Bab 2
Nafas ku terengah ketika aku terbangun tiba-tiba. Aku mendengar suara jeritan itu lagi.
Aku benar-benar takut, ku lihat Zea menggeliat, mungkin tidurnya terusik oleh suara jeritan itu. Lekas aku memeluknya, agar dia kembali tertidur.
Ingin rasanya menghubungi Mas Zul, agar dia pulang atau berkeliling ke sekitar rumah kami. Tapi ponselku tengah aku charger di meja rias.
Aku tidak bisa bangun meninggalkan Zea, lagi pula, aku sangat takut meski hanya beranjak sedikit dari ranjang.
"Mas, tolong pulanglah," batinku. Berharap suara hati ku ini sampai pada suamiku.
"Aaaaaaaaakh..."
Suara jeritan itu semakin jelas terdengar, membuat aku memejamkan mata dengan erat. Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada tetanggaku itu?
Tapi rasa takut ku lebih besar, aku memilih diam dari pada mencari tahu.
Ini sangat menganggu, aku ingin melapor Pak RT, tapi aku tidak mempunyai bukti apapun. Jika hanya melapor tanpa bukti, pak RT pasti tidak akan percaya.
Besok, akan ku tanyakan pada Bu Rika, pasti Bu Rika juga mendengarnya.
Semakin lama, suara jeritan itu menghilang. Dan kini terdengar suara tawa lalu sesekali terdengar suara seperti dua orang yang sedang berbincang-bincang.
Apa yang sebenarnya sedang tetanggaku itu lakukan? Kenapa suara jeritannya terdengar sangat kencang dan menakutkan. Lalu sekarang justru terdengar suara tawanya.
"Jangan-jangan dia gila," ucapku tanpa sadar. Aku bergidik, jika benar dia gila, itu lebih menakutkan lagi. Bagaimana jika nanti dia mengamuk atau menyerang ku dan Zea?
Ya Tuhan, lindungi kami. Dengan perasaan tak menentu, aku terus berdoa, sampai aku tenang kembali dan Zea juga tertidur pulas.
Tapi tetap saja, mataku tidak mau tertidur lagi. Ku ambil buku diary yang ku simpan di bawah bantal, buku yang selalu menjadi temanku selain Zea.
Di buku ini, selain untuk mencurahkan isi hati, aku gunakan juga untuk menyalurkan hobi. Hobi ku menulis, aku sering menuangkan beberapa rangkaian cerita di buku itu.
Sampai akhirnya, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 4 pagi. Biasanya Mas Zul akan pulang pukul Tiga, tapi kali ini sampai pukul Empat dia belum juga pulang.
Kuat sekali tubuhnya, padahal pekerjaannya di kantor juga berat, tapi dia masih bisa begadang lalu di lanjutkan bekerja di pagi harinya.
Sembari menunggu Mas Zul, ku putuskan untuk menyiapkan bahan-bahan masakan untuk ku masak sarapan nanti.
***
"Kok tumben pulangnya jam segini?' tanyaku pada Mas Zul seraya membuka pintu lebar-lebar. Ini sudah pupuk Lima lagi, dan dia baru muncul.
"Iya, keasikan main gap leh tadi, gak kerasa udah subuh aja," jawabnya.
Aku manggut-manggut lalu mengikutinya pergi ke kamar. Pintu ku kunci kembali meski ini sudah pagi, berjaga-jaga jika ada seseorang yang berniat jahat. Karena kejahatan terjadi bukan karena ada niat saja, tapi juga karena ada kesempatan.
"Oiya, Rin. Hari ini aku ada kerjaan," katanya lagi saat kami tiba di kamar. Mas Zul menghampiri Zea yang masih terlelap, meng*cup keningnya sekilas lalu menatapku, "Kerjaan mendadak," ucapnya.
"Katanya hari ini libur, Mas?" Protesku setengah merajuk. Aku merasa akhir-akhir ini kami jarang sekali menghabiskan waktu bersama.
"Iya, tadinya memang libur. Tapi tadi Produser menghubungi, Mas. Katanya Mas harus masuk karena ada anggaran tidak terduga yang harus Mas data ulang," terangnya.
Aku menghela nafas panjang, bahkan di hari Minggu pun dia harus bekerja. Tapi aku juga tak boleh egois, jika menyangkut pekerjaan, aku harus legowo dan menjadi istri yang pengertian. Lagi pula, dia bekerja juga untuk aku dan Zea.
"Jangan cemberut, Mas janji Minggu depan Mas ajak kamu dan Zea ke gala premiere film terbaru. Pasti banyak artis-artis, kamu akan senang Rin," ucapnya menghiburku.
Seketika aku tersenyum, "Mas janji?"
Mas Zul mengangguk, "Iya, Mas janji. Jadi jangan cemberut lagi."
Aku mengangguk senang, hanya seperti itu saja aku sudah sangat bahagia.
"Tapi kamu harus tampil menarik, jangan malu-maluin. Pakai baju bagus dan berdandan lah sedikit," ucapnya. Ia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Tanpa dia tahu, kata-katanya sangat menusuk hatiku. Selalu saja seperti itu, bahkan terkadang dia tak jadi mengajak ku pergi hanya karena menurut dia aku tak menarik dan berpenampilan biasa saja.
Apa dia tak sadar, setelah menikah dengannya apalagi mempunyai anak, Dia dan Zea yang menjadi prioritas utamaku. Hingga aku lupa bagaimana caranya memanjakan diri, merawat diri dan mempercantik diri.
JERITAN TETANGGA DI MALAM HARI - Savana Alifa
Setiap malam tetangga ku menjerit-jerit.
Ternyata dia ...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/16e05488-19c2-4119-ab8c-8cb38056ef48
Ayo bergabung dan subscribe buku JERITAN TETANGGA DI MALAM HARI agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasi













