Beras Mahal. Bagimana?
Akhir-akhir ini harga beras semakin meningkat, hal ini menimbulkan riuh di kalangan masyarkat. Kenaikan harga bersa dinilai dapat membebani perekonomian sebagian masyarakat. Banyak masyarakat menyuarakan pendapatnya baik secara langsung maupun melalui media sosial. Disisi lain, petani beras tidak menginginkan harga beras turun begitu saja mengingat biaya produksi beras menurun mulai dari persiapan bibit, pengolahan lahan, pupuk, dan lain sebagainya. Terdapat dua paradigma berbeda antara petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen. Lantas bagaimana??
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Bapanas Budi Waryanto menyebutkan bahwa kenaikan harga beras disebabkan oleh perubahan iklim ekstrim, produksi beras menurun, dan produktivitas petani menurun.
Perubahan iklim merupakan peristiwa yang telah menjadi perhatian dunia internasional yang dapat menimbulkan anomali cuaca yang tidak normal sehingga dapat memicu terjadinya bencana-bencana hidrometeorologis yang merugikan petani seperti kekeringan, banjir, serta badai.
Produktivitas beras menurun disebabkan karena produktivitas petani yang menurun. Permasalahan dalam proses pembibitan, pengolahan lahan, hama penyakit, dan yang paling banyak mendapat perhatian adalah tingginya harga pupuk serta fluktuasi harga yang tidak stabil. Hal ini menyebabkan para petani hidup dalam perekonomian yang penuh ketidakpastian. Salah satu hal yang diiniginkan oleh petani yakni adanya peningkatan subsidi pupuk serta kestabilan harga. Dua hal ini yang akan meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia serta bisa lebih memikat generasi muda untuk menjadi petani milenial.


















