Halo, dengan Akogareno Kimi di sini.
Jujur, usiaku +20. Orang tua, khususnya ibu (ayah sudah almarhum 🙏), sangat sangat sangat ingin aku berkeluarga. Sudah banyak 'orang bertanya' akan kesediaan aku, tapi aku selalu menolak.
Apa... aku terlihat sombong?
Aku menolak dengan baik-baik.
Baru ditanya, kok, bukan lamaran.
Di daerahku tinggal memang seperti itu. Kalau ada anak gadis yang lepas sekolah/kuliah, pasti akan ditanya 'apa kamu mau dikenalkan dengan seseorang?' kira-kira begitu.
Aku menolak karena... dulu aku masih kuliah. Aku mau fokus menamatkan pendidikan. Lulus kuliah aku terus mencari pekerjaan tetap, walau sampai sekarang sangat susah menggapai harapan tersebut.
Yaah, memang kepemimpinan MulyoN0 makin susah cari pekerjaan, ya? Apa itu kartu pintar? Mana lowongan? Janjinya emang selambat caranya bicara, gak sampai-sampai, banyak jeda! Begitulah nasib kita.
Aku tahu aku gak sendiri. Apa salahnya coba melakukan pendekatan dengan seseorang sambil mencari pekerjaan?
Aku... orangnya tidak bisa fokus banyak hal. Satu otak ini hanya fokus satu tujuan. Dibilang begitu pun otak aku selalu bercabang sampai seratus, tidak, mungkin bisa sampai ribuan cabang sebanyak neuron di otak. Satu kondisi nantinya akan banyak 'akibat' yang akan terjadi di masa depan. Cara berpikirku seperti itu.
Takutnya... karena aku masih fokus menggapai impian, aku yang memang tidak aktif melakukan 'telpon' dan 'chat' pasti dianggap sombong, atau sebaliknya aku sendiri yang dilupakan. Lebih baik daripada hubungan menggantung, bukan pacar~bukan tunangan, akan lebih baik menolak dari awal?
Aku tidak masalah dengan cara berpikir orang lain terhadapku. Aku tahu pasti di antara kalian yang baca curhatanku merasa geram dan sebal dengan sifatku. Namun, inilah aku, dan aku lebih tahu diriku daripada orang lain.
Aku juga punya impian dan harga diri.
Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya tema dekat. Akan karena itu... aku ingin berusaha agar aku setidaknya memiliki satu hal yang bisa kupegang---jati diri yang bisa kubanggakan. Pekerjaan, tentu saja. Aku tidak mau nantinya menikah dengan modal saudara. Lalu, andai aku menikah, siapa yang harus aku undang? Sejak dulu aku tidak pernah main ke rumah teman, tidak bisa pakai motor (tidak punya juga), terus bagaimana caraku mengundang 'teman'? Aku juga kurang aktif di sosial media, rasanya tidak afdol sekedar undang lewat chat. Freak, rasanya.
Lain jika aku bekerja. Aku bisa mengundang teman-teman sepekerjaan denganku. Mungkin jumlahnya bisa saja lebih sedikit daripada anggota grup alumni, tapi tidak mengapa karena aku 'sangat mengenal' mereka (karena sudah bertemu setiap hari). Aku bisa menyambut dengan senyuman akrab, bukan senyuman bisnis!
Apa sampai di sini kalian masih anggap aku sombong? Freak? Terlalu ngeyel?
Well, I'm not Uruha, so maybe you can fix me.
Your mind is the one which fixed when meet me. And your soul. Clean.
Aku... mungkin juga tipe orang yang suka 'menguji' hati seseorang.
Aku mogok kuliah, ortu gak tahu hal tersebut. Alasannya... karena nilaiku hampir DO. Di bawah dua, geis. Jurusannya apa? Sistem Informasi. Tahu sendiri, dosen teknik itu pelit kasih nilai... atau sengaja bikin tugas di luar pelajaran. Harusnya aku berlepas diri pas semester dua, tapi mengingat biaya kuliah gede banget waktu itu, aku coba bertahan.
"Udah tahu jurusannya susah, kenapa masuk?"
Dulu aku menyangka SI bisa aja ada hubungan sama animasi dan game. Ternyata... jauh banget di kampus aku itu. Lalu, pilihan pertamaku itu Kesehatan Masyarakat. Bagiku agak sial sih, karena kuota KesMas penuh, aku terdampar ke SI. Andai ayah patahin aku buat gak ambil kuliah itu karena biayanya gede, aku bakal rela, aku juga ngerti dari mana dapat uang sebanyak itu? Tapi kakak ayah bantu, yaa ya oke, aku harus semangat.
Balik ke soal mogok kuliah...
Aku punya tiga teman deket banget di kampus. Anehnya apa, geis? Mereka gak nanyain kenapa aku udah seminggu gak masuk kuliah!
Dua minggu. Tiga minggu. Mereka gak nanyain kabar aku.
Setelah ujian semester X selesai, aku pulang. Aku gak bilang apa-apa dulu ke ortu karena 'beban'.
Aku baru bilang pas dikasih uang semester. Aku bilang mau berhenti. Aku benar-benar capek. Aku ngumpet di kamar. Istilahnya hikikomori. Gak salah lagi. Ortu aku juga malu sama aku, juga biarin aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Tapi aku masih berusaha cari kegiatan lain. Aku ingin les Bahasa Jepang. Tapi sayangnya... di kotaku sama sekali tidak ada. Di kota besar mungkin ada, tapi saat aku cari susssah banget ketemunya. Sayang, aku dulu tidak menemukan informasi kerja magang ke Jepang. Dulu... emang susah banget cari kegiatan di luar instansi pendidikan. Begitulah kotaku. Sedih, ya? Atau memang jalanku saat itu memang sengaja digariskan demikian oleh Tuhan karena tidak bicara jujur sama orang tua akan ketidakmampuanku menamatkan pendidikan.
Temen-temen dekat aku saat kuliah cuma bisa 'ngerti' tanpa kasih semangat atau narik aku balik buat kuliah. Ortu aku juga kelihatan 'membiarkan' karena aku susah ungkapin perasaan. Aku tengah diuji, tapi sebaliknya juga aku tengah menguji bagaimana perasaan orang lain terhadapku. Hasilnya aku hanya bisa bilang 'oh, begitu'.
Aku yang sudah DO harusnya udah gak ada hubungan lagi sama komunitas kampus, kan? Salah satu temanku masa chat aku begini:
'Coba lihat grup Line jurusan'
Penasaran, aku yang udah keluar dari grup, coba lagi masuk, dan ternyata gak dikunci sama sekali itu grup! Heran. Dan salah satu confess terbaru begini:
'(nama aku) wibu blablabla (pokoknya cukup mengena di hati aku).' confess dari (nama salah satu teman dekatku).
Diikuti komentar anak-anak grup yang menertawakanku.
Aku langsung komentar 'tolong hapus! kalau mau kritik, langsung ke orangnya'.
Aku cabut dari grup itu kemudian.
Teman yang melaporkan tadi bilang confess itu udah dihapus sama admin. Mereka juga gak tahu siapa yang buat. Tapi apa? Mereka gak minta maaf ke aku. Kalau benar gak suka sama aku, bilang aja dari awal, kan? Kalau memang ada oknum yang iseng, untuk apa buat pertemanan kami pecah belah setelah aku yang udah keluar ini? Gak ada kerjaan.
Tapi ya, walau begitu, aku gak pernah mengkritik mereka, gak melanjutkan permasalahan. "Oh, gak tahu? Orang iseng, ya udah, gapapa. Lagian aku memang wibu, kok.'
Kami tetap berteman. Kami tetap saling chat, walau makin lama semakin jarang, malah bisa 2-3 kali dalam setahun. I'm not used to chatting first, but not mean I won't reply, if I online I reply as soon as poseburu.
Aku gak sengaja menguji seseorang.
Orang yang mau diperkenalkan padaku.
Aku udah kekeuh gak mau dekat dulu dengan siapa pun. Namun aku terus disudutkan ibu dan kakak, 'terpaksa' aku kasih nomor telepon aku.
Kalian tahu kapan orang itu menelepon?
Jam setengah sepuluh saat aku tidur!
Seminggu kemudian dia nyoba telepon tapi kubiarkan karena aku tidak suka menelepon! Alasan introvert, iya, juga aku punya telinga yang sangat sensitif! Akhirnya dia chat. Kuladeni. Dia nanya nama, tempat tinggal, dan... foto! Hah! Nice! Anak introvert semakin resah! Mana ada aku punya foto selfie, kebanyakan foto kucing, skrinsut webtoon, sama ilustrasi Suisei! Hei!
Aku mencoba bilang baik-baik kalau aku belum bisa dekat dengan seseorang, mau fokus sama target. Ngeyel sih emang aku, udah tahu dari awal gak bisa buka hati buat orang lain, tapi kasih juga nomor aku ke orang lain.
Dia pasti kecewa. Pasti. Tapi lebih baik di awal aku bilang, kan, daripada ngegantungin perasaan orang lain. Aku juga minta ke dia buat bilang baik-baik sama ortunya, aku juga gitu sama ortu aku. Aslinya aku tetap diam sama ibu, bilang 'komunikasi biasa aja kok, bu, sama dia', sebenarnya buat ulur waktu aja sampai aku merasa bisa bilang ke ibu kalau aku udah 'nolak' halus buat hubungan serius.
Nyatanya... mungkin dia udah ngobrol sama ortunya baik-baik, atau tidak terlalu 'baik', sampai ortunya kesal ke mak comblang (perantaranya malah ortu temen kecil aku), dan si mak comblang ini ngomong apa adanya...
'sok cakep banget tu anak sampai nolak anak aku' kira-kira bahasa Indonesianya begitu.
Emaknya aja ngomong gitu, aku malah bersyukur 'alhamdulillah udah nolak'.
Status whatsapp ibunya itu (dia hubungi aku pakai nomor ibunya, buset! dan aku baru nyadar pas ibunya salah kirim foto ke aku) seorang guru, TAPI kok guru cara ngomongnya kasar, sih?
Kan masih bisa pakai kata yang bijak, kan? Apalagi seorang guru yang berpendidikan tinggi. Yah, bisa juga beliau emosi karena ada suatu hal yang bikin hatinya keruh, jadi pas tahu obrolan kami di chat, dia mengeluarkan kata yang tidak ramah.
Atau bisa jadi mak comblang ini mendramatisasikan ucapan ortu doi. Auk.
Yah, aku juga udah berdoa sama Tuhan. Hatiku tidak resah saat menolak. Aku yakin karena jika suatu hal dilakukan terpaksa lagi, karena tuntutan ortu, aku tidak bahagia lagi. Seperti kuliah di SI dulu (sebenarnya ortu gak peduli jurusannya, hanya melihat universitasnya). Aku 'senang' karena dibolehkan lanjut kuliah di UT dengan jurusan sastra Inggris. Nilainya juga memuaskan. Karena itu... aku ingin mempertahankan 'space'-ku ini agar aku tidak akan menyesal di kemudian hari.
Ada sepupuku yang bilang menyesal karena menikah terlambat. Padahal beliau bahagia dengan suami serta keluarganya sekarang. Bagiku itu kalimat 'tidak bersyukur'. Rejekinya dia memang 'saat itu' dengan suaminya sekarang. Tidak seharusnya bilang menyesal nikah terlambat. Andai ia menikah lebih cepat dari kenyataan, belum tentu dengan suami yang sekarang.
Karena itu... aku tidak akan menyesal dengan keputusanku. Apa yang lepas, apa yang akan menjadi milikku, di suatu waktu, itulah takdirku, dan aku akan mensyukurinya, bukan menyesali kenapa datang terlambat.
Dan... aku juga sadar, aku masih banyak kekurangan, karena itu aku belum bisa menjadi seorang pendamping, tempat bersandar seseorang, tempat curhat seseorang, karena... harus saling melengkapi, bukan?
Aku harus memperbaiki diri, hati, iman, pengetahuan, dan... tabungan!
Ya Tuhan... bantu aku diterima di HoloID!