Jangkung. Sekitar 175 centi. Berkulit gelap dan sedikit membungkuk, seperti perjalanan hidupnya yang sedikit kelam dan keraguannya akan masa depan.
Entah dulu datang karena apa, jika ada yang bertanya bagaimana bisa? Aku cuma tau satu kata. Alasannya karena aku pintar. Sudah itu saja.
Pria muda yang mengecap terlalu banyak rasa. Pria yang takut berharap terlalu banyak. Menjadi terlalu keras sebelum umurnya. Menutup dalam - dalam kerapuhannya. Agar terlihat tegar. Agar terlihat utuh. Tanpa dia tahu, ketegaran itu, keutuhan itu tidak terlihat di dalam matanya.
Pria yang menjadikan ibu sebagai tatanan surganya. Menurut dan tunduk karena takut kehilangan doa2 terbaiknya. Menjadi pejuang karena terpaksa. Tidak ada hari libur bagi si anak terakhir yang manja.
Tempat berbagi banyak hal, tentang tugas kuliah, tentang soto hingga urusan pelik negara. Tempat nyaman yang menawarkanku masa depan. Tempat menagih pelukan saat hari mulai hujan.
Aku jarang menuliskan kata - kata yang hebat untuknya, pun jarang mengelusnya dengan hadiah dan perlakuan yang mewah. Menyanyi dengan merdu pun aku tak bisa. Memasak untuknya aku tak pernah.
Mungkin karena itulah dia tak pernah bertingkah istimewa, membawaku keluar makan malam berdua, tanpa diminta, atau membawakanku bunga sebagai kejutan ulang tahun, seperti pria2 yang sudah2. Entahlah. Mungkin cinta ini tak boleh jadi begitu serakah ya..
Cuma waktu yang aku punya, untuk mendengarkannya berceloteh dan tertawa tentang teman2nya yang rusuh, tentang harinya, tentang kuatirnya hingga semangatnya. Semoga itu cukup untuknya.
Pria jangkung melaju dengan kecepatan turbo, mencoba menawar jatahnya pada Sang Pemilik Nasib, agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Dia belajar banyak dari masa lalu. Sesekali masih merasa terluka. Lain waktu dia berikrar telah sembuh. Sesekali menjadi lamban, bergerak pelan, menjadi manja, menagih semangat. Kemudian setengah berlari, kembali ke kanca pertarungan.
Tidak ada yang lebih membanggakan daripada melihat semangat perangnya. Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada ketidakpeduliannya.
Pria jangkung, sekitar 175 centi ada untuk menjadi penghargaan dan petualangan baru. Dalam segala ke-alpa-annya, dan segala keterbatasanku, dalam segala cerita yang dilaluinya dan segala perbedaan tentang ini dan itu, boleh kan aku sedikit ingin tahu, gimana rasanya berjuang dengannya, untuk memenangkan hidup dan menertawai garis nasib?
Serta menerjemahkan semua cetakan yang cenderung nisbi..
Semoga Tuhan tidak berkata kami terlalu angkuh, karena menolak ketidakmungkinan dan memilih untuk terus maju.