Judul: Tragedi Pedang Keadilan
Penulis: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2024
Jumlah halaman: 464 hlm.
#resensimei #paradebukumei #bukubertemakeluarga
Seorang gadis belia ditemukan tewas mengapung di sungai setelah beberapa hari menghilang.
Ayah gadis tersebut merasa depresi karena anak semata wayangnya meninggal dengan cara yang tidak wajar. Padahal, putrinya merupakan penyemangat hidupnya setelah sang istri lebih dulu berpulang.
Suatu hari sepulang kerja, ia menerima pesan suara misterius yang memberitahukan nama dua pelaku pembunuhan putrinya. Pesan itu juga menyebutkan tempat tinggal salah satu pelaku, padahal kepolisian sendiri belum mengetahui siapa tersangkanya. Rupanya, putrinya menjadi korban perlakuan keji dan amoral dua remaja yang kemudian berusaha menyembunyikan kejahatan mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Awalnya, ia ingin menyampaikan informasi tersebut kepada polisi. Namun, ketika mengingat para pelaku masih di bawah umur, ia sadar mereka mungkin hanya akan menerima hukuman ringan dan berakhir di rehabilitasi remaja. Hal inilah yang membuatnya merasa sistem hukum tidak benar-benar berpihak kepada korban dan memutuskan mencari tahu sendiri kebenarannya.
Ayah korban pun mengunjungi lokasi yang dimaksud secara diam-diam. Di sana, ia menemukan rekaman saat putrinya diperlakukan dengan sangat keji sebelum meninggal. Dalam keadaan emosional dan dipenuhi amarah, ia secara impulsif membunuh pelaku pertama.
Karena telah membunuh pelaku pertama, sang ayah kemudian menjadi buronan. Dukungan masyarakat pun terbagi. Ada yang mendukung tindakannya karena merasa hukum terlalu lemah terhadap pelaku kejahatan keji, tetapi ada juga yang menganggap pembalasan dendam tetap tidak bisa dibenarkan.
Setelah itu, ia mulai mengincar pelaku kedua yang bersembunyi di luar kota. Dalam perjalanannya, ia beberapa kali merasa ragu, bersalah, bahkan ingin berhenti dan menyerahkan diri. Namun, setiap kali mulai goyah, informan anonim itu kembali memberikan informasi baru yang menguatkan tekadnya untuk membalas dendam.
Bagian menjelang akhir cerita membuat perasaan saya campur aduk. Ketika merasa ada tokoh yang memahami perasaan korban dan kelemahan sistem hukum, tragedi lain justru terjadi karenanya. Sepertinya novel ini memang merupakan bentuk kritik terhadap sistem hukum yang berlaku. Setelah selesai membacanya, saya merasa hampa seolah baru saja menyaksikan sendiri tragedi ini.













