Sepanjang jalan ini tak pernah sepi dari peziarah, jika masuk lewat jalan ini, pintu pertama masuk akan dihadapkan pada bangunan Klenteng di sebelah kanan Jalan, samping kirinya adalah taman yang sekarang juga digunakan untuk pos ojeg yang cukup terorganisir, rapi. Lewat jalan ini jadi ingat Jalan di Misfalah, Mekah, toko-toko yang menjual barang-barang asli dari Jazirah Arab berjejer di kiri kanan jalan, mulai dari kurma, parfum, baju gamis, kopiah, tasbih kokka dan lainnya, bahkan cara nulisnya pun ala-ala Arab gaya bahasanya (bukan tulisannya) Tapi, soal keberagamaan jangan ditanya, lihat bangunan di depan sana, Menara Mesjid dengan arsitek seperti candi, nggak pakai kubah ala Timur Tengah. Di kota ini juga jarang ditemui soto sapi, hampir 98% soto kerbau, karena konon Sunan Kudus menghimbau agar tidak memotong sapi karena menghormati ummat lain (hindu, mungkin) yang tidak memperbolehkan menyembelih sapi. Sampai sekarang hal itu masih diteruskan. Saya yaqin Sunan Kudus (Syaikh Jaβfar Ash-Shodiq), orang βarif dan βalim, jadi saya berziarah ke situ, agar secara lebih dekat mengetahui secara fisik atas peninggalan bangunannya serta budayanya. Secara ruhani, untuk mengharap kepada Alloh agar selalu ingat dengan kematian, dan bisa berharap termasuk dalam golongan orang yang mencintai waliyullah dan orang-orang sholih... aamiiin lahu al fatihah (at Menara Kudus Mosque)