Apakah kau percaya bahwa waktu dapat dicuri? Durasi detik, menit, dan jam dipangkas lalu potongannya dimasukkan ke dalam sebuah kantong sihir yang disegel mantera-mantera. Itulah mengapa jangka yang kaulalui terasa makin cepat. Beberapa jam lalu kau masih menikmati mentari pagi dan tak lama kemudian malam telah bertandang.
Namun, andaikan pun kau tak percaya bahwa hal seperti itu ada, tak mengapa. Karena pencurian waktu benar-benar terjadi setidaknya di sana; dunia sihir. Izinkan aku berkisah sejenak, dan dengarkanlah dengan sepenuh jiwa.
Hikayat pencurian waktu bagiku identik dengannya, seorang dewi yang ditugasi menjaga perputaran waktu di semesta. Jam pasir raksasa berdiri megah di kayangan. Lalu saat rasa jenuh suatu hari menyambangi, larangan penghulu dewa untuk tak berjalan-jalan di dunia manusia dia langgar. Dan terjadilah hal paling aneh; detak di rongga kiri dadanya begitu tak beraturan seperti debur ombak yang terus memecah karang. Seolah rombongan kupu-kupu mulai menari lincah di perut. Pemicu keabnormalan itu adalah seorang lelaki yang tertangkap indera pandangnya. Lelaki itu tak terlalu tampan, tetapi budi pekertinya begitu menawan. Belakangan sang dewi tahu nama perasaan yang makin tak mampu ditahan itu. Manusia menyebutnya cinta.
Ia mulai sering menguntit lelaki dari kalangan manusia itu ke mana-mana secara sembunyi, hingga penghulu dewa tahu perihal rasa yang berkecambah di taman sukma. Penghulu dewa murka dan melontarkan kutukan pada orang yang dicintai dewi penjaga waktu; mata lelaki itu tak akan lagi membuka. Selamanya.
Sang dewi menangis dan bersimpuh agar hukuman hanya diberikan pada dirinya saja, tetapi tiada belas kasih dari penghulu dewa. Vonis mengerikan telah dijatuhkan pada dirinya; kaki dan tangan kiri diikatkan pada jam raksasa agar tugasnya menjaga waktu tak terbengkalai sedikitpun. Akan tetapi, juwita hati sang dewi tetap tak mendapatkan kembali kehidupannya.
Dengan segenap sisa sihir yang dimiliki, saat penghulu dewa sedang lena, dia mencuri detik, menit, dan jam dari setiap perputaran waktu. Agar suatu saat yang entah kapan, kala hari pembebasannya tiba, timbunan waktu yang dia sembunyikan dapat diberikan pada lelaki yang tak membuka mata, lelaki yang menempati rongga dadanya sepenuhnya. Agar mempunyai tambahan waktu di dunia, meski tanpa sang dewi membersamai. Karena, itu cara yang dipilihnya dalam hal mencintai.
Kau tahu, aku pun ingin melakoni hal yang sama, mencuri sedikit waktu untuk hal-hal yang belum kurampungkan, perasaan misalnya. Namun hal itu sungguh mustahil. Tiada rapal mantera ataupun sihir di sepasang tangan. Hingga tenggat yang kumiliki telah habis bersama orang tercintaku. Tak ada tambahan detik, menit, ataupun jam. Ketika perpisahan telah menampakkan diri, seluruh yang tergenggam di kedua tangan terenggut dengan kejam.
Pict source: culturenlifestyle page
@ruangkolaborasi @rintikkecil