Beberapa minggu yang lalu, aku berkesempatan untuk memindahkan dokumen-dokumen lama, sekaligus membersihkan dokumen-dokumen yang sudah tidak begitu penting; dan ternyata ada banyak.
Salah satu dokumen tidak penting itu adalah surat yang kutulis untuk seseorang yang secara ajaib aku memiliki perasaan sekejap terhadapnya. Hmmm, agaknya sekejap terlalu singkat. Baiklah, perasaan yang mampir untuk sementara waktu. Kubilang ajaib karena kawanku pun sampai heran sebab aku bisa jatuh hati pada orang ini, yang mana tidak masuk kriteria lelaki idamanku sama sekali.
Yah, people fall in love in mysterious ways. Termasuk yang satu ini.
Kembali ke surat.
Surat itu adalah surat yang kutulis untuk mengungkapkan perasaanku terhadapnya. Surat yang teramat sangat klise. Seharusnya aku memberikan surat itu secara langsung kepadanya, tapi tidak sempat. Oleh karena itu, aku memindai surat tersebut dan membuat sebuah preambule yang kemudian aku sampaikan melalui body email. Ya, aku mengirimnya melalui email.
Sebenarnya aku agak lupa, dokumen yang kutemukan dan kubaca ulang ini adalah isi suratku atau justru preambule-nya. Namun kupikir, keduanya sama klisenya; dan sangat cringe. Sangat cringe, sampai aku sendiri β yang membacanya empat tahun kemudian βbergidik geli dibuatnya.
Setelahnya aku berharap aku tidak pernah mengirim email itu. Atau setidaknya, orang itu tidak pernah membuka emailnya.
Ah, itu hanya satu artefak yang kutemukan. Sementara itu, aku menulis surat cinta lain beberapa tahun kemudian, yang mana aku tidak memiliki arsipnya. Pastilah surat itu lebih menggelikan lagi.
Dan aku pun menemukan kecocokan gaya menulis versi aku yang sedang kasmaran. Tidak aku di usia kuliah dan pasca-kuliah saja, bahkan aku di usia sekolah pun memiliki gaya penulisan yang mirip ketika sedang jatuh cinta. Gaya menulis yang sangat menggelikan, terutama untuk menggambarkan betapa murninya perasaan itu.
Dan setelahnya aku pun berpikir, aku tidak mau jatuh cinta lagi dan membuat mahakarya menggelikan yang sama berulang kali.