Dua delapan september dua ribu dua tiga.
Aku mengambil libur empat hari dan ia mengajakku bersenang-senang.
Di hari kedua kami juga menonton sekuel film masa kecil kami, Petualangan Sherina: 2.
Aku senang melihatnya senang, -eh maksudku, aku juga senang dapat bernostalgia melihat film itu, dan menurutku ceritanya cukup bagus, walau bagiku ada satu-dua adegan yang bila tak ada, akan aku beri nilai sepuluh!
Sedikit kabur namun masih teringat, aku yang kecil melihat film Petualangan Sherina di layar tv, sendiri saat libur sekolah. Mungkin umur tujuh, sepuluh, atau berapa aku lupa tepatnya.
Ada perasaan unik tersendiri, terlebih saat aku mendengar perbedaan lirik di salah satu soundtracknya jika dibandingkan dengan film yang pertama, dari lagu Persahabatan diubah menjadi lagu Hari Kita Berdua.
Petualangan Sherina (Persahabatan):
Petualangan Sherina 2 (Hari Kita Berdua):
Aku kemudian menyadari bahwa menjadi dewasa harus dibayar dengan banyak hal, salah satunya adalah merelakan teman yang banyak. Semakin dewasa kita semakin hidup dalam kebutuhan, bukan keinginan. Menjauhi keriuhan, seringkali harus menelan kesepian.
Tak hanya aku, sering rasanya mendengar keluhan ini dari teman sebaya. Menurutku, kita bukan tak lagi ingin punya banyak teman, namun kita hanya butuh satu-dua orang untuk bicara. Bukan sepuluh. Apalagi seribu. Seseorang yang dapat dipercaya, yang kita tahu bahwa ia menerima kita sebagaimana adanya. Saat kita bercerita, ia memerhatikan. Saat kalimat tiba di jeda, ia menanggapi. Sesekali melempar tanya, mengonfirmasi yang kita rasa. Dan, bila kita mau dengar sudut pandangnya, ia bersedia membagi.
Bila kau memiliki sosok itu dalam hidupmu, kau beruntung. Mungkin ia hadir di dalam sosok ayah. Kau tak sungkan menceritakan bahwa kau merasa kesal pada temanmu yang nakal dan selalu mengganggumu. Ayah memerhatikan. Berdehem, untuk kemudian memberikanmu wejangan bagaimana kau harus tangguh karena akan kau temukan semakin banyak orang yang serupa nantinya, petuah-nasihat bijaksana, hingga kau terkantuk mendengarkannya, kemudian esok hari kau akan lupa perasaan menyebalkan itu.
Bisa jadi, teman bicaramu adalah ibu. Kepadanya, kau bisa membeberkan ketakutan-ketakutanmu tentang menjadi dewasa. Saat kau merasa banyak mimpimu yang tak sempat kau capai. Atau saat kau menjadi satu-satunya yang belum menikah di antara satu lingkaran pertemananmu. Ibu ada di sana, memerhatikan. Kau juga memberondong ibu dengan seribu kisah: lelahnya dunia pekerjaan, pesta pernikahan teman, ajakan untuk menengok bayi temanmu yang berumur dua bulan. Sentuhan fisik adalah bonus--Ibu mengusap rambutmu yang belum disisir. Itu cukup meredakan kegelisahanmu.
Mungkin dia juga hadir menjadi sosok kakak-adikmu, dengannya kau bebas berbagi kisah apa saja.
Bahkan ada kalanya, kau juga akan belajar menjadi teman bicara, semisal temanmu datang dengan segudang cerita. Kau bisa menyediakan telinga. Sesuai kapasitasmu saja. Berikan tanggapan hanya saat diminta.
Atau kau tiba-tiba menemukan orang asing yang menjadi teman bicaramu, setelah ia mencontreng daftar panjang kriteria sebagai teman bicara seumur hidupmu: selamat! Teman bicaramu menjadi teman serumah. Tentu saja, kalian tak harus terus bicara seumur hidup. Sebab bicara membutuhkan banyak energi. Setidaknya, saat kepalamu penuh oleh segala rupa, teman bicaramu ada. Itu menenangkan, bukan?
Bersamanya, kau belajar menjadi teman bicara yang mampu dan layak juga. Untuknya. Untuk anak perempuan atau laki-lakimu kelak. Untuk ibu dan bapakmu yang sudah beranjak tua, meski dulu mereka tak punya banyak waktu untukmu. Untuk orang yang bersedia mendengarkanmu.
Terima kasih, Sherina, untuk lagumu yang indah. Kini aku tahu bahwa tak perlu lagi gelisah melihat aku yang semakin jauh dari keramaian, merasa tak apa melihat temanku satu-persatu menemukan kehidupannya. Ternyata memang tak butuh banyak, berdua bahkan lebih dari cukup jika berhasil menemukan teman bicara yang tepat. Dan ternyata aku telah menemukannya. Betapa senangnya.