doa yang dipungut dari pecahan harapan.
Aku doakan, semoga langkahmu selalu menemukan jalan pulang menuju mimpi-mimpimu, meski arahnya terasa seperti labirin panjang yang menguji sabar dan percaya.
Kita punya doa itu. Doa-doa yang tidak selalu lantang, namun setia berangkat ke langit lewat hati yang jujur. Doa-doa yang lahir dari lelah, dari dada yang sesak, dari malam panjang saat dunia terasa asing. Doa yang dipungut satu persatu dari pecahan harapan, lalu dirapikan kembali dengan keyakinan Allah tidak pernah salah menulis takdir.
Maka jika hari ini air matamu jatuh karena merasa tujuan itu terlalu jauh untuk dijangkau, biarkan ia jatuh. Sebab bahkan langit pun memilih hujan untuk menenangkan bumi yang terlalu lama menahan gemuruh. Dan ingatlah, Allah Maha melihat, Allah Maha mengetahui; bahkan pada resah yang tak sempat kau jelaskan pada siapa pun. Tidak ada langkah yang terlalu kecil di hadapan-Nya, tidak ada air mata yang jatuh tanpa sampai pada pengetahuan-Nya.
Kamu boleh berhenti sejenak. Menepikan riuh. Duduk sebentar di bawah rindangnya sabar. Lalu melihat betapa sepatu kotormu adalah bukti bahwa kamu tidak diam. Lumpur yang menempel itu bukan kegagalan, ia adalah saksi bahwa kamu pernah melewati jalan-jalan sulit yang tidak semua orang sanggup lalui.
Jangan sibuk pada mereka yang terlihat lebih cepat sampai. Bintang tidak bersinar bersamaan; masing-masing memiliki waktunya sendiri untuk menyalakan langit. Ada yang dipertemukan dengan tujuannya lewat jalan yang tersesat, harus berputar, perlu patah lebih dulu, agar saat sampai, ia tahu caranya bersyukur dengan sebenar-benarnya.
Maka jika hari ini terasa seperti hari yang berat, jangan buru-buru merasa kecil. Barangkali itu cara Allah menguatkan bahumu sebelum menitipkan hal besar yang selama ini kamu minta.
Tetaplah berjalan, meski pelan. Tetaplah percaya, meski gelap belum selesai. Sebab fajar tidak pernah gagal datang setelah malam yang paling panjang. Begitu pula kamu—akan ada saatnya segala doa itu pulang sebagai jawaban yang terasa seperti rumah🪽