Membayangkan kalian kesepian adalah kesedihanku. Mengetahui sebenarnya kalian kesepian adalah kedukaanku.
art blog(derogatory)
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
🩵 avery cochrane 🩵
I'd rather be in outer space 🛸
Noah Kahan
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Today's Document

ellievsbear

shark vs the universe

oozey mess

❣ Chile in a Photography ❣

if i look back, i am lost

PR's Tumblrdome

pixel skylines
Mike Driver

Jar Jar Binks Fan Club
trying on a metaphor
RMH

seen from Egypt
seen from United States

seen from United States

seen from Sweden
seen from United Kingdom
seen from Panama
seen from Venezuela
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@anggieazure
Membayangkan kalian kesepian adalah kesedihanku. Mengetahui sebenarnya kalian kesepian adalah kedukaanku.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kamu…
“Masih ingat gak pas dulu kita sering ngerjain tugas bareng? Terus kalau belum jadi PR, ngerjain barengan di kelas!” Aku tertawa-tawa sambil mengingat masa-masa itu. Masa-masa penuh ide tapi sering deadline.
Dia tertawa tak kalah renyah. Dia mengingat apa yang bahkan aku lupakan. Dia menyebut apa yang kelu kusebutkan. Dan dia masih sama sabarnya setelah kepergianku merantau jauh, dan suka muncul tiba-tiba di depan rumahnya. Sabar untuk dikejutkan.
Ada banyak hal yang berubah. Ada banyak hal yang menjadi jengah. Tatkala di masa rantau aku merasa sendiri dan semakin asing. Tatkala di rerantau aku semakin pudar dengan diriku dan memilih menepi.
Tapi ketika kukembali ke rumah, kutemukan apa-apa yang tak berubah. Apa-apa yang tak pernah jengah. Apa-apa yang tidak pernah lelah dalam penantian. Artinya, mereka tetap sama sebagai kenangan yang paling setia di ingatan. Sebagai teman cerita yang paling setia dalam penantian.
Sempat aku merasa ketakutan untuk kembali pulang dan menemui berjuta kenangan. Tapi kenyataan mengajarkan bahwa, menghadapi semua itu adalah obat dari rasa luka, dari rasa putus asa pernah bersalah dan bermasalah. Mengahadapinya adalah satu-satunya cara untuk berdamai, serta memetik hikmah yang lainnya di jalan yang sama.
“Sekarang bahasnya sudah sampai ke anak ya…” celetuknya kala usai bertanya: habis nikah baiknya langsung punya anak atau kerja dulu ya?
Dan kini, seseorang itu sudah bersanding dengan pria pilihannya. Aku lega, kawan sebangkuku itu begitu berani memutuskan hidup bersama seseorang yang yakini mampu membawa aroma bahagia di tengah dunia yang sementara.
Setelah menikah, dia benar-benar melakukan apa yang pernah dia tanyakan: mempunyai anak. Semoga lancar hingga hari persalinan, dan selanjutnya tentu. Dari rahimnya, akan lahir anak-anak yang akan dibentuk dengan berbagai karakter yang dia miliki, dan pria itu miliki.
Ah, dia juga memutuskan bekerja. Menjadi guru, sepertiku.
Waktu lekas berlalu, aku masih ingat dia selalu menunggu kepulanganku itu. Menunggu kemunculan yang tiba-tiba di teras rumah. Menyimak berbagai cerita yang aku bawa dari pulau seberang. Bertukar daftar rencana masa depan.
Namun, hingga kini aku belum pulang lagi. Beberapa bulan lalu adalah temu terakhir sebelum dia memutuskan menikah. Sayangnya, aku tak berkesempatan menyaksikan momen sakral itu, ah barangkali lagi-lagi aku kan menangis menyaksikannya.
Hingga kini aku belum pulang. Barangkali sudah tidak ada yang sebegitunya menunggu kejutan pulang yang tiba-tiba… atau bahkan mengirim pesan singkat “Jo kapan pulang?”
Kini, dia sedang menunggu lahirnya kejutan lainnya dalam hidup. Semoga aku masih bisa muncul tiba-tiba untuk menengok buah hatinya. Untuk pulang dan muncul tiba-tiba seperti biasa.
“Jo cepat pulang!” katanya.
Selang waktu kemudian, antara peralihan akhir tahun dan awal, aku pun memutuskan pulang. Ada kabar gembira terkait kelahiran, pertama adik sepupuku dan kedua adalah darinya. Tentu saja, aku kembali dengan kebiasaan datang tiba-tiba di depan rumahnya. Melihat ia menggendong bayi perempuan yang menggemaskan, terasa tak menyangka ternyata waktu lekas berubah dan menjadikan seorang manja seperti dia lantas jadi ibu.
Bertahun berikutnya, saat pandemi masih berlangsung, aku juga nekad pulang. Sebab telah kalah telak oleh rindu yang menghujam. Soal keluarga dan rumah yang semakin kuat pesona daya tariknya. Sesederhana ingin menyantap masakan ibu. Momen itu pula aku sempat beberapa kali berkumpul dengan kawan lama saat di SMA. Berbagi cerita terkini soal kehidupan. Kali itu, aku dan seorang teman mengabarkan bahwa hendak datang ke rumah Ibing, kali ini tidak dengan kejutan. Karena ada kepiting yang siap disantap. Hehe...
Lalu, di penghujung Ramadhan 2022, giliran aku yang mengumpulkan beberapa kawan untuk mendengarkan berita yang akan kusampaikan. Ibing dan dua orang lainnya datang mendadak ke rumah menjelang berbuka. Aku mengumumkan bahwa awal Mei aku kan menikah. Mereka sontak terperangah.
Lupa Tekan Tombol
Tadi pagi sebenarnya saya baik-baik saja. Hanya saja... lupa menekan tombol ikhlas. Jadi semua perasaan lelah menggempur: lelah kaki sampai lelah hati. Kaki sampai pegal-pegal, asa gak sanggup ngayuh sepeda. Hati rasanya kesel, karena hak-hak aku sebagai anak gak terpenuhi, mulai deh menyalahkan banyak pihak terutama pihak yang satu itu. Kemudian mata jadi pedih, airnya keluar gak terkontrol, plus ingus yang... ah untung ada buff. Makin dekat tempat kerja, makin gak karuan. Hampir jatuh juga setelah berhasil melewati ibu-ibu yang lagi beli sayur di kios. Ah, somplak emang... jarak 20 meter nyampe gerbang sekolah, saya berhenti. Mengusap air mata, dan ingus tentunya. Tapi gak langsung kering. Huh... akhirnya saya memutuskan untuk menepi, di musholla. Menenangkan diri sebaik mungkin, sampai 1 jam lebih. Ujung-ujungnya, siang ini saya dapat jawaban: Gi', keknya lupa neken tombol ikhlas deh...
Mood balik full setelah nyanyi lagu Tsubatsa bareng anak-anak...
Daily Prayers
These are my favorite prayers that I repeat many times every day:
1. O God, increase me in knowledge and guide me to a better state of maturity.
اللهم زدني علما واهدني لأقرب من هذا رشدا
Allāhumma zidnī ʿilman wahdinī li-aqraba min hādha rushdā
2. O God, ease my task for me and place Your blessings in my works and my moments.
اللهم يسر لي أمري وبارك في أعمالي وأوقاتي
Allāhumma yassir lī amrī wa-bārik fī aʿmālī wa-awqātī
3. O God, You are the Most Forgiving, and You love forgiveness, so forgive me.
اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عنّي
Allāhumma innāka ʿafūwwun tuḥibbul ʿafwa fa-ʿfu ʿannī
4. O God, give me Your support, and You are the best of supporters.
اللهم انصرني وأنت خير الناصرين
Allāhumma-nṣurnī wa-anta khayrun-nāṣirīn
5. Our Lord, grant us good in this world, and good in the Hereafter, and protect us from the torment of the Fire.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
Rabbanā ātinā fīd-dunyā ḥasanatan wa-fīl-ākhirati ḥasanatan wa-qinā ʿadhāban-nār
6. Our Lord, grant us mercy from Yourself, and bless our affair with guidance.
ربنا آتنا من لدنك رحمة وهيّئ لنا من أمرنا رشدا
Rabbanā ātinā mil-ladunka raḥmatan wa-hayyiʾ la-nā min amrīna rashadā
7. My Lord, forgive and have mercy, and You are the best of those who show mercy.
رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين
Rabbi-ghfir wa-rḥam wa-anta khayrur-rāḥimīn
Hai Meng! Haha...
Kangen ngegaje bareng sih sebenarnya setelah sebulan terakhir ini rasanya kok serius amet, banyak miscomnya daripada ngobrol santainya, jauh bangeeeet rasanya... yang biasanya kalau ketemu bisa ngobrol ngalor-ngidul, tapi sekarang ada di tempat yang sama pun masih saling gak nyamperin (saking sibuk sama urusan masing-masing). Fiuh 😅
Terlebih pas diriku udah mulai sibuk masuk kerja, gak ada jeda libur sikit pun... cuma weekend aje. Kemudian dirimu sudah mulai full penelitian, beresin tugas akhir, tualang nyari responden. Sama-sama gak punya waktu yang pas, atau sama-sama tidak mengkomunikasikan sih wk
Baiklah.... sepertinya dirimu still fine there, kawan! :) Gak selalu kita ada menjadi part di masing-masing cerita dan masa duka kita. Ada kalanya cuma bisa doa, biar sama-sama bisa kuat di jalan-Nya, dijaga dalam penjagaan terbaik-Nya.
Baik-baik yak! Kapan-kapan kita main lagi :)
Cc: orangnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Saat kamu ingin menikah dan sudah menemukan siapa yang akan kamu ajak ke bahtera pernikahan. Maka perbanyak sholat istikhoroh, diamkan mulut dan jari untuk berbicara perihal ini pada siapapun agar terjaga rahasiamu, juga menghindari dari fitnah dan omongan kalau saja rencanamu nanti gagal.
Mulailah dengan mengencangkan sholat malam dan perbaiki kualitas sholatmu, jika ada sesuatu yang kurang enak lebih baik mencurhatkannya kepada Allah. Ingatlah semakin jauh jarakmu untuk mengkhitbah dia, maka semakin besar godaannya. Semakin jauh jarak antara khitbah dengan akad nikah, maka semakin besar juga godaannya.
Segerakan sebisa mungkin niat baikmu, jika dirasa harus menunggu beberapa waktu maka ikat dengan doa dan silaturohim antar keluarga, sampai hari menjelang khitbah dan akad nikah.
Yang terkhir, jangan terlalu over pada perasaan hingga menimbulkan prasangka yang tidak baik karena hati itu semuanya milik Allah. Ibarat kamu sedang memancing ikan, jika mulut ikan sudah kena kail lalu kamu melepasnya, maka ikan ada tersakiti dan berbekas lukanya. Alangkah baiknya jika ikan sudah terkena kail pancing, segera tarik dan di masak untuk menjadi hidangan yang halal dan nikmat.
Hanya sedikit saran, bagiku dan bagimu yang akan berproses dan sedang menjemput keberkahan. Agar tidak ada lagi hati yang tersakiti, juga untuk kebaikanmu dan kebaikannya, untuk masa sekarang dan masa depan.
Jangan lupa bismillah.
Sebenarnya ini adalah perbincangan semalam dengan seorang teman yang akan menikah, dia sudah memilih calon namun bimbang harus memulai dengan apa dan dari mana. Jadi flashback.
@jndmmsyhd
Noted
Guru Hitung Berdiri, Murid Hitung Berlari
Murid Kls 6: Ibuk, Ibuk umurnya berapa?
Aku: Kelahiran 96. :3
Murid Kls 6: Ih berapa? :0
Aku: Hitung sendiri, kelahiran 1996 pokoknya.
Akhirnya, dengan terpaksa, dia mengikhlaskan tangannya tercorat-coret demi pengurangan 2019 dengan 1996. Haha... ga bawa kertas syih~~~ (~˘▾˘)~
Murid Kls 6 yang lain: eh kamu umurnya berapa?
Murid Kls 4 (Murid gue): Lahir 2009.
Murid Kls 6: Ih berapa??? >:0
Murid Kls 4: HETONG SENDEREEE... (kompak).
Usil banget emang, kayak gurunya, doyan ngerjain orang dan bikin mikir wk
Tualang
Fokus bertualang ke dalam dirimu. Menyusuri sajak-sajak yang kau jejak di masa lalu. Memandangi potret yang berderet di sepanjang jalan. Mencari yang hilang.
Alhamdulillaahi ' alaa ni'matil ukhuwah :)
Semoga kita selalu dikuatkan dalam jalan dakwah-Nya ^^
Sabtu, 27 Oktober 2019
Terlahir dengan doa yang panjang, semoga dapat menebar manfaat yang jauh lebih langgeng :)
"Kata-kata itu bertumbuh..." kataku hari itu. Seiring kita juga.
Sabtu, 16 Nopember 2019
Kelas Nulis GDA

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sekelumit kisah kemarin. Kalian itu mudah dibahagiakan yaa :)
Selamat menjadi lebih baik lagi ^^
Aku dan Perubahan
"Apakah aku berubah?" tanyaku pada suatu malam.
"Hmm, ya..." jawabmu kemudian.
Aku lalu banyak menoleh ke belakang tentang aku, tentang kita. Bahwa benar aku banyak berubah. Namun jangan-jangan ini adalah sisi lainku yang sesungguhnya?
Aku melihat kau semakin berbinar, sedang aku, mulai memudar...
“Kuatin hatinya.. Karena kalo hati cukup kuat, kamu bakal cukup tangguh buat hadapin segala. Jangan pernah ragu sama diri sendiri! Apalagi sama Allah… Enjoy aja, ingat syukur dan bahagia..”
— Mantengin laman chat yg sudah usang.
Untukmu
PULANG?
“Sembuhkan lukamu yang membiru, serpihan hatimu yang berdebu. Pagimu yang terluka, malammu yang menyiksa. Hal yang ingin kau lupa justeru semakin nyata.” _Mengunci Ingatan, Barasuara
Dan… Apakah kamu tahu rasanya ketika rumah menghilang dari ingatan-ingatan indahmu?
Dan apakah kamu tahu rasanya ketika perasaan pulang dan merindu menjadi asing dan menyedihkan?
Ketika kamu tengah berlari kencang mengejar mimpi, tapi pada akhirnya kamu harus menerima kenyataan bahwa larimu adalah penyumbang jarak terbesar akan dirimu dengan keluarga. Rasanya ingin berhenti saja.
Tapi jika berhenti menjadi dosa karena membuatmu tidak melakukan apa-apa, itu semakin membuatmu merasa bersalah. Dilema bukan ketika di depan sana langkah masih jauh untuk menjumpa seratus mimpi yang sudah kau tulis, dihadapkan dengan ribuan langkah yang memintamu untuk pulang? Siapa yang tidak ingin cita-citanya teraih? Tapi siapa juga yang tidak ingin membahagiakan orang-orang tersayang di rumah? Ah, berjuang tak sebercanda itu!
Kini, jika kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan…
Jika ada ribuan bintang yang ada di depan sana dan kamu sudah idam-idamkan untuk mendekapnya, jika ada galaksi lain di seberang sana yang indah dan sudah masuk daftar target kamu selanjutnya, jika ada banyak pelangi di depan sana menantimu untuk dijelajahi, apakah semua itu akan menukar kebahagiaanmu untuk mendapatkan surga? Apakah surga akan kau lepas demi mendapatkan itu sekarang juga?
Jika iya adalah jawabnya, aku tahu kamu pasti sedang berpura-pura. Jika iya adalah jawabnya, aku tahu kamu pasti sedang berbohong. Aku tidak mau tahu lagi, intinya kamu sedang berbohong! Seberapa sakit perasaanmu untuk membenahi banyak hal yang menjadi jalan untuk menuju surga itu, tapi nyatanya semua impian yang ingin kamu capai tidak berarti apa-apa. Aku tahui betul kau faham dengan konsep ini. Seberapa berat perasaan dan langkahmu untuk memperjuangkan surga itu, tapi kemilau cita-citamu tidak akan pernah berhasil menghapus lelahmu. Aku tahui betul kau hafal benar dengan ini.
Dan, sadarkah jika penyebab surgamu ada di rumah?
Sadarkah ada yang menantimu untuk pulang, memperjuangkan surga itu?
Sadarkah?
Ia menunggumu pulang. Pulang! Pulang dari berpuluh kilometer petualangan yang kamu cipta. Pulang dari ribuan langkah dan cerita yang kamu raih. Pulang dari sekian jarak yang berhasil kamu ciptakan. Dan tidak terlalu jauh untuk kembali pulang. Sesedih apa yang kamu rasakan sekarang. Sebenci apapun kau jika teringat rumah. Sejengkel apapun kau ketika ingat tidak ada yang beres kau benahi. Tapi selalu ada alasan untuk pulang.
Dan…. Kini bagiku kata ‘pulang’ adalah hal termenyakitkan untuk diucap atau diingat.
“Semua yang kau rindu, semua menjadi debu. Langkahmu tak berkawan, kau 'tlah sia-siakan.” _Sendu Melagu, Barasuara
Selasa, 24 April 2017
Selamat ulang tahun!
Anggie Azure
“Mengunci ingatanmu, menahan masa lalu. Memori yang membisu, harapan yang berdebu.”
Hai, yang belum pulang ke rumah! Apa kabar?
Untuk Tak Menjadi Apa-apa
Aku melihat seseorang itu bersandar di tiang dekat bangku stasiun. Sedari menjelang senja saat ramai lautan manusia mendesak masuk naga besi, hingga pukul 9 malam yang sepi. Ia, semakin layu. Sesekali berjongkok, lalu berdiri lagi bersandar. Sesekali ia duduk di bangku dekatnya, namun lebih banyak mempersilakan orang lain duduk di sana, tanpa kata-kata.
Orang-orang berlalu-lalang. Hilir-mudik dengan tak acuhnya masing-masing. Terkadang beberapa menerapkan jurus basa-basi, hanya untuk mendesak rasa sepi pergi. Yang lain sibuk dengan ponsel pintarnya, memutar musik kesukaan dan bermain game, tic tac toe barangkali. Memang begitu stasiun, hanya tempat singgah untuk tak berelasi lebih, tak menjadi apa-apa.
Pukul 9 malam, lebih 47 menit. Naga besi sudah henti lewat. Namun dia masih saja di sana, entah menanti apa. Aku masih memperhatikan dengan perasaan yang entah juga. Hingga pada akhirnya aku dikalahkan rasaku sendiri.
"Maaf, Mbak, keretanya sudah tidak ada yang akan lewat lagi..." aku melepas topi kebanggaanku.
Dia hening. Tak menatap sekali pun. Aku menunggu jeda, lalu mulai bertanya, kira-kira ada yang dapatku bantu atau tidak. Yah, daripada aku terkesan intervensi dengan pertanyaan, "Mbak sedang apa di sini?"
Dia menoleh ke arahku, lalu kembali lagi melepas pandang ke depan. Datar, tanpa ekspresi selain pucat pasi.
Tiba-tiba dia beranjak. Pergi, melewati ku menuju pintu stasiun kecil ini.
Dua hari berlalu. Aku melihatnya lagi, di spot yang sama, dengan kondisi hati yang... yah kurang lebih sama lah. Tebakanku begitu.
Perutku keroncongan, super lapar. Aku membeli kebab di sekitar situ dan... entah hatiku merasa aku harus membeli 2 bungkus.
Aku berjalan menghampirinya. Sudah pukul 8. Hari ini lebih lekas sepi, sebab hujan yang tak henti.
"Maaf, saya ingin menawarkan ini, mungkin Mbak lapar juga seperti saya," duh, sok tahu sekali! Aku kikuk, lantas agak bergetar seraya memberinya satu bungkus kebab. Ia yang sedang duduk, kali ini merespon lebih cepat. Menatapku lalu berterima kasih. Aku malah latah duduk di sampingnya.
Kami hening di tengah-tengah decak lahap yang sesekali terdengar dari dirinya. Aku bersyukur tak salah bertindak, sebab kami sama-sama lapar rupanya.
"Pak, namanya siapa?" Tanyanya tetiba.
"Jangan panggil Pak, Mas saja..." aku mencoba mencairkan kekakuan walau terkesan agak bagaimana ya, "saya Langit, Mbak, petugas di sini."
"Ouh... Makasi Mas Langit..." lalu ia hening lagi. Kebab sudah terlahap, aku pun tak tahu mesti bersikap.
"Kalau Mbak?" Tanyaku, memberanikan diri.
"Pagi... Nama saya Pagi..." tak berselang lama, ia beranjak, "saya pulang dulu yaa, Mas, makasi..."
Lalu aku hanya bisa menatap langkahnya yang menjauh.
Di hari-hari berikutnya, masih tetap sama. Ada dia di sana. Entahlah, sedang menunggu apa. Aku selalu mencoba menyempatkan diri untuk menghampiri dan berbagi makanan yang aku punya. Hanya saja bedanya, di beberapa hari yang lain, ia yang berbagi bekalnya padaku, persis ketika aku membawakannya makanan.
Hingga sudah sebulan kami bertemu di tempat yang sama. Syukurnya, aku sudah mulai berani bertanya tentang beberapa hal: lapar atau tidak, sudah makan atau belum, hingga sedang apa. "Menunggu seorang," jawabnya singkat. Ya aku kikuk lagi. Bingung akan membuat topik apa.
Petang itu, lepas hujan yang rajin bertandang, aku menemukan ia terisak. Sungguh aku spontan berlari karena melihat itu dari jauh. "Ada apa?" Tanyaku perlahan.
Dia menggeleng. Namun tiba-tiba menggenggam tanganku, erat. Seakan takut ditinggalkan.
"Saya belikan makanan ya?" Sok ide sekali memang, namun dia menggeleng, dan menarik diriku lebih dekat.
"Tolong tetap di sini, sampai kereta tak lewat lagi..." ia mengutarakan sesuatu yang jelas membuatku tertegun.
"Mbak, gak berniat apa-apa kan?"
"Justru itu, saya khawatir melakukan itu pada akhirnya... tolong temani saya, hingga kereta tak lewat lagi," dia terisak, terbata-bata, "saya sudah tak tahu arah lagi. Lama sekali rasanya penantian ini. Dan... saya tidak tahu mengapa masih di sini untuk tetap menunggu. Tapi saya tidak punya tujuan lagi selain ini..."
Ia menunggu seseorang, yang jelas amat berarti baginya. Namun aku tak bisa membayangkan persisnya, perasaan seperti apa yang membuat dia kontinu menghabiskan waktu setiap malamnya untuk di sana.
"Mbak yakin akan tetap seperti ini beberapa hari kemudian? Jika Mbak butuh bantuan, mungkin saya bisa berbuat sesuatu..."
"Cukup jaga saya agar tak melompat ke arah laju kereta..."
Jgerrrr!!!
Apa-apaan ini? Sungguh aku merasa seperti diberi tugas tambahan yang jauh lebih berat. Di hari-hari berikutnya, aku celingak-celinguk memastikan agar dia baik-baik saja. Sesekali menghampiri membujuk untuk pulang, namun hasilnya nihil.
Terkadang ia meminta secara jujur untuk tetap ditemani. Meski dari kejauhan, katanya. Semakin rumit rasanya. Termasuk hadirnya perasaan seperti dibutuhkan, keberadaan ini yang menjadi berarti, dan menjadi orang yang nyaman untuk melepas kesedihan.
Dua bulan berlalu. Sore itu lebih cerah. Namun dia masih tetap sama, mendung.
Waktu berlalu lekas, kereta terakhir tiba.
Saat orang lekas masuk, dan bersilih keluar. Ia, wanita itu, spontan berdiri, menuju ke arah kereta. Sungguh, adrenalinku langsung terpacu. Jarakku cukup jauh, karena sedang mengurus sesuatu. Namun aku mencoba sigap berlari, menerobos kerumunan orang. Aku bedo'a agar aku tak terlambat, agar dia tidak melompat.
Sungguh, aku lari dengan brutal sekali.
"Pagiiiiiiii, tunggu!!!" Teriakku. Langkahnya semakin dekat dengan celah peron hingga akhirnya seseorang dari dalam kereta keluar, memeluknya. Tepat di kala 5 langkah lagi aku menujunya.
Laki-laki itu, lantas mencium keningnya dan mengajaknya menjauh dari kereta. Dari aku...
Stasiun memang tempat singgah dan untuk tidak berelasi lebih, untuk tidak menjadi apa-apa.
Dia tidak pernah menunggu lagi, kembali lagi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Pada akhirnya kita sama-sama merasa, bahwa menggenggam orang lain terlalu erat itu menyesakkan. Menyisakan perasaan sakit dari perasaan yang berlebihan.”
—
Maka, mari kita sesuaikan genggaman itu. Allaahumma yaa muqalibal quluub
Asahlah pedang pada sisi tajamnya. Still keep uniqness. Easy, enjoy, excellent!