Happy 1st Our Anniversary in Your Birthday. It’s really your day, sayang. I do really love you.
Thank you for everything you’ve done and you’ll do in the future for our little family. Have you in my life is a blessing.
Rumah,
September 24, 2018
cherry valley forever
h
will byers stan first human second
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

JBB: An Artblog!
art blog(derogatory)
Xuebing Du
Peter Solarz
d e v o n
Misplaced Lens Cap
KIROKAZE
Lint Roller? I Barely Know Her

if i look back, i am lost
ojovivo
AnasAbdin

Andulka

tannertan36
One Nice Bug Per Day
I'd rather be in outer space 🛸
seen from United States

seen from United States
seen from Kenya
seen from Bahrain

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from Netherlands
@azaleaputri
Happy 1st Our Anniversary in Your Birthday. It’s really your day, sayang. I do really love you.
Thank you for everything you’ve done and you’ll do in the future for our little family. Have you in my life is a blessing.
Rumah,
September 24, 2018

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jangan sampai kebahagiaanmu menjadi pintu ketidakbersyukuran orang lain
Azalea Putri
What I Talk About When I Talk About Running -- a Memoir
I don’t know exactly what kind of writing that I’ll write about this. I don’t know if it can say as a review about the book by Writer Haruki Murakami. I just.. I just want to share about what I think about when I read about What I Talk About When I Talk About Running that I finished reading it about two days ago.
It’s a kind of a memoir.
Murakami is really a genius in writing. He is truly a writer and a runner. I never imagine my self (of course I’m not a writer) wrote something common into something inspiring. He just wrote (can I put “just” in this?) his experience in running for almost half of his life, his experience as a runner (marathon runner).
He said, “Pain is inevitable. Suffering is optional. Say you’re running and you think, ‘Man, this hurts, I can’t take it anymore. The ‘hurt’ part is an unavoidable reality, but whether or not you can stand anymore is up to the runner himself.”
Jleb. We will face some difficulties in life. Of course, because it’s part of art in your life. But feeling suffering is my choice. A choice that makes my life become miserable or become stronger.
He said, “I’m the kind of person who likes to be by himself. To put a finer point on it, I’m the type of person who doesn’t find it painful to be alone. I find spending an hour or two every day running alone, not speaking to anyone, as well as four or five hours alone at my desk, to be neither difficult nor boring. I’ve had this tendency ever since I was young, when, given a choice, I much preferred reading books on my own or concentrating on listening to music over being with someone else. I could always think of things to do by myself.”
It so me. Count me in. I never think that being alone as a punishment. I can stay in my bed room all day and for more exaggerations, I am able to stay away from my phone for one month for sure.
He said, “I'm often asked what I think about as I run. Usually, the people who ask this have never run long distances themselves. I always ponder the question. What exactly do I think about when I'm running? I don't have a clue.”
I think nothing. I think how to achieve my goal that I set up a minute before I run. Mostly, I gave up in the middle of a competition with my own. After I read this book, I tried to convince my self that I can do it. A bit more. I can do it. Thanks, Murakami, finally, I am able to overcome my goal in running. And hope so in my beautiful life.
He said, “You have to wait until tomorrow to find out what tomorrow will bring.”
Yes. That’s true. We never know what can of a surprise tomorrow is. Just wait with full of anticipation for the bad or good. Again, pain is inevitable but suffering is optional. You still can choose to become the happiest person in this life who shares love to the people surrounding you. You know, a smile is contagious, isn’t it? And so with love.
Salemba, 1 Agustus 2017
Putri
Chicago Typewriter
Chicago typewriter is a Korean drama that aired around two months ago. I watched final episode of this drama last night. Actually, it isn’t for the first time I fall in love in Korean Drama. I have plenty of K-Dramas that I like the most. But, it is the first time for me to write my strong impression about this drama.
When you love Korean Drama sometimes you’ll afraid that drama will ruined in the midle or how they end their stories. In some cases, I just watched half of 16 episodes and drop it.
Back to chicago typewriter. At first, I didn’t have any interest with this drama. Probably, I just bored with korean drama. Ya.. sometimes you’ll be sick of it because you consume it too much. So, I downloaded and fast watching by skipping most of the time. Still, I read decent review from the korean drama blog. I kept on download all the episodes to watch it later.
Last night, finally, I reached the final episode of this drama. One word from me, AWESOME. The stories, acting, setting place, and the ost is AWESOME. Especially for Yoo Ah In and Goo Kyung Pyo. Both actors never fail me to like them even more. I love how the story goes and end.
The final episode made me tears like an idiot. It’s so hurtfull but also warm inside. Bitter sweet ending. The PD wrapped the drama in a proper way. I am glad that I am not remove this drama from my watching list. I am pleased that 16 hours that I spent for watching it was well paid.
Here, I am writing this while listening “Writing Our Stories” by SG Wannabe for multiple times. Not only the drama, the “song” also bring strong impression. I fall in love again and again with this song. I think I haven’t move on yet from Chicago Typewriter.
Thank you PD-nim, Writer-nim, for your hardwork. I’ll wait your next project. Keep up your good work. ^^
Home, June 18, 2017
@azaleaputri
Teruntuk Kamu
Teruntuk kamu yang belum begitu mengenalku.
Jangankan kamu. Akupun belum tentu mengenal diriku dengan baik. Aku yang kukenal merupakan percampuran dari phlegmatis dan melankolis. Dulu, semasa kuliah, ke phlegmatisan ku lebih mendominasi. Aku yang tidak terlalu mau mencari masalah, aku yang tidak menyukai hal-hal yang teratur, selalu mencari win-win solution, tenang, serta menjadi pendengar yang baik. Disisi lain ke phlegmatisanku ini membawaku menjadi seseorang yang tidak terlalu ekspresif, antara senang dan sedih, raut mukanya gitu-gitu aja. Tidak cuma dari raut muka, tapi juga intonasi suara yang cenderung datar. Coba saja kamu bayangin kamu lagi ngobrol ataupun ngeluh sama operator, sudah ter-default seperti itu.
Lingkungan mempengaruhi kepribadian. Aku rasa ini benar. Entah kenapa, aku yang sekarang cenderung lebih rapih, terstruktur, mulai mencatat ini dan itu. Aku yang sekarang juga sudah lebih mengerti bagaimana caranya tersenyum.
Eh, jangan disangka aku kurang bahagia ya? Aku anugerah yang telah Allah limpahkan kepadaku sudah lebih dari cukup. I just… hm… don’t know how to express it. Selain ya memang, aku termasuk orang yang mampu berdiri tegak di bawah tekanan, gak gampang stress. Sampai-sampai temanku bilang “Hidup lo enak banget ya?! Kayak gak punya masalah.”
Of course, I have, I do really have. Manusia mana yang tidak punya masalah dalam hidupnya? No one. Yang membedakan hanyalah bagaimana melihat masalah itu dan bagaimana mengatasinya. Dan aku termasuk yang mampu mengelola masalah cukup baik. Selain ya memang, kategori sesuatu untuk menjadi masalahku mungkin terlalu tinggi. Disaat orang lain melihat itu masalah, aku hanya menganggap itu biasa. Aneh ya? Tapi ini sesuatu yang sangat aku syukuri.
Sebagai pendengar yang baik, tentu saja aku bisa menjadi teman diskusi yang baik. Memberikan solusi yang mungkin kamu gak pernah kepikiran, karena solusi yang sebenarnya sangat sederhana itu. Mendengarkan cerita-cerita kamu tanpa menghakimi. Pun aku mampu menghargai keputusan-keputusan yang akan kamu ambil nantinya. Karena aku percaya, bahwa kamu mengerti apa yang namanya tanggung jawab dan juga risiko dari keputusan-keputusan yang kamu ambil.
Akupun seorang yang demokratis. Tidak keras kepala dan hanya melihat apa mauku saja. Semua bisa dibicarakan bukan? Yang penting, kamu kasih tahu saja dan jelaskan dengan baik. Segala sesuatu pasti ada titik temunya.
Marahku itu diam. Jadi, kamu sabar-sabar saja kalau kamu aku diamin untuk beberapa saat. Sederhana saja, aku hanya tak ingin kata-kata yang kasar yang keluar atas bisikan setan dan amarah menjadi sesuatu yang paling kamu ingat tentang aku. Tidak juga ingin menyakiti perasaanmu dengan kata-kata yang nantinya akupun akan menyesalinya.
Aku juga tidak banyak bicara. Bukan tidak bisa bicara. Itu dua hal yang berbeda. Sangat berbeda. Pendiam kalau kata orang.
Aku menyukai buku dan drama korea. Dalam setahun, targetku membaca 50 buah buku dengan berbagai macam genre. Dan yang jadi genre favoritku adalah genre fantasi. Aku berharap bisa menghidupkan dan menularkan kebiasaan membacaku ke kamu dan ke anak-anak kita kelak. Bagaimana menurutmu? Dan tentunya harapan ini bisa berhasil dengan memulainya dari diri kita sendiri. Kapan terakhir kali kamu menghabiskan satu buah buku? Nanti, kalau kita bersama, bisa kan kamu setidaknya membaca satu buah buku dalam satu bulan? Karena anak itu peniru ulung. Kalau ayah dan bundanya sendiri tidak suka baca buku, bagaimana ia bisa?
Soal drama korea… aku bukannya mengikuti tren. Bukan karena korea booming-boomingnya. Atau bukan pula karena pemainnya ganteng-ganteng. Tapi, aku menyukainya sedari aku masih duduk di bangku SMP. Aku sudah mulai menyukainya. Suka jalan ceritanya, hikmah dibaliknya, serta tentunya akting para pemainnya. Aku tahu, gak boleh sering-sering untuk nonton drama. Bukan karena khawatir baper. Tenang saja. Tapi aku tahu apa peranku dan apa yang perlu aku lakukan dalam menyukseskan peran itu.
Tidak ada habisnya kalau aku cerita tentang aku. Kehidupan 26 tahunku yang membentuk kepribadianku saat ini tak mungkin selesai hanya dalam beberapa paragraf. Mengenal dan memperdalam karakter seseorang adalah proses seumur hidup.
Teruntuk kamu yang berani menemui ayahku.
Aku tidak sebaik yang terlihat. Akupun tidak mengerti kenapa kamu ada niatan untuk memilihku. Tentu saja aku khawatir, kalau-kalau suatu hari nanti kamu menyesali segala pilihan dan keberanianmu untuk menemui ayah dan ibuku. Menyesal karena telah meminta diriku untuk menjadi pendamping hidupmu. Karena mungkin saja, bahkan sangat mungkin, bahwa penilaianmu tentang aku selama ini salah, kamu kecewa, bahwa aku ternyata tidak seperti yang kamu harapkan.
Teruntuk kamu yang memilih aku.
Aku bukanlah perempuan yang sempurna yang terbebas dari segala dosa maupun kesalahan. Aku mempunyai masa lalu, kamu pun begitu. Masa lalu yang ingin dilupakan dan bahkan tidak layak tersimpan dalam sebuah memori bernama kenangan. Tapi, baik aku dan kamu memiliki masa kini dan masa depan. Masa yang dapat dimaknai di setiap jengkal kehidupan. Karena aku percaya, bahwa baik aku maupun kamu selalu ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke harinya.
Teruntuk kamu yang bersedia berbagi beban denganku.
Aku menyadari bahwasannya pernikahan tidak akan seindah kehidupan di drama-drama Korea ataupun sepahit sinetron-sinetron Indonesia. Tidak akan mudah, tapi juga tidak akan terlalu sulit. Senyuman, tawa, canda, maupun tangisan air mata tidak dapat dipungkiri akan membersamai kehidupan kedepannya. Tapi aku percaya, aku dan kamu dapat melewati ini bersama. Kamu dan aku akan menjadi kita, bersama menanggung dan berbagi beban kehidupan. Kita akan mengikuti peribahasa ringan sama dijinjing berat sama dipikul bukan? Karena kita tidak lagi sendirian. Ada pundak yang selalu siap menjadi sandaran.
Teruntuk kamu yang akan menjadikan ayah ibuku sebagai ayah ibumu.
Aku termasuk anak yang beruntung. Terlahir dalam sebuah keluarga yang serba dicukupkan baik dari segi kasih sayang maupun rezeki. Ayah dan ibuku, nanti akan menjadi ayah dan ibumu juga kan? Meski mereka tak melahirkanmu, tapi mereka akan menerimamu sebagai anak mereka. Aku yakin kamu akan mendapatkan kasih sayang yang sama, seperti yang aku dapatkan sebagai anaknya.
Mereka adalah orang tua terbaik. Disaat sebagian temanku kecewa dengan pernikahan orang tua mereka, aku tidak. Aku bangga sekali. Di usia senja, mereka saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain. Saling merawat jika salah satu diantara mereka sakit. Mereka adalah contoh nyata sebuah mahlligai rumah tangga. Rumah tangga yang sakinah, ma waddah, wa rahmah.
Mereka adalah orang tua terbaik. Disaat sebagian temanku kecewa dengan ayah dan ibu mereka, aku tidak. Aku bersyukur dan terus menerus berterima kasih karena Allah telah memilihkan mereka untukku.
Mereka adalah orang tua terbaik. Disaat sebagian temanku mengeluh pola asuh orang tua mereka ketika mereka masih kecil dulu, aku tidak. Mereka memang tidak sempurna, tentu pola asuh mereka saat aku masih kecil ada yang tidak kusukai. Tapi, itu tidak membuatku menjadi membeci mereka, yang ada malah membuatku semakin menyayangi mereka. Mereka dan doa-doa merekalah yang bisa menjadikan aku menjadi seperti aku yang sekarang. Berpendidikan dan berakhlak. Dengan terbatasnya pengetahuan mereka saat itu, mereka mendidikku sepenuh hati. Harapan mereka sederhana, “Anakku harus lebih baik dari kami, Anakku harus mampu mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya.” hingga akhirnya kedua anaknya, mampu mendapatkan gelar sarjana dari perguruan tinggi negeri di Indonesia.
Mereka adalah orang tua terbaik. Dan aku yakin mereka pun akan menjadi mertua terbaik untukmu.
Teruntuk kamu calon imam hidupku.
Iya kamu!
Jadi kapan kamu mau menunjukkan jati dirimu?
Sampai kapan kamu membuatku terus menerka-nerka, “Siapa kamu?”
@azaleaputri
Jakarta, 11 Februari 2017

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menjadi Pribadi yang Total
Setiap orang berharap untuk menjadi orang yang lebih baik kedepannya. Belajar dari masa lalu dan kemudian berdamai dengannya. Untuk menjadi pribadi yang tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama, pribadi yang senantiasa belajar sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menghadapi asam-garam kehidupan.
Bagiku, kehidupan adalah perjalanan panjang tentang sebuah proses pembelajaran yang membentang antara langit dan bumi sejauh tubuh masih diberikan kesempatan untuk bernafas. Gurunya bisa siapapun. Materinya juga bisa apapun.
Kali ini, aku ingin sekali mendalami salah satu ilmu kehidupan, yaitu menjadi pribadi yang total.
Menjadi pribadi yang total, entah apapun peran yang dilakoni itu benar-benar sulit. Dimana peran yang aku lakoni tak hanya satu, yaitu sebagai hamba, yang kemudian juga berperan sebagai anak, sebagai pegawai, sebagai teman, dan juga sebagai calon istri dan ibu.
Sebagai hamba, dengan menjadi hamba yang totalitas, maka semua yang aku lakukan di dunia ini tujuan dan niatnya harus dikembalikan lagi, yaitu hanya kepadaNya. Sesuai dengan alasan kenapa aku terlahir di dunia ini, yaitu hanya untuk beribadah kepadaNya.
Belum lagi peranku sebagai anak, anak shalihah, anak yang menjadi kebanggaan orang tua, anak yang bisa membantu meringankan hisab kedua orang tua, anak yang mampu membantu meringankan beban hidup mereka, serta anak yang bisa terus menerus menorehkan senyuman di wajah renta mereka.
Ya, apapun perannya. Aku rasa aku harus totalitas dalam memainkannya. Menjadi pribadi yang total tentu bukan suatu hal yang mudah tetapi bukan sesuatu hal yang juga tidak mungkin untuk dipelajari.
Soft skill ini butuh komitmen. Sebuah perjanjian kuat dengan diri sendiri.
Soft skill ini butuh niat. Meluruskan niat, bahwa semua ini sebagai jalan untuk semakin dekat denganNya.
Soft skill ini butuh ilmu. Ingin menjadi hamba yang total maka perlu banyak belajar ilmu agama. Ingin menjadi anak yang total maka perlu banyak berbakti kepada orang tua. Ingin menjadi istri dan ibu yang total maka perlu banyak membaca ilmu pernikahan dan juga ilmu parenting. Semuanya perlu di pelajari karena semua ada ilmunya. Belajar dengan sebenar-benarnya belajar. Tidak setengah-setengah sehingga hasilnya pun tidak akan setengah-setengah. Sudah seyogyanya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Soft skill ini butuh keyakinan. Bahwa diri ini mampu. Bahwa diri ini memang mampu. Dan bahwa diri ini memang benar-benar mampu. Mampu menjadi pribadi yang total.
Soft skill ini butuh kesabaran. Berubah itu tidak semudah membalikan telapak tangan ataupun semudah menghapus tulisan di layar dengan menekan tombol delete. Semua butuh proses. Proses butuh waktu. Dan waktu butuh kesabaran. Karena perjalanan ini perjalanan panjang, maka sepanjang itu pula kesabaran itu diperlukan.
Soft skill ini butuh action. Jangan hanya jadi wacana. Rencana tanpa aksi. Rencana itu perlu untuk direalisasikan agar tidak hanya sekedar menjadi wacana.
Diri ini masih harus banyak bebenah. Termasuk membenahi setiap niat atas apa-apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan.
Salemba,
27 Januari 2017
@azaleaputri
La La Land - If Only I Compromise
Dengan segala kebaperan yang ada setelah menonton drama musical ini, bukan karena pernah mengalami, bukan. Tapi emang ceritanya aja yang bikin baper. hahaha...
Ceritanya kemarin diajakin nonton sama Pak Bos. Nonton film yang lagi kekinian banget, yaitu La La Land. Yang diduga booming karena berhasil menyabet 7 piala golden globes, memecah rekor peraih piala tersebut sepanjang masa. Hingga akhirnya film 2016 itu mulai dilirik dan ditayangkan di bioskop-bioskop di Indonesia setahun kemudian, 2017.
Sebenarnya, hikmah paling utama dan mulia dalam film ini adalah how to fight your dream ‘till the end. You’ll get it at the end if you never tired to try. Bahwa mimpi itu tidak ada yang konyol, asalkan kita mau berjuang, terus menerus berjuang meski gagal disepanjang perjalanan. Asal tidak berhenti melangkah, hasil yang indah akan menanti di depan. Hanya saja, kita tidak pernah tahu, kapan tepatnya kita akan berhasil. Tugas kita hanya terus mencoba mencari jalan lain menuju mimpi, sehingga kita sampai kesana.
Diakhir-akhir cerita.. Mungkin sekitar 15-20 menit dimana drama kehidupan ini akan berakhir..
“Itu siapa?” ucapku yang kaget ketika tiba-tiba saja ada aktor lain yang bersama si aktris muncul.
“Harusnya gak begitu, tapi begini!” seru temanku dengan segala kehebohannya.
Twist yang menyebalkan memang. Diakhir film, tiba-tiba saja. Bikin baper.
“Ini tuh harusnya judulnya bukan La La Land! Tapi If only I compromise! Coba aja kalau mereka mau saling mengalah, gak bakal tuh kejadian!” Salah seorang teman lagi dengan menggebu-gebu.
Ketika kita semua bangun dari kursi bioskop, dengan segala kekesalan di akhir cerita yang kenapa harus begitu mestinya begini itu, kita kemudian sadar bahwa salah seorang teman yang baru saja diputusin sama sang pujaan hati, menangis menonton film ini.
“Udah gak usah nangis, gw pernah kok kayak gini, mirip banget sama gw.” kata Pak Bos dengan santainya.
Meskipun berujung dia yang sesungguhnya paling baper diantara kita ini. Usia emang gak pernah bohong. Pak bos lebih kaya akan pengalaman dan pahitnya kehidupan ditinggalkan sang pujaan hati, bahkan beberapa hari sebelum hari pernikahannya.
Aku sepakat dengan temanku, bahwa judul yang paling pas adalah “If Only I Compromise”, jika kedua insan ini, sepasang kekasih ini, dapat saling mengalah, saling memahami, saling mengerti, saling mencoba untuk memperjuangkan dan mendukung. Di ending, mereka tetap bisa hidup bersama, sebagai pasangan suami-istri yang bahagia, dengan segala kesuksesan karir dan pencapaian mimpi-mimpi mereka.
Oh iya, semoga hikmahnya jangan diambil terbalik ya, bahwa mimpi dan jodoh itu gak bisa seiring sejalan. Apalagi pilihan, mau mimpi apa jodoh. Bisa kok dua-duanya dapat. Asal ya dikomunikasikan..
Salemba, 20 Januari 2017
@azaleaputri
#post-an pertama di tahun 2017
Akhir Tahun 2016
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa, ternyata sudah akan sampai dipenghujung tahun 2016 dan mengawali tahun 2017 dalam hitungan hari.
Padahal, ada banyak resolusi yang masih belum tercapai. Entah karena kebiasaan yang hobi menunda, melakukan hanya disaat mood, tidak terlalu bersungguh-sungguh, usaha yang tidak seberapa, atau ya memang karena Allah menakdirkan lain.
Dimulai dari resolusi ingin sekolah yang berujung pada ditolak oleh tiga beasiswa dan gagal jadi mahasiswa korea, lalu target baca 50 buku yang hanya hingga detik ini cuma baca 6 buku (Hei! lo kemana aja??? Cuma bisa baca 1 buku dalam waktu 60 hari a.k.a 2 bulan! Padahal tahun lalu bisa baca sampai dengan 26 buku), kemudian kemampuan bahasa korea yang baru bisa TOPIK level 2 padahal targetnya level 3, daaaaan masih banyak lagi jikalau mau dilist resolusi-resolusi yang tak kunjung kesampaian, termasuk nikah. Hahahaha.
Padahal juga punya resolusi mau sering-sering nulis di blog, berbagi apa aja yang bisa dibagi, tapi ujungnya, tulisannya masih hanya dalam hitungan jari saja. Padahal waktu ada, internet juga melimpah, tapi malah unproduktif. Hadeeeeeh.
Maafkan hamba-Mu ini ya Allah.
Khilaf.
Khilaf yang berulang sih sebenarnya.
Padahal tahu mana yang benar, mana yang harus dilakukan, tapi ya ujungnya begitu lagi. Cuma bisa bilang “ckckckckck”.
Diakhir, tidak ada salahnya untuk berharap. Berharap semoga saya, Putri Dwi Silvana, menjadi orang yang jauh lebih baik, lebih bijak, lebih pintar, lebih ramah, lebih produktif, dan lebih bermanfaat lagi untuk hidupnya dan hidup orang-orang disekitarnya. Aamiin.
My Wish: #1 Finding Mr. Right
Seperti biasa, terjadi perdebatan sengit di dalam pikiran, kira-kira jenis harapan apa yang akan aku tuliskan pertama kalinya di dalam blog ini. Akhirnya, pemenangnya adalah finding mr. Right.
Sudah seperti rahasia umum, mencari mr. right itu tidaklah mudah. Jauh lebih abstrak dari pada sekolah S2 dengan beasiswa. Kalau mau sekolah, tahap-tahapnya jelas, mau sekolah dimana, jurusannya apa, lalu persyaratan beasiswanya apa saja. Tinggal penuhi lalu bersaing dengan applicant yang lainnya. Kalau rezeki, insya allah bisa lanjut sekolah dengan beasiswa. Kalau masih gagal, itu artinya silahkan mencoba lagi, perbaiki aplikasi dan banyak berdoa. Jelas deh pokoknya step-stepnya.
Menemukan mr. Right itu tidak semudah kita mau, mencari, lalu sekonyong-konyong dia langsung ada, datang ke rumah, melamar, kemudia menikah. Tidak semudah itu saudara-saudara. Akan ada begitu banyak faktor yang tentu saja itu juga abstrak. Hahahaha. Jadi bersyukurlah, bagi kamu-kamu yang sudah memukan. Dan bantulah doa untuk temanmu ini yang masih sedang dalam proses menemukan.
Alasannya sederhana sih kenapa berharap ini, karena ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersama-sama. Termasuk bersama-sama untuk saling mengajak dan mengingatkan untuk kembali ke jalan Taqwa. Bersama-sama membangun jalan menuju surga. Dan kenapa ini yang dijadikan wish pertama, karena sepertinya wish-wish berikutnya akan lebih sempurna jika ada yang membersamai. Tidak hanya dilakukan sendirian.
Terakhir. Apa-apa yang terjadi saat ini padaku, adalah keputusan terbaikNya. Bersyukur atas apa yang ada dan bersabar atas apa yang belum terjadi. Akan ada jalannya, akan ada waktunya. Persiapkan saja prosesnya. Proses menemukan. Menemukan Mr. Right.
Salemba,
15 Juli 2016
Kenangan Masa Lalu
Ada masa lalu yang tak ingin aku ceritakan. Ada kenangan yang tak ingin aku bagi. Meski itu dengan mu. Bukan karena aku tak percaya padamu. Bukan pula karena aku takut kamu akan pergi meninggalkanku. Aku percaya. Sangat percaya. Bahwa kamu akan menerimaku apadanya, sepaket dengan kenangan masa laluku. Tapi, biarlah, cukup aku dan Tuhanku saja yang tahu. Kamu tak perlu tahu. Karena kita hidup menuju masa depan bukan?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tidak semua kesempatan harus diambil. Seperti halnya tidak semua rasa harus diungkapkan.
Azalea Putri
Fitur Baru Hastag Baru
Beberapa hari yang lalu, sempat terlintas untuk menambahkan sebuah fitur atau segmen baru dalam tumblr ini.
Biasanya, aku hanya menuliskan cerita saja, secara abstrak. Tergantung mood, kondisi, atau inspirasi yang tiba-tiba datang, sehingga akhirnya menuliskan hal tersebut. Dan tentunya tetap mengikuti aturan sebelumnya, yaitu menulis paling tidak satu tulisan sehari.
Adapun, selain menulis sesuatu, aku juga ingin menuliskan review atau kesan terhadap apa yang aku tonton maupun aku baca. Tentu tidak semua buku dan film atau drama yang kulihat akan aku tuliskan, hanya buku atau drama yang memberikan deep impact buatku. Nah, supaya memudahkan, aku mau buat hastag untuk fitur tersebut, yaitu #whatiread dan #whatiwatched.
Selain itu, aku juga akan membuat hastag, #mywish dan #mywishlist. Untuk my wish sendiri, nantinya akan aku tuliskan satu minggu sekali. Jadi, aku akan memikirkan matang-matang apa yang benar-benar aku inginkan dalam waktu seminggu itu, beserta alasan dan usaha yang akan aku lakukan untuk mendapatkan itu semua. Sedangkan my wish list adalah kumpulan-kumpulan harapan yang telah kutuliskan sebelumnya di my wish. Jadi, nanti akan terlihat, seberapa banyak aku bisa mencapai harapan-harapan aku.
Sepertinya, untuk saat ini, itu saja tambahan fitur untuk tumblr ku.
Rumah, 10 Juli 2016
©azaleaputri
Foto bersama Keluarga Besar TS08 di pernikahan Eke dan Imin, 9 Juli 2016. Sebenarnya masih belum full team. Masih banyak yang berhalangan hadir karena satu dan lain hal. (Semoga Allah memudahkan segala urusan kita dan semoga Allah meringankan langkah kaki kita untuk bersilaturahmi) Ahad, 17 Juli 2016, salah satu anggota keluarga TS08, Khaula Karima, akan menggenapkan separuh agamanya. Yuk kita kumpul lagi. :D Rasanya bahagia jika bertemu kalian meski hanya sebentar di dunia nyata. Padahal di dunia maya, kita tak pernah sepi untuk membicarakan hal-hal random dan absurd sekalipun. ©azaleaputri
Pernikahan: Kamu Tidak Salah Pilih
Dalam waktu beberapa jam kedepan, status mu akan berubah, dari yang tadinya single a.k.a jomblo menjadi istri. Insya Allah.
Bagaimana rasanya?
Sesuatu yang kamu pertanyakan dan khawatirkan kini terjawab hanya dalam kurun waktu kurang dari satu hari.
Bagaimana rasanya?
Apakah dalam detik-detik menuju diucapkannya akad, dihalalkannya sebuah hubungan, kamu masih bertanya-tanya?
“Apakah aku telah mengambil keputusan yang tepat? Apakah laki-laki itu benar-benar pasangan hidupku? Jodohku? Imamku? Apakah aku siap menghabiskan lebih dari separuh hidupku bersamanya? Apakah dengannya aku bisa menjadi lebih baik?”
Dan mungkin masih banyak rentetan pertanyaan ‘apakah’ di kepalamu. Yang kalau terus menerus dipikirkan dan dipertanyakan mungkin bisa membuatmu ragu dan tentu saja bisa juga membuatmu semakin yakin, bahwa ialah orang yang memang selama ini kamu tunggu dan kamu cari. Satu-satunya orang yang paling pas memegang jabatan sebagai suamimu.
Tentu saja ia bukan lelaki yang sempurna. Dan jangan pernah berharap begitu, kamu bisa kecewa. Kamu pun begitu, terlahir sebagai perempuan yang juga punya kekurangan. Tak ada yang sempurna, baik kamu maupun ia. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah bukan?
“Janganlah menikah hanya karena kamu jatuh cinta. Menikahlah karena kamu percaya surga Allah lebih dekat jika kamu bersamanya.” -Asma Nadia-
Dia memang bukan laki-laki yang sempurna. Tapi dia laki-laki yang baik. Aku yakin itu. Mengenalnya selama 4 tahun dalam satu wadah di kampus, lalu berlanjut dalam satu grup whatsapp hampir 4 tahun, tidak membuat anggapanku berubah. Bahwa calon suamimu adalah laki-laki yang baik. Baik akhlaknya maupun agamanya. Kamu tidak salah pilih. Insya Allah.
Kamu memang bukan perempuan sempurna. Tapi kamu perempuan yang baik. Aku yakin itu. Sebagai seseorang yang mengenalmu sedari awal kuliah hingga kini, hampir 8 tahun, dan aku menjadi sahabatmu. Begitu banyak yang kita lalui bersama bukan? Tapi tidak sedikitpun membuat anggapanku berubah. Bahwa kamu adalah calon istri yang baik. Baik akhlaknya maupun agamanya. Ia tidak salah pilih. Insya Allah.
Melalui pernikahanmu, aku menyaksikan salah satu ayat Allah, bahwasannya laki-laki yang baik akan diperuntukkan kepada wanita yang baik pula.
— — Teruntuk kamu yang akan menggenapkan separuh agamamu. Teruntuk teman, sahabat, saudariku Zakiyah (Eke) dan (yang juga) temanku Ahmad Muhaimin (Imin)
“Barakallahulaka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair”
“May Allah bless you and bless your counterpart, may Allah tie your union with virtue.”
Rumah, 8 Juli 2016
©azaleaputri
Surga Yang Tak Dirindukan
Masih dalam suasana Idul Fitri 1437H, beberapa stasiun tv, di malam hari biasanya akan berlomba-lomba menampilkan beberapa film box office indonesia. Film yang masih termasuk kategori islami. Dan biasanya, aku nggak pernah tertarik untuk mantengin tv, dan gak pernah tahu film-film apa yang akan ditayangkan. Padahal, sebenarnya bisa jadi ajang yang pas, buat aku nonton film Indonesia, soalnya jarang banget aku nonton di bioskop. Bukan karena filmnya kurang kece dan aku gak suka nonton. Tapi lebih ke arah gak punya teman buat diajak nonton. #eaaa Tidak biasanya, semalam, selagi menunggu pesanan mie ayam datang dan selagi bungkus kadonya bude, aku mantengin salah satu stasiun tv swasta. Menampilkan sebuah film, yang bahkan judulnya aja aku gak tau apa. Yang kemudian baru ku ketahui, film itu berjudul "Surga yang Tak Dirindukan". Adegan awal yang kulihat adalah ketika Fedi Nuril melihat Laudya Cinthia Bella yang sedang mendongeng. Ada ketertarikan diantara keduanya, dan kemudian menikah. Awalnya, film itu aku kira sudah mau selesai. Soalnya pemeran utamanya sudah menikah dan kupikir akan happily ever after. Dongeng pun selesai. Ternyata, cerita tidak berakhir disitu. Konflik yang diangkat di dalam film ini, ternyata berbeda dan cenderung berani. Mengangkat sebuah topik yang masih banyak ditentang (tidak disukai) oleh sebagian besar umat Islam itu sendiri (terutama perempuan), yaitu Poligami. Cara mengangkat tema poligami itu begitu apik di dalam film ini. Bagaimana poligami itu tidak melulu masalah cinta ataupun hasrat seorang laki-laki. Bukan masalah ketidakpuasan seorang suami atas satu orang istri. Tapi, lebih ke arah untuk menolong seseorang, menyelamatkan nyawa seseorang. Tentu, untuk mencapai tahap seperti itu, butuh tingkat keimanan yang lebih dari lelaki kebanyakan. Kemudian, klimaks memuncak, ketika bella, sebagai istri, menyadari suami yang begitu ia cintai, banggakan, dan telah membangun sebuah dongeng kehidupan yang begitu indah, menghancurkannya hingga berkeping-keping. Penolakan. Itulah reaksi bella pertama kali begitu mengetahui suaminya telah menikahi wanita lain tanpa sepengetahuannya. Bagiku, reaksi seperti itu adalah reaksi yang sangat wajar. Betapa hancur hati seorang istri, ketika imam hidupnya, lelaki panutannya, memiliki orang lain di hatinya, yang juga berstatus sebagai seorang istri. Istri mana yang rela berbagi suami? Penolakan demi penolakan. Hingga akhirnya Bella belajar untuk mengerti. Hingga akhirnya ia menerima. Bagaimana ia akhirnya berada pada puncak tertinggi kesabarannya, dan berusaha untuk ikhlas. Bahwa hidup adalah pilihan. Dan ia memilih untuk ikhlas. Tentu, untuk mencapai tahap seperti itu, butuh tingkat keimanan yang lebih dari wanita kebanyakan. Namun, ada hal yang sangat disayangkan di dalam film ini. Ending ceritanya kurang pas. Cerita berakhir dengan Raline (Istri Muda Fedi) yang mencoba pergi diam-diam. Agar dongeng kehidupan Bella kembali berakhir bahagia. Bella dan Fedi, mencoba mengejar hingga stasiun. Sangat disayangkan ketika Fedi merelakan Raline pergi biar bagaimanapun Raline adalah istrinya yang sah. Bagaimana bisa pergi begitu saja? Bella pun begitu, yang awalnya ingin mecegah kepergian Ralline, juga melepaskannya begitu saja. Padahal, jika ending film ini, Bella dan Raline di sandingkan bersama. Membangun keluarga bersama. Film ini bisa menjadi salah satu gambaran keluarga poligami yang cukup harmonis. Toh, Bella sudah rela berbagi. Toh, Bella sudah mengerti apa itu ikhlas. Iya kan? Rumah, 7 Juli 2016

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Taqaballahu Minna Wa Minkum, Shiyamana wa Syimakum. Mohon maaf atas segala khilaf dan kealfaan diri ini. Status masih manusia soalnya. Selamat Idul Fitri, Yuk main ke rumah. Putri
Selagi Masih Single
Kita tidak pernah tahu, kapan jodoh akan datang menghampiri kita. Mengucap ijab, mengguncang langit, menyempurnakan separuh agama, dan menghalalkan cinta. Kita tidak pernah tahu. Karena itu perkara ghaib. Hanya Allah lah yang mengetahuinya. Yang jelas dan pasti, yang belum bertemu jodoh, ya statusnya jomblo. Single bahasa elegannya.
Selagi masih single, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Salah satu hal yang paling utama, dan mungkin akan sulit dilakukan ketika sudah double, triple, dan seterusnya adalah berbakti kepada orang tua.
Selagi masih single dan tentu saja selagi kamu masih punya kesempatan untuk berbakti kepada mereka.
Ada banyak orang, yang sudah tidak memiliki kesempatan ini. Atau bahkan kondisi yang tidak memungkinkan karena jauhnya jarak. Dimana pertemuan saja mungkin hanya bisa dilakukan satu atau dua kali setahun.
Aku masih termasuk orang yang beruntung bukan? Aku bertemu mereka setiap hari. Merasakan kehangatan cinta Ayah dan Ibu. Kini sudah tiba saatnya untuk aku membalas segala kebaikan mereka. Selagi aku masih single. Selagi diriku hanya milikku sendiri.
Semoga aku, termasuk anak yang berbakti kepada mereka. Aamiin.
Rumah, 5 Juli 2016