Always.
"Kiyomi-chan mau cincin yang mana?"
Pandangan mata si gadis cukup berbinar ketika melihat sederetan cincin berkilau untuk sepasang kekasih. Mereka bukan berada di toko perhiasan yang mahal harganya. Tapi mereka berada di sebuah toko aksesoris untuk perempuan di pusat kota Hakodate di sini. Mereka menjual berbagai macam aksesoris dimulai dari ujung kepala sampai ujung kaki anak perempuan. Semuanya lengkap. Terutama bagi yang suka memakai barang yang sama dengan kekasihnya.
Bagi Kiyomi ini hal yang baru untuknya, karena dia sendiri belum pernah memakai barang yang serupa dengan Kuroki Shinya.
"Kalau yang itu, menurutmu gimana Shin-kun?" tunjuknya pada sepasang cincin emas putih imitasi dengan lima mata berlian di sekeliling cincin wanita yang tipis. Berbeda dengan cincin pria yang cukup tebal ukurannya.
"Bagus? Atau terlalu mencolok?"
"Bagaimana kalau yang ini?" Shinya menunjuk ke cincin sebelahnya yang bermata satu berlian saja. Sederhana, tapi manis. Beda dengan pilihan sang gadis tadi.
"I-Itu bagus juga," gumamnya jelas sambil membayangkan cincin tersebut melingkar di jari manis tangan kirinya.
"Aku mau ikut pilihan kamu saja kalau begitu," senyumnya terukir malu di wajah pucatnya yang sedikit merona. Karena dia mau tahu bagaimana pilihan dari seorang laki-laki untuk perempuan. Apalagi cincin. Yang sudah dijanjikan oleh Shinya suatu saat nanti jika mereka sudah dewasa. Mereka mesti puas dulu dengan cincin emas putih imitasi yang akan mereka pakai nanti.
"Baiklah, aku bayar dulu kalau begitu," pemuda itu tersenyum lebar dan meminta salah satu pelayan toko untuk mengurusi pesanannya.
. . .
"Duduk di sini saja yuk," gadis Izumi menunjuk salah satu pohon di taman kota yang cukup sepi dari keberadaan lalu lalang di waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Mereka pun duduk di bawah pohon rindang, melepas lelah sejenak setelah seharian ini mereka berada di luar rumah sejak pagi. Mereka bukan pergi beliburan, tapi mengurus pekerjaan sang gadis menjadi model majalah bertemakan pengantin oleh kakak sepupunya. Ditemani oleh Shinya yang memang sengaja diajak oleh Kiyomi untuk menemaninya selama pemotretan berlangsung sampai sore hari.
Hingga ada cerita kenapa mereka membeli cincin ini. Bukan untuk main-main saja, tapi untuk mengikat kuat hubungan mereka yang semakin dalam. Dengan saling berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain sampai waktu yang tepat. Waktu itu adalah ketika Shinya sudah siap meminangnya dan Kiyomi juga sudah siap untuk menerima pemuda itu menjadi suaminya nanti.
Kalau orang dewasa mendengarnya pasti ini cuma lelucon yang dibuat-buat. Bahwa tidak ada yang abadi, mau itu hidupmu atau janjimu kepada pasangan. Tapi kedua anak remaja ini cuma mau percaya saja kepada semesta dan sang gadis akan menerima saja kalau ada takdir akan memisahkan mereka. Shinya dan Kiyomi bukan sepasang kekasih yang suka main-main dan tidak serius menjalani hubungan mereka. Mereka serius dan selamanya akan selalu bersama.
"Kubuka ya kotak cincinnya," dan kotak cincin berwarna merah itu dibuka oleh si pemuda. Warna kilauan emas putih itu berpendar oleh cahaya bulan yang cerah di musim panas ini. Sang gadis cuma menahan napasnya, sementara itu tangan kirinya sudah diraih oleh pemudanya. Jemarinya diusap-usap sejenak, dan pandangan si gadis tidak lepas dari wajah Shinya yang menyengir lebar seperti mau tertawa keras.
"HAHAHA kayak benaran saja sampai kamu diam begitu," dan memang benar-benar tergelak cukup keras karena lucu melihat wajah gadisnya merona.
"A-apaan sih? Kan wajar k-kalau kayak benaran di depan gereja tadi!"
"Iya iya wajar HAHAHA," masih saja iseng untuk melakukan yang serius begini. Bertukar cincin seperti sepasang pengantin yang telah mengucapkan sumpah janji pernikahan mereka.
"Aku juga merasa kayak begitu kok, Kiyomi-chan," suara Shinya tenang kembali, sambil memasangkan cincin emas putih itu ke dalam jari manis gadisnya. Pemuda itu tersenyum melihat perhiasan mungil itu di jari kekasihnya.
"Aku nggak salah kan? Huh," sekarang gantian Kiyomi meraih tangan kirinya si pemuda Kuroki dan memasangkan ke jari manisnya. Di dekatkan kedua tangan tersebut, digenggamnya sekaligus.
"B-bagus ya yang imitasi juga," takjubnya melihat sepasang cincin tersebut di tangan mereka masing-masing. Kiyomi bukannya sombong karena tidak pernah memakai perhiasan imitasi, tapi yang ini dia memang harus bersyukur banyak-banyak. Walaupun harganya murah, tapi terlihat asli di jemari mereka. Dan yang terpenting adalah hati mereka yang tulus untuk terus melanjutkan hubungan kekasih ini.
"Suka?"
"Suka sekali, Shin-kun. Terima kasih ya," senyumnya cukup lebar pada pemudanya yang menatap sang gadis dengan wajah yang semakin mendekat.
Refleks sang gadis menutupi kedua kelopak matanya, tahu apa yang terjadi karena setelah pasangan pengantin memasang cincin, mereka akan...
...berciuman.
Kedua bibir remaja ini sudah menempel, gadis Izumi ini semakin merapatkan matanya dan juga genggaman mereka yang berada di pangkuannya. Sesekali dia membalas tautan bibir tersebut hingga memberikan Shinya untuk mendominasinya kembali. Cukup lama untuk sebuah ciuman selama mereka berpacaran sejak musim dingin kelas tiga SMP. Mungkin karena terbawa suasana yang sudah dibuat sejak dari gereja Motomachi tersebut.
"HAHAHA kayak menikah benaran ya," Bukannya diam sejenak, Shinya malah tertawa lagi setelah ciuman mereka terlepas. Pasti karena gugup, si gadis sadar kalau itu sikap salah tingkah dari Kuroki Shinya yang biasa muncul ketika hati lagi senang begini.
"Sudah tertawanya, malah bikin malu tahu! Kamu juga yang tiba-tiba menciumku tadi!" mencubit gemas pipi kanan si pemuda yang mengaduh kesakitan. Kiyomi malah tergelak kecil.
"M-maaf, habisnya memang terbawa suasana sih!" Tidak salah kalau memang begitu. Kiyomi juga tidak akan menolak kalau dia memang suka juga seperti tadi.
"Nee, Kiyomi-chan. Janji samaku untuk tidak melepaskan cincin ini sampai cincin ini terganti dengan emas putih yang harganya lebih mahal. Sampai kamu bilang siap untuk menjadi istriku suatu hari nanti."
"Biar semua orang tahu juga kalau kamu sudah ada yang punya saat kita sudah sibuk lulus sekolah nanti."
"Ya?"
Gadis ini mengangguk kuat.
"J-janji. Aku tidak akan melepas cincin ini sampai kapan pun. Kamu juga, ya?"
Pemuda itu mengangguk juga. Dia tersenyum lebar yang tulus.
"Janji. Aku tidak akan mengingkari yang satu ini. Begitu juga dengan janji-janjiku yang lainnya dengan kamu, Kiyomi-chan."
Mungkin terdengar sangat norak, tapi itulah yang cuma diharapkan bagi sepasang kekasih untuk mempertahankan hubungan yang sudah terjalin cukup lama.
. . .
"Aku sayang kamu, Kiyomi-chan."
"Aku juga sayang kamu, Shin-kun."
“Selalu?”
“Selalu.”
Dan kecupan singkat mengakhiri pembicaraan kedua anak manusia ini, Shinya dan Kiyomi melanjutkan perjalanan mereka. Membawa perasaan yang tenang sekaligus lega karena tahu masing-masih dari mereka saling menunggu. Untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau pun keraguan pada hubungan mereka.
Sekali mereka mengingkar, akibatnya adalah mereka akan susah untuk saling percaya lagi. Semua orang juga sudah tahu akan hal tersebut.












