dan setiap anak yang merantau jauh, sekalipun telah menikah, pasti tetaplah ada ibu di hatinya
TVSTRANGERTHINGS

❣ Chile in a Photography ❣
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Origami Around

pixel skylines
Xuebing Du

if i look back, i am lost
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
RMH
KIROKAZE
Monterey Bay Aquarium
Three Goblin Art

oozey mess
trying on a metaphor
NASA
occasionally subtle

titsay
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
AnasAbdin

#extradirty
seen from Trinidad & Tobago

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Malaysia

seen from TĂĽrkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia
seen from United States

seen from Martinique
seen from United States

seen from United States

seen from Singapore
seen from Brazil

seen from North Macedonia

seen from China
seen from United States

seen from Malaysia
@andykarezky
dan setiap anak yang merantau jauh, sekalipun telah menikah, pasti tetaplah ada ibu di hatinya

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pencitraan itu, ibaratkan menyembunyikan bangkai. Suatu saat, baunya akan tercium juga, oleh orang lain. Cukuplah menjadi diri sendiri.
Namanya, Tegas.
Kalau ia membuatmu bingung, berarti ia bukanlah tujuanmu.
Kalau ia membuatmu berseteru dengan kedua orang tuamu - sementara hubungan dengan orang tuamu baik-baik saja sebelumnya, berarti dia bukanlah yang kamu butuhkan.
Kalau ia membuatmu ragu sama tujuanmu, berarti ia bukanlah teman yang bisa kamu ajak jalan jauh.
Kalau ia membuatmu harus mengubah values baik yang kamu miliki selama ini, berarti kamu sedang menghancurkan dirimu sendiri. Kalau apa lagi? @kurniawangunadi
Aturan Menjadi Orang Dewasa : Tahu Batasan
Aku tahu kalau beberapa di antara keluarga teman-temanku sedang tidak baik-baik saja, mau bagaimanapun caranya itu ditutupi. Selalu ada jalan untuk diketahui, karena memang sulit sekali menyembunyikan diri saat ini. Saat kamu mulai menghapus seluruh foto pasanganmu, saat kamu mulai membicarakan luka-lukamu secara terbuka, dan hal-hal lain yang memang membuat semua hal tersebut terang benderang.
Tapi, ada satu aturan bagi orang dewasa yang perlu untuk dipegang. Tidak perlu bertanya, tidak perlu kepo, tidak perlu menguliti semua itu, kecuali memang ia bercerita, meminta pertolongan, atau hal-hal lain yang memang ia sendiri yang melibatkanmu dan kamu pun tidak masalah terlibat dalam cerita itu. Kita juga tidak perlu mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, kecuali perkara itu kemudian melibatkan diri kita atau orang-orang terdekat kita. Kita tidak perlu menanyakan alasan mereka berpisah, karena untuk mengutarakan itu, mereka harus mengulang memori rasa sakit yang tidak ingin mereka rasakan.
Rasanya cukup dengan mendoakan yang terbaik. Bukan hal yang menyenangkan untuk membahas hidup orang lain. Apalagi jangan sampai kita melewati batas-batas, kita tidak pernah tahu trauma-trauma orang lain itu berada dititik mana. Jangan bercanda pada urusan-urusan yang demikian.
Cukup tahu saja, setelah itu diam, tidak perlu membicarakannya di manapun. Tidak ada yang ingin mengalami hal itu, tidak bijak jika kita sok bijak ingin menarik pelajarannya, ingin mendapatkan hikmahnya.Â
Hati-hati dengan batasan.Â
Sehari yang berlalu adalah sehari lebih dekat dengan kematian. Tangisi apa yang kurang dalam hatimu bukan apa yang hilang dalam hidupmu. Hanya mengingati mati dapat menghidupkan hati. Hanya menghidupkan hati dapat melembutkan jiwa. Hanya jiwa yang lembut dapat merasai nikmatnya hidup dan mati lillahi taala.
#self reminder

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dalam sebuah kereta ada 2 orang yang duduk bersebelahan. Satu mengira bahwa yang duduk disampingnya adalah teman perjalanan. Ternyata yang duduk disampingnya hanyalah penumpang dan akan berhenti pada tujuan yang berbeda dengannya. Saat Tuhan menakdirkan bertemu tapi tidak bersama.
Berprasangka Baik Jangan pernah hidup dalam asumsi burukmu. Kamu akan lelah karena pikiranmu sendiri. Cobalah untuk memvalidasi perasaanmu, kenapa sering berpikir negatif? Diurai satu persatu dan mulailah belajar untuk berprasangka baik pada apa maupun siapa, karena itu jauh lebih melapangkan hatimu Mulailah belajar untuk menerima sesuatu yang tidak menyenangkan sebagai introspeksi diri Lalu hiduplah secukupnya. Menyukai sesuatu sekadarnya, pun tidak menyukai sesuatu cukup biasa saja. Sebab, apapun yang kita hadapi, tentu semuanya atas izin Yang Kuasa
Jakarta, 19 Mei 2023 | Pena Imaji
Perhatikan Langkahmu
Tindakan kecil yang kita nilai tak berarti, bisa jadi mengubah garis takdir di masa datang dengan sangat signifikan. Keputusan yang diambil, apa yang diucapkan, dan bahkan bagaimana cara kita berpikir - melihat sesuatu, ternyata menciptakan kehidupan yang amat berbeda.
Banyak sekali pilihan-pilihan yang disediakan, kadang kita mengambilnya dengan logika, kadang juga berdasar perasaan. Dan kita juga bisa menyaksikan bagaimana keputusan-keputusan yang diambil oleh orang lain - seberdampak itu baginya.
Aku belajar dari hidup orang-orang di sekitarku, bagaimana keadaan mereka saat ini dan apa keputusan yang mereka ambil di satu, dua, lima, bahkan beberapa tahun yang lalu. Khususnya karena aku mengenal mereka, menjadi saksi hidup atas perjalanan hidupnya, pernah menjadi teman diskusi saat keputusan itu dulu akan diambil.Â
Kemudian satu hal lagi yang aku pelajari, kesadaran penuh bahwa tindakan-tindakan itu adalah tindakan yang dipilih, maka bagaimanapun risiko yang ada didepan, tidak pernah membuat perspektif diri kita sebagai korban. Kita adalah pemeran utama dalam pengambilan keputusan, sekaligus yang akan menjalani risikonya.
Semakin dewasa, semakin teliti dengan langkah, pilihan dan keputusan, ucapan, serta pikiran.Â
Kepada si pendengar yang selalu menampung kisah orang lain dan bijak menguatkan mereka padahal suara sendirinya pun sedang butuh didengar, tubuhnya sedang butuh dipeluk agar kuat, pikirannya perlu rehat agar bisa istirahat, semoga tak pernah lupa untuk membahagiakan diri sendiri.
Semoga paham bahwa menolak sejenak untuk menampung luka orang lain itu tidak apa-apa. Semoga ketika kamu merelakan diri untuk menampung kisah orang lain itu benar-benar atas kesediaan diri bukan dipaksa oleh rasa tak enak-kan.
@terusberanjak
Tanggung jawab
Kalaulah kita lalai atas tanggung jawab tanggung jawab tanggung jawab kecil yang diberikan kepada kita, bagaimana bisa kita bertanggung jawab atas tanggung jawab besar yang diberikan kepada kita. Biasakanlah untuk menjaga tanggung jawab, dimulai dari hal-hal yang kecil.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pandangan
Tidak perlu bersulit-sulit untuk membuktikan dan menjelaskan semua tentang dirimu kepada orang lain, jadilah versi terbaik menurut dirimu sendiri, dan nikmatilah. Pandangan orang lain terhadap dirimu itu, tak memiliki pengaruh apapun terhadap dirimu, tak membuatmu tinggi dan tak juga membuatmu rendah, namun seringnya, ia justru malah menjatuhkan.
Bersabar
Memintalah kepada-Nya agar kita selalu disabarkan dalam segala hal, terutama bersabar dalam ketaatan kepada-Nya dan bersabar dalam meninggalkan segala larangan-Nya, karena begitu banyak keburukan yang terjadi, disebabkan karena kurangnya kita dalam bersabar. Bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah. Allah itu, bersama orang yang bersabar.
Premisnya Orang Dewasa
Perasaan ini rasanya seperti ingin memaksakan kehendak, sampai akhirnya kehendak itu memiliki kehendaknya sendiri. Takdir tak bisa kita tuliskan sendiri, jalan cerita yang dulu kita sangka bisa kita kendalikan, ternyata menjadi cerita yang tak ingin kita baca meski akhirnya kita harus menjalaninya.
Bertemu denganmu adalah kalimat pertama yang kubaca dari cerita takdir itu, seperti buku-buku yang mengantarkanku pada kalimat-kalimat yang tak bisa membuatku lepas darinya barang sejenak. Tak ingin menjeda kalimatnya dengan hal lain, tak ingin melepaskan pandang dari susunan hurufnya yang menawan, menggambarkan diri begitu rupawan dan mempersona. Tapi, layaknya sebuah cerita. Aku sebagai pemeran utama yang memiliki keinginan itu akan menghadapi hambatan, sesuatu yang membuat apa yang aku inginkan ini terhalang. Dan satu hal yang tidak aku tahu, bahwa ada dua alternatif cerita dalam buku. Berakhir bahagia atau berakhir duka.Â
Dan dengan percaya dirinya aku tahu bawa ujung cerita ini pasti bahagia denganmu, ternyata tidak. ©kurniawangunadi
Labirinnya Orang Dewasa
Menghadapi “ngambeknya” orang dewasa seringkali lebih sulit daripada menghadapi “ngambeknya” anak-anak. Saat anak-anak tantrum, ada jangka waktu yang sangat pendek sampai kemudian dia tertawa kembali, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, saat menghadapi ngambeknya orang dewasa, entah itu teman, sahabat, keluarga, orang tua sendiri, itu rasanya seperti masuk ke dalam labirin.
Harus menebak-nebak sendiri masalahnya apa, dibuat bingung sama masalahnya, mau menyelesaikannya tapi pihak lain menghindarinya, mau duduk bersama tidak mau, disuruh memecahkan masalah yang tidak dijelaskan masalahnya apa, dan banyak hal lainnya yang membuat kita justru bingung. Bahkan saat mau bingung pun, bingung.
Kenapa orang dewasa seringkali suka membiarkan konflik berlarut-larut, merasa masalah akan selesai dengan berjalannya waktu, merasa orang lain bisa mengerti apa yang dipikirannya, merasa segala sesuatu harus berjalan seperti kehendaknya, merasa yang dipikirannya adalah yang paling benar, prasangkanya adalah data yang paling valid. Ini seperti labirin tanpa ujung.
Saat kita merasa menghadapi yang seperti itu, apa jangan-jangan kita sendiri juga menjadi yang seperti itu? ©kurniawangunadi
Begitulah Orang Dewasa
Bagaimana caranya?Â
Bagaimana kalau? adalah dua pertanyaan yang paling sering kutemui setiap kali berada dalam sebuah ruang seminar, dua pertanyaan yang salah satunya ingin menemukan jalan pintas dan yang satunya ingin mengeyangkan asumsi. Dua hal yang seringkali membuat orang dewasa gelisah tak karuan.
Keinginannya untuk bisa mencapai hasil seperti orang lain dengan jalan yang lebih mudah.
Ketakutan-ketakutannya yang hidup dalam pikirannya hingga seolah-olah semuanya adalah kenyataan yang telah terjadi. Padahal, selanmgkah kaki aja belum diambil.
Tak ada lagi jiwa anak kecilnya yang dulu begitu berani, tanpa berpikir terlalu banyak tentang risiko, yang berani menjadi apapun yang ada dalam pikirannya, yang tidak peduli bagaimanapun caranya - bahkan tidak tahu caranya sama sekali, tetap saja dijalani.Â
Orang dewasa yang sering berkejaran dengan waktu hingga lupa menikmatinya, dan lupa kalau waktu itu tidak bisa dikejar, dia terus sejajar, tidak pernah lebih lambat maupun lebih cepat. Dia sejajar dengan langkah kakinya sendiri.
Orang dewasa yang tenggelam dalam asumsi, takut ini dan itu, membuat keputusan-keputusan yang tak berdasar, tidak membangun komunikasi, berharap dimengerti, dan berharap akan ada jalan pintas yang mengantarkannya pada tujuan tanpa risiko. Memang, rumit sekali jalan pikirannya. Pantas saja, rumit sekali hidupnya. ©kurniawangunadi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Membingungkannya Orang Dewasa
Ada sebuah hal yang kalau sampai ada dalam diri kita, mudah-mudahan itu bisa ilang. Salah satunya adalah memiliki pikiran “paling benar”, itu justru adalah hal yang bisa berakibat fatal.
Kehilangan relasi, kehilangan teman, kehilangan kepercayaan, dan banyak sekali yang akan hilang. Apalagi jika pikiran paling benar itu muncul dari asumsi, bukan data. Datang dari pikiran sendiri, bukan dari hasil diskusi. Disimpulkan sendiri, tidak dikonfirmasi.
Hal-hal yang selama ini menjadi hambatan terbesar dalam sebuah relasi adalah pikiran tersebut. Rasanya semua kesalahan itu ada di orang lain, bukan salah kita, bahkan kita tidak merasa memiliki kontribusi pada kesalahan yang terjadi. Lupa untuk mengevaluasi diri sendiri. Apalagi dalam pernikahan, ini adalah pikiran yang bisa menghancurkan pernikahan tersebut.
Itulah kenapa seringkali kita menemukan nasihat; lemesin ego, belajar minta maaf meski gak salah, mengalah, dan banyak hal lainnya sebelum kita menikah.
Karena, meski benar, belum tentu lawan bicara kita tahu bahwa dia salah. Menyalahkan orang lain yang tidak tahu salahnya apa dan tidak juga menjelaskan dengan baik di mana salahnya di momen yang tidak tepat itu sama juga kita berkontribusi salah. Memang, seni dalam berkomunikasi itu sesuatu yang perlu untuk kita pelajari seumur hidup.
Selebihnya, kelapangan hati untuk menerima salah dan khilafnya orang lain. Apalagi jika itu sesuatu yang bisa diperbaiki bersama. Untuk kebaikan bersama adalah hal yang mungkin sudah jarang saat ini.Â
Jadilah orang yang dihatinya memiliki ruang yang cukup untuk melihat kesalahan sebagai sebuah tanda bahwa “ini akan bertumbuh”. Artinya akan ada perbaikan, artinya akan ada sesuatu yang lebih bermanfaat lagi ke depan, artinya akan semakin baik lagi dengan evaluasi yang dilakukan.
Ini adalah nasihat yang selalu kepegang setiap kali bertemu masalah,”Tenang! Ini pertanda akan bertumbuh jika kita berhasil menyelesaikan masalah ini. Jangan khawatir, hadapi saja.” Bukan justru pergi dan menghindarinya. ©kurniawangunadi
Hai Diri
Hai diri, aku tahu kamu babak belur menghadapi dunia ini. Aku tahu kamu mencoba bertahan meskipun rasanya sudah tak tertahankan. Aku tahu, kamu terjebak pada lingkaran tekanan yang tak putus, dari pasangan, dari orang tua yang kita harapkan, dan juga dari diri sendiri yaitu ketakutan.
Hai diri, aku ingin kamu menyadari bahwa kamu sangat berharga dan kamu sama sekali tidak layak untuk menerima semua ini. Kamu sangat layak untuk memiliki hidup yang lebih baik. Sangat layak untuk bisa memiliki kebahagiaan, tidak hidup dalam tekanan dan rasa takut yang berlebihan.
Hai diri, aku ingin kamu sadar bahwa orang-orang yang saat ini mengekangmu pada kondisi ini tidak layak sama sekali untuk mengendalikan hidupmu. Apakah kamu ingin hidup seperti ini seterusnya? Bangun, hadapi, dan beranilah. Sadarlah!
Hai diri, aku ingin kamu juga tahu bahwa banyak sekali orang yang bersedia menolongmu. Tidak usah malu untuk meminta pertolongan, mengatakan yang sejujurnya tentang hidupmu. Mereka yang sejati tidak akan mencela hidupmu, tidak juga mengolok pilihanmu kemarin-kemarin. Mereka akan membantumu, menciptakan ruang yang aman untukmu tinggali.
Hai diri, jangan malu untuk meminta tolong. Daripada kamu mati konyol, meninggalkan hal-hal yang seharusnya kamu jaga dan itu sangat berharga, yaitu hidupmu. ©kurniawangunadi