Pemilik sepatu putih itu...
Malam sudah mulai datang, gelap perlahan menutup hari dan hujan turun melengkapi malam. Dingin perlahan menyentuh kulit ini, baju kaos polos hitam ini ternyata tak cukup menahan dingin yang datang. Udara segar setelah hujan turun, aroma dedaunan yang memberikan ketenangan setelah hiruk pikuk ini.
Suara jangkrik yang saling bersaut menamani setiap langkah kaki ini, ukiran jejak sepatu putih yang mulai lusuh ini seolah melengkapi setiap langkah pulang malam ini. Tak seperti biasanya, suasana malam ini begitu berbeda dan tak ingin sama sekali ingin melewatinya.
Bayangan tak terlihat dibaliknya gelap dan sesekali hadir dibalik cahaya kuning lampu.
Sepatu putih yang selalu menjadi teman setahun ini, sudah cukup banyak meninggalkan jejak cerita. Di bawah lampu kuning di tengah parkiran, terdiam memandangi sepatu putih lusuh ini. Sepatu putih ini mengingatkanku tentang seorang dan sepatu putihnya, jejak sepatunya yang pernah mengukir setapak yang ia lewati mungkin saja terhapus oleh hujan.
Bayangnya hari ini masih sama tak mudah terhapus, meninggalkan setiap titik baik yang pernah hadir dan semua titik itu terus menemaniku. Sejujurnya ada rindu yang mengetuk dari semua jejak baiknya yang tertinggal, tapi hari ini pun tak ingin mengganggunya lagi, semakin jauh jaraknya.
Menilik setiap ceritanya, walau sejak hari ituku tau terbatas semuanya, aku memahami tak bisa memaksa segalanya. Setidaknya masih ada sedikit cerita tentangnya masih bisa terlihat.
Malam ini, ingin sekali menyapa dan bercerita kepada pemilik sepatu putih itu, walau aku tak tau bagaimana. Esok aku harap suatu hari, tulisan ini akan sampai kepadanya. Aku hanya ingin bilang "Hai kamu pemilik sepatu putih itu, terima kasih ya!. Suatu hari, ingin sekali aku bercerita dan melihat lebih banyak semua cerita tentangmu. Walau hari ini jarak itu kian jauh, semuanya masih teringat malam ini. Hari itu dan hari ini masih sama, ada cerita tentang semua yang pernah tersampaikan oleh ku, tak berubah hanya saja hari ini aku memilih menyimpan semuanya dalam diamku."
"Walau dibalik semuanya, ada cuitan dari mereka untuk aku pergi. Cuitan-cuita itu seolah bergumam "kamu tidak cukup baik untuknya, walau sebenanya ungkapnya akan ada yang lebih baik datang kepadaku"."
"Tapi hari itu masih sama, aku datang dengan hati dan biarkan hati yang menyelesaikan. Walau hari ini aku masih harus bersama diamku, menyimpan semuanya"
"Hari ini, masih sama tak berubah untukmu pemilik sepatu putih"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
A, Bogor, 13 Januari 2024