Keberadaanmu
Jika nanti kamu datang ke dalam hidupku. Datanglah dalam keadaan yang paling jujur. Tidak perlu menampakkan diri sebagai seorang yang sempurna, karena aku lelah jika harus tidak menjadi diriku yang sebenarnya.
Jika nanti kamu kebingungan membuat keputusan. Aku bisa membantumu dengan mempersilakanmu mengajukan pertanyaan. Aku memiliki jawabannya. Dan kamu, memiliki keputusanmu. Sama-sama kita sudah dewasa, jika memang jawaban yang kita dapati tidak membuat kita memantapkan hati. Tidak perlu beralasan agar tidak menyakiti. Kita sudah terbiasa kecewa, bukan?
Jika nanti kamu takut salah mengambil keputusan. Mungkin, ketakutanmu itu bisa dituliskan. Sejak awal kamu datang dan mengajukan penawaran. Ketakutanmu bisa jadi memang ada dalam hidupku. Tapi, besar kemungkinan, ketakutan itu hanya ada di dalam pikiranmu.
Sebab kita sama-sama tahu, kita sudah cukup dewasa untuk bisa mengenal dan membaca pertanda. Akan nampak bodoh sekali jika kita tidak menggunakan logika, hanya mengandalkan rasa yang mudah berubah-ubah suasana.
Jika nanti kamu memilih untuk tetap tinggal dalam hidupku. Ingat-ingat bahwa itu adalah keputusanmu. Tidak ada yang memaksamu untuk mengambilnya. Maka, aku menghargainya dengan bersedia menerima keberadaanmu.
Hidup ini mungkin tidak semudah bayangan kita saat nanti dijalani. Tapi, kita tahu, tidak ada di antara kita yang akan saling menghalangi dan menyakiti. Kita berusaha untuk bahagiakan diri, dengan begitu, kita bisa saling membahagiakan. Bukankah kita sudah sepakat untuk demikian?
Sayangnya, sampai hari ini, aku masih bertanya-tanya tentang keberadaanmu.












