Living in Aceh: The People
Kondisi bencana kemarin bikin beberapa orang sampe ngomong ke gue, "oh wajar ya minta pisah". Antara miris sama marah hahahaha, ya karena Aceh punya semua kemampuan untuk itu sih sebenernya.
The people here, urusan baik gue acungin semua jempol yang gue punya, if I had more than 4 gue acungin juga semua. Tiada tanding!
Dulu gue belajar tentang urutan ukhuwah islam, (ini ngintip gugel wkwk saya ga apal)
1. Taaruf: Saling mengenal
2. Tafahum: Saling memahami
3. Ta’awun: Saling menolong/membantu (muncul dari tafahum)
4. Takaful: Saling menanggung/memberi rasa aman.
5. Itsar: Mendahulukan orang lain daripada diri sendiri (tingkatan tertinggi)
As someone who's been living here for 4 years (and more🤣🤌) mereka ini udah di level itsar sih. Kadang gue aneh, kok mau sih bantuin, kan ga dapet apa-apa. Ya walaupun oknum mah ada aja, anomali tu geser otak nya. Tapi normal nya mereka tingkat gotong royong nya emang tinggi banget.
Me five years ago itu orang yang percaya manusia tuh selalu ada udang di balik batu. Bahkan masuk kerja nguatin gue untuk semakin tidak mudah percaya sama orang. Tapi di saat yang sama, living here has always been a free therapy for me. Bahwa selalu ada orang baik, yang memang tidak mengharap apapun.
The people here, kadang sebelum gue minta tolong udah nanya duluan perlu dibantu apa. As orang jawa totok, gue praktis ga punya keluarga kan disini. Tapi entah kenapa gue berasa punya keluarga dan temen dimana-mana. I always find a way ketika butuh sesuatu, ofc dibantu orang-orang baik.
The people here, walaupun banyak tanya wkwkwk, but they are always willing to help! For almost everythings. Prinsip mereka tuh peumulia jame adat geutanyo(?) Artinya memuliakan tamu sudah menjadi adat kami, yang mana gue adalah tamu (dulu wkwk) sekarang udah dianggap warga sih harus nya. Contoh ya, misal bertamu ke rumah orang Aceh, makin banyak makan mereka makin seneng.
The people here, somehow bikin penyakit gaenakan gue itu jadi sembuh. They taught me that calling for help is a normal thing, we're only human after all. Bahwa kadang Allah emang datengin orang-orang untuk jadi penolong di hidup gue, dan dengan ada nya mereka nggak berarti gue lemah.
The people here are maybe one of my greatest blessings dari Allah buat gue sebagai anak rantau. Crossing paths with them, jadi milestone hidup yang tidak akan pernah gue lupakan.
Looking back, I realized that these people didn't just help me, they changed me. Aceh taught me that kindness doesn't need a reason, and family doesn't always need a bloodline.
Indeed, I am home🤗








