Zhang Yixingâs letter about his grandparents, translated by Soompi and his instagram post.
Image source: Pathcode of EXODUS
styofa doing anything
Alisa U Zemlji Chuda

â
i don't do bad sauce passes
Claire Keane
DEAR READER
NASA

titsay
Show & Tell
Today's Document
todays bird
Jules of Nature
One Nice Bug Per Day
$LAYYYTER
Cosimo Galluzzi
cherry valley forever
Sweet Seals For You, Always
KIROKAZE
occasionally subtle
Three Goblin Art

seen from United Kingdom

seen from TĂźrkiye
seen from United States

seen from TĂźrkiye

seen from Ireland

seen from Austria

seen from South Africa
seen from TĂźrkiye
seen from Barbados
seen from Singapore

seen from Canada
seen from Malaysia

seen from Barbados
seen from Japan

seen from TĂźrkiye

seen from United States

seen from United States

seen from TĂźrkiye

seen from China

seen from TĂźrkiye
@arningrum
Zhang Yixingâs letter about his grandparents, translated by Soompi and his instagram post.
Image source: Pathcode of EXODUS

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Menuju pembebasan Alexandria, potongan percakapan Elyas dan pendekar padang pasir bernama Muhammad.
E : "Apa yang engkau pahami ketika aku berusaha menolongmu dalam hujan batu itu? Allah menunda pengabulan doamu (re: syahid dalam berjihad)?" M : "Allah tidak menunda apapun. Dia merencanakan hal lain pada sisa hidupku. Bukankah aku pernah mengatakan padamu, Elyas? Agar engkau sesekali tidak bertanya mengapa, tetapi untuk apa segala sesuatu terjadi pada hidupmu? E : "Untuk apa engkau selamat, sedangkan para pemanah yang lain gugur di bawah dinding itu. Begitu maksudmu? M : "Ya. Itu meringankan pikiranmu dan mengusir prasangka buruk kepada Allah. Sebab, Dia Mahatahu segala sesuatu, sedangkan kita tidak begitu."
âTasaro GK dalam Muhammad: Sang Pewaris Hujan
Pertanyaan mengapa tidak akan ada ujungnya, mengapa begini? mengapa begitu? mengapa bukan dia? mengapa harus aku? Pada akhirnya, Allah selalu punya alasan yang jauh lebih baik untuk kita melakukan penerimaan. Mungkin Allah sedang menegur, menguji, Allah inginkan kita lebih dekat, sangat dekat denganNya. Kita hanya tidak sadar saat itu juga, beberapa waktu kemudian baru terasa: Allah memang Mahabaik dengan segala rencanaNya.
Sing luwih tenang.
Sen Allah'a gĂźven. Hiç beklemediÄin anda çiçek açar umutlar.
Hz. Mevlana (Rumi)
Terjemahan bebasnya: Percayalah kepada Allah. Di sesuatu yang tidak kau harapkan pun dapat menumbuhkan harapan-harapan.
Agak susah untuk menerjemahkan langsung karena perlu dipahami dulu maksud kalimat ini apa. Bagi yang bisa bahasa Turki, pasti paham sekali bahwa kalimat ini sangat dalam dan puitis. Intinya kalau kita percaya kepada Allah (Sen Allahâa gĂźven), harapan-harapan akan tumbuh (çiçek açar umutlar) meskipun di momen yang tidak kita harapkan sama sekali (hiç beklemediÄin anda). Sederhananya: kalau kita percaya sama Allah; ada aja jalan, ada aja rezeki, ada aja pertolongan.
(via herricahyadi)
Cinta dan Kesabaran Dzun Nurain
Beliau memiliki garis keturunan yang bertemu dengan Rasulullah SAW di kakek keempat, Abdu Manaf, sebagaimana ia bertemu dengan garis keturunan dari pihak ibu Rasulullah di kakek keempat ini. Ibunya adalah Arwi binti Kuraiz. Adapun ibu Arwi adalah Al â Baidha binti Abdul Muthalib, Bibi dari Rasulullah SAW.
Diriwayatkan oelh Ibnu Asakir bahwa wajahnya tampan dan putih kemerahan, postur tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek, jenggotnya tebal, tulang sendinya besar, pundaknya lebar, gempal betisnya, tangannya panjang dan penuh bulu. Rambutnya ikal, gigi depannya indah, rambut kepala menutupi telinga. Abdul Rahman ibn Hazm pun berkata âSaya tidak pernah melihat seorang manusia yg memiliki keindahan wajah seelok Utsmanâ.
Dari latar belakang keluarga, ia adalah orang yang terpandang dan bangsawan kaumnya. Hartanya melimpah karena kecakapannya dalam berbisnis. Ketampanannya memikat para gadis â gadis. Sifat pemalu, kedermawanan dan akhlaknya semakin membuat Utsman âdisayangâ oleh kaumnya bahkan ibu-ibu Quraisy berdoa untuk anak â anak mereka âsemoga Dzat Yang Maha Pengasih menyayangimu seperti cintanya kaum Quraisy terhadap Utsman.â
Dengan segala kesempurnaan dan kebahagiaan hidupnya yang bisa kita bayangkan, apakah Utsman hidupnya hanya penuh dengan nikmat dan tidak pernah diuji? Bahkan sampai akhir hayatnya pun kita temui Utsman lebih banyak diuji karena Allah sangat cinta terhadap Utsman. Dengan perasaan yang sangat lembut, rasa malu yang tinggi, hati yang jernih apakah Utsman menjadi insan yang berputus asa dan cengeng ketika bentuk cinta dari Allah berupa ujian datang bahkan sampai akhir hayatnya?
1. Patah Hati
Pada masa Jahiliyah, Utsman pernah patah hati. Ia mendengar kabar bahwa Muhammad bin Abdullah (saat itu beliau belum diangkat menjadi Rasulullah) menikahkan putrinya, Ruqayyah dengan anak paman Muhammad bin Abdullah, Utbah bin Abi Lahab. Penyesalan juga datang karena dia didahului orang lain dalam meminang Ruqayyah dan merasa tidak beruntung  karena tidak bisa memperoleh akhlak Ruqayyah yang luhur dan garis keturunannya yang mulia.
Lemas mendengar kabar tersebut, Utsman menemui keluarganya dengan lara dan duka. Hatta, setelah beberapa waktu, Â Saâid binti Kuraiz (bibi Utsman), seorang wanita yang teguh dan cerdik menyampaikan kabar gembira lain padanya. Dan kabar tersebut mengenai kedatangan seorang Rasul yang melarang penyembahan berhala dan menyeru untuk menyembah Dzat Yang Maha Esa (Tauhid). Bibinya menyarankan agar ia memeluk agama ini dan sambil menghibur dirinya bahwa ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya dalam diri Rasul tersebut. Kabar ini menggembirakan sekaligus menjadi beban pikiran Utsman. Sehingga setelah itu ia keluar dari rumah sambil memikirkan perkataan bibinya tersebut bertemulah ia dengan Abu Bakar RA, ia ceritakan apa yang terjadi dan apa yang bibinya sampaikan.
Lantas Abu Bakar berkata  âDemi Allah, bibimu benar atas apa yang disampaikan kepadamu, dan ia telah menyampaikan kabar gembira dengan kebaikan kepadamu, wahai Utsman. Sesungguhnya engkau lelaki cerdik dan bijak, kebenaran tidak tersembunyi darimu dan kebatilan tidak menjadi samar dihadapanmu.â
Kemudian, Abu Bakar RA mengajak Utsman menemui Rasulullah dan saat itu juga Utsman bin Affan memeluk agama Islam.
Sekali, dalam kehilangan cintanya terganti dengan ia menemukan cinta yang sejati.
2. Redupnya Cahaya dan Perginya Sang Buah Hati
Beberapa waktu berselang setelah Utsman masuk Islam, Utsman mendengar kabar bahwa Utbah bin Abi Lahab telah menceraikan Ruqayyah binti Rasulullah SAW karena tidak suka terhadap Rasulullah SAW dan Islam. Pucuk dicinta ulam tiba, Utsman merasa gembira dan segera menuju Rasulullah untuk meminang Ruqayyah. Kemudian Rasulullah menikahkan Ruqayyah dengan Utsman bin Affan. Perpaduan cinta suci tersebut semakin lengkap kala Allah SWT menganugrahkan mereka seorang anak laki â laki bernama Abdullah bin Utsman. Keluarga mereka sakinnah mawaddah dan warrahmah. Sampai ditengah kebahagiaan tersebut, datanglah seruan untuk berjihad di perang Badar. Apa yang terjadi kemudian adalah Ruqayyah jatuh sakit sehari sebelum terjadinya perang Badar, ia terserang demam. Keimanan Utsman yang begitu tinggi membuat ia tetap bertekad berangkat ke medan perang, namun Rasulullah meminta Utsman untuk tetap di Madinah merawat Ruqayyah dan tidak ikut berperang dan pada akhirnya Utsman menurut.
Keesokan harinya Zaid bin Harisah membawa kabar kemenangan kaum muslimin pada pertempuran Badar. Seluruh kaum muslimin larut dalam kebahagiaan pada hari tersebut kecuali Utsman. Ruqayyah kembali pada Rabb-nya pada hari itu . Bisa kita bayangkan? Ketika semua orang berbahagia pada hari itu dan sebagai seorang muslim maka Utsman ikut berbahagia namun didalam hatinya teriris menangis karena labuhan cintanya telah pergi menghadap Rabb-nya, meninggalkan ia dan anak semata wayangnya (Abdullah bin Utsman) tepat dihari kemenangan itu. The day of great joy and the day of great sadness bagi Utsman.
Kemurnian cintanya kepada sang Khalik tak lama diuji kembali setelah meninggalnya Ruqayyah. Suatu hari Abdullah bin Utsman sedang berjalan dan seekor burung mematuknya tepat dibagian wajah. Luka yang disebabkan patukan burung tersebut kemudian semakin parah dan terjadi infeksi, tak lama berselang, Abdullah bin Utsman pun kembali pada Rabb-nya.
Kedua kalinya, dia kehilangan cintanya dan tetap dalam kesabaran pada cinta sejatinya.Â
3. Cahaya kedua
Bagaimanapun dengan ujian berat yang menimpa Utsman, sebagai seorang manusia terlebih dengan perasaanya yang sangat halus maka ia merasa sangat sedih dan kehilangan. Dia kehilangan istri tercintanya dan anak satu â satunya, begitu saja. Pahit, bagaimana Utsman harus tetap keluar bertemu dengan orang banyak, tegar dalam segala bentuk kehilangan ini. Bagaimanapun tidak ada sedikitpun ibadah Utsman yang menurun setelah Allah SWT mengujinya. Ia tetap keluar dari rumah untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid Nabi, tidak pernah sekalipun Utsman meninggalkan sholat berjamaah di masjid Nabi setelah kepergian istri dan anak semata wayangnya.Â
Namun satu hal yang berubah dari Utsman adalah dia menghindar untuk berkomunikasi dan bercakap â cakap dengan orang lain dan para sahabatnya. Keadaan ini terus berlanjut sehingga Rasulullah pun ikut merasa sedih dengan hal ini. Rasulullah ingin menunjukkan kepada Utsman, betapa beliau mencintai Utsman. Sehingga Rasulullah pergi menemui Utsman dan bertanya padanya perihal yang membuat Utsman begitu sedih dan tertekan. Jawaban Utsman jelas, pertama adalah tentang kematian Ruqayyah namun ada lagi hal lain yang membuatnya sangat sedih.
âHubungan saya dengan Engkau, kekeluargaan saya dengan Engkau terputus dengan kematiannya (Ruqayyah)â jawab Utsman dengan penuh kebenaran dan rasa cinta yang semurni - murninya.
Mungkin ada sebagian yang berpikir jawaban Utsman adalah basa basi belaka, namun kesungguhan perkataan dan cinta Utsman jelas terlihat dan dibenarkan dengan datangnya malaikat Jibril yang datang kepada Rasulullah dengan perintah dari Allah SWT untuk menikahkan Ummu Kultsum binti Rasulullah dengan Utsman. Subhanallah, dan disinilah Utsman mendapat julukan Dzun Nurain (pemilik dua cahaya).
6 tahun kemudian, Ummu Kultsum kembali kepada Rabb-nya.
Ketiga kalinya, dia kehilangan cintanya yang lain. Dan terus berjuang meraih cinta yang hakiki.
4. Kembalinya Rasulullah SAW
Perginya Ummu Kultsum lagi â lagi membuat Utsman sedih, namun Rasulullah begitu mencintai Utsman dan beliau tidak ingin Utsman terus dalam kesedihan. Bahkan begitu besar cinta Rasulullah terhadap Utsman maka Rasulullah berkata kepadanya
âDemi Allah! Jika aku memiliki 40 anak perempuan, maka aku akan nikahkan mereka satu demi satu denganmu sampai satu per satu dari mereka meninggal dan aku tidak memiliki anak perempuan lagiâ.
Begitu besar cinta Rasulullah untuk Utsman dan begitupula sebaliknya, sampai pada hari ketika Rasulullah meninggalkan dunia yang fana ini, ketika Ummat Islam menangis dan gempar, Ummar mengacungkan pedang sambil berteriak akan memotong kaki dan tangan orang yang berkata bahwa Rasulullah meninggal, Utsman membisu. Ia sangat terpukul sampai orang â orang menyangka ia menjadi bisu dan tidak bisa lagi berbicara karena pada saat itu Utsman benar benar tidak berbicara sepatah katapun.
Dan kesekian kalinya, Utsman âdimurnikanâ dan âdiujiâ cintanya. Menguatkan dan menyadarkan dirinya bahwa cinta utama hanya kepada Rabb pemilik semesta alam. Adapun cinta - cinta lain merupakan âkesenanganâ jalan perjuangan hidup yang harus dilewati dan dijadikan supporting system untuk menggapai cinta dan keridohan sang Khalik.Â
NB : Menjadi renungan untuk kita dan saya pribadi, dengan segala ujian hidup ini. Apakah kita akan seperti Utsman yang kehilangan cahaya dunianya namun tetap mempertahankan cinta sejatinya kepada Rabb-nya. Tetap dalam kesabaran dan keimanannya. Atau kita malah berbalik menyalahkan takdir yang dituliskan? Membenci hidup ini dan menghancurkan iman sendiri dengan pikiran bahwa setelah apa yang kita lakukan ternyata Allah SWT malah semakin memberi ujian bukan kebahagiaan? May Allah guide us to the straight path, Amin.
Kita hanya belum menemukan cara yang tepat, mari berjuang sedikit lebih keras dan lebih lama. Semoga ada hal yang melegakan di ujung perjuangan kita.
Hasil rerembug malam minggu sebelum Au hijrah ka Bandung

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
7-10 Agustus, dua tahun lalu.
Wajah-wajah polos yang belum ngerti-ngerti banget lagu dangdut. Nampak bahagia, meski tidak mandi, hanya modal minyak wangi.
So sad. Astagfirullah. Yet we have the mouth and heart to complain why our prayers are not being answered? _____ Today I was restudying the life of âUtbah Ibn Ghazwan Radiyallahu Anhu, and if you would remember my article about him where I mentioned him founding the city of Basra in Iraq. So, I wanted to share today a very strong reminder of a learned man, the story didnât mention his name but we ask Allah to reward him and bless him Amin. (Indeed there are people who are not mentioned here but are well known in the Hereafter.) If you are a person who has been asking Allah for something for so long yet you are somehow thinking you are not getting an answer yet, then the first thing you should do would be think of your deeds and how you are doing with your worship, or maybe this story would help you get your priorities straight and right as well. _____ This learned scholar came to Basra in Iraq, people gathered around him and asked why their prayers were not being answered, especially when Allah says in the Qurâan: âCall upon me, I will respond to you.â[40:60] So this learned man answered them by saying; âO people of Basra! Your hearts have become dead.â So, the people asked how this had come about. The learned man outlined several reasons for this: âYou recognise Allah but you donât give Him His due. You recite the Qurâan but you donât act upon it. You claim to love Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam but you donât act upon his sunnah. You claim to be the enemy of Satan but you obey him. You claim to have earned entry into Paradise but you donât make any effort it. You claim to have achieved deliverance from the Hellfire but your misdeeds should see you sent to Hell. You say that death is inevitable but you donât make preparations for it. You find fault with other people, but you donât see your own fault. you bury your dead but you donât learn lessons from it. You avail of the blessings of Allah but you donât thank Him.â ______ Sometimes, we just really need to sit down and relax and think for a moment how we are doing with our deeds. Maybe, it is actually us that puts a barrier from what we are asking for. As much as you make duâa for something you want, make as much istighfar as well. in sha Allah. May this strong reminder be enough for us to recheck our deeds and our worship. Amin Zohayma Â
â mark twain
yd (i)
H : Adalah hakmu untuk menceritakan ini pada siapapun, termasuk padanya.
M : Mengambil alih keharusanmu untuk mengutarakan sebenar dirimu pada orang yang kau pilih? Jangan bercanda, Tuan.
Kamu tahu bagian romantis dari hubungan hamba dengan Rabbnya? Ialah saat hamba berdoa, berikhtiar, lalu berserah diri sepenuhnya kepada Allah, menerima apapun yang menjadi takdir baginya, karena si hamba tahu, bahwa Allah lebih tahu tentang dirinya, sifatnya, karakternya, kebutuhannya, kesukaannya, ketidaksukaannya, kekuatannya, kelemahannya, masa lalunya, masa depannya, urusan-urusannya, isi kepalanya, dan isi hatinya, daripada dirinya sendiri.
Inilah sebenar-benar #RelationshipGoal (via urfa-qurrota-ainy)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Rahasia Keajaiban â Serial Cinta, Anis Matta
Sekian lama punya pdf nya, baru Juni kemarin dikasih audionya. Telat banget sih. Bagian ini favorit sekali. Romantisme perjuangan Syeikh Ahmad Yassin.Â
kita yang menari berlagu misteri yang tersingkap tanpa tersadari bersamamu langit amat indah karenamu langit amat indah âDee
Kau Tahu Apa Itu âManisâ?
Kau tahu, ada yang lebih cantik dari sekadar cantik. âManisâ. Kau tahu apa itu âmanisâ dari diri seorang perempuan?
Seorang perempuan manis itu, ketika ia punya rasa percaya diri. Ketika ia tetap nyaman dengan kesanggupan yang dimampunya sekarang. Ketika ia tak perlu repot-repot selalu berias berlebih hanya agar merasa cantik.
Kau tahu apa itu âmanisâ dari perempuan? Ketika ia tak gampang gengsi, dan tetap percaya diri dengan ataupun tanpa ornamen yang kata orang disebut pelengkap kecantikan.Â
Kau tahu apa yang benar cantik dari sekadar cantik? Adalah ia yang tak sungkan membagikan kemampuannya, bukan sekadar penampilannya.
If there is one recipe for unhappiness it is that: expectations.
Yasmin Mogahed
Pada labirin kenang menuju jalan pulang Kamu dan segala historia menenggelamkanku, pelan-pelan Menjadi getir getar pangkal langkah yang kueja dalam kepayahan Bagaimana bisa merangkai digdaya dengan pondasi porak poranda? Sia-sia Sedang sisa air mataku tak akan kering, meski diusap penuh cinta Olehmu Mengapa pinta dua, jika hatimu tau renjana hanya punya satu muara?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Percakapan Panjang Soal Jodoh
Dipertemukan dengan Mbak yang tengah menempuh studi magisternya, pada suatu hari.
A: Mbaknya S2 sambil kerja?
M: Dulu saya kerja di perusahaan ekspor impor, Mbak. Tapi akhirnya resign, karena pertimbangan keluarga. Sekarang kerja sama suami.
A: Emang dulu kerjanya di mana, Mbak? Wah, asik banget sekarang kerja berdua.
M: Di Kalimantan, Mbak. Hehe, Alhamdulillaah sekarang ngurus kantor berdua. Kerja project gitu, Mbak.
A: Hmm, jauh ya, Mbak. Jadi wajar memang kalo resign. Eh, tapi boleh lanjut S2 ya, Mbak?
M: Alhamdulillaah, Mbak. Soal pendidikan, saya dan suami satu visi. Suami saya juga sedang lanjut studi, cuma beliau doktoral.
A: Duuuh, tentram banget ya, Mbak kalo begitu.
M: Hehehe, iya, Mbak. Saya juga ga nyangka dulu bakal dipertemukan dengan beliau. Kami dipertemukan di kerjaan juga, Mbak. Pas kerja satu project.
A: Hah. Serius, Mbak?
M: Dosen kami juga sempat kaget, karena jarak kedekatan kami tidak terlalu lama. Saya sih ga mau bertele-tele, iya atau tidak silakan segera diputuskan. Dan setelah menikah, banyak banget surprisenya.
A: *senyum-senyum aja*
M: Allah ga akan pernah salah menjodohkan hamba, Mbak. Tenang aja. Mbaknya masih single kan?
A: Hehehe, iya, Mbak. Tau aja sih.
M: Ga perlu lah bertele-tele. Sebagai perempuan kita selalu punya pilihan dalam menunggu, maka menunggulah dengan elegan.
Akhir-akhir ini, obrolan ringan sering kali ujungnya menjurus perihal jodoh, menikah dan semacamnya. Memang sudah waktunya sih. Lebih dari itu saya seperti sedang diingatkan dan diteguhkan. Semoga semakin tangguh ya, Jombs. wkwk
Biarlah yang besar itu karyamu, bukan dirimu. Biarlah yang tinggi itu capaianmu, bukan hatimu.
Hafizhah N Kartika