โLaki - laki itu makhluk akal, makanya ketika mereka jago nulis, mereka punya daya tarik yang khas, karena, menurutku menulis itu ga selalu terpacu sama kaidah - kaidah bahasa dan tulisan, apalagi kalau udah tentang kehidupan, tentang cinta, yang paling diandelin adalah hati, alias perasaan.โ
โMakanya, ketika mereka bisa nulis, itu bukti bahwa kerja otaknya diimbangi sama kerja hati, ngga sepenuhnya mendominasi, jadi stabil. Ga semua harus rasional, beberapa kejadian butuh perasaaan yang berperan.โ
โNah, kalau perempuan, karena mereka makhluk rasa, dalam menulis mereka mungkin bakal lebih banyak cenderungnya, Semua hal ditulis, dari yang remeh, sampe masalah gede yang cuman bisa diwakilin sama emot nangis ditumpahin, pokoknya mereka punya kadar kosakata lebih banyak ajah, kebutuhan produksi kata perempuan yang 24 ribu kata perhari itu, kalau ga ada orang yang mau dengerin dan bisa dijadiin tempat numpahin yaa kertas dan laman ini yang jadi korban, haha.โ
โDari tulisan - tulisan itu beberapa bisa kita nilai, mana yang dominan hati, mana yang penuh dengan pengetahuan, mana yang akalnya juga ikut.โ
โBeda dengan sisi keilmuan, ah, berbicara sejarah peradaban Ilmu berderet ribuanย โUlama dengan buku - buku tebalnya. Siang malam berdiskusi memecahkan masโalah, bahkan ada yang dijuluki โAl - Jahizโ karena saking banyak baca buku sampai matanya mau keluar dari kelopak, dan dikisahkan beliau pun meninggal karena ketimpa tumpukan buku, ahh ngomongin masa jaya itu ga akan ada abisnyaa.โ
โDetik ini, ribuan lelaki itu akan tetap hadir kah? masa - masa itu akan bangkit lagi kah? kamu mau jadi salah satunya?โ
โSebagai perempuan, aku sekuat mungkin berjuang untuk melahirkan lagi generasi - generasi itu, mendidik, tapi aku tidak bisa sendirian, butuh ribuaaaan perempuan juga laki - laki dengan visi yang sama untuk membentuk peradaban ini.โ
โBisa jadi, hiruk pikuk permasalahan bumi dan masyarakat detik ini menjadi ricuh dan ruwet sebab kurangnya orang - orang berilmu, yang rela mendedikasi pikirannya untuk berpikir tentang sekitar, memecahkan masalah di lingkup kehidupan. Kita sekarang hidup penuh dengan individualis yang serakah, pribadi yang egois. Hari - hari habis dengan perjuangan memikirkan perut, bila seluruh manusia di bumi, alokasi pikiran, menguras seluruh tenaga -hanya memikirkan perutnya sendiri, siapa yang akan memikiran ummat manusia ini? apa jadinya perut - perut kenyang tanpa ada isi keilmuan di otak mereka? tanpa ada kehidupan dalam ruh - ruh mereka?โย
โDunia kita akan jadi seperti apa? peradaban tanpa ilmu? peradaban tanpa iman? iman tidak bisa diraih tanpa ilmu! mana ada peradaban beriman tanpa berilmu!โย
โPeradaban beriman saja tidak mungkin apalagi peradaban sejahtera, Pencipta bumi dan Pemilik rizki yang tidak dipercaya, mau meminta kesejahteraan ke Tuhan yang mana?โ
โAyo, kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang? mau sampai dunia serusak apa baru bergerak? Mari, mengajak.โ
21.27 CLT. Obrolan malam aku, dan diriku sendiri.