Jangan Terjebak Dalam Penyesalan
Menyesal adalah sebuah konsep emosi yang diciptakan manusia untuk mengakui kesalahannya dalam mengambil keputusan. Tujuannya baik, dengan mengakui kesalahan kita membuat diri kita tidak merasa paling benar, sekaligus untuk pembelajaran dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itu bentuk mulia penyesalan.
Seringnya manusia sekarang malah terjebak di dalam dan terus menerus melatih otaknya untuk berpikir bahwa itu kesalahannya dan meyakinkan diri sendiri kalau dia tidak memiliki kemampuan yang baik atau cukup dalam mengambil keputusan. Setelah menyesal, pasti terbentuk pemikiran, "Kalau saja kemarin saya memilih opsi B, mungkin tak seburuk ini hasilnya." Padahal opsi B juga memiliki probabilitasnya sendiri yang bisa jadi lebih baik atau lebih buruk atau hasilnya sama dengan opsi A.
Perlu diketahui kalau masa yang akan datang itu penuh dengan ketidakpastian. Kita membuat keputusan di setiap saat, setiap detik, setiap mikro-detik. Kita memilih untuk melangkah atau tidak melangkah. Kita memilih untuk minum atau tidak minum. Kita memilih untuk mengedipkan mata atau tidak. Meskipun untuk beberapa keputusan sehari-hari, otak dan badan kita sudah menciptakan refleks untuk mengambil keputusan secara otomatis. Mari kita kupas sedikit ilustrasi mengenai pilihan-pilihan yang saya sebutkan sebelumnya.
Ketika saya berada di trotoar di depan rumah hendak menutup pintu dan pergi ke toko di seberang jalan untuk berbelanja, telepon di ruang tamu berdering, tidak terlalu jauh dari pintu depan. Namun saya tahu adik saya mendengar dering tersebut dari kamarnya dan dia akan menjawabnya. Saya memutuskan untuk menutup pintu depan dan menyeberang jalan. Ketika membalikkan tubuh, seorang anak remaja sedang bermain dengan sepeda atraksinya di atas trotoar dan menabrak saya tanpa disengaja sehingga kita berdua tersungkur dan luka lecet. Kemudian saya berpikir, seandainya tadi saya kembali ke rumah untuk mengangkat telepon, mungkin pada saat saya keluar rumah pengemudi sepeda itu sudah melewati depan rumah saya. Berdasarkan tabrakan yang sudah terjadi, kita bisa berpikir demikian. Namun sebelum segalanya terjadi, kita tidak bisa memastikan kapan sepeda itu akan melintas di depan rumah saya. Mungkin dia sudah lewat duluan. Mungkin dia juga menunda waktunya sesuai dengan waktu saya menjawab telepon dan tetap akan menabrak saya. Mungkin dia akan tiba dengan kecepatan yang lebih kencang dan menabrak saya lebih kuat. Tidak ada yang tahu pasti. Tidak dia, tidak juga saya. Begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi dalam kurun waktu tersebut atas pilihan yang kita ambil atau tidak kita ambil. Yang jelas, saya sudah memilih pada waktu itu dan itu sudah atas pertimbangan dalam otak saya dalam waktu sepersekian detik, saya memilih tidak mengangkat telepon untuk menghemat waktu. Siapa sangka keputusan kita melangkah atau tidak melangkah bisa membuat kita mengalami luka?
Seorang fotografer telah memasang tripod dan telah duduk di sana selama lima belas menit menunggu seekor burung untuk masuk ke dalam bingkai yang telah dia rancang dalam pikirannya. Burung tersebut bergerak perlahan. Dalam sepuluh menit terakhir dia hanya bergerak beberapa senti dan masih jauh dari target yang diinginkan fotografer. Karena haus, fotografer memutuskan untuk minum seteguk dari termos yang dia bawa. Pada saat sedang menuangkan air ke cangkir ternyata si burung sudah berada di posisi yang dia inginkan. Begitu dia melihatnya dan meletakkan cangkirnya burung itu pun sudah terbang karena terkejut merasakan gerakan yang tiba-tiba di kejauhan. Lalu fotografer menyesal. "Andai saja saya memilih untuk tidak minum." Tubuh dia sudah mengambil pilihan refleks ketika merasa haus dan otak dia sudah mengonfirmasikan dari data pergerakan burung tersebut yang masih jauh dari posisi yang dia inginkan.
Dalam kondisi yang lebih bersahabat, kita melihat peristiwa-peristiwa ini sebagai "sial". Sedikit lebih baik kalau kita menganggap diri kita "kurang beruntung". Sering kali kita berulang-ulang memikirkan peristiwa-peristiwa yang tidak menguntungkan atau tidak berjalan sesuai dengan prediksi atau keinginan kita. Seperti contoh kejadian di atas dan saat itulah kita berandai-andai kalau situasinya bisa lebih baik jika kita mengambil pilihan yang lain. Kita menyalahkan diri kita sendiri dalam mengambil keputusan yang salah, padahal dalam hati kita tahu pilihan yang lain juga memiliki hasil yang tidak pasti.
Photo by ali atyabi @Pexels.com
Merasa kurang beruntung atau sial akan cepat terlupakan ketika kita mendapatkan sedikit momen yang menyenangkan misalnya menikmati secangkir kopi atau teh hangat. Akan tetapi perasaan menyesal mengambil pilihan yang salah akan sulit dilupakan. Kita akan memikirkannya untuk waktu yang sangat lama karena kita ingin lebih baik dalam hal memilih di masa yang akan datang. Bahkan dalam kesempatan menikmati secangkir kopi yang lezat, kita mengulang kejadian lampau dengan kemungkinan-kemungkinan lainnya di dalam kepala kita, kita tidak lagi menikmati kelezatan kopi.
Banyak kejadian-kejadian dalam hidup saya yang secara instan saya kategorikan sebagai kesialan dan saya juga mengulangi kejadian-kejadian tersebut dengan opsi-opsi lain yang dapat saya ambil pada saat itu. Ya, saya juga pernah terjebak di dalam penyesalan untuk waktu yang cukup lama.
Pada dasarnya kita sudah mengerti tentang ketidakpastian masa yang akan datang. Namun manusia pada umumnya terlalu egois ingin segalanya berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan dalam pikiran kita. Ketika hasilnya tidak sesuai? Kita akan mencari seseorang untuk disalahkan, bisa itu orang lain, bisa Tuhan, bisa diri sendiri.
Belakangan saya makin sering belajar tentang ketidakpastian masa depan, overthinking (berpikir berlebihan), hal-hal yang berada dalam kendali kita dan di luar kendali kita. Harus kita akui kalau masa depan bisa diramal atau diusahakan namun tidak memberi kepastian. Jadi sesuatu yang terjadi tidak seperti yang kita ramal atau kita usahakan, ya wajar-wajar saja. Itu sifat alami masa depan. Terus-menerus dipikirkan hanya akan membuatmu lelah dan tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Kamu tidak bisa mengendalikan masa depan secara pasti, namun kamu bisa mengatur agar dirimu tidak terjebak dalam penyesalan. Kita bisa jadikan sebagai pedoman baru, jika kejadian dan situasi yang sama terulang lagi, kita bisa mencoba opsi yang lain. Cukup sampai di situ.
Sebagai gantinya, saya melontarkan pertanyaan lain: "Apa yang sedang diajarkan kepada saya melalui kejadian ini?"
Pertanyaan ini membuat saya belajar memperbaiki diri. Seperti bagian dari penelitian, saya mengingat situasi sebelum segalanya terjadi, saya mengingat opsi yang saya pilih beserta hasilnya, ketika situasi yang sama berulang di masa yang akan datang saya dapat menjadikan ini sebagai data apakah saya pada saat ini menginginkan hasil seperti yang sebelumnya ataukah saya mau mencoba opsi lain untuk mengetahui hasilnya sebagai pembanding untuk kejadian serupa di masa yang akan datangnya lagi?
Seperti disebutkan di atas, kita mengambil keputusan 'setiap saat'. Kehidupan kita yang sekarang adalah hasil keputusan kita di masa yang lampau. Semua pilihan yang kita ambil membentuk diri kita sekarang, sifat kita sekarang, rupa kita sekarang.
Begitu banyak versi dirimu yang bisa dibentuk mulai dari saat ini. Tak terhingga banyaknya. Jadi jangan terjebak di masa lampau, jangan terjebak di dalam penyesalan.















