Beberapa waktu ke belakang, meski tidak selalu demikian, saya sering merasa bahwa perjalanan hidup dan pertumbuhan diri saya lebih buruk dari sebelumnya. Memang tidak jelas apa ukurannya, tetapi yang saya rasakan, hari-hari yang kacau dan betapa susah payahnya saya mengendalikan diri dalam menghadapi kekacauan itu sedang lebih sering terjadi daripada sebelum-sebelumnya.
Saya jadi sering membandingkan diri saya yang saat ini dengan yang dulu. Rasa-rasanya, dulu hidup saya juga banyak kacaunya, namun saya tetap menikmati bekerja, berteman, berkarya, berprestasi, dan ya sesekali "jatuh cinta" pada apa saja yang membuat saya bisa berbahagia dari hal-hal yang sederhana. Tapi sekarang, rasanya tidak demikian.
Sejujurnya, pikiran-pikiran ini membuat saya takut. Iya, saya takut jadi berjarak dan semakin berjarak dengan hal-hal yang seharusnya seperti menerima, bersyukur, dan berbaik sangka pada ketetapan-Nya. Berulang kali saya pun berpikir, "Benarkah saya yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya? Apa ukurannya?"
Lalu saya tersadar bahwa semua perasaan tidak nyaman dan ketidakjelasan dalam memandang diri ini kemungkinan karena perjalanan yang saya tempuh saat ini adalah perjalanan yang sunyi, sepi, dan sendiri. Jalannya pun jauh dan panjang, sejauh dan sepanjang rezeki napas yang masih diberikan-Nya.
Jika saya mau, saya bisa saja mudah "bocor" dengan selalu bercerita apapun kepada orang lain (mostly ibu) seperti saat menghabiskan masa-masa lajang dulu. Tapi, entah bagaimana, perjalanan hari ini rasanya sudah bukan masanya untuk menjadi seperti itu lagi. Perjalanan menjadi istri dan (terus mengupayakan untuk) menjadi ibu itu memang sunyi, kan? Menemui masalah sendirian, mengelola dan menghadapinya sendirian, mensyukuri kelegaannya ketika semua sudah reda pun sendirian. Iya memang ada Allah, tapi ... kamu pasti mengerti, kan, tentang perasaan-perasaan sendirian yang saya maksud ini?
Di sisi yang lain, saya juga mulai menyadari bahwa saya merasa diri lebih buruk karena tidak pernah ada "nilai" yang bisa yang perbandingkan dari waktu ke waktu. Saya jadi tidak tahu apakah saya sudah lebih baik atau tidak. Yup! Tidak ada index prestasi untuk semua yang saya kerjakan di hari-hari saya saat ini. Tidak ada raport akhir tahun atau nilai-nilai serupa lainnya yang tertulis di atas kertas.
Sesering apapun saya memasak, menyapu, mengepel, mencuci baju, membersihkan tempat tidur, mengurusi semua anggota keluarga sambil juga bekerja dan berkarya, dsb, semua akan tetap berulang. Entah bagaimana hal-hal seperti ini dinilai jika bukan dari penilaian-Nya atas keridhaan diri saya dalam mengerjakannya.
Sesering apapun saya berusaha bersabar, menerima, meredakan konflik, mengalah, mengaku salah, dsb, semua akan tetap menjadi perjalanan diri yang sunyi dan rahasia. Satu-satunya orang yang menyaksikannya paling hanya suami. Entah bagaimana pula hal-hal seperti ini dinilai jika bukan dari penilaian-Nya atas kebersihan jiwa dan kelurusan hati saya dalam mengupayakannya.
Ah, penilaian memang tidak akan pernah ada di tangan saya, tidak pula di tangan suami saya atau siapapun juga. Sekeras apapun mereka memuji, berterimakasih, dan membicarakan kebaikan saya, penilaian sebenarnya tetap terletak pada "hal-hal yang tak terlihat" di kedalaman diri saya yang hanya bisa diketahui oleh-Nya, bukan?
Maka mungkin sebaiknya saya tidak perlu sibuk memikirkan berapa dan bagaimana nilai saya, ya. Saya hanya perlu terus melakukan apa yang menjadi fungsi dan peran saya dengan perbaikan-perbaikan yang saya bisa ikhtiarkan.
Bismillah, insyaAllah saya sudah menjadi lebih baik bukan karena "angka" yang sudah lebih besar dari sebelumnya (sebab memang tidak pernah ada angka untuk mengukurnya), tetapi karena saya bersedia untuk tetap mengerjakan apa yang menjadi fungsi dan peran saya, tetap bertanggungjawab meski harus melawan diri saya sendiri (rasa malas, bingung, bosan, dsb), tetap mau bangkit meski jatuh terus berkali-kali, serta tetap mau berusaha dan mengulang-ulang usaha meski sampai saat ini belum Allah takdirkan untuk berhasil.
Alhamdulillah, saya ternyata nggak buruk-buruk amatlah ya. Hehe. Saya hanya sedang (dan perlu untuk terus) belajar untuk shifting: dulu setiap prestasi bisa dinilai dengan angka, sekarang tidak.
Teman-teman ada yang sedang merasakan apa yang saya rasakan ini nggak, sih? Semoga Allah mudahkan agar kita bisa melihat hal-hal sederhana sebagai prestasi yang memberi kita semangat untuk tetap melanjutkan hidup dan hari-hari, ya. Wallahu 'alam bishawab.