Cat with crocs

izzy's playlists!

@theartofmadeline
Sweet Seals For You, Always

Kaledo Art

Discoholic 🪩
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
AnasAbdin
cherry valley forever
Keni
todays bird
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear
styofa doing anything

roma★

★

PR's Tumblrdome
Claire Keane


seen from South Africa

seen from South Africa

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Germany

seen from United States
@akusore
Cat with crocs

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Your future begins with your next thought.”
— Bryant MCGill
Salah satunya screenshoot dari snapgram mba @tyasmomiji
Sekumpulan kontemplasi awal tahun
Tak ada yang bilang menjadi dewasa itu indah dan menjadi anak kecil itu selalu bahagia dengan rekah. Kalau menakar banyak keinginan dalam hidup dengan harapan semua hal akan berjalan sempurna, maka hanya akan lebih banyak menanamkan luka daripada menikmati setiap rute perjalanan dan ujiannya.
Ketika menyadari bahwa hidup seperti berjalan di dalam sebuah labirin takdir yang akan membawa kepada satu tujuan yang pasti, maka ambisi-ambisi, seakan memiliki batas untuk diperjuangkan dan beberapa mimpi seakan memiliki kata cukup hanya untuk dibayangkan saja. Karena beberapa hal yang terlalu dipaksa dengan keras kepala, jika bertabrakan dengan ekspektasi maka hanya akan membenamkan kita ke dalam kekecewaan yang panjang.
----
Menampilkan potongan-potongan hidup dalam ranah sosial, nampak seperti membiarkan orang lain mengunjungi diri tanpa permisi. Seakan-akan tampak menyenangkan atau sebenarnya haus akan rasa peduli? Menjadi hati-hati berhadapan dengan hasrat yang bergejolak tatkala ingin membagikan rasa senang yang sedang dicecap, apakah setiap hati yang melihat akan turut berucap syukur atau malah memantik rasa iri? Pun menjadi lebih tahu diri saat membagikan hal-hal yang membuat sedang sedih, apakah kepedulian sesaat dari orang lain akan menghapus rasa sedih itu? Bukankah Allah yang membuat kita tertawa ataupun menangis? Maka semoga dengan Allah sudah mengetahui segala isi hati itu sudah memberi rasa cukup.
---
Belajar bodoh amat dengan segala perspektif orang lain. Entah mengapa mengerdilkan diri dan seolah tak terlihat pada realita hidup jauh lebih menenangkan daripada menjadi sorotan padahal bukan pahlawan. Hidup rasanya menjadi lebih sesak tatkala mempertimbangkan apa pikiran orang lain tentang kita? Apakah kita sudah cukup baik di mata mereka? Lalu jika sudah baik, apakah kita akan mendapat medali juara? Semestinya segala niat diluruskan hanya untuk mengharap ridha Allah. Jika sudah dirasa benar dan tidak merugikan siapa-siapa dalam urusan pekerjaan, maka mau apa dikata orang, untuk apa kita pusingkan? Mari belajar kuat dan percaya kepada diri sendiri.
Jumat, 12 Januari 2023 10.59 wita
Bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Jika memang sudah rezeki yang digariskan untuk sang hamba, ia tidak akan pernah lari kemana. Begitupun sebaliknya, jika bukan rezeki kita, tidak mungkin kita akan mendapatkannya. Maka belajar bersyukurlah atas setiap karunia-Nya, saat Allah memberi apa yang kita pinta, pun bersabar saat Allah menangguhkan keinginan dan asa.
Bandung, 22 Januari 2024.
Secukupnya Saja
Bulan lalu, Alhamdulillah Allah izinkan saya menikah. Alhamdulillah teman-teman banyak sekali memberikan kado pernikahan (Barakallahu fiikum, semoga Allah ganti kebaikan kalian dengan sesuatu yang jauh lebih baik, aamiin).
Salah satu hadiah plus surat saya terima. Kami pernah bersama di masa perkuliahan dulu. Surat itu berisi ungkapan hati yang mereka pendam sejak mengetahui kabar pernikahan saya. Intinya mereka senang, namun ada rasa sedih yang menyeruak. Sedih karena satu per satu mulai menaiki anak tangga kehidupan. Satu per satu semakin beranjak dewasa. Satu per satu semakin punya prioritas masing-masing. Pernikahan seolah menarik satu per satu dari lingkaran yang dulu kami rasa erat sekali.
Itulah sebabnya mereka tidak terlalu menunjukkan euforia di hari bahagia itu.
Tidak ada yang salah dengan rasa. Ia hadir untuk melatih sabar dan syukur mengisi dada. Saat membaca surat mereka, saya semakin membenarkan pikiran saya selama ini. Bisa jadi kebahagiaan kita justru mengundang kesedihan untuk yang lain. Bisa jadi nikmat yang kita dapatkan adalah nikmat yang dinanti sebagian yang lain. Jangan sampai kebahagiaan kita menyebabkan orang lain bersedih dan futur nikmat.
Oleh karenanya, saya mencoba dan terus belajar insya Allah supaya tidak banyak expose keseharian di media sosial. Kita tidak tahu hati mana yang sedang lemah. Kita tidak tahu hati mana yang menjadi sedih. Pun kita tidak tahu hati mana yang menjadi futur nikmat karena terbujuk was-was syaithan.
Kita memang tidak bisa mengontrol bagaimana hati orang lain bekerja. Tapi, kita bisa mengontrol jemari untuk lebih mawas dan pilah-pilih atas hal apa saja yang ingin dibagikan. Bukankah memberikan kebahagiaan kepada saudara adalah sesuatu yang Allah senangi?. Lalu, bagaimana jika kita memberikan kesedihan kepada saudara kita?.
Mari kita belajar untuk tidak berlebih-lebihan dalam membagikan kebahagiaan kita di media sosial. Mari kita belajar secukupnya saja untuk share keseharian kita. Mari kita belajar menjaga hati saudara kita, supaya Allah yang menjaga hati kita untuk selalu layak di berikan hidayahNya.
.
Tulisan ini tak lain hanyalah pengingat untuk diri sendiri. Mohon diingatkan jika diri ini lalai dari apa yang pernah dituliskannya..
.
Semoga Allah menjaga dan meridhoi perbuatan kita semua..aamiin.
.
in frame: Kawah Ratu, Tangkuban Perahu.
.
©kikyamci

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perubahan Sudut Pandang
Saya ketika sebelum menikah dan setelah menikah, memiliki cara pandang yang berbeda terkait pernikahan. Sesuatu yang kemudian membuatku memberikan nasihat jika diminta, ke teman yang hendak menikah.
Lebih baik gagal di tengah-tengah proses daripada gagal di dalam pernikahan. Artinya, kalau kamu melihat ada potensi masalah yang besar antara kamu dan calon pasangan, lebih baik gak usah lanjut, dengan segala risikonya; batalin undangan meski udah kesebar, perkataan orang, dll. Membuat keputusan untuk membatalkan lamaran/pernikahan, konsekuensinya jauh lebih ringan daripada bercerai di tengah pernikahan. Karena cerai lebih ribet, tidak hanya urusan administrasinya yang melelahkan, belum lagi jika sudah ada anak dan berebut hak asuh, belum lagi dengan status sosial yang nanti akan dibawa (janda/duda), dll. Untuk teman-teman yang hendak menikah, jika memang belum siap. Lebih baik jangan. Jika kamu sudah siap dan belum menemukan yang menurutmu tepat untuk menjadi pasangan hidup, jangan mau menerima seadanya sekalipun mungkin usiamu bertambah tua. Jika kamu seorang muslim dan tahu kalau pernikahan itu bernilai setengah agama, jangan sampai yang setengah ini rusak karena kamu terlalu gegabah dan menggebu-gebu tapi tidak rasional ketika mau menikah. Sudah rusak setengah dan kita juga tidak bisa menjamin setengah agama lainnya juga baik. Jika kamu ingin menikah dengan seseorang, tanyakanlah segala sesuatu yang ingin kamu tanyakan sampai tak bersisa. Tak perlu sungkan untuk menanyakannya, tak perlu takut. Kalau kemudian dia merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutmu penting, berarti dia tidak menganggap penting apa yang bagimu penting. Dan jika dia tidak mau diajak duduk bersama membicarakannya, entah tentang finansial, keluarga, dan apapun yang menurutmu ingin diperjelas sebelum menikah, sementara dia tidak mau membicarakannya. Saranku, mending cari yang lain. Menikah dengan orang yang tidak bisa diajak berdiskusi dengan mudah itu akan jadi tantangan tersendiri. Kita tidak bisa menikah bermodal kepercayaan bahwa nanti dia akan berubah, itu mungkin untuk hal-hal yang tidak begitu krusial/prinsip. Tapi pada hal-hal yang prinsip, kita tidak bisa memakai cara pandang itu. Apalagi, sepanjang pernikahan nanti, kita akan membutuhkan banyak sekali diskusi. Saranku, pastikan pasanganmu adalah orang yang bisa diajak diskusi, bisa menerima masukan, terbuka terhadap kritik/saran, dan mau belajar. Dan pada akhirnya, kalau memang tidak siap. Lebih baik, gunakan energimu untuk bersiap. Kalau kamu masih memiliki ambisi yang ingin kamu dapatkan sebelum menikah, kejarlah. Kalau kamu ingin tetap menjadi dirimu sendiri ketika nanti sudah menikah, menikahlah dengan orang yang tepat. Tepat yang seperti apa? Kamu yang bisa merasakannya nanti. Nanti, ketika sudah ada orangnya yang akan menikah denganmu. Kita tidak bisa menuliskan ketetapan itu dalam barisan kriteria. Dan mungkin, tidak akan ada orang yang bisa memenuhi semua kriteria itu dalam satu waktu. Kalau sudah ada orangnya dengan segala kekurangannya. Kamu akan bisa merasakan, mana yang kiranya kamu bisa terima sebagai pasangan hidup dan mana yang tidak. 17 Maret 2021 | ©kurniawangunadi
Mylog : Pergi Melamar
Hari kemarin setahun lalu, aink pergi melamar.
Berangkat dari Bandung sama keluarga inti dan beberapa kerabat trus ketika nyampe majalengka, saudara-saudara mamah yang orang pribumi juga ikut mengiringi lamaran. Alhamdulillah lamaran diterima.
Kalo dipikir pake logika dan kondisi dompet saat itu, kok aink berani ngelamar? Dengan modal yang kata sebagian orang seadanya, aink maju ngelamar. Bukan karena aink nyepelein pernikahan sehingga bawa modal seadanya, tapi sebisa-bisa aink ngemodal harta ketika itu ya emang segitu.
Alhamdulillah, menjelang hari lamaran dan pernikahan semua kebutuhan yang di atas kertas masih kosong pendanaannya tiba-tiba cukup. Aink jadi menikah. Disini aink bilang tiba-tiba karena memang aink dan istri yang waktu itu masih calon memang ga punya dana yang mencukupi. Kami cuma siapin planning, butuh apa aja, acaranya gimana, cuma kayak gitu. Itu kami persiapkan dari awal pacaran sebelum tujuh bulan kemudian resmi menikah.
Ketika proses, satu persatu to-do-list mulai kami cicil. Kenalan sama keluarga inti, ramah tamah dengan keluarga besar, planning lamaran dan nikah, sampai minta restu sama wali. Semua dikebut tujuh bulan, dengan keyakinan Allah yang nanti menyiapkan dananya.
Nekat? Engga, kalo kata ustad Hanan, ini namanya Faith.
Ketika mengusahakan sesuatu yang baik karena Allah, modal utamanya bukan ikhtiar tapi keyakinan. Ikhtiar yang terbaik cuma kewajiban kita. Belum tentu berkorelasi dengan hasil untuk bisa dijadikan modal.
Selama proses, aink cukup stress. Sebagaimana lelaki pada umumnya yang hendak menikahi anak orang lain, aink selalu bertanya-tanya. Gimana nafkahinnya ntar, dapet darimana modal nikahnya, tinggal dimana ntar, kalo usaha ga lancar gimana dst,. dll,. wr.wb..
Ketika itu, istri yang masih calon selalu mengingatkan “Allah pasti nolong, kita ga akan dibiarin gitu aja. Sesusah apapun insya Allah ga akan ampe ga makan”. (ini nih calon istri idaman, daebak. Coba ditiru ya akhwat-akhwat).
Dan begitulah, ucapannya terbukti. Se-ga-punya-uang-gimana juga kita masih tetep bisa makan. Meskipun sebab-sebab rejeki yang kasat mata seperti bekerja dan berdagang hasilnya lagi ga bagus, rejeki tetap jalan terus. Sering banget di rumah tiba-tiba banyak makanan tanpa harus keluar uang.
Kayak minggu kemarin, istri pengen makan buah-buahan. Besoknya beli jambu batu sekilo (ini ikhtiarnya), besok-besoknya tiba-tiba datang alpukat mentega, dukuh, kedongdong, manggis dan pepaya. Yang diikhtiarin segimana, yang dikasih segimana. Ga meching emang.
Sama kayak lagi usaha. Uda nyoba ini itu, uda ikhtiar segala dicoba tapi kalo belum waktunya rejeki turun ya omset segitu-gitu aja. Tapi ketika ga diusahain, rejeki malah dateng.
Jangan berpikiran sempit dengan menyimpulkan kalo rejeki datang dengan meninggalkan ikhtiar. Rejeki kapan turun dan segimana banyaknya harus diyakini terserah Allah. Suka-suka Allah. Manusia ikhtiar sebagai pemenuhan kewajiban dan ladang amal.
Bisa aja ada orang ga kerja tapi bisa hidup 80 tahun tanpa kekurangan makanan. Tapi nanti di hari akhir dia ga punya pahala dari kerja keras mencari penghidupan yang halal di dunia. Padahal kata nabi ada dosa yang ga bisa dihapus kecuali dengan bekerja keras mencari nafkah.
Yakin dan paham konsep ini ga bisa sekali jadi. Aink pun masih terbata-bata dalam memahami ini. Tapi sekalinya paham betul, insyaAllah ujian hidup ga akan jadi beban. Kaya miskin nikmatin aja.
Sama halnya dengan menikah,.
Kalau memang uda punya keinginan yang baik dan mau menjalani prosesnya, InsyaAllah dibantu. Aink ga bisa ngasi banyak tips ke temen-temen aink yang belum dan pengen nikah. Cuy, perihal keyakinan ga bisa disampaikan semata via lisan.
Banyak kok yang lebih berada dari aink menunda nikah karena merasa belum cukup modal meski uda ada calon. Atau uda punya modal tapi belum juga nemu calon. Kebanyakan menetapkan ‘standar’ sendiri yang cenderung menyulitkan dan belum tentu berdampak besar ke kehidupan pasca pernikahan. Satu tips dari aink, sebaik apa pun orang punya persiapan sebelum nikah, ujian pasca nikah akan selalu ada.
Ada yang mesti punya kerjaan tetap baru mau nikah. Eh, ternyata baru beberapa lama nikah di-PHK. Ada yang ga punya kerjaan tetap, serabutan dan masih kuliah, trus nikah eh sekarang uda punya anak dua dan hidup tenang.
Planning memang mesti ada. Wajib. Tapi menggantungkan nasib sama sebab-sebab duniawi melebihi rasa percaya kita sama Allah itu yang ga boleh.
Throwback setahun lalu ketika mau nikah. Kalo dipikir-pikir, modal utama aink menikah memang bukan harta benda. Tapi, kerelaan untuk diuji dan kesiapan untuk berbaik sangka pada Allah. Modal yang ga aink kumpulin sendiri tapi dirintis dan dikumpulin bareng-bareng sama calon istri yang sekarang uda jadi istri.
Perasaan Laki-Laki
Tidak mudah untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan laki-laki saat ia merasakan cinta. Yang tahu, tentu hanya Tuhan dan dirinya sendiri.
Kamu mungkin bisa menemukan dan membaca tulisannya yang berserakan, juga mengenal wawasannya lewat beberapa obrolan. Tapi untuk urusan perasaan, sebagian laki-laki memilih untuk diam terlebih dahulu, tidak membagikannya pada siapapun dengan mudahnya. Memilih untuk berhati-hati diawal, membaca berbagai macam pertanda, sambil mengenali dan memastikan perasaannya sendiri.
Sulit bagi laki-laki pada umumnya untuk diminta untuk setia tanpa melalui komitmen apa-apa. Apalagi hanya lewat janji lisan dan kesepakatan biasa yang bisa menguap dalam sekejap.
Kalau kamu ingin tahu seperti apa bentuk cinta laki-laki yang sebenarnya, itu ada pada ayahmu. Yang cintanya tidak perlu lagi kamu ragu, yang tidak perlu lagi kamu pertanyakan lagi seberapa besar kesungguhannya. Karena janjinya pada dirinya sendiri yang tidak pernah kamu tahu, sudah diwujudkan seluruhnya lewat tanggungjawabnya.
Kamu akan tahu bagaimana sebenarnya perasaan laki-laki jika sudah jatuh cinta, tidak perlu sibuk menebak-nebak, ia akan datang jika memang sudah sampai waktunya. Entah datangnya itu untukmu, atau mungkin yang lain.
Surabaya, Tengah April | Danny Dzul Fikri
* Tulisan dan kutipan lainnya bisa kalian tap di link ini : Tulisan - Kutipan
Harusnya, ketika Allaah menganugerahkan kita telah menikah dan berumah tangga. Bukan hanya pengeluaran yang tak penting yang semakin banyak. Namun yang semakin kita incar adalah sedekahnya, ibadahnya, bahkan doanya.
Karena rumah tangga seorang mukmin, bukan rumah tangga yang seperti buih di lautan. Banyak, namun tak berbekas. Rumah tangganyaa seperti air terjun. Deras mengalirkan air ke berbagai tujuan. Mengalir kepada yang membutuhkan.
Rumah tangga 2 orang mukmin adalah rumah tangga peradaban. Bukan hanya rumah tangga biasa.
Semoga setelah Allaah karuniakan kita rumah di dunia, Allaah mampukan pula kita membangun tangga untuk ke surga, dengan ibadah kita, sedekah kita, syukur dan sabar kita.
Bandung. 2021

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ada yang tidak memamerkan kebahagiaannya di media sosial karena memang dia tak memiliki sesuatu yang 'wah' untuk dishare.
Ada yang tak memamerkannya karena dia merasa hal yang ia miliki tak sekeren teman-teman medsosnya.
Ada yang tidak pamer karena menjaga perasaan orang lain.
Ada pula yang tidak pamer karena dia paham bahwasanya dia tidak butuh pengakuan orang lain untuk hidup bahagia.
-------------------------------------------
"Sesungguhnya kebahagiaan itu letaknya di hati, dan tak akan pernah tercapai kebahagiaan hakiki bagi mereka yang tak memiliki Iman, takwa dan rasa qona'ah di dalam hati."
📝 Ust. Boris Tanesia
Note to myself | 14/12/20 01.16
“Be loyal to yourself first.”
—
Bagian paling mengerikan tuh ketika membandingkan diri dengan orang lain terus merasa lebih baik dari orang lain.
لن يفهمك إلا إثنان ، أحدهم مرّ في نفس حالتك ، وأخر يحبك جدًا.
Hanya dua orang yang akan memahamimu, yang pertama adalah orang yang berada dalam kondisi yang sama denganmu, dan yang kedua adalah orang yang sangat mencintaimu.
Semakin dipuji semakin tahu diri
Semakin sadar kalau diri nyatanya ga mampu untuk melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Sulitnya perjalanan, beratnya rintangan, banyaknya cobaan, menumpuknya beban yang menjelma harapan, hanya kita yang paham, yang meniti perjalanannya hingga bisa sampai tujuan, bisa diliat orang dengan riuh tepuk tangan.
Nyatanya, dalam perjalanan itu banyak yang dikorbankan, banyak yang dilepaskan, banyak yang diikhlaskan, dan lebih lebih lebih banyak lagi yang dimintakan. Iya, minta pertolongan, minta kekuatan, minta kemampuan, minta kesanggupan, kepada Sang Raja dari semua raja, Yang Maha Berkehendak. Karena kita sadar, emang ga bisa apa-apa, benar-benar ga berdaya, tapi Allah dengan segala rahmat dan cinta-Nya berkenan merespon doa-doa hamba-Nya, benar-benar paham kesulitan hamba-Nya, dan mengkaruniakan dua kali lipat kemudahan di balik kesulitan itu. Allah yang kasih pintu saat semua jalan rasanya buntu. Allah yang kasih cahaya saat semua rasanya pekat gulita. Allah yang kasih tenaga saat rasanya udah ga sanggup dan mau menyerah aja. Manusia benar-benar cuma bisa ikhtiar semaksimalnya dan terus memelas lewat doa. Betul memang kata ulama dan ustad dalam ceramahnya, setidak-jelas apapun keadaannya, semustahil dan setidak-mungkin apapun, kalau Allah sudah berkehendak ga ada yang ga mungkin, barang setitik pun. Perjalanan berat ga begitu terasa ketika dijalani dengan keyakinan akan pertolongan Allah, tiba-tiba udah sampai, dan semua ketakutan, kecemasan, keputus-asaan, keraguan yang sempet membelenggu langkah seperti bersembunyi dan menguap begitu aja. Berganti dengan peluh kebanggan dan 'ketidakpercayaan' yang melahirkan tepuk tangan juga beragam pujian dari yang menyaksikan kemenangan.
Semakin dipuji benar-benar semakin sadar, bahwa diri ini ga ada apa-apanya, tanpa Allah. Juga semakin yakin, bahwa pertolongan Allah itu nyata, bisa dijemput dengan kesabaran dan keyakinan.
فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۙ
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," (QS. Al-Insyirah : 5).
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۗ
"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah : 6).
Bukan kita yang hebat, tapi Allah yang memampukan, maka seharusnya ga ada yang boleh disombongkan, justru harus banyak direnungkan. Coba ingat-ingat, berapa banyak hal berat yang akhirnya bisa terlewati, dan kamu tidak pernah membayangkannya sama sekali?
-biru-mudaa

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Seringkali kita berdo'a terburu-buru sembari memikirkan cara Allah mengijabah do'a kita. Padahal Allah punya banyak cara yang tidak pernah kita pikirkan.
Kita sibuk mengatur Allah.
Bisajadi.
Berdo'a itu; memuji, sholawat, lemah lembut, istighfar, merendah dan berharap.
Semua itu pelan, khusyuk, tunduk, beradab.
Kata Umar bin khattab; Aku khawatir bukan karena tidak diijabahnya do'aku melainkan khawatir tidak nikmatnya lagi berdo'a pada Rabbku.
©insjourney
“Perempuan itu ketika marah justru ia akan diam. Semakin dalam lukanya ia akan dingin, kaku dan semakin membisu. Bukan karena tak memaafkan. Tapi lebih kepada ia takut menyakiti lebih dalam. Ia memeluk luka dan kesakitannya sendiri, ia telan sendiri semua rasa pilunya.”
—
kata Bapak, dibalik diamnya seorang perempuan, ia hanya ingin waktumu yang lebih lama dari biasanya; hanya ingin perhatianmu yang lebih hangat dari sebelumnya. Jangan malah didiemin-apalagi dicuekin, dia pasti tidak akan suka, dia pasti akan sangat membeku, dia pasti akan sangat terluka. (via andromedanisa)
Perempuan itu ketika marah justru ia akan diam. perempuan yang paham akan dirinya, dia akan riuh dalam doa. medoakan yang baik-baik, menjadi pendoa yang terbaik. ia tak akan rapuh namun ia akan memilih diam dan riuh doanya dilangit. demikianlah perempuan. ah, akupun seorang perempuan..:”))