Pusing
Keadaan yang marak belakangan ini adalah topik tentang intoleran. Mau berbagi sedikit perspektif saya sebagai yang berpredikat pelajar. semoga tulisan ini bisa berbekas di siapapun, kalangan manapun. Pengen yang bacanya gak ada unsur keberpihakan sih sebenernya cuman soklah bebas.
Sempet mumet mikirin kenapa ya manusia ini semakin dewasa semakin bias dengan perbuatan toleransi, gotong royong, kepedulian, atau sebagainya. Cita-cita sih mau jadi orang gak peduli tapi pasti butuh kepedulian. aduh pusing.
Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya gak asing adanya intoleran yang bener-bener marak. kenapa? dari pendidikan sekolah dasar, saya sendiri diajakarkan untuk melihat teman satu kelas adalah pesaing melewati ranking yang harus dicapai tanpa mengedepankan fakta bahwa manusia memiliki keahlian yang berbeda.
Jika memang pendidikan berhasil mengedepankan etika dan norma yang ada dalam masyarakat, mengapa antar umat tetap tidak rukun dalam perihal kepercayaan? “tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil” kutip Alm.Gus Dur dalam bukunya yang bertajuk Tuhan Tidak Perlu Dibela. Lantas apa gunanya semboyan Bhineka Tunggal Ika? mengapa hari ini beramai-ramai membela tuhan? hey siapa kalian?
Atau mungkin tentang penjaga sekolah yang dipukuli orang tua murid usai memperingatkan murid karena telah mencaci maki penjaga sekolah?. teringat pernah melakukan hal serupa kepada penjaga sekolah dan melaporkan tegurannya kepada Ayah sewaktu duduk dibangku sekolah dasar, lantas ayah berkata “bodo amat orang kamu yang salah” disusul tamparan keras.
Atau mungkin cekcok antar warga yang melarang memasak babi? Ya Bumi! tolonglaah.
Alhasil dewasa nanti ingin mendidik keturunan sendiri agar menjadi orang yang peduli akan sekitar, setidaknya gak bodo-bodo amat dalam berperilaku sesama manusia.















