Oleh @nonaabuabu dan @kkiakia
Diatas meja ini, aku menunduk bisu. Enggan menatap sepasang bola matamu. Tapi, jika berani kutatap—akankah luka yang sembuh kembali terkoyak? Lara yang tenang mungkinkah kembali beriak?
Hamparan rasa yang tak karuan sedang beradu dalam pusara jantung. Seketika kilas balik memori menyeruak menuju permukaan. Menjelma warna malam yang menjadi saksi pertemuan antara sebuah luka dan sumber pemantiknya.
Aku mencari dimana muara detak, yang rasanya terasa sesak. Mencoba menganalisa kalimat yang pada akhirnya hadirkan tanya dalam diriku; Akankah aku selamanya menunduk diam, membiarkan eksistensimu mengintimidasi kuatku?
Melawan amigdala, aku mengangkat dagu, kaku. Mata kita bertemu. Pada sepasang bola matamu, luka menyala terang lalu membawa aku terseret jauh, tersesat dalam ingatan pilu yang pernah kau torehkan.
Aku tahu, kau sedang berusaha membaca air mukaku yang datar. Apakah kau masih menemukan rindu yang bergetar? Tidak ada bukan? Aku juga baru mengetahuinya pada saat kita bertemu bahwa apapun tentangmu ternyata sudah tiba pada kata "tamat."
Sungguh pada serpihan yang pernah retak sepeninggalmu tak ada lagi degup riuh yang tersisa. Kini setelah musim duka telah membaik dan sembuh, kau ketuk rumah yang dulu kau abaikan. Apakah kau datang dengan harapan agar pintunya terbuka lebar untukmu?
Kupastikan—itu tidak akan tejadi, tuan.
Kemarin barangkali aku masih berpikir aku kalah oleh pertemuan ini. Bahkan beberapa detik lalu, rasa takut sempat beradu dengan tekadku bahwa ini telah selesai. Tapi sekarang, pada netramu yang bersinar, aku telah tumbuh menjadi sepasang sayap yang tak akan lagi diperbudak kenangan.
Sekarang berhentilah berjuang untuk tinggal. Sebab usai hari itu kau memilih tanggal, maka tentang kita hanyalah sebuah kesia-siaan yang menyedihkan.