Kita ngga pernah tahu Allah ngasih jalan buat kita masuk ke surga dari "pintu" apa.
Entah kenapa kalimat tersebut tiba-tiba terbesit di otak ketika aku merasa lelah dan mengeluh karena menjadi sandwich gen, meskipun tidak terlampau parah. Saat ini, aku memang hanya memikirkan ibuku yang tidak memiliki suami dan tidak punya penghasilan tetap.
Terkadang, jika sedang lelah dan khilaf, aku berpikir, "Kenapa ya ada orang yang ngga perlu repot-repot bekerja keras buat hidup, udah bisa dapet enak? Punya modal dari ortu atau keluarganya buat kuliah ke luar negeri, buat bikin usaha..
Sedangkan aku? Ingin resign dan belajar lagi ke luar kota saja perlu memikirkan banyak hal seperti, 'Ini nanti kalau penghasilanku per bulannya ngga segini, ibuku di rumah gimana? Cukup apa engga tabunganku?'"
Aku sempat protes dalam hati, "Kenapa aku ngga dilahirin di keluarga yang "normal" aja sih? Yang punya bapak dan bisa jadi penopang keluarga, yang ortunya utuh, jadi aku bisa lebih bebas buat memilih jalan hidup, ngga perlu mikirin dapur keluarga, cukup mikirin diriku sendiri aja, jadi aku bisa sukses lebih cepat."
...dan tiba-tiba kalimat ini muncul di kepalaku.
"Kita ngga pernah tahu Allah ngasih jalan kita masuk surga dari pintu mana. Bagi kita yang ibadahnya masih banyak kurangnya ini, mungkin Allah memberikan kesempatan untuk kita memasuki pintu surga yang dikhususkan bagi orang yang bertaubat, bertawakal, bersabar, atau ridha terhadap ketetapan-Nya.."
Mungkin, jalan yang kita lalui ini, meskipun terasa lebih lambat dari orang lain, bisa menjadi jalan kita menuju surga-Nya nanti.
Mungkin kita ngga terlihat sekeren orang lain, secerdas orang lain, sesukses orang lain, tapi kalau kita menghadap ke Allah nanti, Allah ngga akan bandingin kita sama orang lain kan? -ditulis Mei 2025, disempurnakan Mei 2026-















