Tadi di perjalanan menuju rumah, salah satu topik percakapan teman-teman gue di dalam mobil adalah kekhawatiran mereka terhadap salah satu senior kami, perempuan, yang sudah berada di usia kepala tiga awal, tapi belum juga menikah. Gue sedang memejamkan mata karena mulai mengantuk, ketika gue mendengar salah satu dari mereka bilang;
“Umur segitu baru mau ambil spesialis. Kelarnya masih lama. Dia itu gamau nikah apa ya?”
Gue langsung kehilangan mood untuk tidur.
Well, gue sebenarnya kagum.
Kagum sama orang-orang yang merasa nikah adalah pencapaian, adalah cita-cita. Gue kagum ada orang yang bisa sedemikian ingin membangun rumah tangga, menjadi istri atau suami, beranakpinak. Serius, gue kagum.
Mereka bisa dengan mudah meletakkan pernikahan sebagai pencapaian bernilai tinggi, begitu saja.
Sementara beberapa orang lain menganggap pencapaian adalah menjadi spesialis, menjadi pemimpin, keliling dunia, membangun sekolah, membuka toko, bergabung dengan national geographic, menemukan obat Zika, mengembangbiakkan hewan-hewan terancam punah, menaklukan kutub utara, or simply like mine; ke luar angkasa.
I mean, gue melihat pernikahan sebagai bagian dari pilihan-pilihan kelanjutan episode hidup. Sama seperti pilihan mau boker atau nonton series barunya Dikta dulu sampe iklan. Pilihan mau ke mall naik grab atau jalan kaki. Pilihan lanjut S2 apa kerja. Pilihan mau makan siang rawon atau pizza. Pilihan yang tidak ada hubungannya dengan usia lo sekarang berapa, kemapanan lo sudah sampai mana, dan sebagainya. Pilihan yang bahkan punya negasinya, yaitu tidak memilih.
Gue sepakat bahwa menikah adalah pencapaian, apabila yang menikah adalah sepasang orang dengan kelainan genetik yang divonis tidak bisa hidup lama, sepasang kekasih yang sempat terpisahkan oleh SARA, atau pasangan sejenis yang akhirnya direstui negara.
Makanya gue kagum sama mereka yang mudah menjadikan pernikahan sebagai patokan kesuksesan suatu individu, karena gue masih belum menemukan alur logikanya sampai bisa menuju ke kesimpulan tersebut. Kalian hebat sekali :)
Tapi ya sudahlah, setiap kepala punya caranya sendiri-sendiri dalam mendefinisikan pencapaian.
Gue akan menutup tulisan ini dengan nasihat nenek gue, sehari setelah gue diwisuda dokter;
“Kau ni nak jadi dokter tu lamo perjuangannyo. Dak mudah. Tekurus tekering. Kawen tu gampang. Selamo ini kau sekolah, bukan nak laju belaki. Amen nak sekedar jadi bini wong bae, dak usahlah payah-payah sekolah dokter. Kejar mimpi kau! Apo bae yang kau galak, kejar! Jangan berenti belajar. Cari duit yang banyak. Cari kawan baik-baik. Betino tu bukan nak jadi bini bae, jadi umak bae. Awas kau men belum apo-apo lah nak kawen!! Amen kau lah siap, ado bae jalannyo. Tenang bae”.
Silakan unduh subtitle di subscene.