Adaptasi Diri dalam Hari (boleh juga sebaliknya)
Tulisan ini kubuat berdasarkan pengalaman, ditambah hasil percakapanku bersama pacar, mengenai sifat introver dan ekstrover. Hasilnya? Adaptasi membuatku (atau bahkan kami) menjadi fleksibel. Salah satunya fleksibel menerima arti dan penilaian atas sifat.ย
Diawali dengan muramnya langit Kamis pagi itu, aku mempersiapkan diri bertemu pewawancara dan kandidat reporter lainnya, di sebuah kantor media massa, di kawasan Jakarta Barat.
Sebelum menuju gang rumahku, aku memesan ojek melalui aplikasi ojek online. Sekitar 10 menit setelah aku memesan, lalu menunggu, sampailah ia. Seorang bapak bernama Yusuf, kira-kira usianya 40 tahun lebih, menghampiriku dengan senyum ramah. Lalu, berangkatlah kami menuju alamat yang telah aku ketikkan pada kolom tujuan.
15 menit berlalu dalam perjalanan jalan Jakarta, tibalah kami di terowongan dekat terminal Blok M yang masih macet. Gerimis ringan mengundang. Keluar dari terowongan, blar, hujan deras menjemput kami. Pak Yusuf meminggirkan motornya. Mengeluarkan dua jas hujan berbahan karet sintetis, lalu membaginya denganku.
Kupakai segera jas hujan yang ternyata nyaman saat dipakai itu. Masih di bawah deras hujan, aku bertanya pada Pak Yusuf sembari menaiki motornya kembali.
โJas hujannya dapat dari kantor ya, pak?โ
โNggak, Mbak. Saya beli sendiri.โ
โOh, saya kira dikasih dari kantor masing-masing driver-nya. Untung bapak bawa dua. Hehe...โ
โIya, Mbak. Habisnya kalau bawa satu, nanti penumpangnya gimana?โ
Di akhir jawabannya yang menjadi pertanyaan, aku melihat ke sekitar jalan raya yang dipenuhi kendaraan bermotor. Kulihat ada beberapa pengguna ojek beraplikasi online yang sama denganku. Namun sayangnya, mereka harus kehujanan, karena menggunakan jas hujan ponco berbahan plastik, menyebabkan celananya kebasahan. Beberapa driver ada yang merelakan jas hujannya dikenakan oleh pelanggannya, sementara driver tersebut basah kuyup. Ada juga driver yang tetap menggunakan jas hujannya, dan pelanggannya tidak. Nah, bagiku, aku termasuk yang beruntung dibanding pengguna ojek online yang lain. Aku merasa nyaman selama perjalanan. Nggak kebasahan, nggak perlu khawatir berkas lamaran kerjaku terkena air.
โSaya beruntung dong dapat bapak.โ Kuutarakan perasaan bersyukurku akan kebaikan Tuhan, kepada Pak Yusuf.
โHehehe... bisa aja, Mbak.โ Pak Yusuf tersipu.
Terima kasih, Tuhan, atas segala kebaikan-Mu pagi ini.
Sesampainya di depan gedung kantor yang aku tuju, aku melepas jas hujan dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Pak Yusuf, atas kenyamanan fasilitas yang diberikannya padaku.
Menuju resepsionis gedung, lalu menukarkan kartu tanda pendudukku dengan kartu tanda tamu, kemudian menuju ke lantai 6. Hatiku serasa berdesir. Sudah lama sekali aku tidak menikmati masuk ke dalam gedung kantor seperti ini. Hehehe...
Tibanya di lantai 6, aku bertemu salah satu pelamar yang sedang menunggu waktu untuk psikotes dan diwawancarai staff HRD. Aku mengajaknya berkenalan. Aku pikir, lumayan untuk mengurangi kegugupanku sekaligus menambah teman.
Namanya Ramadhan, panggilannya Dana. Dia datang dari Gresik, Jawa Timur. Dia bercerita, bahwa dia berangkat dari Gresik, sehari sebelum psikotes dan wawancara ini berlangsung. Dana termasuk orang yang banyak bicara. Mudah sekali berteman dan akrab dengannya. Tidak perlu intim, namun Dana sanggup menyapa beberapa kandidat pelamar lainnya, yang datang beberapa menit setelah kami.
Setelah menjadi teman ngobrol yang asyik, kami lalu berkenalan dengan Aswin yang melamar sebagai desainer grafis. Selanjutnya, Dana, Aswin, dan aku mengikuti psikotes dengan 10 pelamar lainnya dengan posisi yang berbeda. Ada reporter, desainer grafis, dan developer.
Dua jam terlewati dan ratusan soal telah dikerjakan. Saatnya makan siang dan beribadah. Kandidat reporter lain bernama Naufal, menghampiriku dan mengajak berkenalan. Kamipun menjadi teman ngobrol yang asyik. Belum pernah aku segampang ini berteman dengan beberapa orang sekaligus. Adaptasi, sekali lagi menjadikanku memiliki banyak teman.
Dana mengajak Naufal, aku, dan satu orang lagi (aku lupa namanya, orangnya cenderung pendiam) untuk makan dan solat bersama. Dengan senang hati, kami berempat berjalan mengelilingi gedung kantor itu. Firasatku mengatakan, aku akan bekerja di kantor itu, bersama teman-teman baru yang akan menjadi teman-teman baikku kelak. Meskipun firasatku tak jarang salah, aku meyakininya. Mungkin suatu hari nanti.
Setelah kembali dari waktu makan (aku makan kue pancong bersama Naufal) di kantin kantor itu, staff HRD bernama Arum, memanggil namaku. Lama sekali ia mewawancaraiku, paling tidak, dibanding dengan yang lain. Ada interview lanjutan, namun sayangnya aku gagal. Lamaranku disimpan. Mbak Arum mengatakan, bahwa ia akan menyimpan lamaranku dan segera memrosesku jika ada kanal yang cocok dengan karyaku.
Kuucapkan terima kasih kepada Mbak Arum atas segala kesempatannya mewawancaraiku, dan secara tidak langsung, atas kesempatan berkarya yang kembali aku kerjakan.
Sekali lagi, Tuhan, terima kasih atas kebaikan-Mu siang ini.
Tidak sampai di situ, sepulangnya dari hari pertama kalinya lagi aku diwawancarai kerja, aku mendapat banyak sekali berita menyenangkan. Mendapat banyak teman baru. Mendapat pengetahuan yang lebih banyak lagi. Juga mendapat banyak sekali energi atas kebaikan orang-orang yang kutemui hari ini. Rasa syukur menjadikanku mendapat nikmat dari Tuhan yang tak pernah ada habisnya.
Sekali lagi dan lagi, terima kasih, Tuhan, atas segala kebaikan-Mu sepanjang hari, sepanjang masa...
Selamat berkarya dan berteman lagi! :)





