maafkan aku, ibu.
tubuhnya penuh dengan bekas gigitan dari anak-anaknya sendiri.
mereka memanggilnya ibu, tapi memperlakukannya seperti meja prasmanan. kau bisa melihatnya terbaring tak berdaya di bentangan khatulistiwa, napasnya tersengal-sengal karena paru-paru hijaunya dibedah dan dicabut secara paksa tanpa obat bius. mereka mengeruk emas dari sumsum tulangnya, menyedot habis minyak dari pembuluh darahnya, lalu meninggalkan lubang-lubang raksasa yang menganga dan bernanah di kulitnya.
dia menjerit dalam bentuk banjir bandang. dia menggigil kesakitan dalam rupa gempa bumi. tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan. mereka sibuk menyeduh kopi, menyalahkan cuaca, padahal mereka sendiri yang baru saja menggadaikan ginjalnya kepada pria-pria berdasi yang bahkan tidak peduli cara mengeja namanya dengan benar.
dia tidak pernah meminta untuk didandani. tapi mereka melukis bibirnya dengan janji-janji kampanye, memaksanya memakai kebaya yang terlalu ketat hanya untuk menyembunyikan lebam-lebam biru di sekujur tubuhnya. setiap bulan agustus, mereka menarik paksa lengannya agar ia berdiri, menyuruhnya tersenyum, dan berpura-pura bahwa ia tidak sedang sekarat.
mereka menancapkan tiang bendera menembus tanahnya yang berdarah, lalu bernyanyi lantang tentang kemerdekaan.
kemerdekaan.
kata itu pasti terdengar seperti pecahan kaca di telinganya. bagaimana kau bisa merdeka jika lintah darat yang mengisapmu sampai kering adalah bayi-bayi yang dulu kau susui dari payudaramu sendiri?
dia diperkosa oleh keserakahan, diinjak-injak oleh sepatu bot oligarki, dan ditikam dari belakang oleh mereka yang bersumpah untuk melindunginya.
tapi tahukah kau apa yang paling menghancurkan hati? di tengah semua itu, saat wajahnya dipenuhi abu batu bara dan tenggorokannya tersumbat sampah plastik, dia masih menyempatkan diri menumbuhkan padi. tangannya yang gemetar dan penuh luka masih menyodorkan sepiring nasi hangat untuk kita. dia dihabisi berkali-kali, tapi dia tidak pernah tahu cara berhenti menjadi seorang ibu.
aku duduk di pangkuannya yang membusuk, memeluk lututku sendiri. aku sangat ingin meminta maaf atas nama kita semua. aku ingin membersihkan sungai-sungai di matanya.
tapi bibirku terbungkam rapat. karena aku tahu, besok pagi, aku juga akan kembali memotong seiris dagingnya hanya agar aku bisa bertahan hidup satu hari lagi.











