Dikota ini, ditengah keramaian manusia berlalu Lalang. Aku menuliskan sebuah kata untuk menjadi pengingat diri sendiri, bahwa ternyata kesendirian tidak selamanya bernada sepi. Nyatanya banyak orang yang ternyata memilih sendiri, bukan karena tidak ada yang mau bersamanya, tapi karena mungkin saja belum ada yang benar benar mau diajak bersama. Ada yang tengah sibuk dengan dunianya masing masing.
Dibawah pohon di samping penjual kopi malam aku menuliskan bait bait kata ini. Ketika keramaian sama sekali tidak mengganggu pikiranku untuk terus mengingatmu. Akhir akhir ini kamu selalu saja memenuhi kepalaku. Salahkah? Aku juga manusia biasa yang mudah memikirkan sesuatu kan?
Β Disamping stadion kota aku duduk, menyeruput kopi yang aku beli dari seorang ibu ibu penjual. Ada banyak muda mudi yang sembari tadi berlalu Lalang. Entah mereka sudah menjadi pasangan secara resmi atau belum, aku tidak tau dan tidak peduli.
Aku ingat dulu ketika awal mula memutuskan untuk memilih. Pada permulaan langkah aku menjalani pilihanku, ada bimbang rasanya. Khawatir tidak seperti orang orang sebayaku, maksudku temen temen lainnya.
Namun entah kekuatan darimana yang membawaku senekat itu pada pilihanku. Untuk masa depan yang pasti tidak baik baik saja, pikirku kala itu.
Bismillah aku melangkah, kuletakan harap harapku pada langit langit. Kupasarhakan semuanya kepada pemilik sekenario kehidupan. Aku percaya, pada setiap langkah kebaikan pasti akan membawa kepada kebaikan lainnya.
Itu sekian tahun yang lalu, kini lagi lagi harus memilih, antara yang satu dengan lainnya. Pilihan yang tidak mudah dengan resiko yang tidak main main pastinya. Rasa rasanya semakin dewasa semakin sulit pada setiap derap langkah yang terayun. Seperti berjalan diatas sabana pasir yang membutuhkan tenaga lebih pada setiap langkahnya. Atau seperti medan gunung yang menukik tajam, membuat kaki pegal.
Namun ternyata banyak juga yang sama sama sedang melangkahkan kaki sepertiku. Sama sama bingung, sama sama kesulitan, bahkan ada yang pada akhirnya memilih berhenti saja, tidak melanjutkan perjalanan dan menetap pada nasibnya sekarang. Dan pastinya aku tidak akan sama seperti mereka.
Tatkala zona nyaman itu sangat menggiurkanku untuk terus bertahan disana, nyatanya aku enggan mendengarkannya. Bagiku menjalani kesenangan yang tidak sesuai harapan adalah kemunafikan dan kedustaan pada diri dan hati. Meski seiring berjalannya waktu mungkin aku akan memilih sesuatu yang lebih realistis, biarlah itu nanti saja, kini aku akan terus berambisi, setinggi dan sejauh mungkin.
Masa bodo dengan kata orang yang mengkerdilkan dan menganggap remeh kapasitas diri. Masa bodo juga pada setiap tatap dan sorot mata penuh dengki. Toh setiap dari kita sudah punya jalan dan takdirnya sendiri sendiri.