Mereka bilang untaian kata adalah representasi terbaik dari perasaan manusia, lebih baik dari ukuran statistik manapun. Bahwa kata bisa menyuarakan apa yang tidak bisa disuarakan. Laman ini berisi bagian dari kenaifan, kepolosan, kejujuran, dan ketidakwarasan penulis untuk diinterpretasikan secara bebas oleh siapapun. Barangkali kamu pernah merasakan hal yang sama.
Aku tahu kamu tidak peduli, tapi aku sedang tidak baik-baik saja.
Sore ini, dibawah terpaan angin dan debu jalanan Gorontalo yang ternyata belakangan ini menjadi pelarianku untuk melamun, aku tersadar bahwa hidup hanyalah pergantian dari satu peristiwa kecewa ke patah hati yang lainnya. Diantara keduanya, terkadang kita isi dengan euforia semu, yang menyimpulkan bahwa kebahagiaan itu sementara, yang pasti adalah putus asa. Karena pada akhirnya, selalu ada harapan yang patah — dan bahkan jika harapan itu telah terpenuhi pun, tetap saja tumbuh harapan baru yang memunculkan keputusasaan lainnya. Memang dasar manusia.
Sore ini, aku mendengar kabar yang mengejutkan tentangmu. Seketika aku merasa kehilangan sesuatu. Bukan kamu, melainkan rupanya aku kehilangan diriku sendiri. Aku kehilangan aku yang mandiri, penuh keyakinan, periang, dan ambisius katamu. Aku benar-benar lupa itu semua. Hati ini ternyata terlalu rapuh untuk bisa berpura-pura bahagia untukmu dan pilihanmu. Ada bagian rumpang yang tak bisa kuisi dengan apa saja. Dul, sejujurnya aku saat ini bingung harus bagaimana bersikap di depanmu nanti. Bagaimana aku harus menyimpan perasaan ini rapat-rapat. Harus kuanggap apa dirimu.
Dul, jangan ledek aku, tapi aku kalah lagi kali ini.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dear someone, membaca novel ini mengingatkanku akan kisah kita berdua, seperti memintal kembali untaian benang yang sudah terlanjur kusut lama tak terjamah, bagaikan membuka kembali luka yang membekas, pilu rasanya.
Sebuah narasi tentang perasaan yang tak pernah sempat tersampaikan, tersimpan rapat-rapat dalam relung hati terdalam. Kau tak perlu tahu bagaimana rasanya menjalani kehidupan dengan memendam rasa, betapa parahnya kalut dan sepi saat kau menganggapku tidak sepenting aku menganggapmu atau...lebih menyedihkannya....saat ku tahu bahwa kau telah memilih jalan hidup yang berbeda, tanpaku....
Dari awal kita memang sudah terpisahkan oleh jurang tak berdasar. Aku tak pernah menginginkan perasaan ini tumbuh, ia mekar begitu saja tanpa meminta ijin. Lagipula, sejak kapan cinta bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh?
Meminjam perkataan Tere Liye dalam Novelnya:
"Orang yang sibuk memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta."
Dear someone, aku harap kau bahagia bersama pilihanmu, biarlah perasaan ini menjadi urusanku, seperti selayaknya daun jatuh yang tak pernah membenci angin yang menerpanya, seperti kisah Tania bersama malaikat penolongnya.
— Excerption from the powerful book “Secrets of Divine Love” by A. HELWA that successfully touch the deepest feelings of my heart —
Oh Allah, I pray that You help me remember that my time on this Earth is short and that any day could be my last.
Allah, help me live every moment of my life in service to You and to those who are oppressed, needy, poor, and hopeless.
My lord, help me to apologize when I wrong others, to return what was entrusted with me, and to always be humble enough to take accountability for my mistakes.
Oh lord, I pray that my awareness of my impermanence inspires me to be more kind, generous, and forgiving to all people who are suffering and in need of love.
Allah, remind me that this life is not the only life I have been given. Help me remember that my real life begins whenever you decide for me to leave this body behind.
Oh Allah, “You are the creator of the heavens and the earth. You are my guardian in this world and in the life to come. Make me die as one who has submitted to Your will and unite me with the righteous ones” (12:101). In your eternal names I pray, Ameen.
Sebagai perempuan yang tidak punya hati adalah kesan yang membunuhku. Aku tak pandai mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang terlintas bergelantungan di benakku. Aku hanya tak berani membiarkan kesalahanku menggores luka lama.
Kurasa mendekam dalam diam akan lebih baik. Aku masih percaya akan ada keniscayaan dari sebuah harapan. Kau dan aku berjalan berlawanan. Semakin jauh kita melangkah, semakin asing pandangan kita.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jam dinding di kamar merasa bosan menatapku bergumul dengan khayalan
Merasa aneh melihatku bersenandung mengutuk masa lalu
“Kau manusia aneh dan bodoh” celetuknya
“Kau manusia yang rugi” cetusnya lagi
Kau dan aku berteman sejak kau memutuskan tinggal di kamar yang lusuh ini
Kau selalu berkeluh kesah padaku saat nasib tidak memihakmu
Atau ketika orang yang kau cinta itu tak lagi membersamaimu
Seringkali kau menatapku dengan sayu sambil mengumbar janji
Bahwa kau akan menjadi tangguh dan tak terkalahkan, oleh egomu
Lalu kau memintaku mempercepat denting jarum ini di tengah tangis rontamu itu, kau lakukan sesukamu
"Aku selalu patuh"
Tapi,
Lihatlah sekarang, kau lupa dengan janjimu
Satu kata saja dari kekasihmu itu dan pertahananmu sudah luluh
Kau kembali padanya dan melupakan segalanya, melupakanku
Bahkan kau juga lupa untuk menyaingi arus hidup yang tak henti berputar, kau telah kehilangan dirimu sendiri. Aku tak lagi mengenalmu.
Kau sekarang hampir tak pernah menatapku lagi
Aku merasa kau permainkan
Aku memang hanyalah benda mati yang tua dan lusuh
Tapi aku selalu memperhatikan setiap gerak aktivitasmu
Aku hanya ingin kau kembali
Aku tak ingin kau meringis sebab tangis suatu hari nanti
Ketika kau baru terbangun dan sudah terlambat untuk segalanya
— Depok, 2019
Detak jantung menyusuri masa, selaras ketukan metronom....tik tak....tik tak, berdetak maju mundur atau kanan kiri sesuai alur mekanikanya yang memuakkan.
Untuk sejenak aku tertegun pada masa depan dan terperanyak dengan memori diri di masa lampau, merasa ada teka-teki tidak terjawab yang hilang dalam sebuah kabin di belantara kepalaku.
Lalu, aku berusaha menghibur diri dari kebodohan mengendarai akal dengan berbisik-bisik tak berisik, nyaris tanpa suara, lalu bersenandung tanpa irama merdu agar dunia mendengarku lalu membuang muka. Selagi bukan irama yang mereka tahu, aku tidak akan pernah merasa malu.
Aku memanggilnya Hanum. Ia lahir bersamaan dengan jingga yang mulai bergeser memeluk malam, di akhir musim penghujan, dua puluh dua tahun lalu. Hanum bersama keluarganya hidup bergelantungan di garis kemiskinan. Ayahnya tak lagi mampu memikul beban kebutuhan keluarga sejak kecelakaan nahas menimpanya dua puluh dua tahun silam. Ibunya harus bekerja membanting tulang siang malam demi sesuap nasi. Mereka tinggal di sebuah rumah kayu kecil beratapkan dedaunan kering. Angin malam yang dingin dan air hujan yang dimuntahkan oleh langit seringkali masuk ke rumah kayu itu lewat bintang-bintang kecil atap mereka.
Hanum tak pernah merasa bebas. Ia merasa terkungkung dan terbelenggu dalam sebuah sangkar tak kasat mata yang membayangi kepedihan, tak memberikannya celah untuk keluar. Ia dituntut untuk mengais nafkah setiap hari, mendorong beban di atas dua roda sejajar berdampingan yang membuatnya dipandang sebelah mata sebagai kasta yang hina, memijat ibunya yang merintih kelelahan tiap malam dan yang paling berat baginya, ia dituntut untuk percaya bahwa perempuan tak berhak mendapatkan pendidikan tinggi. Kala itu hanyalah manusia yang beruntung yang bisa menegak indahnya kebebasan dan sayangnya tuhan tidak menganugerahkan kebebasan itu padanya.
Hanum memahami betul bahwa menjadi manusia bebas dan merdeka adalah hak paling dasar yang harus dimiliki setiap insan. Baginya, mati karena kebebasan jauh lebih baik daripada harus mati konyol sebagai korban keterkungkungan dalam ketenangan semu. Semangat itu selalu menyala-nyala di hatinya, matanya berkemilau mengumandangkan kebenaran tanpa punya kekhawatiran atau kebimbangan. Hingga suatu hari, kami dapati ayah ibunya tergeletak meregang nyawa di rumah kecilnya itu. Hanum menangis tersedu sambil tak bergeming menatap ayah ibunya yang sudah terbujur kaku, air matanya tertahan seakan sudah habis terkuras. Sejak saat itu, sorot mata dan rona wajahnya berubah sayu, entah kemana perginya Hanum kecil yang selalu berapi-api memimpikan kebebasan. Kemudian ia menghilang bagai ditelan bumi. Kabarnya, ia pergi mengadu nasib ke ibu kota seorang diri tanpa ada satupun handai taulan disana. Rumah kayu kecil itu kini menjadi sunyi untuk waktu yang lama.***
Waktu disini terasa berjalan lambat. Tidak ada yang sangat mengesankan bagiku, hingga hari ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Saat itu aku mengunjungi majelis hifdzil qur'an 30 juz untuk menyaksikan kontingen UI tampil. Beberapa peserta sebelumnya tidak ada yang tampil mulus, kena bel atau bahkan sampai diingatkan ayatnya. Tapi, sewaktu tiba giliran UI tampil, masyaAllah mulus tanpa kesalahan satupun. Ayat Al-qur'an yang dilantukannya begitu indah hingga mampu menggetarkan hati para hadirin yang menyaksikannya.
Hatiku berdecak takjub, mungkin ini untuk yang pertama kalinya aku benar-benar merasakan setelah sekian tahun lamanya. Di akhir lantunan ayat, para hadirin bersorak Allahuakbar !!. Aku begitu takjub hingga tidak terasa air mata ini menetes. Hadirin yang lain juga nampak begitu khusyu’ hingga menitikkan air mata merasakan kedalaman makna dan indahnya lantunan ayat Al-qur'an. Entah mengapa pesan-pesan magis itu seolah sampai ke penonton, melunakkan hati yang telah lama membatu ini.
Saat itu juga isi kepalaku bekerja seperti tersihir. Aku seketika tersadar betapa kecilnya kemampuanku saat ini, betapa sok hebat dan sombongnya aku selama ini hingga tidak pernah benar-benar niat belajar al-qur'an. Diijinkan oleh Allah SWT untuk menjadi bagian dari kontingen MTQMN 2019 dengan kemampuanku yang pas-pasan ini mungkin menjadi cara Allah SWT untuk mengingatkanku bahwa tidak seharusnya kita berkeras hati dan bertinggi hati, bahwa sangat banyak orang-orang hebat di luar sana tidak memandang berapa usianya, sangat banyak orang yang berlomba-lomba ingin dekat dengan sang pencipta dan Al-qur'an dikala diri ini masih asyik dan bahkan diperbudak oleh urusan-urusan dan gelar duniawi.
Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat sombong dan tinggi hati sehingga kita dapat senantiasa menjadi pembelajar. Semoga kita senantiasa dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Dan semoga Allah SWT senantiasa meridloi langkah kita, hingga suatu saat menjadi ahlul qur'an, insyaAllah. Amin.
People say : live every moment, not just exist. And now I just wanna sleep and shut the world out
To be true to my self is a mistake
To feel sorry for my self is a mistake
To love my self is a mistake
To embrace my emotions is a mistake
The longer this place feels more like a trap until the point i feel no longer means to live
Saya merasa hidup saya tidak berguna. Tidak ada artinya. Saya bangun pagi dan melakukan rutinitas secara otomatis seperti robot, tidak tahu apa alasan melakukannya, tidak ada goal, tidak ada target. Mungkin di hadapan orang lain saya masih tersenyum, tertawa, bertindak seolah tidak ada apa-apa, namun saya tidak pernah sekalipun merasa benar-benar bahagia dan saya tidak ingin orang lain mengetahui itu. Saya tidak ingin dikasihani, tidak ingin orang lain menilai dan menjudge saya, menentukan bagaimana karakter saya, menentukan apa yang harus saya putuskan atau lakukan... i just feel sickk.. pls stop it’s damaging my sanity. Orang-orang dengan mudahnya menilai orang lain secara dangkal hanya dari standar yg dibuat oleh society, orang dinilai bodoh dan tidak capable karena nilai akademisnyaa jelek, tidak dihargai argumennyaa karena melihat siapa yang bicara bukannya melihat apa yang disampaikan, orang dinilai freak karena tidak memenuhi standar pergaulan society, semua orang sibuk menonjolkan prestasi dan kelebihan diri masing-masing untuk mengimpress orang lain, menjalin hubungan atas dasar give and take, mempertanyakan apa yang kamu punya untuk bisa ditawarkan? jika tidak punya sesuatu jangan harap bisa dapat tempat yang layak, semua orang sibuk mengejar ambisi untuk bisa dibanggakan, entah untuk siapa? dan yang makin membuat saya sedih adalah saya tidak berbeda jauh dengan mereka, sama sama naif. Isn’t that pathetic? this is not the life that i want, but this is my life.
Selama ini jika ada masalah saya cenderung menekan dan menguburnya dalam dalam, menganggap semuanya baik-baik saja seolah tidak ada yang terjadi. But deep inside I know, i’m just afraid of many things, i’m afraid to say that i’m not okay, i’m afraid of losing my precious one, i’m afraid and thinks a lot about what others think about me and expect me to become, i’m afraid to disappoint many people, i’m afraid of being alone. Semua ketakutan itu terakumulasi, membuat saya merasa sesak dan tertekan. Hidup seperti ini, saya tidak bahagia, bahkan saya sudah lupa kapan terakhir kali saya merasa benar-benar bahagia. All those situations leads to a flat, hollow, unendurable, unpleasant, tiresome, and deadened feeling i feel now. I hate my self so much for being like this, saya benci ketika saya gagal berulang kali, saya benci ketika orang meremehkan dan memandang saya sebelah mata, saya benci ketika ada begitu banyak hal kecil yang tidak mampu saya lakukan, saya benci ketika orang lain mendefinisikan siapa saya dan apa yang layak saya dapatkan, saya benci menjadi rata-rata, saya benci menjadi begitu keras kepala, saya benci ketika saya ingin membuktikan sesuatu dan saya gagal, saya benci menjadi begitu rapuh. These feelings were interfering really badly with my rationality and productivity. Saya kehilangan kemampuan berpikir positif, yang ada hanyalah pemikiran-pemikiran negatif, saya menjadi mudah paranoid terhadap orang lain, irritable, lifeless, dan humorless karena itu orang yang bisa bertahan dengan saya di kondisi ini hanyalah mereka yang benar-benar menganggap saya berarti.
Hari ini saya nangis sekenceng-kencengnyaa, hingga mata saya sembab. Saya tidak tahu haruskah saya senang karena pada akhirnyaa bisa menangis dengan lega sekencang-kencengnyaa. Saya sangat sensitif ketika memikirkan orang-orang yang saya sayangi dan berarti dalam hidup saya. Saya tidak ingin mereka tersakiti, saya ingin mereka bahagia. Hari ini saya nangis sekenceng-kencengnyaa karena saya harus menjauhi teman-teman dekat yang saya sayangi, saya ingin mereka menjauhi saya agar tidak tertular energi negatif saya, saya tidak ingin mereka melihat sisi rapuh saya, saya tidak ingin menjadi teman yang merepotkan dan menganggu mereka secara emosional. Entah apa yang salah dengan pemikiran saya, but it just came out. Saya mengatakan kata-kata untuk mengusir mereka, they are all kind-hearted, smart, diligent, they deserved so much more better people in this world. Saya tidak ingin mendengar pujian, nasihat, atau saran. I rejected several talks dan memilih untuk sendiri (eventhough I know that loneliness kills). I’m sorry for being like this, my friends, i’m sorry for being self-centered, without considering how you feel. It actually really breaks my hearts and give me so much pain but i just want you all to be happy without disruption. I realize there must be something wrong with my way of thinking, but I think solitude is all I want now to fight my self.
I don’t know how i will be able to envisage that I will ever be cheerful again. I just hope I will be able to return to a positive mental state. I miss my childhood life, grow up is a trap.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
We can't do anything to improve our past, but we can learn from it to improve our future"
Frank Sonnenberg, Soul Food : Change Your Thinking, Change Your Life
Beberapa waktu lalu saya coba-coba liat film klasik yang judulnya “It’s a wonderful life?” Ceritanya tentang seorang pria, George namanya, yang bercita-cita keliling dunia dan membangun sesuatu, tapi akhirnya tetap memilih untuk melakukan apa yang diyakininya benar bagi orang lain. Pada suatu ketika, ia mengalami krisis, dia yakin bahwa orang di sekitarnya akan lebih baik jika ia tidak pernah dilahirkan. Apa yang ingin dia katakan sebenarnya adalah hidupnya tidak bermakna. Lalu, perubahan besar terjadi ketika dengan bantuan malaikat, George mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana kehidupan kota dan orang lain jika ia tidak pernah ada. Tanpa George, tempat itu akan menjadi gelap dan buruk. Hingga akhirnya, George menyadari dampak positif yang dia buat karena ia melakukan hal yang diyakininya benar dan membantu orang lain dari waktu ke waktu. Si malaikat berkata kepadanya “Kehidupan setiap manusia menyentuh begitu banyak kehidupan lainnya”. Dan George telah menyentuh banyak kehidupan dengan cara sederhana dan membuat perbedaan. Menarik bukan ? (Parafrase dari Intentional living by John C. Maxwell)
Pembahasan yang berkaitan dengan kehidupan bermakna, akhir akhir ini atau lebih tepatnya dua tahun terakhir ini sangat menarik saya, membuat saya sering merenungkan hal-hal aneh tentang mengapa sampai ada orang yang sangat putus asa dengan kehidupannya sementara di sisi lain ada orang yang begitu menikmati hidup ini, begitu lurus menatap kesuksesan. Terkadang pemikiran itu memunculkan gairah diskrit yang berhenti dan bergerak, yang kemudian saya ingat dan pijak jadi tumpuan. Pencarian tentang makna dan tujuan hidup itu memunculkan ambisi yang terkadang membuat saya tertekan. Hidup dengan tempaan ibu kota ini memang tidaklah mudah. Namun, saya rasa saya hanya akan membuang waktu jika terus menyesali bahwa hingga usia saya sekarang ini, saya belum banyak berbuat kebermanfaatan untuk orang lain, merasa wawasan masih sangat minim dan lain-lain. Di awal tahun 2018 itu, tiba-tiba saya menjadi resah dan gelisah karena memikirkan hal tersebut. Untuk beberapa waktu saya berkontemplasi dan sampailah saya pada suatu titik, bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan and I believe that If you never try, you’ll never know. Terimakasih kepada segala dinamika kehidupan di FKUI yang telah menampar saya untuk bangun dari angan-angan dan hal-hal tidak berguna lainnya untuk setidaknya berprogress demi menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. Terimakasih telah mengajarkan saya tentang tujuan hidup, apa itu kegagalan, kerterpurukan, keputusasaan, juga bagaimana untuk bangkit. Ada yang pernah bilang bahwa pengalaman bukanlah guru terbaik, namun guru terbaik adalah pengalaman yang dievaluasi.
Pada intinya, sampai titik ini saya jadi mengerti bahwa saya belajar untuk tidak hanya menjadi pintar, tapi juga untuk menjadi seorang pembelajar. Belajar memahami bahwa hidup adalah proses belajar yang kontinyu. Belajar taktis dalam kondisi yang tidak ideal. Belajar memahami orang lain. Belajar bahwa untuk kita yang sedang merasa kecil, bukan siapa -siapa, nggak berdampak dan terkomparasi, untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Belajar bernegosiasi dan memaafkan diri sendiri serta belajar menikmati tantangan yang kedatangannya tidak bisa diduga. Itu semuanya pastinya tidak mudah bahkan sangat sulit bagi saya.
Semakin tinggi dan makin jauh langkah yang diambil -> makin banyak masalah dan tantangan -> makin terlatih menyelesaikan permasalahan -> makin dewasa dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya -> hal baru -> belajar dan seterusnya begitulah siklusnya. Selamanya saya akan terus belajar. Saya percaya bahwa satuan usia bukanlah tahun, namun adalah karya, seberapa banyak karya yang telah kita buat. Saya senang mengetahui fakta bahwa semakin tua usia saya, mimpi saya justu akan semakin muda, semakin sadar bahwa akan selalu ada hal yang belum diketahui. Saya percaya bahwa hidup ini memang tidak pernah tentang diri kita sendiri, ini tentang bagaimana kita bisa memberi manfaat pada kehidupan di sekitar kita. Semoga hati ini selalu diteguhkan dan diluruskan.
I fear not the man who has practiced 10.000 kicks once, but I fear the man who has practiced one kick 10.000 times – Bruce Lee
Deru kereta api mengusik sunyi meninggalkan kerikil yang melompat-lompat di sepanjang rel. Ranting-ranting pepohonan yang meranggas di luar jendela nampak berlari menjauhi kereta. Burung-burung kelelahan mulai kembali ke sarangnya, bahkan hanya belasan burung yang masih nampak beterbangan di langit senja. Warna merah kejingga-jinggaan berjajar memenuhi langit bak lukisan yang sengaja digoreskan, membuai setiap mata yang memandang.
Raut-raut wajah lelah dan aroma parfum murahan terpaksa harus kusantap juga. Aku duduk di sudut kanan gerbong sebelah jendela. Hanya sesekali kupandang sekelilingku, nampak awak kereta yang sedang mengulumkan makanan sedari tadi. Di depanku, gadis berjilbab syar’i warna biru sibuk menatap lembaran kertas tebal di tangannya. Di sebelah gadis itu, ada pemuda yang sepertinya seusia dengannya, melamun menatap keluar jendela, sesekali mereka mengobrol singkat. Oh, mungkin mereka memang datang bersama dan mengenal satu sama lain. Aku tak terlalu memperhatikan.
Kembali kutatap nanar linimasa, jemariku lincah menggeser layar ponsel mencari sesuatu yang setidaknya bisa menghibur kebosananku. Sampai kemudian, terdengar gadis berjilbab biru itu kembali memulai percakapan.
“Jadi, menurutmu apakah kepergian tanpa kepulangan itu adil?” tanya gadis itu pada si pemuda.
Pertanyaan yang dilontarkannya menyita perhatianku, membuatku cukup terkejut. Aku tidak berniat menguping namun jarak mereka terlalu dekat denganku. Kudapati lembaran tebal yang tadi di baca gadis itu sudah tertutup, yang setelah beberapa menit kedepan, kutemui bahwa lembaran itu adalah sebuah novel.
“Kalo pergi tapi ga kembali, itu namanya hilang dong, mungkin aja orang itu udah lupa tempat kembalinya !!” jawab si pemuda dengan nada mengajak bercanda. Gadis itu terdiam sejenak, lalu membalas.
“ Hmmm bisa jadi sih, dia lupa terus enggan kembali dan menghilang, namanya juga manusia. Tapi bukankah kehilangan seperti itu wajar? Aku ga takut kehilangan semacam itu”
“ Lalu apa yang kau takutkan?” tanya kembali si pemuda.
“Aku lebih takut kehilangan kasih dari dzat yang menguasai hati semua makhluk-makhluk itu, dzat yang maha pengasih. Aku lebih takut kehilangan dan dilupakan oleh Allah SWT. Tak kubayangkan bagaimana rasa sedihnya jauh dan dilupakan oleh-Nya” gadis berjilbab biru itu menjawab, menatap si pemuda lekat, lalu membuka kembali novel di tangannya.
Masyaallah, sebuah percakapan yang mendalam tentang makna, batinku bergumam. Aku yang sedari tadi sibuk menatap layar HP, seketika diam membeku. Kontemplasi memenuhi kepalaku. Hatiku masih tertawan pada kata pulang dan hilang yang sempat dilontarkan gadis dan pemuda itu tadi. Memang terkadang ada saatnya ketika semua tak lagi sama dengan semula. Ada saatnya ketika dua insan yang saling mencinta pun memilih untuk pergi, perlu waktu untuk sama sama menyadari bahwa mungkin yang dilepasnya itu adalah yang terbaik, sehingga tidak terulang kembali. Barangkali itu pesan tersirat yang coba disampaikan keduanya.
Jauh lebih dari itu, rasa takut kehilangan kasih Allah SWT yang sempat dilontorkan gadis itu membuatku kagum. Hatiku bak dihujam seonggok batu, dicekoki pertanyaan-pertanyaan, tentang prioritas mana yang seharusnya kulakukan lebih dulu, tentang seberapa banyak waktu yang sudah kulakukan untuk menggelar romansa dengan-Nya, dengan ayat-ayat-Nya, bahkan hanya untuk sekedar mengingat berlimpahnya kasih yang dicurahkan pada hamba-Nya. Pikiranku terikat erat. Memikirkan apa yang sudah aku perbuat sehingga bahkan untuk sebentar berduaan khusyu’ dengan ayat-ayat-Nya saja susah, apalagi untuk menumbuhkan rasa takut kehilangan kasih-Nya, rasanya susah sekali.
Tak akan pernah bisa kubayangkan bagaimana rasanya dilupakan dan kehilangan kasih dari Dzat Pencipta kita yang kasih-Nya tak dapat kita hitung hingga kapanpun, yang sayang-Nya kepada kita termanifestasi dari sejak kita membuka mata, hingga nanti habis usia. Barangkali tidak akan pernah terbesit rasanya, bahkan di mimpi terburuk sekalipun.
Lalu apalagi yang bisa kita jadikan alasan untuk tidak memprioritaskan Allah ? Apakah kita sudah bersedia sedemikan berkorban ? segala aktivitas duniawi yang mungkin bisa disingkirkan, untuk setidaknya bisa sebentar saja menggelar romansa dengan ayat-ayat-Nya, dengan Allah. Bahkan waktu yang kita korbankan tidak akan pernah sebanding dengan rahmat dan kasihnya untuk semesta.
Dengan indahnya Allah mengingatkan melalui gadis itu, seakan semesta juga menghujatku. Aku menatap cahaya mentari yang hampir hilang di ujung cakrawala. Balutan senja yang nampak dari luar jendela kereta menyajikan keindahan yang magis. Lewat ranting-ranting pohon yang meranggas itu aku bertanya-tanya “ Baiklah, dunia tidak akan menjadi seindah ini jika hanya ada warna merah atau biru saja, bukan?”
dinding-dindingnya mengeluarkan rasa yang amat pilu,
guratannya memberikan kesan tak beraturan dalam hidup yang makin kalut dalam kesedihan.
Bukankah itu ungkapan yang terlampau melankolia?
Segenggam legam yang tercipta bersama keheningan hanya berisyarat, psssstttttt jangan terlalu banyak bicara katanya, karena rindu ini bagian dari noda, yang sengaja ku urai. Tapi semalam aku memimpikanmu, kita kembali bersama, menyulam serpihan memori yang tercacah oleh setiap peristiwa, menenun senja, mengutuk waktu, mengatakan sabda kerinduan yang terlanjur disekap ruang.
Aku merintih mengeluarkan bulir air mata. Tak bisakah kita membedakan mana rindu mana kenyataan? Beribu-ribu kesalahan yang telah ku gores hingga nasib sial memberikan bekas.
Bekas nasib yang membuatku harus pergi. Menghapus semua jejak tempat kenangan bersemayam. Menyibukkan diri seperti kesetanan untuk membungkam kehilangan.
Tapi aku belum bisa. Sulit rasanya. Bukankah aku pernah bilang bahwa aku tidak akan membuka pintu rumah manapun, hingga kau menyuruhku membuka dan berteduh didalamnya.
Meminjam omongan sjahrir : yang tidak kutemukan dalam filsafat kutemukan dalam dirimu.
Pernah pada suatu masa pada puncak kegelisahanku, aku bertanya, “masihkah kau menyayangiku?”
Kau diam tidak bergeming, lalu menjawab layaknya seorang penyair, tenang dan mengawang-ngawang.
Rambut kusut dan kedua kelopak matamu yang kelelahan menyisa jejak, menyimpul sebuah isyarat, tidak memberitahu.
Ketakutanku menjelma laut ketika purnama, menyisakan kata demi kata yang merangkai kalimat di kepala, lalu mengabur, tak sempat terkatakan.
Sejak itu aku tahu, kepastian tak selalu lebih berarti dari apapun juga
Sejak mula hadirmu adalah sebuah kecipak cahaya, yang menuntunku berteduh,
atau menjauh