Anak yang Memendam Amarah
Penulis: Lee Kkoch-Nim
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 192 halaman
Tahun terbit: 2023
Peresensi: Ayu Pertiwi
Di novel Anak yang Memendam Amarah, ada dua anak yang sama-sama memiliki luka. Ada Ju Yeon yang dijadikan alat kebanggaan oleh orang tuanya. Dia mendapatkan banyak kemewahan, tetapi hatinya kesepian. Ada pula Seo Eun, yang mengalami keterbatasan ekonomi dan sering dirisak oleh teman-teman sekolahnya.
Latar belakang tersebut menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam pergaulan. Ju Yeon menjadi keras dan posesif karena hanya Seo Eun yang setia padanya. Sedangkan Seo Eun menjadi diam dan menurut karena Ju Yeon sering memberikan apa yang tidak bisa ia dapatkan.
Hubungan yang tidak sehat ini akhirnya membawa mereka ke dalam pertengkaran sehingga salah seorang tewas. Ju Yeon dituduh sebagai tersangka.
Pertanyaan terbesar dalam cerita ini adalah: benarkah Ju Yeon yang membunuh Seo Eun? Ju Yeon sebenarnya yakin bahwa ia tidak membunuhnya. Namun, pada akhirnya ia mulai berpikir, mungkin saja memang dialah pelakunya. Ia tidak begitu mengingat kejadian saat itu. Yang ia tahu, semua orang berkata demikian.
Bahkan dalam keadaan tersudut seperti ini pun, orang tua Ju Yeon tetap memikirkan diri mereka sendiri. Tidak ada seorang pun yang memercayai ucapan Ju Yeon, termasuk orsng tuanya, sehingga ia pun mulai meragukan dirinya sendiri. Kebenaran menjadi kabur. Ia tidak lagi yakin pada dirinya sendiri. Yang hadir justru keraguan, tuduhan, dan keyakinan orang-orang. Kebenaran yang sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu.
Gagasan penulis dalam membuat karya ini adalah untuk membahas hubungan antara kebenaran dan kepercayaan.
Apakah sesuatu itu benar karena memang terjadi?
Ataukah ia menjadi benar karena banyak orang mempercayainya?
Lalu, kalau suatu hari anak kita tidak dipercaya, apakah kita akan tetap berdiri di sisinya?
Membaca buku ini dengan "kacamata" orangtua, saya jadi merenung. Kadang kala, saya lebih cepat bereaksi saat anak berbuat salah. Kalau anak marah, ribut, atau membuat masalah, rasanya harus segera diperbaiki. Saya jadi lebih banyak menasihati daripada mendengarkan. Lebih ingin anak cepat benar, daripada benar-benar memahami apa yang mereka rasakan. Padahal, mungkin mereka hanya butuh didengar, dipeluk, ditemani, dipenuhi tangki cintanya.
Anak yang tidak didengar, lama-lama bisa memendam semuanya sendiri. Dan itu yang saya khawatirkan. Saya takut mereka merasa sendirian, padahal saya ada di dekatnya.
Saya jadi menyadari kalau saya harus belajar lagi untuk jadi ibu yang lebih dekat dan akrab, mau mendengarkan, dan lebih memahami anak-anak lagi.














