarilah bahwa kita tidak pernah benar-benar bisa mengerti perasaan orang lain.
Walau pernah menghadapi situasi serupa, apa yang dirasakan manusia tidak selalu sama — apalah lagi jika kita tidak pernah mengalaminya.
Jadi, jika kamu ingin hadir dan menemani perayaan juga kedukaan orang lain, ucapan yang lebih tepat adalah “aku ingin mengerti apa yang kamu rasakan”, kemudian biarkan mereka “mengalami” perasaannya tanpa merasa paling tahu dan berpengalaman.
My mom loves helping people when Allah makes it easy for her to do so, but not that easy that people can trick her effortlessly. And she helped someone we knew today. In front of me. I noticed that she wasn't in her best condition to help, but, she tried what she could do. I asked her what motivated her to help people. She said:
"Na, I hope Allah help me face my matters by helping others... And the way I see it: Allah CHOSE me to help them."
"What if... they didn't say the truth?"
I asked. Worried.
"It's their matters with Allah. Besides, I read the prayer a muslim can read when they go outside," she said, with those eyes that spark the strong belief she had, "and I believe in Allah, Na. I trust Him. He doesn't break His promise. Ever."
...
O Allah, bless my mom, and bless all of us.
---
What I learned from her today:
🍎 her motivation to help people
🍎 being reminded of the hadith of the rewards for people who help others, and one of the duas for leaving home or going out
🍎 how she puts her trust in Allah
🍎 how to strive for acting upon knowledge He had bestowed upon us...
:")
And here are the hadith and the dua...
🌱 THE HADITH ON THE REWARDS OF HELPING OTHERS:
🌱 THE DUA FOR GOING OUT:
Feb 3, 2025
23.30, after listening to the explanation of the hadith by Sheikh el-Osaimi hafizhahullah (in Arabic) 🌹🌹
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
How Allah Reminded Me: Another Wake-Up Call from Him
Now I’m starting to understand more and more why Allah put me in that situation.
---
I was asked to share what I’ve learned about the connection between the strength of tawheed and true happiness in life.
At first, I wasn’t so sure. I was even leaning toward refusing the offer because I knew I wasn’t someone with strong tawheed. I had been scared of what the future might hold, regretting things that had happened, and asking myself: can I really get through all of this?
But now Allah has made it clearer to me. He didn’t put me there because I had the strongest tawheed. Not because I had perfect eemân in my heart. Not because I never felt unhappy. Not because I never cried—I did, no doubt.
It was because I had experienced some of those struggles I mentioned on my slide, too. I’ve been unhappy before, and might be again, since no life is perfect. I’ve been deeply sad. I’ve shed tears. I’ve asked “why” over and over again. I’ve felt extreme anxiety about the future. There were times when my struggles completely took over my mind, leaving me stressed and overwhelmed.
But Allah guided me to find the cure for those struggles. He helped me collect the “pieces” of that cure, one by one, until they became a complete picture. Allah gave me a wake-up call, again.
Now, after sharing those pieces of the cure that we all need, I am reminded once again why I should’ve accepted the offer in the first place.
O Allah, You’ve always helped me, and there will never be a time when I don’t need Your help. Please assist me in all my affairs.
As a progress "report", I want to tell you what happened during our week 2.
I was still awake when Kak Irfan started making noises while he slept–not snoring, more like that kind of noise people make when they have a nightmare. He had asked me to always wake him up if I saw him experiencing a nightmare with those tangible signs, so that's why I became a lil concerned. I started to wake him up softly, asking him accidentally in Indonesian:
"Kak... Kenapa, Kak?"
He turned around and answered me with his eyes still closed:
"No, no... nothing. I just had a dream, and it was in English."
...
I laughed, and then I switched to English straight away! 😀
After he opened his eyes and was fully awake, I told him how he answered me in English when I woke him up minutes ago. He laughed with me because he said that unconsciously 😂
That moment made me realize that one of the hardest things about this habit-building endeavor is to continue speaking in English even when we're not entirely awake or have just woken up!
---
💭 Speaking of having a dream in another language, I want to share what I read lately about that topic with you:
Proficiency, emotions, immediacy are all potentially in play in conversations that run deep into the unconcious night, says dream expert Dei
And, have you ever had one?
I remember my first dream in another language that I got when I was in high school. Even though it wasn't full English, it was quite memorable to me.
I was somewhere strange, waiting in a quite long line for lunch. The wall was all white. The floors were the same. People were talking in murmuring voices when I noticed someone standing in front of me. Her face was the only familiar face in the room to me. It took me a few seconds to realize that she was one of my school friends.
Then, I had a conversation with her.
It wasn't clear enough what topics we talked about since those memories started to fade, however, I remember exactly the last thing she said to me:
"You have to try this. Trust me, it works!"
And.... I woke up afterwards.
What makes me remember that dream a lot is the tone of my friend's voice. When she said "Trust me, it works!", she really, really sounded like an ad on tv! 😅 📺
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
What I Got After I Tried to Start Speaking English 24/7 with My Bestie 🚀
Started on: Sunday, Sep 15, 2024
💡 As a backstory:
In order to increase our speaking skills, I made a big deal with Kak Irfan: trying to speak English with each other—which we made a similar deal months ago but failed—and now without any punishment.
I am always that person who likes to talk to themselves with a whispering voice when no one is around. Actually, I've been forcing myself to think and to speak to myself in English since I was in 8th grade. And my goal that time was just to get used to speaking English, so I didn't really make sure if I spoke in correct English or not. I can say that I am getting used to speaking English (once again, to myself), since I found myself speaking it automatically, but it's still not that easy when it comes to speaking it with other people (including Kak Irfan as my 24/7 bestie!!). I know it's my confidence that I'm lacking. As a person who didn't get adequate English exposure at home and at school, I am beyond happy and super grateful that Allah, The All-Provider, gave me this precious chance and a partner to improve both my skills and my confidence.
Okay, so here are some things I got or happened....
🌱 IN WEEK 1:
🗣️ I gained more confidence and spoke English with better pronunciation ‼️
🐥 I could talk in longer sentences and started to look more new words up
🪴 I accidentally spoke English to others ➡️ which was kind of a proof that I was getting more exposure
EXPLANATION:
🗣️ I am happily announcing that I gained more confidence on my first three days of this habit-building!! Alhamdulillah 🤎
Back then:
"This is not what I am looking for." ➡️ with that clear "R" sound in "for", the way Indonesians speak "R" letter.
Now:
"This is not what I am looking for." ➡️ trying to make it sound better and more correct since the goal now is to improve my speaking skills.
🐥 Back then, I tried to avoid using Indonesian words that I didn't know how to say in English by trying to make my sentences more straightforward. I didn't want to look that unfamiliar words up. With Allah's assistance and taufeeq, I am now motivated to learn more, which causes me to speak in larger words and longer sentences, and to look more new words up.
🪴 I accidentally spoke English to random people or people that were around me at home.
One of them: I hit someone unintentionally when I was entering a room. What I wanted to say was, "Maaf, mba." However, the words that I came up with were: "I'm sorry!" with the right pronunciation.
I am not really sure about this tho, but I somehow saw this moment as evidence that I was getting more English exposure and I was becoming more familiar with the environment that I have been building with Kak Irfan. Similar to what happened to me when I was a college student, when I spoke some Arabic words unconsciously at home because I read Arabic books, listened to Arabic lectures, and gave presentations in Arabic during that period.
--
To be honest, I wondered, what makes these two agreements between me and Kak Irfan different? What caused me to fail before, and what makes me stronger now?
I think I know the answer.
By Allah's assistance, taufeeq, and mercy,
I think it is this realization inside me.
I do realize that I need this habit, I need to talk, I need to learn, I need to practice, or to simplify: I NEED THIS.
That kind of realization is something I didn't have in our first trial.
And to wrap up this long story...
🍎 A funny (at least to me) moment happened this week:
We were eating in a cafeteria when I saw Kak Irfan abruptly stand up and grab his backpack. He appeared to be looking for something on the carpet (we sat in a lesehan way).
"What are you looking for?" I asked him.
He remained silent, searching for something I wasn't aware of. I kept enjoying my food.
All of a sudden, he stared at me, I could tell he was a lil bit shocked, and began pointing his finger at my head and screamed,
"There's a cockroach!!" (Yes, he screamed in English 🥲 the real implementation of "sticking to the rules")
That really freaked me out (I hate cockroach so much!!) and nearly threw the mug I was holding away, but at that specific moment I realized that if the mug broke, I would have to pay for it 🙃 so I spilt all of the leftover iced tea instead with a shaking hand 😌 And the cockroach? It flew away immediately after my sudden movements.
I was soooooo grateful that it didn't land on my food, or on my forehead, or even on my nose!! 😭
The aftermath: I got goosebumps for around 1–2 hours afterwards 🫠
Okay, we knew that actually cockroaches could be anywhere, but...
we don't want to eat there ANYMORE 🙂
May Allah make this beneficial especially to me and to others who read.. and happy learning! 🔥
Aku suka bertemu dengan orang lain dan berbincang dengan mereka, meski setelahnya aku butuh waktu cukup banyak untuk beristirahat. Aku senang belajar dari mereka, mendengarkan cerita-cerita mereka yang menarik dan sebagiannya belum pernah kualami, kemudian mendapatkan insight baru yang berharga.
---
Beberapa hari lalu, aku ikut suami untuk bertemu dengan temannya dari Jogja yang sedang ada kegiatan di kota ini.
Beliau berdua berbincang dengan topik ke sana kemari seputar kesehatan dan pendidikan (thanks to the news about meds and health care so that I got what they were talking about). Ternyata, dengan izin Allah, aku mendapatkan cukup banyak poin menarik dari menyimak beliau berdua. Di antaranya adalah tentang istri beliau yang sekarang sedang menempuh pendidikan S2 di UCL sehingga mereka menjalani LDM. Mereka berniat untuk lanjut sampai S3, dan yang aku dapati menarik adalah perkataan beliau seputar pendidikan tersebut:
"Aku bilang ke istriku, lanjut saja sampai S3. Tapi kalau memang mau lanjutnya di luar negri, berarti kami cepat-cepatan saja. Jadi seperti kompetisi sehat gitu, lah ya, hehe. Siapa yang lebih cepat dapat LoA dan scholarship, yang satunya lagi berarti yang ikut dulu ke sana, supaya kami ga LDM."
Masyaallah.
Menarik sekali, melihat dan mendengarkan kisah tentang sepasang suami istri yang sama-sama mengejar pendidikan setinggi-tingginya, sebaik-baiknya. Striving for excellence. Maka benarlah bahwa seharusnya pernikahan itu tidak menghalangi satu sama lain dari menuntut ilmu, namun keduanya justru saling mendukung untuk terus berkembang, belajar, aplikasikan ilmu dan berusaha meluaskan kebermanfaatan (and I thank you, husband, jazaakallah khairan!) Meski memang dalam hal ini, semua tetap harus disesuaikan dengan keadaan keluarga masing-masing.
---
Pertemuanku dengan beberapa orang akhir-akhir ini membuatku teringat dengan materi yang dibawakan oleh salah seorang guru hafizhahullah (semoga Allah menjaga beliau), mengenai bagaimana hidup bersosial sebagai seorang muslim, yang dibagi menjadi tiga keadaan sosial:
1. Saat berjumpa dengan senior yang lebih tinggi dari sisi usia, ilmu, dan derajatnya.
Momen ini bagaikan ghonimah (hari panen) untuk kita, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hazim rahimahullah.
Dari para senior kita bisa mendapatkan banyak insight, cerita penuh hikmah, dan masih banyak lagi!
Pancinglah senior kita berbagi pengalaman, berbagi cerita, insight, tips dan trik melakukan sesuatu yang sudah mereka lalui sebelumnya. Kita masih lebih muda, maka merapatlah kepada mereka!
Apabila di luar sana ada orang-orang yang mengeluarkan uang milyaran demi bisa duduk makan siang sambil diskusi dengan top tier businessmen, maka bagaimanalah dengan ilmu akhirat?
Apakah kita sudah cukup berjuang...?
2. Saat kita berjumpa dengan orang-orang yang selevel mereka dari sisi usia dan ilmunya.
Momen ini adalah kesempatan untuk berdiskusi, saling mengingatkan, muzakarah (tukar pikiran tentang suatu masalah) dan murajaah (mengulang pelajaran yang didapat atau dipelajari), juga saling berbagi pengalaman.
Momen berjumpa dengan teman "sepantaran" ini bukan ajang untuk pamer ilmu, siapa yang lebih hebat keilmuannya! Ini adalah momen berbagi... momen saling mengingatkan dan menguatkan.
3. Saat berjumpa dengan orang-orang yang lebih junior dari mereka, baik dari sisi usia maupun ilmunya.
Dalam momen ini, tidak sepantasnya merendahkan mereka dan menyombongkan diri atas mereka. Tidak pula ujub dengan diri kita sendiri hanya karena kita merasa ada di atas mereka. Hendaknya kita menyayangi mereka, tidak bersikap arogan, tidak merendahkan dan meremehkan.
---
Luar biasa.
Bagiku, ilmu ini sangatlah berharga! Sungguh ini merupakan ilmu kehidupan yang bisa diterapkan di mana saja. Betapa momen perjumpaan kita dengan orang-orang lain merupakan momen yang, seharusnya, tidak kita jadikan berlalu begitu saja, tapi kita jadikan sebagai momen yang bisa menambahkan hal-hal bermanfaat dalam hidup kita.
Seiring dengan aku menuliskan ini, aku jadi teringat dengan seorang teman hafizhahallah yang kusadari sudah menerapkan ini sejak lama. Dia lebih muda usianya dariku beberapa tahun. Aku dan dia jarang berjumpa secara tatap muka karena kesibukan kami satu sama lain, tapi bila Allah memberi kami kesempatan untuk berbincang via chat, dia kerap bertanya setelah memberi salam,
"Adakah cerita, pengalaman, atau insight yang bisa Kakak Digna bagikan ke aku?"
Baarakallahu fiiha! Semoga Allah senantiasa berkahi ia dan ilmunya.
Jadi...
Meet people.
Talk to them.
Learn from them!
You may learn some new things from them that you won't find at school.
I've been quite "swamped" with things in life—if I let myself say so—that I didn't realize how time flies so fast until I read a message from one year ago. I sometimes feel like I was trapped in 2023, and 2024 is not yet to come.
I was a little bit surprised this morning when I got a besek (a box of food) from an acquaintance because she just delivered her lovely baby, and I was happy for her, but the time she sent me a box of food from her wedding party always feels like it was just yesterday.
I sometimes forget how old I am. It always feels like I am in my very early 20s, and the time just stops that way.
I don't know how to describe this kind of feeling exactly. I'm confused. Puzzled, sort of.
I asked myself again, and again, and again.
Am I really doing something?
Alas, I still don't really know how to answer my own question.
Another question popped up in my head.
Does this all matter?
I sometimes end up sitting in front of my laptop, doing some self-talk—like I always do—and asking such questions and answering them like I don't care.
On some other occasions, before going to bed, the nights become so silent, and all I can hear is the sound of the air conditioner and my own voice that resounds in my head.
Nights may be so frightening for the coming of some uninvited deep thoughts that come without knocking on my door. I think a lot of people will join me in this club and say they agree. I don't really need their validation. I see what I see, and I feel what I feel. And this is it.
Do you know what an office that doesn't have a single off-day looks like? I think I saw them lately. Nope, I felt it—I lived there.
I mean, It's my head, if you're curious.
Do you really know how to flee from that kind of unfriendly office?
"Bersyukurlah Na, kalau kita dibuat tidak terkenal," katanya tiba-tiba sebelum kami beranjak ke motor, "berarti Allah jaga kita dari hal tersebut. Berapa banyak orang hancur karena keterkenalannya, kan?"
"Dan, semakin terkenal... bisa semakin tergerus privasi kita." Ia melanjutkan.
He was right.
Bukan hanya tentang privasi yang tergerus,
tapi juga tentang hati ini yang harus dijaga.
Semoga Allah jaga kita dari segala keburukan, dalam segala keadaan ✨
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
I like to talk to myself about anything when I am alone.
Waktu itu, aku sedang bersiap untuk melakukan sesuatu sambil melakukan kebiasaan tersebut. Aku, tanpa sadar, mengatakan kepada diriku sendiri,
"Habis lakuin A, baru kita lakuin B, yaa... Pokoknya preparation-nya harus kelar dulu."
Beberapa detik kemudian, aku—juga masih tanpa sadar—mengomentari kata-kataku sendiri,
Cielah, preparation... gaya banget, Na (pakai Inggris segala).
Lima detik kemudian, aku jadi berpikir...
Ah, jangan-jangan sikapku inilah salah satu hidden culprit yang tidak kusadari selama ini... Aku punya rasa ragu dan malu untuk berbicara dalam Bahasa Inggris, bagaimana pun orang mendorongku untuk melakukannya. Kalaupun kulakukan, aku melakukannya dengan sangat terpaksa. Meski begitu, aku suka melihat teman-temanku berbicara dengan Bahasa Inggris, apalagi kalau mereka melakukannya dengan kepercayaan diri yang tinggi. Aku mau jadi seperti mereka. Aku tahu bahwa ada keinginan kuat dalam diriku untuk bisa berbicara dalam Bahasa Inggris seperti itu, tapi aku selalu merasa ada tembok besar yang menghalanginya.
Aku seringkali membuat alasan,
ah, takut ditertawakan
ah, takut dikritisi
ah, takut dikatain
ah, takut sama grammar-nazi
Ironinya, meski orang-orang terdekatku tidak pernah menertawakanku (bcs they were kind, not bcs I was that good), ternyata akulah yang menertawakan diriku sendiri ketika berusaha praktek walau sedikit saja...
Ternyata akulah yang 'ngatain' diriku sendiri hanya karena praktek SATU KATA SAJA dengan Bahasa Inggris...
Ternyata akulah yang mengkritisi diriku karena MAU mempraktekkan apa yang sudah kupelajari...
Ternyata akulah tembok besar itu... yang selama ini kurasa jadi penghalangku untuk maju...
Aku jadi teringat sebuah ungkapan Afrika kuno yang pernah kulihat dalam sebuah video:
"When there's no enemy within, the enemy outside can do us no harm."
That time, I started to realize that
I, had been that enemy.
The enemy stayed within me.
I had been 'harming' myself, and I made outsiders' harm become even worse.
Ini benar-benar jadi pelajaran bagiku.
Terkadang, kukira pusat masalahnya ada di luar, sedangkan faktanya sumbernya datang dari dalam.
Ketika mendengar kata tersebut, sebuah pemandangan puncak bukit atau gunung dengan angin berhembus langsung muncul di kepalaku. Suasana yang adem. Tidak panas. Menenangkan. Udaranya begitu bersih—kita bisa mendapati banyak lichen pada pohonnya. Hijau daun tersebar sejauh mata dapat memandang. Aku sampai berpikir bahwa di scene seperti itu, gerakan tubuh yang cocok untuk dilakukan adalah berdiri, merenggangkan kedua lengan kanan dan kiri, lalu memejamkan mata seraya menghirup udara bersih itu dalam-dalam.
Pertanyaannya... Apakah udara sejuk hanya dapat ditemui di tempat-tempat seperti itu?
Pernahkah kalian merasakannya di tempat lain?
Ya... Aku pernah.
Aku merasakan 'udara sejuk' yang berhembus dalam hatiku tadi malam, di sebuah tempat yang tidak ada pohonnya sama sekali.
'Tempat dengan udara sejuk' tersebut adalah kegiatan briefing untuk sebuah acara beberapa pekan mendatang melalui zoom meeting yang diikuti oleh suamiku. Aku hanya menyimak bagian pembukaan dan penutupan, namun tanpa diduga, dengan izin Allah ternyata cukup banyak faidah yang aku dapatkan! Aku merangkumnya dalam beberapa poin sebagai berikut:
Dokter moderator membuka rapat dengan ayat 69 dari Surat Al-Ankabut:
"Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, Kami akan tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat baik."
Kemudian beliau menyampaikan penjelasan dari guru kami hafizhahullah mengenai ayat tersebut, yaitu:
apabila kita sedang berjuang, bersungguh-sungguh melakukan sesuatu, untuk dan karena Allah, maka Allah akan bukakan jalan-jalan-Nya untuk kita, dan Allah akan mudahkan segala proses dan urusan yang terkait dengannya...
Kemudian dokter ini mengingatkan para kawan sejawatnya agar senantiasa berjuang semaksimal mungkin, juga agar terus berdoa memohon pertolongan Allah untuk kelancaran kegiatan mereka ini.
Aku tertegun mendengarnya.
Sungguh pembukaan yang indah sekali untuk sebuah rapat briefing kegiatan, pikirku.
Ah, tapi, meski 'cuma' rapat briefing, bukankah memang sejatinya kita ini diciptakan untuk beribadah, Na...?
Bukankah mengingat Allah juga ibadah?
Bukankah mengingatkan saudara sesama muslim kita pun juga ibadah?
Bukankah...
Lisannya basah dengan doa.
Selama rapat berlangsung, ada beberapa kalimat yang ku-notice berkali-kali mereka ulangi. Kalimat-kalimat tersebut adalah:
"Semoga Allah mudahkan."
"Semoga Allah beri taufiq."
Dua doa ini sangat sering aku dengar mereka ulang-ulang di dalam dan di luar rapat rapat briefing tadi malam.
Doa yang senantiasa jadi harapan kami agar bukan hanya menjadi pelengkap kata-kata saja, tapi betul-betul agar bisa terus memohon kepada Allah supaya semua kegiatan nanti dimudahkan dan dilancarkan, serta diberi taufiq untuk lakukan hal yang tepat.
Doa meminta kemudahan dari Allah serta taufiq-Nya yang senantiasa dilisankan... adalah salah satu bentuk kesadaran bahwa manusia memang lemah dan Allah lah yang Mahakuat, kan...?
Seorang dokter senior menutup rapat juga dengan nasihat.
Di antaranya yang kudengar:
"Di sini ga ada yang jauh lebih berjasa daripada yang lainnya. Kita semata hanya berusaha."
"Kita hanya perantara, ilmu yang kita miliki ini pun hanya perantara."
"Sejatinya Allah lah yang menyembuhkan."
"Tidak ada yang mudah kecuali yang Allah mudahkan."
Berkali-kali mereka saling mengingatkan bahwa jika mereka sanggup melakukan sesuatu dan memberi tindakan yang tepat, maka itu sejatinya adalah pertolongan dan karunia Allah untuk mereka, bukan karena kehebatan mereka (yang datangnya juga dari Allah)...
Masyaallah....
Walaupun aku tidak simak bagian isi rapatnya, tapi dengan izin Allah, aku merasa bahwa rapat ini betul-betul menghembuskan udara sejuk dalam hatiku. Rasanya adem sekali. Ada ketenangan yang jelas aku rasakan, tidak kalah dengan gambaran pemandangan sejuk yang ada di kepalaku sebagaimana yang kuceritakan di awal.
Aku bersyukur sekali karena Allah mengingatkanku melalui lisan para dokter tersebut. Semoga Allah memberkahi mereka dan ilmu yang Allah karuniakan untuk mereka. Semoga Allah juga rizqikan mereka keistiqomahan dalam kebaikan, serta Allah kuatkan langkahnya untuk menjadi delegasi-delegasi muslim dalam dunia medis.