gentle love
Hari ini, aku ada pindah jadwal kelas dengan sekumpulan senior yang jarang aku temui. Karna satu dan dua hal, aku dipindahkan ke jadwal ini untuk kurang lebih dua bulan kedepan. Kalau aku anggap kelasku selama ini sudah chaos dan melelahkan, kalau apa yang aku liat dulu buat aku ngilu dan bergumam, "susahnya ya kalau udah punya anak," itu berarti memang aku yang kurang piknik.
Nyatanya, di lingkunganku sekarang, aku punya banyak senior yang sudah berkeluarga. Ada yang punya tiga putri kecil yang cantik dan menggemaskan, ada yang punya putra sematawayang yang penuh energi dan karismatik, yang pemalu, yang punya tendensi untuk mencari perhatian, dan ada yang punya bayi lucu yang anteng dan low-maintenance.
Guruku, hafizhohallah bilang di akhir kelas, "aku nggak tau anak-anak hari ini kenapa. tapi kita semua orang tua, antum udah paham lah anak-anak gimana, bisa aja hari ini tenaang, lalu besok ributnya bukan main" atau yang semakna itu.
Aku nggak akan bahas apa saja yang ditangi san diperebutkan anak-anak hari ini. Aku cuma ingin mengenang sebuah memori tentang ibu yang menanamkan ikatan terindah dan pondasi terkuat untuk putri kecilnya, yaitu tauhid.
Seniorku ini, beliau sosok yang sanagat lembut dan baik hati. Semoga Allah jaga beliau selalu, bukan maksud merekomendasikan atau mengklaim, tapi inilah yang aku tahu. Aku bertemu beliau dan baru berinteraksi cukup sering bulan Ramadhan kemarin, selalu ingat rasa senang saat beliay ternyata ingat namaku. well, it is a big deal. It's hard to remember any person you've talked to if they're not memorable, right?
Beliau punya 3 putri yang aku asumsikan masing-masing punya jarak 3 tahun. Putri yang tertua, namanya Hafshoh, bubbly, ceria dan cukup ceriwis juga. Teman seumurannya, tadi kasih Hafshoh sebuah biskuit coklat dari varian Roma (udah kebayang yaa), Hafshoh dituntun ibunya untuk bilang makasih, lalu ditanya "doanya gimana kakaa?" "Jazaakillahu khayran yaa"
Lalu seniorku bilang, "Kakak, ini rezeki dari Allah lewat teman kakak, kakak mau ngga berbagi ke adek?" in the softest way possible, or in her normal tone, which is, always soft.
Aku duduk di belakang Hafshoh, sama sekali ngga melihat sorot matanya, hanya anggukan kecil lalu biskuit itu dibagi dua, ngga ada kata-kata atau komentar tentang bagian yang lebih banyak selainya, atau tentang satu-satunya bagian yang punya selai, aku nggak tau bagian itu akhirnya diberikan ke siapa. Yang aku bisa perkirakan, ini bukan yang pertama kali, bukan kedua atau ketiga, tapi meskipun ini hal yang sudah biasa diajarkan, ibunya nggak membiarkan Hafshoh tanpa dibimbing dan diingatkan tentang sebuah makna yang lebih besar, bahwa setiap kebaikan yang ia dapatkan, materi atau bukan, dari pihak yang lebih tinggi atau bahkan seumurannya, apapun bentuknya, semua bersumber dari Allah, penciptaNya.
Semenit kemudian temannya datang lagi, membawa sebuah biskuit untuk adik Hafshoh. Tapi adik ini, wkwk, memang lebih pendiam dan pemalu atau bisa dibilang lebih cuek dari kakaknya, akhirnya biskuitnya diambil sama seniorku, allu beliua juga yang bilang makasih dan mendoakan.
Lalu beliau bilang lagi, "berarti ini rezeki dari Allah buat umi, melalui temennya Hafshoh, tapi umi mau berbagi untuk anak-anaknya umi."
Ini memang gak seperti kisah seorang ibu yang diberi kurma oleh Aisyah, lalu kurma itu dia bagi kepada kedua anaknya tanpa menyisakan sedikitpun untuk dirinya sendiri. itu juga maternal love, gentle love, selfless love, tapi kisah hari ini konteksnya beda.
Seniorku yang sedang kuceritakan ini, beserta para ibu-ibu lain yang juga ada di kelas tadi, yang menyiapkan bacaan sambil menggendong anaknya, memeluk anaknya, menjanjikan hal manis agar mereka tetap sabar di kelas, adalah pihak-pihak yang memperjuangkan masa depan terbaik untuk anak-anak mereka. Dan sebaik- baik masa depan dibangun dengan memupuk karakter kuat yang yakin dan percaya bahwa Penciptanya sayang padanya, dan bahwa Penciptanya memberikan kehidupan dengan satu tujuan sekaligus kunci terbesar kesuksesan: tauhid.










