“Sebab dunia hanyalah senda gurau, demikian Tuhan-ku berfirman. Apalah guna tangis-tangis itu. Bergembiralah saja di hidup yang sebentar ini. Boleh sedih, asalkan dua; dalam sepi dan sendiri. Lain itu, jangan. Kita mesti tunjukkan pada seluruh dunia bahwa kita adalah manusia sekuat karang yang hanya bisa rapuh ketika sujud.”
Absurditya Eko P - Sabdameru.
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.“ (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Berbahagialah secukupnya dan bersedihlah sewajarnya.
Seperti dicontohkan oleh Salafus Saleh mengenai menyembunyikan amal. Salah satunya menyembunyikan tangisan.
Sufyan Ats Tsauri mengatakan,
“Tangisan itu ada sepuluh bagian. Sembilan bagian biasanya untuk selain Allah (tidak ikhlas) dan satu bagian saja yang biasa untuk Allah. Jika ada satu tangisan saja dilakukan dalam sekali setahun (ikhlas) karena Allah, maka itu pun masih banyak.”
Ditambahkan oleh Mu’awiyah bin Qurroh bahwa, “Tangisan dalam hati lebih baik daripada tangisan air mata.”
P.S: cukup bahagia yang dibagi, selebihnya simpan sendiri. La Tahzan, Innallaha Ma’ana :)
It’s okay not to be okay, kamu hanya manusia biasa. Namun, penting menggarisbawahi bahwa tidak semua orang berhak tahu. Bagikan kepada mereka yang memang bisa kamu percaya.
“Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47)
Jika 1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia maka jika umur manusia (rata-rata hanya mencapai 60-70 tahun) maka ia hanya memiliki 1,5 jam saja di dunia. Jika kurang dari itu maka lebih sedikit lagi :’(
Dan modal manusia di dunia hanya waktu,
“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam, dia berkata: ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri)’.”
“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.”
“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus: 90-92)
Pengakuan Islam mengandung iman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun pernyataan iman tersebut sangat terlambat dan tidak diterima oleh Allah. Sebagaimana dalam (QS. Ghafir: 84-85),
“Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, ‘Kami hanya beriman kepada Allah saja dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah’.”
“Maka iman mereka ketika mereka telah melihat azab Kami tidak berguna lagi bagi mereka. Itulah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir.”
Tidak ada manfaatnya lagi jika azab Allah telah datang dan pintu tobat telah tertutup.
Iman yang dimiliki oleh seseorang yang beriman kepada Allah dalam kehidupan dunia yang sementara ini menjadikan pikiran dan hatinya senantiasa merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya sehingga ia merasa bahwa hanya dengan rahmat dan kehendak-Nya ia hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Nya ia mati, dan hanya kepada-Nyalah kembali (makhluk setelah dibangkitkan). Jika ia melakukan kesalahan maka ia bersegera untuk bertobat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641)
Dikatakan oleh Haani’ Maula Ustman radhiyallahu ‘anhu,
“Utsman jika berada di suatu kuburan, ia menangis sampai membasahi jenggotnya. Dikatakan kepadanya, ‘Disebutkan surga dan neraka engkau tidak menangis, tetapi engkau menangis karena ini?’. Beliau berkata, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama dari beberapa persinggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat maka tidaklah datang setelahnya kecuali lebih berat’.“ (HR. At-Tirmidzi no. 2308, dihasankan oleh Al-Albani dalam sahih At-Tirmidzi no. 1878)
Sebagaimana kamu selalu beranggapan punya hari esok, padahal belum tentu. Untuk itu, geser fokusmu.
Berbahagialah secukupnya dan bersedihlah sewajarnya :)