tidak menentang
ibu: “jadi yang bikin sebenarnya capek itu…” saya: “mikirinnya kan Bu?” ibu: “bukan, menentang. ya memang harus dipikirkan. tapi coba nggak ditentang.” saya: “oh iya ya…”
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
taylor price
★

Kiana Khansmith

Product Placement
Jules of Nature

Love Begins
KIROKAZE
I'd rather be in outer space 🛸

❣ Chile in a Photography ❣
🩵 avery cochrane 🩵
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

if i look back, i am lost

Game Changer & Make Some Noise
Sweet Seals For You, Always
almost home

pixel skylines
🪼

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Germany
seen from Belarus

seen from Netherlands

seen from France
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Kazakhstan
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Malaysia
@azkazizah
tidak menentang
ibu: “jadi yang bikin sebenarnya capek itu…” saya: “mikirinnya kan Bu?” ibu: “bukan, menentang. ya memang harus dipikirkan. tapi coba nggak ditentang.” saya: “oh iya ya…”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Seperti Apa Rasanya
Belakangan ini saya parno abis. Saya ngga bisa menikmati kebahagiaan. Kenapa? Karena selalu berpikir bahwa setelah kebahagiaan itu akan ada duka atau kesedihan.
Tiap lihat wajah anak-anak, untuk sesaat saya senang. Lalu, tiba-tiba bayangan gelap muncul. Membuat saya berpikir, anak-anak saya akan berpisah dengan saya. Kematian akan datang memisahkan kami. Entah siapa yang duluan, tapi pasti terjadi, kan?
Saya jadi ngga mau terlalu senang, biar ngga terlalu sedih di kemudian hari.
Ya, saya tahu itu cuma perasaan. Saya juga tahu bahwa menjadi seorang ibu benar-benar membuat saya merasakan banyak hal baru.
Hal yang menyenangkan.
Hal yang melelahkan.
Dan tak jarang, hal yang menakutkan.
Perasaan yang tidak ada sebelumnya, bahkan terhadap pasangan saya sendiri saya ngga sebegitunya.
Hanya ibu yang paham, seperti apa rasanya
Feel this, too
Syukur adalah kunci dari kesehatan mental, perisai dari kesombongan dan penyelamat dari rasa rendah diri
Kutipan buku Enlightening Parenting, yang relate dengan #curhatibun kemarin 😁 *merasa semakin dikuatkan*
Allaahumma a'innaa 'alaa dzikrik wa syukrik husni 'ibaadatik
Ya Allah bantulah kami untuk senantiasa mengingatMu, bersyukur padaMu dan memperbagus ibadah untukMu.
"Rendahkan ekspektasi, tinggikan kepercayaan"
Kemarin ga sengaja baca kalimat tersebut di kolom komentar salah satu postingan mba @ajinurafifah tentang pengalaman TT anaknya.
Lalu aku yang sebulanan ini sedang menghitung hari dengan deg-degan menuju hari pertama makan bagi Ahnaf merasa tercerahkan! Setelah sebelumnya melihat di berbagai grup dan Q&A bu-ibu di medsos, topik MPASI tampaknya sering menggalaukan ibu-ibu muda sekalian alam. Menggaung-gaungkan kalimat "don't expect too much, zka" dalam hati pun kini semakin sering dilakukan, juga mem-brief orang serumah agar punya mindset yang sama agar ku tak tertekan nantinya. Anda well-prepared sekali ya Azka, haha.
Tapi merasa tersentuh begitu lihat kalimat di kolom komentar tersebut; tinggikan kepercayaan. Iya, kadang kita suka melihat bayi sebagai objek atau sebagai makhluk yang belum punya kemampuan. Padahal bayi juga subjek yang terus belajar (bahkan lebih gigih) dan cerdas menangkap. Maka percayakan proses belajar padanya, yakinkan dirimu bahwa dia bisa dengan tetap menjaga ekspektasi.
Semangat nakku, Ahnaf!
Kamulah pembelajar utamanya. Ibun siap jadi cheerleader dan teman makan terbaikmu :D
Adalah list masakan yang aku buat selama dua tahun ini, yang juga berusaha terus di-update selain list 'sweet moments' selama nikah. Jika yang kedua berfungsi sebagai pereda amarah saat dibaca dengan hati yang lagi kesel-keselnya, maka yang pertama sesungguhnya lebih selfish: untuk mengapresiasi diri.
Memang (terlalu amat sangat) jauh dari prestasi orang-orang lain yang membuat takjub ya. Ceritanya hal ini terinspirasi dari seringnya diri membandingkan keadaan dirinya dengan hal-hal keren yang berseliweran di medsos. Hehe iya, masih suka selemah itu aku tuh. Pula memang bersepakat dengan suami untuk sibuk di ranah domestik dulu (yang tentunya jauh dari riuh tepuk tangan) di tahun-tahun awal ini. Hal yang ternyata ga mudah, terutama saat sudah jadi ibu. Hal-hal untuk diri sendiri pun di-nomor-sekian-kan dulu.
Hingga kemudian mulai menyadari bahwa merawat diri lahir batin itu itu perlu. Menjaga mindset itu penting. Itu semua pun untuk terus bisa maksimal jalani peran-peran yang diemban dengan penuh kesyukuran. Maka langkah awal ini coba ku mulai dari self-appreciate!
Adalah fokus melihat perkembangan diri dari waktu ke waktu, daripada membandingkan dengan individu lain yang sudah pasti ga apple-to-apple.
Maka terselip syukur begitu menyadari bahwa Azka yang dulu jarang masak dan ke dapur, sekarang mulai hobi searching di cookpad dengan perasaan optimis (meski hasilnya ga selalu perfect, wk). Azka yang dulu mudah tepar, sekarang bisa kuat tidur dan bangun tengah malam sambil pukpuk gendong. Azka yang dulu mudah baper, sekarang bisa lebih logis lihat sesuatu.
Semoga self-appreciate ini justru ga bikin rasa bangga pada diri yang berlebih, tapi lebih ke bersyukur karena Allah beri kesempatan untuk belajar dan berubah ke arah yang lebih baik meski hanya di rumah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pokoknya makan. Kenyangkan dulu. Lapar tu yang bikin kita emosi. Terus, jangan lupa mandi. Mandi dua kali sehari, jadwalkan.
- Tips dari Ibuk.
Mahfudzot
*Semoga tidak sekedar hafalan didepan kelas dan musnah ditelan zaman,*
1. مَنْ جَدَّ وَجَدَ 2. مَنْ سَارَ عَلَى الدَرْبِ وَصَلَ 3. مَن صَبَرَ ظَفِرَ 4. مَنْ قَلَ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ 5. جَالِسْ أَهْلَ الصِدْقِ وَ الوَفَاءِ 6. مَوَدَّةُ الصَدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِيْقِ 7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَعَبِ 8. الصَبْرُ يُعِيْنُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ 9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا 10. اطْلَبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَحْدِ 11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ 12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَهَبِ 13. العَقْلُ السَلِيْمُ فىِ الجِسْمِ السَلِيْمِ 14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فىِ الزَمَانِ كِتَابٌ 15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ 16. خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى الخَيْرِ 17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَاسُ كَالبَهَائِمِ 18. العِلْمُ فىِ الصِغَرِ كَالنَقْشِ عَلَى الحَجَرِ 19. لَنْ تَرْجِعَ الأَيَّامُ التِى مَضَتْ 20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا 21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ 22. الإِتِّحَادُ أَسَاسُ النَجَاحِ 23. لَا تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْنًا 24. الشَرَفُ بِالأَدَبِ لَابِالنَسَبِ 25. سَلَامَةُ الإِنْسَانِ فِى حِفْظِ اللِّسَانِ 26. آدَبُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ 27. سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِى 28. آفَةُ العِلْمِ النِّسْيَانُ 29. إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ 30. لَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَىءٍ مَزِيَّةٌ 31. اَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ 32. فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ 33. مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ 34. مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا 35. عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ 36. مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ 37. اِجْهَدْ وَلَا تَكْسَلْ وَلَا تَكُ غَافِلًا # فَنَدَامَةُ العُقْبَى لِمَنْ يَتَكَاسَلُ 38. لَا تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلَى الغَدِ مَاتَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ 39. اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ 40. خَيْرُ النَّاسِ اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَاَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ 41. فِى التَّأَنِّى السَّلَامَةُ وَفِى العَجَلَةِ النَّدَامَةُ 42. ثَمْرَةُ التَفْرِيْطِ النَدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَلاَمَةُ 43. الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ 44. فَجَزَاءُ سَيَّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا 45. تَرْكُ الجَوَابِ عَلَى الجَاهِلَ جَوَابٌ 46. مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ 47. إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الْكَاَةمُ 48. مَنْ طَلَبَ اَخًا بِلَا عَيْبٍ بَقِيَ بِلَا اَخٍ 49. قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا 50. خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ 51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا 52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ 53. إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ 54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلْ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلًا 55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِى قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلْ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ 56. لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَاَامٍ جَوَابٌ 57. وَعَامِلِ النَّاسَ كَمَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوْكَ 58. هَلَكَ اِمْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ 59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ 60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ 61. لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الَجمَالَ جَمَالُ العِلْمِ وَالأَدَبِ 62. لَا تَكُنْ رَطْبًا فَتُعْصَرَ وَلَا يَابِسًا فَتُكَسَّرَ 63. مَنْ اَعَانَكَ عَلَى الشَّرِّ ظَلَمَكَ 64. العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلًا 65. أَخِىْ لَنْ تَنَالُ العِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَ طُوْلُ زَمَانٍ 66. مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى 67. اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ 68. النَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ 69. إِذَا كَثُرَ الـمَطْلُوْبُ قَلَّ الـمُسَاعِدُ 70. لَا خَيْرَ فِى لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَمًا 71. تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ 72. رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ 73. دَاوُوا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ 74. الكَاَِمُ يَنْفُذُ مَا لَا تَنْفُذُهُ الإِبَرُ 75. لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَبًا 76. سِيْرَةُ الـمَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ 77. قِيْمَةُ الـمَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ 78. صَدِيْقُكَ مَنْ اَبْكَاكَ لَا مَنْ اَضْحَكَكَ 79. عَثْرَةُ القَدَمِ اَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ 80. خَيْرُ الكَاَُمِ مَا قَلَّ وَدَلَّ 81. كُلُّ شَيْءٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلَّا الاَدَبُ 82. أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ 83. العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ يَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ 84. اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ 85. الحَسُوْدُ لَا يَسُوْدُ 86. الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا
1. Siapa bersungguh-sungguh dia berhasil. 2. Siapa berjalan pada relnya akan sampai. 3. Siapa bersabar berhasil. 4. Siapa sedikit kejujurannya, sedikit temannya. 5. Bergaullah dengan orang jujur dan menepati janji. 6. Kasih sayang teman tampak pada waktu kesempitan. 7. Tak ada kenikmatan kecuali setelah susah payah. 8. Kesabaran membantu atas setiap pekerjaan. 9. Coba dan perhatikan, kau akan jadi tahu. 10. Tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat. 11. Telur hari ini lebih baik dari ayam besok hari. 12. Waktu itu lebih berharga daripada emas. 13. Pikiran yang sehat terdapat pada badan yang sehat. 14. Sebaik-baik teman duduk sepanjang waktu adalah buku. 15. Siapa menanam dia akan memetik. 16. Sebaik-baik kawan adalah yang menunjukkanmu pada kebaikan. 17. Jika tak ada ilmu maka pasti manusia seperti binatang. 18. Pengetahuan pada waktu kecil seperti lukisan di atas batu. 19. Tak akan kembali hari-hari yang telah berlalu. 20. Belajarlah pada waktku kecil dan amalkan dia saat kau besar. 21. Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon tanpa buah. 22. Persatuan adalah dasar keberhasilan. 23. Jangan menghina orang miskin dan jadilah penolong baginya. 24. Kemuliaan itu dengan adab bukan karena keturunan. 25. Keselamatan manusia ada pada menjaga pembicaraannya. 26. Perilaku (baik) seseorang lebih baik dari emasnya. 27. Kejelekan perilaku itu menular. 28. Bencana pengetahuan adalah lupa. 29. Jika benar tekadnya maka akan jelas perjalanannya. 30. Jangan menghina orang yang lebih rendah darimu, karena setiap sesuatu memiliki kelebihan. 31. Perbaiki dirimu, maka akan baik kepadamu semua manusia. 32. Berpikirlah sebelum bertindak. 33. Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan dia akan bersiap-siap. 34. Siapa menggali lobang akan terposok ke dalamnya. 35. Musuh yang cerdas lebih baik dari kawan yang bodoh. 36. Siapa yang banyak kebaikannya maka banyak sahabatnya. 37. Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas dan jangan jadi lalai, karena penyesalan mendalam itu adalah milik mereka yang bermalas-malasan. 38. Jangan tunda pekerjaanmu hingga besok, apa yang dapat kau kerjakan hari ini. 39. Tinggalkannlah kejahatan itu, dia pasti meninggalkanmu. 40. Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi manusia. 41. Dalam kehati-hatian ada keselamatan dan dalam ketergesa-gesaan ada penyesalan. 42. Buah dari penyia-nyiaan adalah penyesalan dan buah dari keteguhan adalah keselamatan. 43. Kasih sayang pada yang lemah termasuk akhlak yang mulia. 44. Balasan dari kejelekan adalah kejelakan yang setimpal. 45. Meninggalkan jawaban untuk orang bodoh adalah jawabannya. 46. Barang siapa yang manis tutur katanya banyak sahabatnya. 47. Jika sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya. 48. Barang siapa yang mencari kawan tanpa aib maka dia tetap tidak memiliki kawan. 49. Katakanlah yang benar meskipun pahit. 50. Sebaik-baik hartamu adalah yang memberikan manfaat bagimu. 51. Sebaik-baik perkara adalah pertengahan. 52. Setiap tempat ada kata-katanya (yg cocok) dan setiap kata-kata ada tempatnya (yg cocok. 53. Jika kamu tidak malu maka berbuatlah sekehendakmu. 54. Bukannya aib bagi mereka yang miskin, tapi aib itu milik mereka yang pelit. 55. Bukannya yatim itu yang telah mati orang tuanya, tapi yatim itu adalah yang tidak memiliki ilmu dan sopan santun. 56. Setiap pekerjaan ada balasannya dan setiap perkataan ada jawabannya. 57. Dan perlakukanlah manusia sebagaimana kamu ingin diperlakukan. 58. Hancurlah seseorang yang tidak mengetahui kemampuannya. 59. Otak dari dosa adalah kebohongan. 60. Siapa yang menzalimi akan terzalimi. 61. Bukannya keindahan itu dengan pakaian yang menghiasi kita tapi keindahan itu adalah keindahan ilmu dan adab. 62. Jangan kamu lemah nanti kamu diperas dan jangan keras nanti kamu dipatahkan. 63. Barang siapa yang membantumu melakukakan kejelekan, dia menzalimimu. 64. Tindakan, membuat yang sulit menjadi mudah. 65. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara, akan ku berikan perincian dengan jelas : Kecerdasan, Harta Benda, Ketamakan, Mempergauli Ustadz Kesungguhan Waktu yang panjang. 66. Barang siapa yang berhati-hati maka dia akan mendapatkan apa yang dia impikan. 67. Tuntutlah ilmu itu walaupun ke negeri Cina. 68. Kebersihan adalah bagian dari iman. 69. Jika perminataan terlalu banyak, sediki yang membantu. 70. Tak ada kebaikan pada kenikmatan yang diiringi penyesalan. 71. Mengatur pekerjaan akan menghemat setengah waktu. 72. Banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu. 73. Obatilah kemarahan itu dengan diam. 74. Perkataan itu menembus apa yang tak ditembus oleh jarum. 75. Tidak setiap yang berkilap itu adalah emas. 76. Tindak tanduk seseorang menunjukkan kepribadiannya. 77. Nilai seseorang sesuai dengan kebaikan yang dilakukannya. 78. Sahabatmu adalah yang membuatmu menangis bukan yang membuatmu tertawa. 79. Terpelesetnya kaki lebih aman dari terpelesetnya lidah. 80. Sebaik-baik kata adalah yang ringkas dan mengena. 81. Segala sesuatu jika kebanyakan akan murah kecuali sopan santun. 82. Awal kemarahan adalah kegilaan dan berakhir dengan penyesalan. 83. Budak itu dipukul dengan tongkat sedangkan orang yang merdeka itu cukup dengan isyarat. 84. Perhatikan apa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan. 85. Pendengki tak akan bahagia. 86. Semua pekerjaan harus dituntaskan Jum'at barokah
Simpen dulu
Menjadi orangtua baru selama 20 harian ini mengubah banyak definisi juga sudut pandang. Salah satunya adalah rasa terhadap orangtuaku sendiri. Iya, aku jadi lebih tahu bagaimana perasaan-perasaan seorang ibu khususnya. Sebenarnya hal ini mulai muncul saat hamil. Saat merasakan sendiri yang disebut dalam Qur'an wahnan 'alaa wahnin. Lemah yang bertambah-tambah.
Kemudian saat memilih nama untuk anak. Sebegitu 'sesuatu'nya perkara nama ini. Dipilah dan dipilih dengan seksama, ditentukan sesuai dengan apa yang jadi harapan besar kedua orangtuanya. Kemudian jadi berkaca dan bertanya sendiri, "apa iya aku dan lakuku sudah sesuai dengan nama dan harap orangtua?"
Lalu setelah Ahnaf lahir, orangtua dan nenek jadi supporting-system yang sangat terbaik. Menjaga Ahnaf demi aku bisa bebersih diri dan makan. Bergantian menggendong agar aku rehat sebentar. Memandikan Ahnaf pagi-pagi. Mengajari hal-hal baru yang belum kutahu dan masih kaku. Ternyata saat sudah jadi orangtua begini pun orangtua punya peran besar tersendiri. Bagi mereka aku tetap seorang anak.
Setiap Mama atau Papa gendong Ahnaf lalu mengajaknya bicara, membacakan beberapa surat dalam al Qur'an, menciumnya, menenangkan tangisnya, atau menidurkannya yang juga terbayang adalah bagaimana dulu mereka pun melakukan hal itu padaku sewaktu kecilku dulu. Sekarang ku jadi paham makna warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo yang terdapat dalam doa untuk orangtua. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.
Sayangilah mereka, ya Rabb.
Selamat datang di dunia baru. Dunia yang sepertinya penuh dengan beragam emosi dan rasa. Dunia yang kalau kita tak usahakan syukur di dalamnya, kelak akan terlarut dalam keluhan tak terhingga. Dunia yang kalau tak dijalani dengan sehatnya jiwa, maka beban dan lelah kian terasa. Dunia yang memang akan sulit dijalani jika tanpa memohon kekuatan dari Allah Pemilik Segala Kuasa.
Inilah dunia yang pernah kamu harap dan pinta, Azka. Luruskan niat, perbanyak doa, beri segala usaha terbaik yang kau punya.
Ladang pahala baru telah tiba. Selamat datang, Ahnaf. Teman hidup baru kami. Bismillaah, mari belajar bersama :)
Dunia yang akan kamu tinggali sebentar lagi ini sangatlah riuh. Jauh dari ketenangan yang kamu nikmati di tempatmu bernaung selama ini. Tapi tenang, disini kita tak selamanya. Ini hanya persinggahan, sebentar saja namun ia penentu akhir kita di keabadian. Maka itu, kita harus saling menguatkan ya :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Refleksi Postpartum
“istri-istri kamu adalah ladang/tempat kamu bercocok tanam” QS Al Baqarah: 223
Pagi ini saya membaca kembali buku Quraish Shihab yang berjudul Pengantin Al-Quran. Mungkin dulu saat pertama kali membuka lembar demi lembarnya, saya belum terkoneksi dengan baik karena seingat saya, saya membacanya di awal usia dua puluh tahun, atau bahkan belasan?
Kini ketika beberapa bagian dibuka kembali, menelusur tiap katanya, jadi ada internalisasi yang cukup terlebih setelah mengalami sepotong demi sepotong kisah berumahtangga.
Adalah kejadian pascamelahirkan yang begitu saya ingat saat Quraish Shihab menuliskan pembahasan ayat yang tersebut di atas.
Beliau memaparkan, “Ayat ini tidak hanya berbicara tentang hubungan seks dan perintah untuk melakukannya, atau sekadar mengisyaratkan bahwa jenis kelamin anak ditentukan oleh sperma bapak, sebagaimana petani menentukan jenis buah dari beih yang ditanamnya, Tetapi yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa bapak harus mampu berfungsi sebagai petani, merawat tanah garapannya (istrinya), bahkan benih yang ditanamnya (anak) sampai benih itu tumbuh, membesar, dan siap untuk dimanfaatkan.”
Lalu ingatan terbang saat detik-detik setelah melahirkan. Saya merasa menjadi seorang yang kuat sekaligus lemah dalam satu tubuh dan jiwa. Saya merasa begitu rapuh sekaligus terpenuhi dalam satu waktu. Dan saya menjadi seperti induk singa sekaligus anak burung yang ditinggal ibunya sebentar di sangkarnya dalam satu kelindan.
Saat itu secara fisik belum pulih total, secara batin senang sekaligus berkecamuk, kadang cemas, takut kehilangan, merasa bersalah, dan resah datang tidak pakai aba-aba. Misalnya ketika menggendong bayi, takut sekali rasanya tulang-tulangnya patah, “betul tidak ya caraku? dia menangis, apakah aku salah menggendongnya? berkali-kali aku mengangkatnya dari lengan terlebih dahulu, apa tidak masalah?” dan pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya jika dikenang, padahal dulunya sangat amat krusial bagiku. Saat itu saya butuh kejelasan, benarkah cara saya? Cukup becuskah saya menjadi ibu? Itu baru urusan menggendong. Belum terkait ASI, jahitan yang tidak kunjung kering, nifas yang berkepanjangan, merasa insecure karena perbedaan pola asuh, stress jam tidur yang berantakan, dan banyak hal lainnya sebagai ibu baru dan perempuan yang bertambah peranannya.
Dan saya begitu tertolong karena salah satu nikmat yang Allah beri yaitu suami, yang saya tahu tidak sempurna dalam perjalanannya, tapi berusaha menunaikan ayat tersebut. Berusaha menjadi sebaik-baiknya petani.
Masih saya ingat sampai sekarang betapa sebalnya saya saat kontraksi datang dan saya buru-buru mengajaknya ke Rumah Sakit karena merasa sudah tidak tahan lagi, beliau masih saja mengurusi soal halaman belakang rumah yang belum jadi. Beliau mengontak tukang untuk menggarapnya agar saat saya pulang dari Rumah Sakit, sudah terpasang kanopi sesuai rencananya. Alih-alih mengelus punggung saya atau mengingatkan saya mengatur nafas, beliau sibuk dengan sesuatu yang harus berjalan dengan matang itu: memasang kanopi untuk anak istri.
Rasanya saat itu jika saya boleh marah-marah kepada suami, bapak dari anak yang akan saya lahirkan ini, saya akan marah semarah-marahnya. Tapi saya tahan. Waktu itu seperti tidak ada daya untuk marah saking sakitnya kontraksi yang datang. Sepulang dari Rumah Sakit, saya mensyukuri ketidak marahan saya pada waktu itu, dan memaafkan diri saya sendiri yang memaki suami habis-habisan dalam hati. Alhamdulillah kanopi belakang sudah jadi, saat hujan datang, kami tetap bisa menjemur baju anak, saat pagi dan matahari sudah naik saya bisa menggendong anak saya untuk berjemur tanpa terlalu kepanasan, saat siang saya bisa memasak tanpa harus terlalu takut angin bisa mematikan kompor seperti sebelum-sebelumnya. Dia berusaha maksimal sebagai petani.
Pun saat kebutuhan kami menjadi dua kali lipat. Aku tahu setiap anak akan ada rezekinya sendiri, tapi juga perlu diikhtiarkan. Dan suamiku begitu gigih berjuang demi popok-popok, kelancaran ASIku, dan benda-benda stimulasi tumbuh kembang anak yang lainnya seperti buku, mainan, kursi, gendongan, dsb. Beliau memutar otak membuka keran-keran rezeki yang lainnya mengingat bertambahnya kebutuhan kami.
Beliau juga menjadi teman terbaik saat aku nyaris terkena baby blues. Meskipun saat itu hanya kata “sabar” yang keluar dari mulutnya, tapi tangannya tiap malam memijat punggungku, kehadirannya utuh membelaku saat mertua, orangtua, keluarga, dan kerabat meremehkanku atau pola asuhku. Dia menjadi benteng yang kokoh sekaligus pintu keluar masuknya unek-unek maupun kata-kataku yang terlontar kurang pantas mungkin saat itu. Kalian tahu, kadang ibu habis melahirkan seberapi-api itu, yang jika tanpa support bagai orang kesetanan.
Saya jadi paham mengapa para praktisi parenting begitu getol mengajak Ayah untuk kembali dan maksimal dalam perannya di keluarga. Mengapa mereka begitu galak dalam bersuara Ayah harus ikut mengasuh. Karena keluarga yang fatherless memang serapuh itu. Begitu dekat dengan kekerasan, kehampaan, kemiskinan, dan menurunnya kualitas kehidupan.
Itulah mengapa ayat ini semestinya menjadi bahan renungan kita bersama, tidak semata soal seks dan betapa suami berhak atas istrinya dimana saja, kapan saja, tapi juga berkewajiban atas istri dan keluarganya dimana saja dan kapan saja.
Para suami, kembalilah pulang, peluk, dukung, dan upayakanlah terus keluargamu…sebagaimana kamu mengupayakan impian dan ambisimu.
Para suami, temanilah istri-istrimu, bercocok tanam dan perhatikan garapanmu meski itu saat hujan, badai, kemarau, maupun pancaroba. Jangan hanya berharap cuaca bersahabat setiap saat.
Para suami, para ayah, para lelaki, saya menuliskannya sebagai perempuan yang merasa bahwa saya tumbuh sampai detik ini, juga atas jasa petani saya bercocok tanam meski kadang dia juga kurang betul dalam menyirami, kadang lupa memberi pupuk, pernah juga kepanasan dan agak layu, tapi tak mengapa, dia tengah berupaya. Tak henti doa saya, supaya petani saya senantiasa ada dan berkarya maksimal di ladang garapannya.
Semangat berjuang petaniku, dan untuk benih-benihnya semoga tumbuh kuat mengakar, juga kian merunduk ketika kian berisi, bagai padi,
Ada orang-orang yang terkadang lebih yakin pada diri kita, melebihi diri kita sendiri. Atas kehadiran mereka, bersyukurlah.
Salah satu hal yang paling diingat dari pengalaman mengajar (yang singkat) di SD Islam tahun lalu yaitu momen saat bagi rapor. Menyampaikan hasil belajar siswa kepada para orangtuanya.
Akan bertemu banyak ayah-ibu yang secara usia lebih senior dan menjelaskan detail tentang capaian secara akademik maupun akhlak anandanya, menjadi sesuatu yang cukup menegangkan. Takut salah bicara dan terlebih sebagai pengajar baru, rasanya telaah dan cara mengajarku pun masih banyak kurangnya, heu. Pula agak takut kalau menghadapi komplain dari orangtua 😅
Hingga tiba saatnya hari pembagian rapor, aku yang deg-degan dari malamnya, berkesah berulang kali pada suami dan minta doanya, akhirnya berangkat ke sekolah pagi itu dengan banyak mengatur napas agar lebih tenang (agak lebay yah).
Hal yang kurasa akan sulit adalah mengkomunikasikan hasil capaian siswa yang agak lemah secara nilai dan fokus di kelas. Bagaimana menyampaikan dengan bahasa yang baik tanpa 'judgement' pada anak tsb, apalagi orangtuanya. Beruntung ada partner bapak wali kelas yang sudah lebih berpengalaman, hari itu malah dapat banyak pembelajaran penting. Setelah aku malu-malu sampaikan penilaian dari bidang yang kupegang di kelas, yang justru kulihat adalah diskusi sehat antara orangtua dan pak wali kelas. Sama-sama mengevaluasi treatment yang sudah dan akan dilakukan, pula sangat menyadari bahwa si anak punya potensi besar dalam hal lain yang meskipun tidak sejalan dg nilai akademik tapi itu bernilai. Dan beberapa orang tua sangat menjunjung tinggi poin yang terakhir itu. Suka banget lihat orangtua yang bisa positif melihat apapun potensi anaknya. Bener-bener apapun, yang meski kadang ganggu akademiknya. Ya gambar komik, ya imajinasi yang out of the box-nya, ya keras kepalanya, ya perfeksionisnya dan banyak lainnya. Bagi mereka itu semua adalah "sesuatu" yang ga bisa diabaikan dari anaknya.
Sisi lain juga, jadi lihat banyak sudut pandang para orangtua. Kegelisahannya, kebesaran hatinya, gaya pengasuhannya, fokus pendidikannya, juga perjuangannya tentu yang bikin nangis dalam hati karna jadi inget orangtua sendiri juga.
Maka di jalan sepulang dari sekolah hari itu, doaku jadi lebih panjang.
Semoga kelak aku dan Kakak bisa jeli menangkap potensi anak kita dan menjadi orangtua yang positif nan supportif melihat apapun potensinya.
Pula semoga kelak bisa jadi pengajar terbaik untuk anak-cucu, karena tugas ini sama sekali tidak digugurkan oleh kehadiran guru di sekolahnya.
Dan tentu, semoga Allah mudahkan, kuatkan, lapangkan hati para orangtua dimanapun berada yang mendidik anak-anaknya dengan ikhlas :")
Allah selalu lebih tahu apa yang kita butuhkan dan itulah yang diberikanNya.
Dan dari hari ke hari ku jadi makin tahu kenapa kamu. Terimakasih untuk yang setahun ini lengkapi diriku.
Dan tentu, terimakasih Allah :)
Ketakutan itu sebenernya karena belum tahu ilmunya. Makanya ayo belajar bareng!
Suwami, pada istrinya yang apa-apa serba dipikirin

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“This place is a dream. Only a sleeper considers it real. Then death comes like dawn, and you wake up laughing at what you thought was your grief.”
— Rumi
Dua
Di sebuah arena lari. Ada dua peserta yang siap membuktikan diri.
Juri bilang, mereka hanya perlu berlari. Yang sampai pada garis finish adalah pemenangnya. Mereka tak perlu saling mengalahkan.
Mereka saling tatap tak lagi mendengarkan seksama perkataan juri, tak pula percaya karena dalam sebuah kompetisi harus ada yang menang. Mereka berjanji akan bermain sehat, menunjukkan segenap kemampuan.
Sekali lagi juri berkata, yang menang adalah yang sampai akhir. Arena ini akan terasa panjang, bilang sedang terasa meletihkan silakan berjalan, tapi jangan berhenti. Di tengah jalan mereka mungkin akan melihat yang indah indah sehingga menarik hati mereka. Pesan juri sekali lagi, jangan-pernah-berhenti.
Mereka mengangguk tanda setuju. Perlombaan di mulai. Mereka berlari sekencangnya saling mengungguli. Berpuluh menit berlalu, mereka kehabisan tenaga untuk meneruskan kompetisi mereka. Satu pelari berhenti dan berkata ‘aku tak sanggup lagi berlari’. Kemudian ia benar benar berhenti, tak ingin lagi berlari. Katanya di sepanjang jalan tadi ia melewatkan banyak hal indah yang ia inginkan demi berlari untuk sesuatu yang tak ia mengerti ada apa di depan. Kemudian ia berbalik berlari kembali ke belakang.
Pelari kedua berjalan perlahan sambil mengatur napas dan mengumpulkan kembali tenaganya yang habis. Berjam jam kemudian, ia sampai pada garis finish. Di sana sudah siap dua hadiah besar sekali. Melihatnya datang sendiri juri berkata, 'Sudah kubilang yang menang adalah yang sampai akhir. Hadiah satu lagi yang harusnya untuk temanmu, kuhadiahkan untukmu pula.“
"Padahal andai kalian tahu, arena tadi bukanlah sebuah arena lomba lari. Melainkan jalan setapak menuju tempat pulang. Untuk pulang, setiap orang tak perlu saling mengalahkan. Mereka hanya perlu saling menggenggam tangan mengingatkan tujuan sejak awal. Karena perasaan untuk saling mengalahkan satu sama lain itu meletihkan. Yang membuatmu lupa, mana arah pulang, mana yang hanya ujian.”
Di ujung jalan pulang dari dua pelari, yang tersisa hanya satu, seorang diri. Ia menyadari, jalan pulang hakikatnya memang senantiasa sepi.
—-
Cerita pendek ini mengandung sebuah pertanyaan untuk siapapun yang membacanya. Kapankah terakhir kali kamu merasa kalah oleh kesuksesan orang lain?
Padahal, hidup kita adalah arena lari tanpa pesaing. Kita tak perlu saling mengalahkan untuk memenangkan. Kita hanya perlu terus bergerak menuju garis yang menjadi tujuan. Bukan berhenti, apalagi mundur kembali.
Pantang seorang pelaut berlabuh kembali ke dermaga. Ia akan terus menerjang badai hingga sampai tujuan, dan di lautan luas para pelaut tak bersaing menjadi siapa yang tercepat. Karena mereka tahu, mereka hanya perlu sampai ke daratan untuk selamat.
Alizeti, Jakarta