Aku pertama kali berkenalan denganmu waktu usiaku masih sebelas tahun.
Aku, Sidney Iona Quince, yang ketika itu masih bocah laki-laki ingusan, ingat bagaimana sinar matahari musim panas mengenai kulitku hari itu. Juga waktu sinar matahari yang sama mengenai kepalamu dari jendela kedai. Rupanya rambutmu sewarna kenari, kukira kopi. Waktu itu kamu memangku sebuah boneka porselen, membuatnya pura-pura bicara dengan suara perutmu. Kalau seandainya nona pemiliknya (yaitu kamu) dijadikan versi boneka, bentuknya akan sangat serupa dengan mainan itu. Karena kalian tidak jauh berbeda, aku memutuskan untuk lebih tertarik pada boneka itu saja. Awalnya begitu.
Dia lebih baik dan manis daripada majikannya. Ketika si anak perempuan tidak mau memandangku, cuma dia yang melakukannya. Ketika si anak perempuan tidak mau bicara padaku, dia mau bicara padaku sebagai perantaramu. Ketika kamu malu-malu padaku, dia yang menggantikanmu untuk menciumku.
Kamu bilangnya sih cuma untuk membekapku supaya tidak berisik, tapi aku tidak mau percaya, hahah.
Nama boneka itu Sugar, dan dia yang untuk pertama kalinya memperkenalkanku pada kamu: Candy Bastianich.
Waktu itu mungkin aku suka pada Sugar. Aku suka ketika suara khas anak-anaknya menanggapiku, aku suka bicara sambil menatap matanya yang tidak berkedip, aku suka kulitnya yang sedingin porselen—karena dia memang terbuat dari porselen.
Tapi itu sebelum mata kita saling bertemu pandang.
_______________________________________________________________________
"…kesadaran anak anda sudah kembali."
"Puji Tuhan!"
"Tapi seperti yang saya katakan dulu, ia kemungkinan tidak dapat sembuh secara total. Saya mengkhawatirkan akan adanya gangguan pada otaknya, hingga berpengaruh ke kondisi psikologisnya."
_______________________________________________________________________
Butuh waktu supaya aku menyadari bahwa matamu persis milik Sugar. Bulat, besar, warnanya biru berkilau. Mungkin tidak berkilau sungguhan, cuma karena aku kebetulan membandingkannya dengan milik si boneka yang tidak asli. Yang ini bisa melihatku balik, bisa memalingkan diri, bisa berkedip, bisa mengeluarkan air mata. Mereka hidup. Aku bisa merasakan kalau mereka sungguhan hidup karena aku merasa seperti ditarik ke dalamnya setiap melihatmu lama-lama. Padahal mentang-mentang berwarna sama, bukan berarti dia juga laut benaran.
Aku juga jadi tahu kalau rambutmu berbeda dengan milik Sugar. Rambut Sugar pirang pucat (aku jadi makin sering membandingkannya dengan warna rambutku), berombak sepanjang punggung, dan kasar seperti ijuk. Rambutmu seperti yang sudah pernah kudeskripsikan sebelumnya; warnanya lebih menyala dan sehat. Ia lurus hingga panjangnya mencapai pinggang, juga halus. Saat itu kamu mungkin belum menduga kalau beberapa tahun setelah itu hobiku akan berubah menjadi ‘memainkan rambutmu, menyelipkan sela-sela jariku di rambutmu, dan menciumi rambutmu’. Freak sekali ya, hahah!
Aku juga suka wangi tubuhmu; aku sempat bertanya-tanya apakah kamu diberi nama Candy karena kamu beraroma manis, atau kamu beraroma manis karena kamu diberi nama Candy. Aku suka setiap kali pipimu merona merah karena emosi. Aku suka gestur malu-malumu. Tidak seperti Sugar, kamu nyata. Aku selalu bisa merasakan napas kehidupan itu.
Mungkin kamu akan bosan karena aku mengulang kata ‘hidup’ terus, tapi itu sebetulnya karena aku memang bersyukur atas kehidupanmu.
Aku akan bersyukur kalau kau hidup.
_______________________________________________________________________
"Tujuh tahun? Dia sempat koma selama itu?
"Iya."
"Memang apa kejadiannya?"
"Waktu itu dia baru genap berumur sebelas tahun, lalu beberapa saat setelah ia menerima surat penerimaan dari sekolah ia pergi keluar bersama suamiku—ayahnya. Kemudian—"
"—?"
"—ada ledakan. Semacam itu. Kecelakaan masal di kota. Ayahnya meninggal di tempat. Dia sendiri sempat sangat shock, sebelum akhirnya ikut tidak sadarkan diri—"
"—dan sejak tidak pernah sadar lagi sampai sekarang?"
_______________________________________________________________________
Butuh beberapa tahun sampai aku benar-benar melihatmu sebagai Candy Bastianich dan bukan sekadar sebagai “nona pemilik Sugar yang begitu sombong hingga selalu menggunakan suara perutnya untuk bicara dan menggunakan bonekanya sebagai perantara komunikasi karena dia tidak mau berhubungan langsung, seperti yang dilakukannya ketika pertama kali bertemu”.
Aku sangat ingat ketika aku pertama kali menyentuh wajahmu, waktu usiaku lima belas tahun, menghapus air matamu yang keluar gara-gara kesalahanku waktu itu. Sejak saat itu aku menyesalinya dan berjanji tidak akan mengulanginya. “Aku tidak akan mengecewakanmu lagi dan aku yang akan membuatmu senang mulai saat ini”, begitu. Aku juga ingat ketika pertama kali memelukmu, beberapa bulan setelahnya, waktu itu kita baru saling berbincang lagi setelah beberapa bulan sebelumnya saling sunyi. Sejak saat itu aku bertekad akan jadi orang yang bisa kamu sukai dan percaya.
Aku ingat sekali ketika aku pertama kali menyatakan perasaan padamu. Taman ria, genap lima tahun setelah kita berkenalan, kamu ingat? Waktu kamu membalas dan bilang bahwa kamu juga sayang padaku, rasanya aku gemetaran sampai rasanya hampir mati, berdebar sampai hampir mati, bahagia sampai nyaris mati—ya hiperbolisnya kurang lebih begitu. Aku ingat tentang kencan pertama kita. Aku ingat tentang tentang ciuman pertama kita setahun setelahnya. Aku ingat ketika pertama kali mendengar suara asli milikmu, yang menurutku paling bening dari semua suara orang yang pernah kudengar.
Aku akan selalu ingat tentang anak perempuan yang menemaniku bicara hampir setiap malam sebelum tidur di ruang rekreasi, tentang gadis yang menepuk dan menghiburku setiap selesai kegagalanku sebagai kapten di pertandingan, tentang seseorang yang mendoakanku setiap berulang tahun. Aku akan selalu ingat bahwa orang yang menemaniku setiap saat-saat itu selalu orang yang sama. Aku akan selamanya ingat tentang seorang Candy Alecia Bastianich.
Aku tidak akan lupa tentang semua itu. Karena satu-satunya kekasihku seumur hidup hanya dia. Hanya kamu. Hanya Candy Bastianich. Karena aku—
_______________________________________________________________________
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Aku tidak tahu apakah yang seperti ini lebih baik atau tidak."
"Kenapa—"
"Ia kehilangan kemampuan berpikirnya. Kemarin aku sudah mendatangkan psikiater untuk Sidney. Ia bilang anakku menderita ketidakstabilan mental akibat kecelakaan dulu."
"…"
"Dia akan sering berhalusinasi dan bermimpi di siang hari. Dia punya teman khayalan di usianya yang delapan belas tahun ini. Kamu lihat dia sekarang, Jean?"
"Kenapa dengan boneka porselen pirang yang dipegang Sid itu?"
"Matanya kosong, tapi dia kelihatan seperti sedang bicara sendiri pada boneka itu."
_______________________________________________________________________
—mencintaimu.
Candy, pernah tidak sesekali kamu berpikir bagaimana kalau seandainya kamu tidak nyata?
_______________________________________________________________________
Aku memperhatikan gambaran yang muncul di cermin dinding, di suatu tempat yang disebut orang sebagai ‘kamar inap rumah sakit’ ini. Ada seorang pemuda, memperlihatkan wajah polos tanpa kacamatanya. Warna kulitnya super pias, rautnya kuyu, rambutnya yang sewarna jerami menuruni dahi tidak terurus. Sekilas melihat, tidak akan ada yang menyangka bahwa usianya baru delapan belas tahun menurut sertifikat kelahirannya. Mungkin aku tidak tahu bahwa mungkin saja aku sudah hidup lebih lama dari itu. …umm, atau aku cuma kebetulan baru tahu bahwa aku sudah tumbuh melebihi apa yang aku duga.
Aku menatap matanya, dan matanya menatapku balik. Sepasang mata almond terbelalak. Irisnya sewarna madu, semestinya indah… Kalau saja keseluruhan wajahnya tidak menunjukkan kesan menyedihkan yang membuatnya pantas untuk dikasihani.
Candy, kalau kamu ada di sini kamu juga akan kasihan padaku, tidak?
Paling tidak ada bagusnya juga karena kamu tidak betulan ada. Kamu tidak perlu melihatku dalam keadaan seperti ini. Kamu tidak perlu disalahkan karena membuatku menjadi seperti ini. Tidak ada yang bisa disalahkan, memang. Semuanya terjadi karena kecelakaan, dan kamu hanya kebetulan berada dalam mimpiku, membuat keadaanku jadi terasa semakin serba salah.
Aku tidak pernah mengenalmu. Kamu tidak dengar ya, apa yang ibuku bicarakan tadi? Kamu tidak ada.
…maksudku kamu ada, kamu hidup, tapi hanya di dalam imajinasi otakku yang gila.
Aku terdiam di tempat, tidak melakukan adegan terdramatisasi seperti meninju cermin atau menyiletkannya ke pergelangan tanganku. Memikirkan kemungkinan bahwa kamu tidak pernah sungguhan bernapas di dunia ini sudah paling sakit melebihi apapun.
Aku kembali mencoba meyakinkan diriku, tapi memang sulit untuk memberi tahu seseorang bahwa yang selama ini diyakini sebagai nyata sebetulnya cuma mimpi. Aku memutuskan menyerah. Menyerah untuk menanyakan diriku sendiri untuk lebih mempercayai yang mana: ilusi atau kenyataan. Atau mimpi. Atau tidak nyata. …dan pada akhirnya sama saja semua pilihan seolah memojokkanku. Aku yang harus terima kenyataan bahwa perasaanku selama ini yang salah.
Aku memandang lagi bayangan orang yang ada di cermin, mencari determinasi yang mungkin masih tersisa di matanya. Tidak ada. Dia—aku—lebih mirip orang mati daripada orang yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Lagipula ‘hidupku’ selama ini juga cuma kebohongan, jadi hidup juga tidak ada artinya, kan? Rupanya Sidney Quince yang ceria, penuh energi, dan sehat selama delapan belas tahun terakhir itu tidak pernah ada. Rupanya Sidney Quince dengan Candy Bastianich-nya itu juga tidak pernah ada.
Sedikit bagian di isi dadaku masih terasa bergelora, entah untuk alasan yang mana. Tidak perlu ada yang tahu, diam saja. Di mana-mana orang mau kabur itu diam, bukannya berkoar-koar.
Aku bergegas pergi meninggalkan tempatku. Aku ingin membuktikan pada ibuku bahwa aku sebenarnya normal, tidak gila, dan ibuku tidak pernah bercerita yang seperti itu. Aku akan mencari ayahku dan menemui beliau yang masih dalam keadaan hidup. Aku akan bergegas ke sebuah restoran keluarga Italia daerah pusat kota London, mencari seorang gadis yang saat ini mungkin sedang berpentas dengan boneka kesayangannya.
.
.
.
Tapi aku tahu itu cuma alasan yang dibuat-buat olehku saja. Aku tidak sungguhan akan melakukannya, kan? Aku, Sidney Quince, sudah mati.
Oke, akan.
Berbalik ke tempat tidurku, merampas boneka berbentuk anak perempuan yang ada di sana. Boleh saja sebelumnya benda ini milik salah satu pengunjung pasien yang tertinggal, tapi sekarang dia milikku. Dia Sugar, dia hartaku, dia tidak boleh ada jika tanpa aku, pemiliknya yang posesif. Untuk bisa mengambilnya aku bahkan lebih memilih untuk berlari keluar telanjang kaki, karena aku harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini sebelum ada yang melihat, sehingga tidak sempat mencari alas kaki.
Baru beberapa menit staminaku sudah turun ke titik terendah, aku sudah terengah-engah, sampai rasanya sulit untuk percaya bahwa aku adalah anggota tim Quidditch asrama di ‘kehidupanku yang sebelumnya’. Tapi aku kembali membuatku berpikir untuk menganggap kamarku yang di belakang sebagai masa lalu yang ingin kutinggalkan jauh-jauh, dan para petugas rumah sakit sebagai mimpi buruk yang mencoba mengejarku lagi, dan barulah setelah itu aku mendapat sumber kekuatanku sekali lagi.
Aku tidak mau berbalik, tidak mau ingat, tidak mau kenal. Tapi semakin aku mencoba melupakannya, bayangan-bayangan itu terkenang semakin jelas di benakku, membuat dadaku semakin sesak.
Juga mataku. Sesak dengan air.
"AAAAAAAAAAKH!"
Menghirup udara di luar bangunan rumah sakit membuatku seketika lebih mudah bernapas. Aku menepi, tetap memeluk Sugar di satu tangan, menyeka kasar mataku dengan punggung tangan sambil tidak mempedulikan tatapan orang-orang lain yang memandangku aneh sekarang. Persetan. Persetan semuanya. Aku cuma ingin pergi jauh-jauh. Setelah menangis dulu, sebelumnya. Kupikir karena aku sudah gila, aku tidak akan merasakan apa-apa lagi sekarang. Setelah kupikirkan sekarang, aku sadar bahwa sebenarnya aku masih sangat waras. Karena seluruh tubuhku terasa sakit lagi seketika setelah aku menyadari jalan yang sedang kulewati sekarang.
Belok ke arah sudut gang di sebelah kiri, adalah tempat ketika Candy Bastianich pernah menangis di hadapanku dan aku menghapus air mata yang jatuh di wajahmu.
Iya, aku ingat. Itu di…. Mimpiku. Fragmen ke sekian-puluh. Ahah.
Tapi tanganku kembali berkeringat dingin. Aku waras, aku normal, aku seharusnya tahu saat-saat seperti itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan sebenarnya. Aku cuma kaget karena sesaat tadi tanganku seperti ingat rabaan halus di kulit pipimu waktu itu.
.
.
.
Ah, sudahlah. Tanpa itu juga aku tetap ingat kamu. Walaupun kamu tidak kenal aku dan aku mengenalmu sebagai fiksi, aku juga tetap ingat. Walaupun kamu tidak nyata, kamu akan tetap kuingat sebagai nyata. Aku akan selalu ingat wangi rambutmu, lembut suaramu, rasa masakanmu, semua tentang kamu.
Kamu. Iya, kamu. Mimpi terindahku.
Terima kasih.
Pergilah.
Selamat ting—
—GEDEBUK!
_______________________________________________________________________
Hening lama. Aku melihat balik ke arah orang yang menabrakku—tepatnya aku yang melamun terlalu lama, lalu tidak sadar malah menabraknya—hingga kami sama-sama jatuh terjerembab. Fokusku terlanjur dicuri hingga aku lupa keinginan untuk mengerang sakit. Seorang gadis seumuranku, rambutnya sepinggang sewarna kenari.
Matanya yang bulat itu menatapku, lalu seolah berkilau, seperti kelereng berwarna biru laut.