Ketakutan, tak beralasan.
Semakin kesini, sudah semakin sering mendengar dalam circle pertemananku yang membahas tentang; jodoh.
Topik ini begitu lumrah. Bahkan sudah hampir bosan mendengarnya. Makin sadar lagi, "Oh memang sudah umurnya."
Terlebih setelah lulus kuliah. Masih momen wisuda kemarin, keluarga sudah sibuk menanyakan: setelah ini apa?
Tidak sedikit yang ujung pembahasannya berakhir ke topik pernikahan. Seolah sudah tertebak, maka mental pun sudah aku siapkan lebih dulu.
"Tau gak, dulu kakak seumuran kamu sudah menikah looh." Pernah topik ini muncul saat tahun terakhirku di kampus. Yap, itu cerita istri kakak sepupu sambil jagain ponakanku yang lagi lucu-lucunya.
"Usia kamu sekarang berapa?"
Hmm, harus banget ya diperjelas. Iya usia QLC, sadar sih kalau orang-orang seumuranku sudah banyak yang menikah.
Tapi kan, karena emang mereka ketemu jodohnya di usia segitu. Bahkan ada yang sebelum itu. Berarti, gak menutup kemungkinan ada orang yang bertemu jodoh lewat dari usia segitu kan? Ini sih pemikiranku ya.
Hari wisuda gak ngomong banyak karena ada orang tuaku juga. Mama juga cukup sensi kalau bahas ginian. Kayaknya karena gak mau fokus kuliah dan pendidikanku selanjutnya malah jadi terdistraksi. Kadang-kadang tiap ngomongin nikah, beliau tutup dengan kalimat:
"Ah sudahlah. Ngomong nikah melulu."
Sambil melirik ke arahku memberi isyarat kalau ini gak usah dibahas lagi.
Di sebuah ruang obrolan sepupuku yang sudah menikah di hari wisuda (jelas ini tanpa mama, juga tanpaku). Ini hanya cerita dari adik sepupuku yang habis kunjungan rumah kakak sepupu dari bapak yang sudah menikah dan punya anak.
"Tau gak kak. Tadi tuh di rumah sana kakak jadi topik pembicaraan."
"Biasa, kakak Z lagi ngobrol sama kakak A (istri) dan B (adik ipar). Sepupu dari kakak tertua bapak ada dua orang laki-laki; sudah menikah dan punya anak.
Kebetulan si adik sepupu yang menyampaikan ini ke aku, juga belum menikah. Ya karena umurnya masih muda ya, 3 tahun dibawahku. Tapi, seumurannya juga ada yg sudah nikah kok.
Kadang sih aku bilangin, "Nikah aja kalau lelah kuliah." Sambil ketawa ngejek.
Masa dijawabnya gini, "Kan ada yang lebih tua. Emang rela aku langkahin?"
Hmm, emosi juga ya dengarnya. Pengen aku jitak kepalanya biar rasa hahaa.
Sepupu yang beda umur lebih 5 tahun diatasku, katanya ngomong gini ke istri dan adik iparnya.
Z: "Dia emang sudah usia menikah. Tapi, gimana mau menikah kalau belum ada yang datang bawa itikad baik?"
Sebenarnya, mungkin karena dari suku bugis itu terkenal harus ngumpulin modal cukup buat melamar. Jenjang pendidikan, anak ke berapa, keturunan siapa; kadang jadi pertimbangan juga. Uang belanja diistilahkan sebagai uang panai'. Kalian bisa search di google ya mitos faktanya.
Makanya, laki-laki di suku bugis itu harus punya tabungan lebih sebelum menikah wkwk.
A: "Dulu kita menikah usia segitu ya."
Yap, mereka menikah setelah lulus sarjana. Couple kampus waktu itu.
B: "Iya, aku juga dulu gitu kak." Lanjut adik iparnya yang emang menikah sama kakak sepupu nomor 2 setelah mereka lulus kuliah juga.
Dan lagi, mereka juga couple kampus.
Z: "Anak itu, gimana mau nikah. Sering bahas nikah, tapi dia sendiri menutup diri dari orang-orang."
Yap, aku paham. Maksudnya, yang dilihatnya adalah aku tidak punya teman laki-laki. Lebih detailnya lagi; pacar. Apa masalah? Aku bukan juga yang dalam banget soal agama, tapi at least aku tau kalau pacaran itu dilarang dalam Islam. Ini karena semasa kuliah aku ikut di organisasi dakwah kampus, ikut mentoring. Jadi hal-hal kayak gini udah sering dibahas murabbi. Bersyukurnya sejak kuliah dapat circle yang mendukung buat jadi muslimah lebih baik lagi.
B: "Iya juga. Ditambah tante juga diam ya kalau kita buka obrolan nikah."
Terus adik sepupuku yang hadir disitu juga menambahkan, "Iya, karena tante mendukung pendidikan sepenuhnya. Mungkin ya, setahun lagi habis kakak sudah kerja dan punya penghasilan sendiri baru dapat izin nikah."
Aku gak nyangka sih, kehidupan pasca lulus kuliahku justru menjadi keresahan keluarga sendiri. Mereka khawatir apa gimana?
Anehnya, bukan orang tua yang mencemaskan perihal jodoh. Tapi, orang sekitar.
Pertanyaan, "KAPAN?" pasti sudah mengantre untuk menyerangku setelah ini. Berasa gak ada akhirnya. Dan "GAK CUKUP" dalam satu pencapaian saja.
Jangan pernah berpikir bahwa kamu sudah jadi sarjana itu cukup. Setelahnya, orang lain pasti masih bertanya kapan...? Dst...
Bahkan semakin diserbu pertanyaan perihal jodoh ditambah sikap dingin orang tua yang seolah tidak tertarik dengan obrolan itu, maka disitu juga aku semakin takut menikah.
Sepertinya, belum didukung penuh kesana. Bagi orang tua, aku masih punya amanah yang belum ditunaikan. Yaa, emang iya. Karena baru banget lulus kuliah dan belum bekerja. Orang tua kan juga ingin melihat kita sukses dulu dan punya penghasilan sendiri. Lagi pula, ada rasa senang juga pastinya kalau nanti saat bekerja gaji pertama kita buat orang tua.
Walaupun itu gak akan pernah cukup buat membalas jasa-jasa keduanya dari sejak kita lahir. Belum uang yang habis dipakai buat pendidikan kita juga. Ditambah pas lagi minta uang saku? Orang tua gak pernah menolak memberi.
Kita yang harus paham situasi, tapi kadang kala memberatkan lagi dan lagi...
Makin parah lagi, karena Mama cukup percaya dengan stigma masyarakat dan apa yang dilihatnya langsung dari orang terdekat.
Tak jarang beliau bercerita, "Teman Mama katanya anaknya berhenti kerja setelah nikah karena dilarang suami."
Ketakutan seperti ini sebenarnya yang saya lihat dari Mama adalah beliau melihat kisah orang lain, seolah kisah kita akan berakhir sama dengan mereka.
Saya paham betul perasaan itu pasti menjadi ketakutan besar buat orang tua.
Kita kadang susah merasakan karena kita belum jadi orang tua.
Apalagi, mereka kan sudah berkorban banyak buat sekolahin sampai sarjana? Masuk akal, ada sebagian orang tua berpikir seperti itu.
Yap, sebagian aja. Tapi, dari sebagian itu adalah Mama. Sudah dipastikan juga, beliau pasti takut akan ditinggal jauh sama anak karena alasan ikut suami hahaha.
Ntar mau dibawa bareng buat tinggal sama aku juga pasti bakal dijawab, "Loh kan Mama Bapak ada rumah sendiri." Hahahaa gimana? Serba salah juga kan...
Semakin takut juga kalau tiba-tiba karena sering bahas nikah. Terus ada bestie yang sudah menikah yang ingin menjadi perantara untuk mengenalkan dengan seseorang. Aku gak tau harus jawab apa? Orang tuaku cukup keras dan sulit diyakinkan. Bahkan di usiaku sekarang, yang kata orang sudah usia menikah.
Jadi biasanya aku menghindar kalau tiba-tiba arah bicara temanku seperti itu. Cuma bisa nyengir dan bilang, "Aduh...kamu tau kan aku gimana? Cuma omdo padahal aslinya belum siap."
Gak tau ya? Makin sering mendengar pembahasan ini rasanya makin gak siap aja. Ketakutan ini, benar-benar gak beralasan.
Ps: semoga aja ada laki-laki sederhana di waktu yang tepat dari Allah. Bisa bikin aku yakin dan bikin orang tuaku luluh wkwkw.
Quotes bijak Mama setiap waktu, "Gak usah khawatir soal jodoh. Gak mesti dicari. Nanti dia datang sendiri dan mencari. Kamu harus bikin diri kamu layak ditemukan, dikejar dan didapatkan dulu."
Laah, gak tau aja anaknya kayak orang introvert yang menutup diri karena ketakutan sendiri. Kadang suka risih juga kalau ketemu orang baru di luar orbit peredaranku wkwk.
Sabtu, 30 Juli 2022| 21.38