Alucine: Alguien mueve los hilos #thepuppetmasters #1994 #proximamente @lost.robinsons https://www.instagram.com/p/Cpa-kqbMsB_/?igshid=NGJjMDIxMWI=

#dc#dc comics#batman#bruce wayne#dc fanart#dick grayson#batfamily#batfam#tim drake



seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from Singapore

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from TĂŒrkiye
seen from United Kingdom

seen from Australia

seen from Singapore
seen from China
Alucine: Alguien mueve los hilos #thepuppetmasters #1994 #proximamente @lost.robinsons https://www.instagram.com/p/Cpa-kqbMsB_/?igshid=NGJjMDIxMWI=

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âą No registration required âą HD streaming
I specifically remember my brother renting this when I was 11 or 12 and being told I couldnât watch it because it was âtoo scaryâ. Thank you to @kinolorber for their sale to find out if my brother was right. #thepuppetmasters #donaldsutherland #ericthal #juliewarner #yaphetkotto #keithdavid #willpatton #richardbelzer #robertaheinlein #tedelliott #terryrossio #davidsgoyer #stuartorme #firsttimewatch #bluray (at El Apartamento De Sweeney) https://www.instagram.com/p/CD6dy5HAuJD/?igshid=1ugsagbfivo7a
Thank you, Kino. At least, I think âthank youâ. Iâve only seen two of these before. I guess Iâll find out soon enough. #cannibalapocalypse #gorp #highwaytohell #itspatthemovie #thepuppetmasters #spacecamp #kinolorber #bluray (at El Apartamento De Sweeney) https://www.instagram.com/p/CDY2gFUAh7h/?igshid=fhekptcws50k
The Puppet Masters: A törtĂ©net nagy vonalakban hasonlĂt a âTestrablĂłkâ filmekre, ami azĂ©rt is Ă©rdekes mert a 78-as vĂĄltozatban ugyanĂșgy D.Sutherland volt a fĆszereplĆ (többek között ugye). A klasszikus sĂ©mĂĄt követve azĂ©rt nem kevĂ©s meglepetĂ©ssel szolgĂĄl a produkciĂł, a cselekmĂ©ny többek között a kiszĂĄmĂthatatlansĂĄgra jĂĄtszik, jĂłl lehet azĂ©rt vanak benne olyan fordulatok, melyek elĆre sejthetĆek. De nĂ©zzĂŒk az alapszituĂĄciĂłt, a földönkĂvĂŒliek akik a bĂ©ke ĂgĂ©retĂ©vel prĂłbĂĄljĂĄk csĂĄbĂtani azt aki eddig ellenĂĄllt, nem is olyan kedvesek mint azt ĂĄllĂtjĂĄk magukrĂłl. A parazita lĂ©ny(ek) rĂĄkapcsolĂłdva az idegi hĂĄlĂłzatra, mĂłdosĂtjĂĄk a gazdatest viselkedĂ©sĂ©t Ă©s mint ahogy az eredeti cĂm is mutatja, az emberek bĂĄbokkĂ©nt vĂ©gzik, akiknek nincs önĂĄllĂł akaratuk, csak azt teszik amit parancsolnak nekik. Mivel kĂvĂŒlrĆl nemigen lehet kiszĂșrni Ćket, Ăgy csak a viselkedĂ©sĂŒk ĂĄrulja el Ćket, amit szintĂșgy nehĂ©z Ă©szrevenni. HĆseink persze villĂĄmgyorsan rĂĄjönnek hogy egy invĂĄziĂłval van dolguk, ennek ellenĂ©re mĂ©gis befĂ©rkĆzik közĂ©jĂŒk az ellensĂ©g. Nagyon jĂł ötletnek tartom azt, ahogyan bemutatjĂĄk hogy mĂ©g ez a kis zĂĄrt csoport sem bĂzhat meg a mĂĄsikban feltĂ©tlenĂŒl, mert lehet hogy csak az idegeneknek kĂ©mkedik. Ezt leszĂĄmĂtva, nem is egy logikai buktatĂłt fedeztem fel a forgatĂłkönyvben, nem is az elmĂ©lettel volt inkĂĄbb a baj, hanem az emberek reakciĂłival, hiszen ha tĂ©nyleg ekkora a veszĂ©ly, akkor lehetnĂ©nek Ăłvatosabbak is pĂ©ldĂĄul. AztĂĄn ott volt parazitafĂŒggĂ©s is, vagyis az amit a gazdatest Ă©rzett, miutĂĄn a lĂ©nyt levĂĄlasztottĂĄk rĂłla. A legnagyobb hibĂĄnak magĂĄt a befejezĂ©st talĂĄltam, az ĂrĂłk nem voltak olyan merĂ©szek, hogy megkockĂĄztassanak egy tĂ©nyleges kipusztulĂĄst, vagy akĂĄr azt hogy Ă©rzĆdjön a mĂ©g közel sincs vĂ©ge Ă©rzĂ©s. Ennyit a negatĂvumokrĂłl. Az operatĆr nagyon jĂł munkĂĄt vĂ©gzett, a borzongatĂł Ă©s alienĂĄlt lĂ©gkör vĂ©gig Ă©rzĆdik, egy kĂ©t helyen pedig kĂŒlönösen jĂł volt a kamerakezelĂ©s Ă©s a vĂĄgĂĄs is. A rĂ©gi vĂĄgĂĄsĂș thrillerekre ez elĂ©ggĂ© jellemzĆ egyĂ©bkĂ©nt. A szĂnĂ©szeket nagyon jĂłl összevĂĄlogattĂĄk. Ha az összessĂ©get veszem, akkor A parazita sajnos csak egy ĂĄtlagos testrablĂłs thriller, ami nem volt kĂ©pes semmi Ășjat vagy eredetit felmutatni.#thepuppetmasters #film #nagyĂtĂłalatt https://www.instagram.com/p/BvyDwRfgteg/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1jrwc3beurrit
My finds for the day. #robincook #barbaramichaels #thepuppetmasters #eve6 #insideout #acureforwellness #presendentsoftheunitedstatesofamerica #books #music #movies https://www.instagram.com/p/BnfTKyTF4Pn/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1ionluab6xmcd

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âą No registration required âą HD streaming
The Puppetmasters
Sometimes as a DM,GM or whatever you decide to call it you need a good behind the scenes villain one that you can really get behind hating but is hard to directly fight, In my campaign that's what the Council of Thirteen is and it's to the point where the mere mention of their symbol thirteen triangles arranged in a circle end to end, Is groan/exclamation inducing event. I mean these guys can be traced back to just about every event in my campaign and even quite a bit of its background events.
Let's Hold Hands
Tidak semua orang yang telah tiada di muka bumi ini, arwahnya akan tenang di sisi Pencipta. Berlaku juga bagi arwah yang memiliki sifat yang merugikan diri sendiri dan orang lain akan kekal di tempat siksaannya. Seperti aku, Izumi Kiyomi yang telah meninggalkan semua orang yang kusayangi di akhir bulan Juli kemarin. Aku sempat merasakan nikmatnya surga, tapi aku diberi kesempatan untuk tinggal di dunia ini lagi karena khawatir pada satu pemuda yang telah mewarnai kehidupanku sebelumnya. Kuroki Shinya. Dia kekasihku, hng--tepatnya dia mantan kekasihku setelah kepergianku, tapi lebih enak kalau aku masih menganggap dia kekasihku karena kami tidak putus. Shinya itu pemuda yang baik dan penyabar. Dan jelas saja dia memiliki sifat penyayang kepadaku. Dia salah satu sumber kekuatanku untuk menghadapi cobaan yang pernah kurasakan. Dia penyemangatku ketika semangatku kembali jatuh. Dia adalah orang yang tepat untuk menemaniku hingga hembusan napas terakhirku. Aku bangga memiliki kekasih seperti dia, aku tidak menyesal sama sekali apa yang pernah kita lakukan waktu dulu, dan sampai saat ini juga rasa sayang dan cintaku tidak pernah luntur kepadanya. Aneh memang, mungkin ini alasanku juga kenapa aku mau meninggalkan kenikmatan surga Tuhan. Aku ingin menjaganya, karena setiap kuperhatikan Shinya dari sana, aku tahu kalau pemuda itu belum bisa melupakanku dan terus dilanda rasa duka maupun sedih. Padahal, Shinya memiliki banyak teman, mereka suka sekali mengajaknya untuk bermain, memberikan semangat hingga saling memberikan candaan dengan mengejek kekasihku dengan gadis lain. Aku sebenarnya sedih ketika teman-teman Shinya bercanda seperti itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Shinya tidak akan pernah merasakan sentuhanku lagi. Aku tidak ada hak lagi untuk mengatur kisah cintanya. Punggungnya. Jemari tangannya. Kedua lengannya. Bidang dadanya. Itu semua adiksi setiap aku melihat Shinya. Rasa-rasanya aku ingin menampakkan diri. Memperlihatkan sosokku dengan bentuk arwah kepadanya. Tapi aku tidak mau membuatnya tambah sedih lagi. Karena kehadiranku akan selalu membuat dia teringat bagaimana senyuman terakhir yang kuperlihatkan di ruang rawat inap rumah sakit. Aku pun lebih memilih masuk ke dalam mimpi setiap tidurnya. Merekam ulang kejadian di saat aku masih hidup. Perkenalan pertama waktu di sekolah. Pergi dan pulang sekolah selalu bersama-sama. Pernyataan perasaan pemuda itu sewaktu sekolah dan cuma kudiamkan saja berkali-kali tanpa jawaban. Hingga akhirnya Shinya tahu penyakitku berikut alasanku kenapa tidak mau membalas perasaannya. Aku pun akhirnya membalas perasaannya, membuat hidupku berwarna setelah menjalaninya. Hubungan kekasih tidak pernah ada yang mulus. Aku dan Shinya sempat bertengkar, sampai-sampai aku memilih menenangkan diri ke Hokkaido selama enam bulan. Dan selama itu juga aku berusaha mencoba melupakannya. Sayangnya, tidak pernah berhasil dan puncaknya aku pernah memanggil Shinya di dalam tidurku. Dan seminggu setelahnya, dia menjemputku, membawaku pulang ke Tokyo untuk menjalani kehidupan lagi tanpa ada pertengkaran seperti dulu. Ya selama aku hidup, tentu saja ada pengalaman yang tidak bisa kulupakan sampai sekarang. Liburan berdua pertama kami, dan di sana kami saling berbagi rasa yang dalam. Dan di sana juga aku tahu rasa bahagiaku sebagai gadis yang dimiliki oleh Kuroki Shinya. Hari ini aku telah mengikuti keseharian Shinya di kampusnya. Pemuda itu lagi-lagi menolak ajakan main dari teman-temannya. Aku cuma pasrah dan diam saja memperhatikan kekasihku yang kembali membereskan buku-bukunya. Selanjutnya aku kembali mengikutinya, berjalan di sampingnya sambil memperhatikan wajahnya yang tidak seceria sebelum aku pergi. Dulu Shinya cerewet, tapi sekarang dia menjadi lebih pendiam dan lebih banyak berpikir. Terlebih lagi dia sering menjaga rumah sakit setelah sidangnya telah dinyatakan lulus. Aku bangga padanya, karena yang sempat kukhawatirkan ini bisa membuat Shinya kembali sadar pada akademiknya yang sempat terjatuh setahun yang lalu. _______________________________________________________________________
Aku baru sadar kalau langkahku mengikutinya sedari tadi adalah ke sebuah pemakaman. Dia sudah berjongkok di depan nisanku dengan meletakkan bunga kesukaanku. Di sana aku bersemayam, tidur nyenyak selama setahun lebih ini di sini. Kata manusia yang hidup, pemakaman itu seram. Tapi kataku, di sini adalah tempat yang nyaman untukku. Banyak orang yang datang untuk berziarah. Terkadang aku suka mengaminkan doa-doa mereka pada pemilik nisan di sana. Tapi sekarang aku cuma mau fokus pada Shinya yang tengah berbicara sendiri pada nisanku. Aku terdiam saja. Sesekali tersenyum mendengarnya dia bercerita akan lulus dua bulan lagi. Padahal tanpa pemuda itu bercerita pada nisanku, aku sudah tahu apa yang terjadi dengannya, semuanya. Berikut pada intonasi suara si pemuda yang semakin mengecil. Aku tahu kalau dia kembali sedih dan aku cuma bisa mengusap kepalanya seperti yang sedang kulakukan sekarang. Tidak peduli pemuda itu akan merasakan kedinginan atau merinding. Aku cuma mau menenangkannya saja dengan sikapku yang impulsif seperti ini.
_______________________________________________________________________
Aku jadi membayangkan kalau aku masih hidup dengan dinyatakan penyakitku berhasil disembuhkan. Aku pasti sedang di kamar untuk melepas lelah setelah seharian di kampus, membalas setiap e-mail dari Shinya yang masuk lewat telepon genggamku. Atau aku sedang sama-sama sibuk karena aku mempunyai banyak anak-anak kecil yang sibuk belajar musik di tempat les seni musik yang aku miliki. Tapi apapun itu, menemani Shinya seharian ini adalah hal yang menyenangkan untukku yang cuma meninggalkan nama saja di dunia. Aku tidak merasa lelah, perasaanku sangat ringan ketika manusia merasa capek setelah melakukan kegiatan sampai malam. Kuperhatikan Shinya di sampingku lagi. Langkah pemuda itu gontai. Keningnya berkerut dan sesekali ia memijatnya. Aku kembali khawatir kalau ada apa-apa di pinggir jalan umum seperti ini. Orang-orang masih banyak yang berlalu lalang, begitu juga kendaraan. Tapi perasaanku tidak enak, aku tahu akan ada hal buruk pada pemuda Kuroki tersebut. Pandanganku was-was, pendengaranku semakin menajam saat kuikuti Shinya yang menyebrang. Dan baru kusadari kalau ada cahaya yang menyilaukan mendekat cepat ke arah Shinya. Sebuah motor berkecepatan tinggi akan menabraknya. âAAAH!â âAWAS!â
(CIIIIIT) DHUAK! Teriakan seorang gadis di seberang jalan membuat refleks tanganku mendorong punggung pemuda itu agar terhindar bahaya. Tapi apa yang kudapatkan? Aku tidak berhasil menjaga Shinya untuk menjauh dari motor itu. Mataku terbelak, teriakanku tertahan di ujung kerongkongan, menatap tidak percaya pada tubuh kekasihku yang terlempar cukup jauh. Sekitar lampu penyeberangan semua orang panik, semuanya berusaha menolong kekasihku. Pengendara motor itu langsung ditahan oleh beberapa orang yang lewat di sana. Salah satu gadis yang berteriak tadi langsung menelepon rumah sakit. Aku cuma bisa menatap sosok Shinya yang tengah kesakitan. Tubuhnya penuh dengan luka, napasnya tersengal-sengal karena sulitnya dia menghirup oksigen. Kuberanikan mendekat padanya, kuusap kepalanya, kuberikan senyuman terbaik kepadanya dan aku menangis tersedu dalam keheninganku sambil memeluk tubuhnya yang sakit. Sekarang aku tahu bagaimana rasa sakitnya melihat orang yang kusayangi menderita seperti ini. Dan aku tahu, Shinya tidak akan selamat dari penderitaannya.
_______________________________________________________________________
Dulu Shinya pernah berjanji pada masa hidupku kalau dia akan mengajakku untuk menikah di saat waktu yang tepat nantinya. Dan hari ini, adalah hari terbahagiaku sepanjang aku telah tiada. Tidak ada yang bisa menebak umur manusia sampai kapan dan ajalnya kapan tibanya. Dan tidak ada yang menyangka juga kalau aku bisa bertemu dengan Shinya lagi. Dia bisa menatapku yang sedang tersenyum malu, dia tahu kehadiranku, dia bisa merasakan genggaman tanganku kembali, dia yang wajahnya kembali ceria seperti sedia kala. Kini aku berdiri kembali di sampingnya, kali ini Shinya adalah calon suamiku. Dengan aku yang sudah mengenakan gaun pengantin yang cantik, tudung transparan yang menutup wajahku yang bersemu merah. Dan seorang pendeta yang tengah membacakan ikrar pengantin kepada kami. "Aku bersedia." jawab Kuroki Shinya. Aku menahan napas mendengarnya, hampir saja membuatku tidak fokus. Buru-buru aku pun membalasnya dengan suara yang penuh yakin setelah pendeta selesai membacakan ikrar kepadaku. "Aku bersedia." Kemudian kami bertukar cincin dan merasakan kembali hangatnya bibir masing-masing yang telah lama tidak kurasakan. Aku tersenyum lebar, wajahku tidak menampakkan sedih lagi ataupun rasa sakit yang pernah kuderita saat aku masih hidup. Kami kembali bersatu seperti dulu. Tuhan memang punya jalan cerita lain untukku dan juga Shinya. Aku sama sekali tidak menyesali kegagalanku menyelamatkan Shinya saat kecelakaan kalau berakhir sebahagia ini yang kita rasakan.
Coming to You
"Shin! Goukon yuk, nanti sore!" "Eh? Ng-nggak, aku nggak ikut, kalian saja." "Hee kenapa? Kamu jaga malam? Kalau karaoke? Yakitori? Nggak mau juga?" "B-benaran, nggak uâ" "Shin ada urusan, Kou. Kita aja yang pergi, lagian kamu juga nggak suka kan, kalau incaranmu yang anak seni itu diambil dia?" Lalu berlalu seperti itu saja, Kazuki menyeret Kojima supaya pergi tanpa banyak tanya. Aku cuma tertawa kecil, lalu berhenti tepat sedetik setelah mereka berdua berbalik punggung dan pergi. Kazuki itu orang yang sudah jadi teman terdekatku sejak masuk kuliah, yang berarti dia sudah mengenal aku dan sejarah jatuh bangunku selama hampir empat tahun. Bukan waktu yang lama, tapi cukup berarti karena di tahun-tahun itu terjadi peristiwa yang berdampak penting karena cukup untuk mengubah hidupku. Aku kembali membereskan kertas-kertas dan buku di meja dengan paksa masuk ke tas, buru-buru meninggalkan ruang kuliah ketika menyadari sekeliling sudah sepi. Tidak ada yang menungguiku lagi. Jelas saja. Dibandingkan mereka, aku nggak cukup asik. Aku nggak pernah minum, nggak merokok, dan kali aku main-main lebih dahulu sebelum pulang dalam dua bulan terakhir bisa dihitung jari, yang berarti aku hampir jarang ikut dalam kegiatan teman-temanku. Apalagi kencan kelompok. Na ah, itu sih nggak pernah. Tepatnya itu memang cuma permainanku saat SMP dan tahun pertama SMA sebelum... Sebelum punya pacar untuk pertama kalinya. Mereka menganggapku belum bisa melupakan Kiyomi sampai sekarang, tapi kenyataannya memang aku saja yang nggak berminat lagi dengan hal-hal semacam itu. Tapi aku memang juga belum melupakan Kiyomi. Yah... Harusnya kalau begitu nggak usah mengelak dari awal. _________________________________ âHei.â Langkahku berhenti tepat di hadapannya, lalu berjongkok hingga sejajar. ââŠs-sudah lama, ya? Maaf.â Angin di senja musim gugur menerpa tengkuk jenjangku, wangi rumput dan bunga, wangi tanah basah setelah disiram, suara orang tua dan anak-anak memanjatkan doaâmengiringiku meletakkan seikat lily putih di depan nisannya. Itu milik Izumi Kiyomi. Kalau masih hidup, dia berusia dua puluh dua tahun, sama sepertiku. Dia gadis mungil yang selama hidupnya kukenal dengan pipi tembamnya yang merah muda pucat dan rambut gelap berponi tebal sepunggungnya, tidak seperti dia ketika kulihat terakhir kali sebelum kuantar dia ke tempat kremasinya. Dia gadis yang sama dengan gadis yang kuincar dan kusukai sejak SMA, cinta pertamaku, dan sempat lima tahun menjadi kekasihku sebelum dia berpulang lebih dulu. Hela napas lebih dulu. ââŠa-aku sibuk sekali sejak terakhir kali ke sini. ..sibuk jaga, sibuk pekerjaan klinik juga. Sibuk skripsi. A-ah ngomong-ngomong, aku baru selesai sidang. Kemarin. Aku bakal lulus dua bulan lagi.â Senyumku lebar, khas seseorang yang antusias bercerita tentang kabar masing-masing kepada seorang teman yang lama tidak berjumpa. âNggak kerasa. Rasanya kayak baru kemarin kamu ngeliatin pengumuman ujianku di Todai karena aku nggak berani lihat sendiri.â Khas seseorang yang lagi nostalgia, bersyukur dia sempat punya kehidupan yang menyenangkan sebelumnya. âTinggal dua tahun lagi, kamu bakal liat aku berjas putih. Masih penasaran, nggak? Dulu aku nggak bisa ngebayangin itu bakal kayak bagaimana, tapi cuma kamu yang bilang kalau aku bakal kelihatan pantas pakai itu.â Aku dari dulu nggak bisa menebak akan seperti apa respon Kiyomi. Kadang gadis itu bakal pura-pura nggak suka sambil mencela halus, atau terang-terangan memuji. Kalau ada satu hal yang pasti, dia nggak pernah sekalipun merendahkan, meragukanku, atau bilang aku nggak akan bisa. ââŠi-iya. Akhirnya.â Aku menghela napas. Ingat saat satu setengah tahun lalu kuliahku sempat nyaris keteteran karena aku kehilangan semangat. Tepatnya kehilangan orang yang biasa memberiku semangat. Tapi aku memaksa bergerak supaya tidak mengecewakan orangtuaku atau dikhawatirkan teman-temanku. Bukan berarti hidup bakal berakhir, kan? Nggak, Shinya, dia cuma bagian dari hidupmu. Kamu melupakannya, menggantikannya, maka selesaiâ âB-betul, kan? Aku bisa. Kehidupanku kembali seperti biasa, aku udah belajar membiasakan diri, jadi sekarang aku kembali jadi kayak waktu kamu masih di sini. N-nggak ada masalah, pikiran, penyesalanââ Tenggorokanku tercekat sendiri. Aku menangkupkan kedua telapak tangan di wajah, malu karena aku nggak benar-benar bisa seperti yang kubilang sebelumnya. _________________________________ Waktu masih tujuh belas tahun, aku nggak menduga Izumi Kiyomi akan mengubah hidupku ke depan jadi seperti ini. Waktu tahu gadis yang kusukai menderita kanker otak stadium dua, aku sendiri yang memutuskan untuk tidak mundur dan menunjukkan bahwa aku bisa melindunginya. Waktu itu, âsukaâ berubah jadi âcintaâ. Makin waktu, keadaan si gadis tetap tidak menentu. Pernah kami nonton bioskop atau makan di kafe seperti kekasih sehat pada umumnya. Kadang kami cuma bisa âkencanâ di sisi tempat tidur ruang opname. Kadang kami bisa jalan-jalan dengan teman-teman yang lain atau saling mengunjungi rumah masing-masing. Pernah aku membawa gadis itu pergi ke luar kota, melihat gunung, sambil mendorong gadis itu duduk di kursi rodanya. âCintaâ itu nggak lagi berubah ke mana-mana. âSukaâ jadi âsayangâ. âSayangâ jadi âsetiaâ. Lalu âsetiaânya tetap, tapi ditambah âingin.â Butuhâ. âTergantungâ. Persis. Ibaratnya tubuh, Kiyomi itu otakku. Aku bisa hidup tanpa dia berfungsi, tapi tanpa berpikir, tanpa akal sehat, tanpa bisa merasakan apa-apa. Dia nggak bisa diganti yang baru. Dia yang mengendalikan aku. Kalau aku nggak kenal dia dan mengenalnya sampai sejauh ini, aku mungkin nggak akan berakhir di sini; jadi dokter karena beranggapan kemampuanku dapat membantu kesembuhan Kiyomi nantinya. Kalau begitu, aku juga nggak perlu merasakan pengalaman ini. Yang awalnya suka cita berakhir remuk redam. Ng-nggak, aku nggak menyesal karena semua itu. Hanya kadang aku berpikirâbagaimana rasanya kalau dia masih ada di sini? _________________________________ Kalau Kiyomi masih ada, mungkin dia sekarang sedang menemaniku ada di tempat ituâtidak jauh dari trotoar tempatku berjalan, di kafe baru pusat kota yang dipadati pasangan-pasangan muda itu. Mungkin dia sedang membantuku mencari pakaian untuk upacara kelulusan sampai lupa mencari gaunnya sendiri. Mungkin dia sudah lulus dari sekolah musiknya sekarang dan sudah punya murid-murid les yang lucu-lucu. Mungkin aku nggak perlu berjalan sendiri sekarang. Sangat larut, hampir tengah malam. Aku baru selesai mendoa selewat petang tadi dan ditambah beberapa urusan di rumah sakit. Lampu jalanan yang biasanya silau terasa buram di mataku sekarang. Aku tidak mengantuk, hanya kepalaku saja yang terasa berat sekali. Tanpa sadar satu tanganku menyangganya sambil berjalan. Aku melewati halte yang biasanya kuhampiri kalau mau pergi ke rumahnya Kiyomi. Jadi ingat aku sudah tidak pernah ke sana lagi; bukannya tidak mau, tapi sengaja menghindar karena tahu orang tuanya akan teringat dengan gadis bungsunya lagi kalau melihat aku. Dan sebaliknya. Sampai kapan mau begini terus? Kalau lima tahun lagi, apa aku sudah tidak ingat lagi? Kalau sepuluh tahun lagi, aku sudah bekerja sebagai dokter dengan spesialisasi ilmu kanker dan punya anak dari istriku yaitu wanita lain, mungkin aku sudah lupa? Haha. Pernah juga kepikiran bahwa berusaha untuk melupakan itu capek. Kalau aku hidup seperti sekarang saja juga bisa. Tapi sama. Capek. C a p e k. Lelah. Dari pada bertanya âsampai kapanâ, lebih baik âkenapaâ. Kenapa mau begini terus? âBagaimanaâ supaya tidak harus begini terus. Lampu penyebrangan baru saja berubah jadi hijau. Aku melangkah cepat-cepat. Suara deru dua, tiga motor terdengar dari kejauhan jalan yang kusebrangi. Suara yang sebuah terasa semakin mendekat sampai derunya seperti sudah di samping telinga. Percepatannya mengerikan. Kalau bukan karena heroin, pemotor itu tengah mabuk. âAAAH!â Bukan aku yang menjerit, tapi seorang gadis SMA yang menyebrang di hadapanku. âAWAS!â (CIIIIIT) DHUAK! _________________________________ Kepalaku seperti mau pecah. Sakit. Sakit sekali. Kecuali napas dinginku yang tinggal sepotong-sepotong, aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Sejak tertabrak keras dan terseret jauh dalam kecepatan tinggi tadi, tangankan tangan dan kaki, melihat ada di mana saja aku tidak bisa. Aku cuma bisa mengetahui hangat rumah sakit. Bunyian alat bantuan hidup. Suara dokter menyebutkan âpendarahan otakâ, âshokâ, dan âgagal fungsi tubuhâ. Aku ingin ini cepat-cepat berakhir, tapi setelah ini berakhirâapa? Untuk pertama kalinya sejak setahun ini, aku bisa merasakan suara kekasihku dekat, dekat sekali di sebelahku. Aku mau meraihnya dengan tanganku, mau bicara, mau menangis, mau melakukan apa saja demi bisa mencapainya. "...K-Kiyomi..." Mungkin sebentar lagi. Mungkin aku tidak perlu lagi melakukan semua itu. _________________________________ Kelopak merah muda sakura bertebaran di sekitar lokasi gereja ini. Aku melirik ke sebelahku. Seorang wanita muda, cantik. Wajahnya berseri di balik tudung gaun putih transparannya. Salah satu tangannya menggenggam tanganku, aku merasakannya dingin, gemetaran, meskipun wajahnya mengulum senyum malu. Aku memasang ekspresi yang sama. Pendeta membacakan ikrar yang kusimak dengan baik. âAku bersedia.â Jawabku mantap. Pendeta mengulang ikrar yang sama namun ditujukan bagi pihak pengantin. âAku bersedia,â Jawab pengantinku. Lalu kami bertukar cincin. Aku merasakan hangat bibir Izumi Kiyomi yang sudah lama tak kukecup. _________________________________ Tepat sebelum napas terakhirku terhembus, aku merasa mungkin untuk mati tidaklah seburuk itu.